Pernikahan yang berlandaskan rasa bersalah juga karena ingin bertanggung jawab membuat Icha terjebak dalam situasi rumah tangga yang sangat menyedihkan. Kehadirannya tak dianggap ada oleh suami yang dia cintai. Namun, dia masih bisa tetap bertahan.
"Bukan aku yang menginginkan pernikahan ini, kak Adit. Tapi kenapa kamu malah membuat aku semakin lama semakin tersiksa? Apakah aku harus tetap bertahan, atau malah pergi jauh meninggalkan kehidupan yang menyedihkan ini?" Marisa Aurelia.
"Beri aku waktu untuk belajar mencintai kamu, Icha. Jika aku sudah siap nanti, maka rumah tangga kita pasti akan baik-baik saja." Aditya Hutomo.
Namun, bukannya malah membaik. Rumah tangga yang sudah dasarnya rusak itu malah semakin rusak dengan munculnya orang ketiga. Akankah Icha masih tetap bertahan dengan Aditya yang semakin dingin padanya? Atau ... Icha malah memilih pergi meninggalkan kehidupan pahit yang selama ini menyiksa hati juga pikirannya.
Ikuti kisahnya di sini. Di Sebatas menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 24
Dwi beranjak meninggalkan Aditya. Namun sebelum pergi, dia sempat bicara beberapa patah kata pada Aditya.
"Kau sudah puas sekarang bukan? Dia sudah menghilang. Dengan begitu, kamu bisa bersama dengan perempuan selingkuhan mu itu. Perempuan yang kau bela mati-matian, sehingga membuat dia benar-benar hancur dan pergi."
"Aku harap kau puas. Dan ... sebaiknya kau pulang sekarang, dokter Aditya. Jangan tunjukkan kepura-puraan mu itu di depan umum. Karena itu tidak akan ada gunanya."
Selesai berucap, Dwi langsung beranjak. Sementara Aditya diam mematung dengan menggenggam erat tangannya sendiri.
"Aggghh ...! Aku tidak ingin ini terjadi! Tidak pernah ingin!"
Aditya berteriak keras. Sampai-sampai membuat semua orang yang ada di sana jadi kaget. Semuanya terdiam dengan tatapan terfokus pada Aditya.
Perlahan tapi pasti, tubuh Aditya merosot jatuh ke tanah. Terkulai lemah dengan posisi bersimpuh dengan wajah tertunduk.
"Aku memang ingin dia pergi karena aku kesal. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Karena sekarang aku sadar, ketidakhadirannya membuat aku merasa kehilangan separuh nyawaku."
Papa Dwi langsung mendekati Aditya. Dia sentuh bahu kekar milik Aditya yang kini terlihat sangat rapuh.
"Nak, kami tahu apa yang kamu rasakan. Maafkan Dwi ya. Karena Dwi juga sama. Sama seperti kamu. Dia juga merasa kehilangan. Jadi, dia hanya berusaha membuat hatinya merasa puas. Jangan masukkan ke dalam hati apa yang dia katakan."
"Dia benar. Aku yang salah. Akulah penyebab Icha pergi."
"Ditya. Tolong tenanglah, Nak. Jangan lagi menyalahkan diri sendiri. Karena sekarang, tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri. Apalagi sampai harus saling menyalahkan satu sama lain. Karena yang sedang kita hadapi saat ini adalah musibah. Semua bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, juga di mana saja. Jadi, tolong tenang dan pikirkan diri sendiri juga." Papanya pula berucap.
Kedua orang tua itu berusaha menenangkan Aditya. Sedangkan Dwi, dia semakin kesal juga semakin jijik dengan Aditya saat ini.
"Cih! Bisa aja modusnya. Basi!"
Dwi langsung melanjutkan langkah kaki untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Karena sekarang, dia sangat benci melihat Aditya. Dia berpikir, Aditya adalah penyebab pokok atas menghilangnya Icha. Karena itu, dia sangat benci dengan Aditya.
Karena kelelahan juga kedinginan akibat angin malam, Aditya pingsan di pinggiran sungai. Dia harus di larikan ke rumah sakit terdekat karena tubuhnya yang sangat-sangat lemah.
Pencarian di lanjutkan. Namun hasilnya masih tetap sama. Nihil. Icha masih tidak ditemukan. Jangan buat menemukan dia dalam keadaan hidup. Tanda-tanda keberadaan tubuhnya saja tidak ditemukan sama sekali.
Aditya yang berada di rumah sakit, kini sudah sadar setelah pingsan selama satu hari satu malam. Baru juga membuka mata, dia langsung ingin melanjutkan pencarian isterinya.
"Maaf Mas Ditya, tolong tetap di sini karena kondisi anda sangat-sangat lemah. Jadi .... "
"Tidak bisa. Aku tidak bisa tinggal diam selama Icha masih belum mereka temukan. Aku harus membantu mereka mencari Icha agar Icha segera di temukan. Aku tidak ingin dia kenapa-napa."
"Mas Aditya, keadaan anda sekarang tidak memungkinkan untuk pergi. Kondisi anda sangat-sangat lemah. Bagaimana bisa anda mencari orang lain yang hilang dengan kondisi anda yang selemah ini?"
Suster yang merawat Aditya berusaha memberikan pemahaman agar Aditya tidak meninggalkan rumah sakit. Tapi sayangnya, seperti apapun penjelasan yang suster itu berikan, Aditya yang terkenal dengan sikap keras kepala itu tidak akan mau mendengarkan penjelasan apapun.
"Aku, tetap akan pergi. Aku tahu apa yang tubuhku rasakan. Jadi, tidak perlu mengatur aku. Kamu mengerti?"
"Ditya! Kenapa kamu begitu keras kepala sih, ha? Kita semua cemas, tapi kita bisa apa? Selain berdoa, tidak ada yang bisa kita lakukan lagi, Aditya. Tolong jangan tambah masalah baru. Masalah besar yang sedang terjadi saja sudah bikin mama pusing, sayang."
"Ama ... Icha hilang. Aku tidak tahu di mana dia, Ama. Kita tidak bisa hanya berdoa saja, Ma. Kita harus berusaha mencari Icha." Aditya berucap dengan nada yang sangat sedih.
"Ditya. Mama tahu bagaimana perasaan kamu, Nak. Mama juga tahu dan cukup paham dengan apa yang kamu katakan ini. Apa yang kamu katakan ini memang sangat benar. Tapi lihatlah kondisi kamu sekarang. Bukannya bisa menemukan Icha, tapi kamu malah akan menyusahkan orang lain akibat keadaan kamu yang akan semakin memburuk jika kamu paksakan."
"Tolong tetap diam di sini, Ditya. Setidaknya, sampai keadaan kamu benar-benar membaik, Nak."
"Tapi ... Ama .... "
"Ditya. Tolong dengarkan apa yang mama katakan. Semua sedang mencari Icha di sungai. Yakinlah kalau mereka akan menemukan Icha, Nak. Dia pasti akan baik-baik saja," ucap mamanya sambil memeluk Aditya.
Untuk yang pertama kali Aditya merasakan dirinya sangat rapuh. Setelah kehilangan sahabat yang dia cintai, sekarang dia harus merasakan luka lagi sekarang. Luka akibat kehilangan istri yang dia anggap tidak pernah dia cintai.
Namun, setelah tahu kalau istri itu menghilang, baru dia menyadari kalau dia mencintai istrinya. Tapi sayang, seribu kali sayang. Sadar itu sudah terlambat.
Karena maaf dari perempuan itu belum tentu dia dapatkan. Karena semua yang terjadi, akibat kesalahannya. Kesalahan yang sangat fatal. Menyakiti hati istrinya dengan membela orang lain. Bahkan, menampar wajah perempuan itu di depan umum.
Aditya sungguh sangat menyesal. Bayangan semua kesalahan yang telah dia perbuat, kini memenuhi benaknya. Ingin rasanya dia melupakan semua kesalahan itu, tapi tetap saja tidak bisa.
Serry datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Aditya. Dengan membawa bunga segar, dia berjalan masuk ke dalam kamar tersebut.
"Ditya. Bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa kamu baik-baik saja?"
Aditya yang baru saja ditinggal mamanya keluar, merasa tidak nyaman dengan kehadiran Serry. Ingin dia minta Serry buat meninggalkan kamarnya. Namun, dia merasa hal itu sungguh tidak baik untuk dia lakukan.
"Aku baik-baik saya, Ser. Kamu kok ke sini? Ada perlu apa?"
"Lho, kok nanyanya gitu sih, Ditya? Aku datang ke sini ya tentu aja buat jenguk kamu lah. Mau lihat bagaimana keadaan kamu. Soalnya, aku hubungi kamu kemarin gak ada jawaban sama sekali. Tau-taunya, kamu ada di rumah sakit sekarang."
"Apa sih yang terjadi dengan kamu ini sebenarnya? Kenapa bisa sampai masuk rumah sakit segala sih, Ditya?"
"Kamu tahu apa masalah yang sedang aku hadapi sekarang, kan Serr? Jadi, tidak perlu bertanya lagi."
"Mm ... bukannya gak tahu. Tapi belum terlalu jelas aja, Ditya. Aku sejujurnya benar-benar gak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Kamu dan suster Icha adalah pasangan suami istri. Dan ... maaf, aku merasa sangat-sangat bersalah dengan apa yang sedang kamu alami."