NovelToon NovelToon
Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan

Status: tamat
Genre:Patahhati / Selingkuh / Cerai / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:486.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: nita kinanti

Orang-orang mengira rumah tanggaku baik-baik saja. Aku mempunyai suami yang tampan, karir mapan dan tidak suka macam-macam. Salahku sendiri, aku selalu menutupi kebiasaan buruk suamiku dari orang-orang di sekitarku. Sehingga ketika aku sudah tidak kuat lagi, tidak ada yang membelaku. Bahkan ketika aku ingin meminta cerai, orang-orang justru menyalahkan aku.

Terpaksa aku bertahan untuk bisa membuktikan jika suamiku tidak sebaik yang mereka kira. Tetapi akhirnya, kenyataan tidak berjalan sesuai rencana awalku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Sekarang

Aku berjalan meninggalkan kumpulan wanita yang berlagak seperti sosialita itu. Gemuruh memenuhi dadaku.

Dulu semua menghormati aku ketika suamiku masih berjaya. Tidak pernah aku dihina seperti ini. Bahkan aku tidak perlu khawatir soal uang. Tapi sekarang?

Tidak kusangka kehadiranku di acara arisan ini hanya untuk dipermalukan. Tetapi bukan malu yang sedang aku rasakan, melainkan marah.

Aku tidak menyangka Likha akan setega itu kepadaku. Dulu kami benar-benar dekat, dan hanya karena sekarang aku tidak punya apa-apa, sikapnya padaku jadi berubah drastis. Dan sekarang dia juga dekat dengan Eva? Sebelumnya Eva tidak ikut grup arisan ini. Apa mereka sedang berkonspirasi untuk memusuhi aku?

"Bahkan kondisi keuangan seseorang mempengaruhi sikap orang lain terhadap kamu, tidak terkecuali sahabatmu. Gila bukan?" Aku bicara sendiri sambil menuruni tangga restoran. Mungkin ini adalah caraku melampiaskan amarahku.

Aku terus berjalan dan tidak ingin lagi menoleh ke belakang, tempat dimana orang-orang tidak punya rasa empati itu duduk. Terserah mereka mau menyoraki aku atau mau membicarakan aku lebih jauh lagi, aku tidak peduli.

Kenapa dulu aku tidak sadar jika mereka hanya memoroti aku. Setiap kali keluar untuk makan-makan pasti akulah yang membayar semuanya. Dan lihat sikap mereka kepadaku sekarang!

Keputusanku sudah bulat. Untuk apa terus bergaul dengan orang-orang yang tidak membawa pengaruh positif? Tinggalkan saja, itu hanya buang-buang waktu dan uang.

Sampai di rumah aku berniat untuk langsung mengurung diri di kamar. Tetapi Mas Adji yang sedang menonton Televisi di ruang keluarga rupanya Mas Adji menyadari kedatanganku.

"Lho kok cepat banget Win? Apa nggak jadi Arisannya?"

"Oh ... Aku cuma setor uang terus pulang," jawabku asal.

"Aku mau tidur dulu Mas, capek." Aku berlalu meninggalkan Mas Adji sebelum dia mengajukan pertanyaan lagi.

Sampai di kamar aku tidak langsung tidur, tadi hanya alasanku untuk menghindari Mas Adji. Mana mungkin aku bisa tidur dengan perasaan seperti ini?

Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur, menatap langit-langit kamar. Tidak terasa air mataku menetes, entah apa yang sedang aku tangisi.

...****************...

Adji POV

Aku agak terkejut melihat Winda sudah pulang. Biasanya dia betah berlama-lama menghabiskan waktu bersama teman-teman arisannya itu.

"Lho kok cepat banget Win? Apa nggak jadi arisannya?"

"Oh ... Aku cuma setor uang terus pulang."

Belum sempat aku bicara lagi, Winda sudah pamit ingin tidur. Aku tidak bisa melarangnya walaupun aku tahu tidak mungkin Winda tidur jam segini, ini bahkan belum jam delapan malam. Aku hanya ingin mengatakan jika tadi Bu RT mencarinya tapi aku tidak berani.

Raut wajah Winda terlihat entahlah ... sulit untuk menggambarkannya. Antara sedih, marah, dan lelah. Aku tahu pasti sesuatu terjadi. Mungkin dia memang butuh waktu untuk sendiri.

Sebenarnya aku khawatir padanya, sama seperti ibu mertuaku. Aku takut Winda stress. Dia semakin tertutup dan menghindari aku. Tembok pembatas diantara kami aku rasakan semakin tinggi.

Akhirnya aku putuskan untuk menyusul Winda ke kamarnya. Keisha sedang menginap di rumah mertuaku. Jadi mungkin sekarang waktunya bicara dengannya.

"Win ... Aku ingin bicara sebentar," ucapku sambil mengetuk pintu. Setelah beberapa saat tidak ada jawaban, jadi aku langsung buka saja pintu kamarnya.

Winda sedang berbaring di tempat tidur, dengan mata yang menatap kosong langit-langit kamar. Dia bahkan tidak sadar jika aku sudah berdiri di samping tempat tidurnya.

"Win ... "

Winda terkejut melihatku. Dengan segera dia bangun dan mengusap air matanya.

"Tadi aku sudah mengetuk pintu, tapi kamu tidak dengar."

"Ada apa Mas, kamu butuh sesuatu?"

Lagi-lagi air mata. Bahkan hanya dengan melihat dia menangis aku sudah kehilangan tenaga untuk bicara. Dan untuk yang kesekian kalinya aku merasa aku adalah laki-laki paling tidak berguna di dunia.

"Aku ingin bicara sebentar." Aku duduk tepat di samping Winda yang masih berusaha membersihkan sisa air matanya.

"Aku tidak tahu harus mulai dari mana ... " Aku sedikit ragu untuk melanjutkan kalimatku.

"Bicara saja Mas ... Katakan apa yang ingin kamu katakan."

Aku mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatku.

"Kita masih suami istri Win. Sekarang aku memang tidak bisa menafkahi kamu, tidak bisa menjadi suami yang pantas untukmu tapi aku masih tetap suamimu."

"Kamu boleh marah padaku, boleh benci padaku atas semua kesalahanku dulu. Semua yang terjadi padamu, semua yang harus kamu lalui ini ... Aku tahu semua ini karena salahku, aku penyebabnya. Aku ingin minta maaf padamu Win."

Tak kuasa aku menahan air mataku. Tidak bisa ku sembunyikan lagi tangisku darinya. Biarlah dia melihat aku rapuh, karena aku sudah tidak kuat lagi berpura-pura tidak apa-apa padahal aku sangat malu sudah menjadi bebannya beberapa bulan ini. Dia sangat menderita karena aku.

Winda diam mendengarkan tanpa mau menatapku.

"Kalau kamu masih ingin bercerai dariku maka aku akan mengabulkannya Win ... " ucapku terbata.

Winda tetap diam tidak merespon. Dia hanya menunduk dengan tatapan kosong.

"Kamu bisa mengurus semuanya, kamu bisa mengatakan kalau alasan kita bercerai adalah karena ada wanita lain. Aku akan mengakuinya. Aku ... Aku memang bersama Eva."

Air mataku mengalir semakin deras. Ku buang gengsi dan harga diriku karena aku memang sudah tidak punya harga diri di depan Winda.

Winda masih membisu. Tidak ada ekspresi apa-apa di wajahnya. Dan aku menjadi semakin khawatir dengan kondisi kejiwaannya.

"Kamu boleh melakukan apapun padaku jika itu bisa menyembuhkan sakit hatimu padaku. Aku sungguh-sungguh menyesal. Aku minta maaf padamu."

Aku menjatuhkan tubuhku ke lantai dan bersimpuh di depan Winda. Aku raih tangannya dan ku tatap matanya.

"Aku tidak memohon untuk diberikan kesempatan lagi agar tetap bisa bersamamu. Aku hanya ingin kamu sembuh dari sakit hatimu. Aku ingin kamu kembali menjadi Winda yang dulu. Dan jika dengan bercerai dariku kamu bisa kembali seperti dulu, maka aku akan menceraikan kamu sekarang juga."

"Aku ikhlas Win, bukan karena aku sudah tidak mencintai kamu, bukan karena aku sudah tidak ingin bersamamu. Tapi karena aku tidak bisa melihatmu semakin menderita jika bersamaku. Kamu sudah mengorbankan hidupmu untukku. Aku hanya ingin kamu bahagia." Suaraku semakin serak karena menangis.

Dan akhirnya bulir bening menetes dari pipi Winda, semakin deras diiringi Winda yang meraih tubuhku dan memelukku. Akhirnya dia menangis di pelukanku. Untuk beberapa saat kami larut dalam kesedihan. Kami sama-sama menangis dengan alasan kami masing-masing hingga akhirnya Winda melepaskan pelukannya.

"Kita tidak akan bercerai Mas ... " ucapnya begitu mata kami kembali bertemu.

"Kamu yakin Win? Kamu sudah memaafkan aku?" Aku tidak percaya. Winda hanya mengangguk.

Aku raih tubuh Winda dan kupeluk erat.

"Terima kasih Win, terima kasih kamu masih mau memaafkan aku." Air mataku terus menetes tapi kali ini air mata kebahagiaan. Ku lepaskan pelukanku dan ku tatap mata Winda.

"Tersenyum lah Win, sudah lama aku tidak melihat kamu tersenyum kepadaku."

Dan dengan sedikit dipaksakan, Winda mau tersenyum kepadaku. Aku pun tersenyum melihatnya lalu ku usap air matanya dan dia juga mengusap air mataku.

"Duduklah di sini Mas ... " Winda menepuk tempat kosong di sampingnya, tempat sebelumnya aku duduk.

"Ceritakan bagaimana kamu bisa berhubungan dengan Eva ... "

"Win ... ???"

1
Alvivia
satu kata untuk kamu winda....terserah deh....
Alvivia
kisah yang mengharukan....
falea sezi
bodooooooooh
falea sezi
skip lah gk mutu masak ada keledei bodoh kek winda
falea sezi
Winda kn emang tolol
Maghfira Izzani
Ok
Xiao Bai
Aku suka bagian ini. Ini cobaan terberat dan Winds bisa melaluinya.
Xiao Bai
oooo trnyta ini alasan Winda meminta cerai.
Xiao Bai
Kl sdh suami istri, suaminya sdh merasa beesalah dan mau memperbaiki hubungan, seburuk apapun ya dimaaffin lah
falea sezi: komen paling tolol
total 1 replies
Xiao Bai
Tipe wanita yg cm dengerin omongan org doang langsung percaya gini ini repot dah. Pikirannya cerai2 pdhl suaminya mau memperbaiki, kl gini terus ya lama2 suaminya selingkuh beneran yg semula cm.pijat2 doang.
Lala Al Fadholi
useh...buntut2nya balik ma aji2 juga...kaya ga ada laki2 lain...mending ma indra enak amat jd penghianat menang 2x ini namanya...🤣
Lala Al Fadholi
harusnya winda memang bisa mnjg hati likha...ini namanya udah luka eh di siram garam sM winda....harusnya jgn ikut campur krn ada hati yg bakal sakit akan kebaikan dia...ini namanya winda ga bisa menghargai teman....buat apa baik ma musuh klo akhirnya menyakiti kawan
Lala Al Fadholi
apa kau anggap aku bodoh...? EMANG BODOH...kalo lo pintar harusnya tes DNA sebelum nikahin udah tau perempuan sejuta laki2...
Lala Al Fadholi
rasakno jiiiii....semoga yg ku baca nanti akan lebih pedih dr ini buat aji
Lala Al Fadholi
hayoooo eva siksa terus suamimu....aku mendukung...hahaha...
Lala Al Fadholi
useh balik lagi...ga jijik bekas pelacur
Lala Al Fadholi
Hah memang lelaki bejad...ama pelacur aja doyan
9A_11_Ivania Lila Wiasputri
keren-keren ceritanya.
Rosma Wati
Luar biasa
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!