Jika kita tidak pernah mencobanya makan dari mana kita akan tahu hasil akhir sebuah perjuangan? Rania memilih mundur ketika ia bukan menjadi pilihan satu satunya bagi seseorang. Trauma masa lalu Nia sapaan akrabnya yang ditinggal menikah sang kekasih dengan sahabat sendiri menyisakan trauma untuk jatuh cinta lagi. Kini ia dihadapkan dia pilihan, bersama tambatan hati atau merubah takdir cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga
Keduanya saling tatap duduk di kursi dalam sebuah gazebo. Belum ada yang bicara memutus keheningan sejak mama meninggalkan mereka dengan dua cangkir kopi Bali.
Cemilan bahkan tersedia di atas meja menjadi pendamping.
Rania menghela nafas membuang rasa sesak di dadanya.
Untuk apa bertemu jika hanya saling diam pikir Rania.
"Apa sudah selesai? Lebih baik kamu kembali, aku sedang malas berdebat."
Akhirnya Rania terpaksa berbicara lebih dulu. Benteng yang ia bangun runtuh begitu saja.
"Aku minta maaf Rania. Seharusnya aku bisa menjagamu dengan baik."
Sebuah permohonan dan penyesalan meluncur bersamaan.
"Bukankah kamu datang kemari untuk meminta penjelasanku?"
"Tidak."
Pertanyaan Rania segera di potong dengan cepat.
"Aku tahu Mario tidak akan pernah bisa menyakitimu. Petugas hotel sudah membuka kebenarannya, seorang pramusaji wanita yang menanggalkan pakaianmu bukan dia."
Rania menghembuskan nafas lega. Apa yang ia yakini ternyata benar dan bukan sekedar pembelaan semata.
"Ya sudah, lebih baik pulanglah agar tidak ketinggalan pesawat."
Rania bangkit dari duduknya namun Galih menahan lengannya.
"Apa kamu akan tinggal? "
Tanya Galih pada Rania yang membelakangi nya.
"Sudah tidak ada yang tersisa di sana. Aku ingin disini."
Rania menunduk mengingat Stefi yang mungkin masih kecewa padanya.
"Bukankah ada aku, pulanglah bersamaku Rania."
"Kamu tahu, tingkat terendah seseorang ialah saat tidak ada yang mau mempercayainya."
Rania berbalik lalu melepaskan genggaman Galih.
"Aku tahu aku salah, maafkan aku Rania."
Tanpa Rania duga Galih berlutut di hadapannya. Pria itu menunduk memohon agar Rania ikut bersamanya kembali ke ibukota.
"Mas Galih bangun jangan seperti ini! "
Rania meraih bahu Galih kemudian mengajaknya berdiri.
"Apa ini sebuah lamaran? "
Suara bass mengalihkan perhatian keduanya. Rania menengok ke sumber suara dimana papa Adnan berdiri di dekat pintu masuk.
"Papa,,, "
Sapa Rania, pak Adnan berjalan mendekati gazebo.
"Selamat siang om, saya Galih dan saya siap melamar Rania jika memang dipaksa."
Rania melongo mendengar ucapan Galih yang seenaknya saja.
Gelak tawa pak Adnan nyaring merasa senang ada pria begitu berani untuk bisa mendapatkan Rania.
"Ni papa sangat suka pria ini, dia jujur dan pemberani. Ajak dia makan siang di dalam."
Pak Adnan meninggal kan Rania dan Galih memberi ruang dan waktu.
"Galih harus ke bandara pa. "
Langkah kaki pak Adnan terhenti lalu menoleh.
"Aku bisa membatalkan penerbangan."
Jawab Galih enteng.
Dan di tengah halaman rumah petak milik keluarga Rania, tersaji beberapa menu khas andalan mama Puji. Mulai dari sambal matah, Bebek betutu, hingga sate lilit.
Tepat saat mereka hendak makan tiba seorang anak laki laki ber seragam putih abu abu.
"Itu adikku namanya Teuku Made. Jangan tanya soal nama, jelas itu perpaduan dari Aceh dan Bali."
Rania berbisik pada Galih yang duduk di sampingnya.
"Made beri salam, dia Bli Galih calon kakak iparmu."
Papa Adnan menepuk pundak Galih yang berada di dekatnya.
"Akhirnya Kak Nia akan menikah, kasihan dia selalu jomblo."
Rania melotot pada Made yang memang sangat suka menggoda nya.
Galih hanya tersenyum simpul diperkenalkan sebagai calon suami Rania oleh pak Adnan. Ada secercah harapan untuk selangkah lebih maju mendapatkan Rania. Gadis yang sudah ada di dalam hatinya sejak tiga tahun yang lalu.
"Do'a kan saja Made, aku hanya perlu meyakinkan kakakmu kalau aku bisa membahagiakan dia. Karena Rania lah yang aku tunggu selama ini."
"Cie,,,, "
Lagi lagi Made mengolok olok kakak perempuannya. Sementara mama dan papa mereka tersenyum bahagia. Ternyata Rania sudah menemukan pria yang tepat.
"Ayo kita makan."
Ajak mama Puji mulai menginduk nasi untuk semua piring secara bergantian.
Sore harinya Papa baru pulang dari kantor bersama Galih. Pria itu mengubah jadwal kepulangan menjadi besok pagi. Rania terpaksa mengambil cuti sehari. Ia juga masih enggan pulang mengingat kejadian semalam.
Meski rumah mereka bergaya tradisional namun cukup luas dengan bentuk bergerak petak. Galih akan menginap di rumah Rania, ia berencana tidur dengan Made meski mama Puji sudah menyiapkan kamar kosong untuknya.
Mama Puji tidak masak makan malam karena mereka akan pergi jalan jalan keluar. Sejak tadi siang Made merengek meminta Galih mengajaknya jalan jalan. Tidak jauh, dia hanya minta belanja di papaya fresh Gallery Kuta.
Kebetulan tidak jauh dari rumah mereka yang berada di sekitar jalan Kuta, kabupaten Badung. Made sangat ingin memborong jajanan disana. Teman temannya sering bercerita jika mereka selalu menghabis kan malam bersama keluarga disana.
"Yeay,,, akhirnya aku bisa ke sini."
Terpancar kebahagiaan di wajah Made.
Papa dan Mama terkekeh melihat anak bungsu mereka. Bagaimana tidak, kesibukan mama mengurus toko baju dan papa Adnan mengelola konveksi menyisakan Made yang kesepian. Made masih duduk di bangku SMP ketika Rania pergi ke Ibu kota.
"Maafkan tingkah adik ku."
Rania menutup wajahnya malu pada Galih.
"Aku seperti memeiliki saudara laki laki Rania. Kami banyak kesamaan."
Galih mengulum senyum lalu menggandeng tangan Rania mengikuti langkah kaki Made.
Layaknya keluarga bahagia, mereka memilih beberapa makanan untuk dinikmati di taman dekat rumah. Kebetulan malam itu ada jadwal pasar malam. Setelah Made merasa puas mereka kembali pulang ke rumah.
Di pasar malam mereka duduk dengan beralaskan tikar milik mama Puji. Menikmati makan malam di tengah keramaian.
"Masih enak masakan mama."
Gerutu Rania seolah meledek selera adiknya.
Bagaimana tidak, semua menu yang dibeli merupakan makanan khas Jepang dan Korea. Made mungkin salah satu korban food blogger yang ramai saat ini.
"Tuh lihat Bli, kak Rania seleranya payah. Dia di kasih makan tempe sambel saja sudah bahagia."
"Sembarangan."
Rania hendak memukul Made yang berada di sebelah Galih namun ia malah jatuh kedalam pangkuan pria yang kini menahan lengannya di udara.
"Apapun yang Rania minta aku akan kasih, meski nyawa sekalipun."
Ucapan Galih begitu menyentuh hati keluarga Rania.
Berbeda dengannya yang kini masih menatap Galih tak percaya. Begitu berarti kah dirinya bagi Galih?
Rania seakan di ajak terbang menuju tanpa batas bisa di sukai olehnya.
Dulu sekali Galih sangat kasar dan pemarah padanya. Tukang ikut campur, seenaknya dan penghasut. Malam ini Galih jauh di luar dugaan Rania, pria itu terus berusaha meluluhkan hatinya.
"Papa harap kalian bisa secepatnya menikah, supaya bebas melakukan apapun."
Perkataan pak Adnan sontak menyadarkan Rania, ia kembali duduk dengan rapi tanpa melirik pada Galih sedikitpun.
"Mama juga senang ada nak Galih yang menjaga Rania. Mohon di maklum jika anak mama merepotkan nak Galih."
Mama Puji tak bisa menyembunyikan rasa sukanya pada pria yang mencintai Rania Puteri sulungnya.
"Tidak sama sekali tante, Rania sangat berarti untuk Galih."
Galih menggenggam tangan Rania penuh keberanian.
Esok pagi nya Rania dan Galih harus kembali ke Ibu kota demi melanjutkan pekerjaan mereka.
Penjaga vila menemui mereka untuk mengantarkan barang barang yang sudah Dani dan Sania bereskan.
Keduanya mengomel beberapa kali melalui pesan singkat. Merasa kesal karena harus pulang secara terpisah.
Dua jam penerbangan akhirnya di lalui dengan lancar. Mereka sudah di tunggu oleh sekretaris Galih yang merangkap jadi supir jika di perlukan.
"Selamat pagi pak."
Sapa pria berbadan tegap, Rania tebak umurnya sekitar empat puluh tahunan.
"Sam Kita antar Rania ke apartemennya."
Perintah Galih yang langsung mendapat anggukan darinya.
"Rania dia Samuel orang kepercayaanku di kantor. Tidak perlu sungkan padanya jika kamu membutuhkan sesuatu."
Galih memperkenalkan Sam yang sibuk menata koper di bagasi mobil pada Rania.
Karena kesibukan semakin bertambah Galih mau tak mau memilih Sam sebagai sekretarisnya. Dia akan mengcover pekerjaan lain jika Galih keteteran.
"Terima kasih."
Ucap Rania saat Sam membukakan pintu untuknya.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata memperhatikan mereka dari jarak cukup dekat namun tersembunyi.
Tangannya mengepal seiring gemuruh di dadanya semakin menjadi.
Mobil melaju meninggal kan airport menuju apartemen Rania di bilangan CR. Usai menurunkan Rania Galih memilih kembali ke apartemen karena jaraknya cukup dekat dengan kantor.
Ia berniat memanfaatkan sisa cuti hari itu dengan beristirahat lalu pulang ke rumah Mama Ami.
mata Galih menyipit ketika lampu ruangan sudah menyala. siapa yang berani masuk tanpa izin darinya.
"Welcome home,,,"
Teriakan yang begitu familiar memekik ditelinga Galih.
mengetahui siapa yang datang Galih meraba tengkuknya. Ia lupa mengganti password rumahnya sehingga wanita yang berusaha memeluknya itu bisa masuk.
"Iren stop! kita sudah lama berakhir."
Galih menolak, ia melepaskan tangan Iren mantan kekasihnya.
"Sayang aku tidak mau putus sama kamu, bukankah kamu sendiri yang memintaku menjadi pacar mu? "
Iren berwajah campuran bule memanyunkan bibirnya merengek.
"Sejak kapan kamu ada di Jakarta, bukankah kamu sedang kuliah di Sidney? "
Galih meninggalkan Iren yang masih mematung diikuti Sam hendak merapikan koper milik bosnya.
"Aku tidak betah Sayang,,, aku sudah memilih kampus bagus disini."
Galih tak menanggapi, ia mengambil botol mineral dari dalam lemari es lalu meminumnya hingga setengah.
"Aku lelah Iren, Sam akan mengantarmu pulang."
perintah Galih pada Sam yang selalu siaga menerima perintah.
"Tapi aku masih ingin di sini... "
Rengekan Iren tak di gubris sedikitpun oleh Galih.
"Silakan nona."
Sam mengulurkan tangannya menunjuk kearah pintu keluar.
dengan perasaan kesal Iren pergi meninggalkan apartemen yang dulu menjadi tempat mereka memadu kasih.
Galih memijat pangkal hidungnya, ia harus memikirkan cara menjauhkan diri dari Iren. hubungannya dulu sangat toxic hingga Galih tak kuat lagi meneruskannya.
beruntung ada Samuel, kini ia bisa beristirahat dengan tenang tanpa harus mengantarkan Iren pulang.