NovelToon NovelToon
Until The End

Until The End

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:39.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mirna Samsiyah

Prolog

Gadis itu berjalan dengan tatapan kosong tidak mempedulikan guyuran hujan yang menimpa tubuh mungilnya. Ia berjalan tanpa alas kaki melewati jalanan penuh kendaraan yang berlalu-lalang.

Gadis malang itu berjalan tanpa arah. Bahkan ia tidak bisa merasakan dirinya sendiri, tubuhnya seperti melayang tanpa beban.

"Sayang.. jangan takut, kau tidak akan sendiri, aku akan menyusulmu." Gumamnya dalam hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Rumah Arkan terlihat lebih indah dibandingkan dengan saat Gysta menginjakkan kaki disini satu bulan yang lalu ketika Sarah baru saja datang. Walaupun ada tukang kebun yang bertugas membersihkan taman tapi dengan sentuhan ibu, rumah akan terasa lebih hangat dan nyaman.

Kolam kecil yang dulunya kosong kini terdapat ikan koi sehingga membuat rumah terlihat hidup. Rumput kering mulai diganti dengan rumput sintesis. Semuanya benar-benar berbeda.

Sarah menyambut kedatangan Gysta dengan kecupan di pipi. Dalam sekejap dua perempuan cantik itu bisa akrab seperti sudah berteman lama. Sarah tetap tidak bisa berjalan dengan kaki nya, tapi keadaannya sudah jauh lebih baik. Jika Sarah baik maka seluruh rumah dan anggota keluarga juga baik. Orangtua mereka sudah jarang bertengkar, Arkan juga jarang sekali pergi ke tempat bermain billiard. Arkan lebih memilih menemani Sarah atau keluar dengan Gysta sepulang sekolah.

"Gimana kabar Kak Sarah?" Gysta mendorong kursi roda Sarah menuju kolam renang samping rumah sementara Arkan mengganti pakaian.

"Sehat." Sarah mengangguk sambil tersenyum walaupun Gysta tidak bisa melihat senyumnya.

"Kalau Kak Sarah mau jalan-jalan, aku bisa temenin." Gysta memutar kursi roda hingga menghadap pada kolam sedangkan dirinya duduk di kursi yang terletak tepat di samping Sarah.

"Aku nggak tahu tempat nongkrong yang lagi ngehits sekarang saking lamanya di rumah sakit." Sarah terkekeh. Jemari lentik Sarah menyibak rambutnya yang kecoklatan agar tidak menghalangi pandangannya.

"Aku juga nggak terlalu melek soal tempat nongkrong Kak." Gysta menggeleng samar. Lagi pula selama ini Gysta hanya disibukkan oleh kegiatan sekolah, tempat yang paling sering dijunjungi nya hanya PIM atau beberapa tempat makan biasa di Bandung. "Aku biasanya ke cocorico sama Arkan." Lanjut Gysta.

Hening. Sarah tidak membalas ucapan Gysta. Hanya suara aliran air yang terdengar.

"Titip Arkan ya." Lirih Sarah.

"Kenapa?" Gysta melihat Sarah. Tidak terlalu jelas mendengar ucapan Sarah.

"Kamu udah tahu kalau penyakitku nggak bisa sembuh?" Sarah menatap Gysta sendu. Sejak divonis sakit oleh dokter, Sarah tidak pernah putus asa akan kehidupannya. Namun sekarang Sarah sadar bahwa rangkaian pengobatan yang dilakukan itu hanya untuk memperlambat kematiannya.

Mulut Gysta terbuka karena terkejut, Arkan tidak pernah bercerita bahwa penyakit Sarah tidak bisa disembuhkan.

"Belum tahu?" Tanya Sarah.

Gysta mengerjapkan matanya, membasahi bibir bawah dan mengalihkan pandangan. Hati Gysta tiba-tiba nyeri melihat wajah cantik pucat di samping nya.

"Arkan itu lemah, dia menumpukan kehidupannya pada orang lain." Sarah menghela napas sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya. "Sekarang aku tumpuan hidupnya, saat aku nggak ada nanti kamu akan menjadi tumpuannya." Sarah menggenggam tangan Gysta. "Jangan pernah tinggalin dia, aku mohon."

Gysta menggeleng kuat, ia dapat merasakan tangan Sarah yang begitu dingin. "Kak Sarah harus hidup yang lama temenin Arkan." Ujar Gysta dengan suara bergetar.

"Andai bisa...." Sarah tersenyum hambar.

"Kalian disini." Suara berat itu membuat Sarah dan Gysta sama-sama memutar kepala melihat siapa yang datang. Perlahan Sarah melepaskan genggamannya dari tangan Gysta. "Mama bilang makan siang nya udah siap." Arkan menghampiri dua perempuan cantik nya di pinggir kolam renang. Gysta susah payah menelan kembali air mata nya yang sudah menggenang.

"Ayo makan." Ucap Sarah mendongak melihat Adik nya.

"Siang." Arkan menyapa Sarah sambil mengecup singkat kening wanita itu. Arkan belum sempat menyapa Kakak nya saat sampai di rumah tadi karena ia segera pergi ke kamar untuk mengganti pakaian.

"Ayo." Arkan mengulurkan tangan pada Gysta membantu gadis itu beranjak dari duduk nya.

Arkan mendorong kursi roda Sarah sedangkan Gysta berjalan di samping nya. Gysta terus memikirkan ucapan Sarah baru saja. Melihat kedekatan antara Sarah dan Arkan semakin membuat hati Gysta nyeri, tak ingin mereka berpisah sampai kapanpun. Gysta tidak sanggup membayangkan Arkan nanti tanpa kehadiran Sarah.

"Apa kabar?" Mama Arkan menyambut Gysta yang datang dari pintu belakang bersama kedua anaknya. Gysta berusaha mengalihkan pikirannya, mengembangkan senyum seraya menyambut pelukan hangat Mama Arkan.

"Baik, Tante sehat? Maaf saya nggak bisa sering datang kesini." Gysta tersenyum ramah pada calon mertuanya itu.

"Tante tahu kalian sibuk dengan urusan sekolah." Mama Arkan tersenyum lebar melihat Gysta dan Arkan bergantian sementara anak laki-laki itu hanya memasang wajah datar. "Ayo makan." Mama Arkan mempersilahkan mereka duduk mengelilingi meja berbentuk lingkaran.

"Tante masak semuanya sendiri?" Gysta mengangkat piringnya menyambut beberapa potongan daging yang Mama Arkan berikan.

"Dibantu Bi Sumi." Jawab Mama Arkan sambil meletakkan daging ikan yang sudah dibersihkan dari tulang nya pada piring Sarah. "Kalau kamu mau nemenin Tante masak, boleh banget lain waktu kita masak."

"Iya." Gysta mengangguk tersenyum kikuk, ia malu kalau sampai Mama Arkan tahu bahwa sebenarnya ia tidak bisa memasak.

Arkan ikut memisahkan ikan dari tulang nya lalu meletakkannya di piring Gysta.

"Makasih." Ucap Gysta dibalas senyuman oleh Arkan.

Mereka seperti keluarga utuh minus Papa Arkan. Sarah juga terlihat bahagia melihat Gysta dan adik laki-laki nya seperti ini, mereka seperti dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan.

"Nanti kita rencanakan makan malam bareng Mama Papa kamu gimana?" Mama Arkan melihat ke arah Gysta yang sedang mengunyah makanannya. "Sejak hari tunangan itu kami belum pernah ketemu lagi." Tambahnya.

Gysta mengangguk lalu meraih air putih di dekatnya. "Boleh Tante." Jawab Gysta setelah menyelesaikan kunyahannya.

"Kamu mau dimana Kan?" Kini Mama Arkan melihat anak nya.

"Mama aja yang atur." Arkan menjawab seperlunya. Senyum Mama Arkan memudar namun ibu dua anak itu berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Walaupun keadaan keluarga lebih baik tapi sikap Arkan pada orangtuanya tidak berubah. Rupanya luka Arkan terlalu dalam untuk sembuh begitu saja.

"Meltic Resto gimana?" Sarah angkat bicara.

Gysta mengangguk, ia setuju dimana saja mereka akan makan. Lagi pula Gysta tidak mengerti tempat makan macam apa yang sesuai dengan selera keluarga Arkan. Mendengar nama Meltic, Gysta hanya pernah makan satu kali saat ulang tahun perusahaan tempat Papa nya bekerja. Mama Gysta selalu membuat makanan enak setiap hari di rumah sehingga mereka jarang makan di luar.

"Ide bagus sayang." Tukas Mama Arkan dengan senyum lebar.

Mereka menyelesaikan makan siang disertai obrolan ringan walaupun Arkan yang paling banyak diam. Sadar atau tidak, Arkan lebih banyak bicara saat hanya berdua dengan Gysta.

"Kalau boleh tahu, kenapa Arkan nggak mau kunci pintu kalau lagi di kamar mandi Tante?" Tanya Gysta sambil mengeringkan piring yang baru Mama Arkan cuci dengan lap. Tinggal mereka berdua di dapur, sedangkan Arkan menemani Sarah di ruang TV untuk minum obat.

"Arkan belum pernah cerita?" Mama Arkan terkejut karena ia pikir Gysta sudah tahu apapun yang menyangkut tentang Arkan tapi ternyata anak laki-laki nya itu memang sangat tertutup.

"Belum Tante." Gysta menggeleng, sudah lama ia ingin menanyakannya pada Mama Arkan tapi baru sekarang ada kesempatan berdua.

"Dulu waktu umur empat tahun, Arkan udah ngotot mau mandi sendiri." Mama Arkan mengelap tangannya usai cuci piring lalu berjalan membuka pintu kulkas. "Tante nggak bolehin tapi dia keras kepala, akhirnya dia masuk ke kamar mandi terus kunci pintu." Mama Arkan mengeluarkan puding jagung dari kulkas memindahkannya ke atas meja. "Selesai mandi dia teriak-teriak dari dalem, cukup lama sampe Tante samperin, mau buka pintu nggak bisa karena dikunci dari dalem." Mama Arkan tertawa mengingat kejadian itu, Arkan kecil yang menggemaskan. Gysta ingin tertawa tapi dibandingkan melakukan itu ia lebih memilih menunggu hingga cerita selesai. "Tante bilang sama Arkan buka kuncinya baru pintu bisa dibuka, tapi Arkan malah nangis, akhirnya cukup lama, Papa nya dateng terus dobrak pintu itu."

"Terus?"

"Arkan keluar dengan badan gemeter, kedinginan dan ketakutan, jadi sampai sekarang dia nggak mau kunci pintu kalau lagi di kamar mandi." Mama Arkan menyelesaikan ceritanya. "Cobain deh." Mama Arkan mendekatkan satu sendok penuh puding jagung ke dekat mulut Gysta, dengan senang hati Gysta menyambut suapan Mama Arkan.

"Enak." Ucap Gysta tidak jelas karena mulutnya penuh dengan puding jagung yang terasa lumer di mulutnya, benar-benar lezat.

Mereka menyusul Arkan dan Sarah ke ruang TV sambil membawa puding jagung sebagai hidangan penutup makan siang mereka.

1
Reena Azza
aku sllu setia bca kok thor...
tiap bca psti nyesek
di episode trkhr ini lbh nyesek lg coz sad ending 😭😭😥😥
Mirna: Gak semua cerita berakhir indah bukan? 😌
total 1 replies
Tusini Anwdmk
rajin up y thor..kumenunggumu...👍👍👍💪💪💪
Reena Azza
sad ending 😭😭🥺🥺
aku pkr arkan msh hidup smpe sneng aku thor...😥😔
Mirna: Berat banget pisah sama Arkan 😭
total 1 replies
Tusini Anwdmk
Dikit banget sih Thor...CPT up LG y Thor..💪💪💪💪
Mirna: Ini kan update nya satu abad sekali 😂
total 1 replies
Tusini Anwdmk
Mewek aku thooor 😭😭😭😭😭😭
Tusini Anwdmk
Aaaaaaaaaa baper aku Thor😭😭😭😭😭 so sweeet banget...
Tusini Anwdmk
Ada y Thor cowok Ky Arkan ...😀😀😀😀
Tusini Anwdmk
cocok Thor visualny ....aku suka👍👍👍
Mirna: Eh masih ada yang baca novel ini ya. makasih akak 😘
total 1 replies
Reena Azza
jgn lama2 lah thor up nya...
Mirna: Masih ada yang baca novel ini yak
total 1 replies
untari mustofa
aq harus senyum apa nangis.....
Reena Azza
smoga gysta gpp...
untari mustofa
kemarin masih berharap mereka dapat melukis cerita yg manis tenyata 😭😭😭 masih berharap ini hanya mimpi
OFF
knpa sad ending yaallah😭😭😭😭
Reena Azza
bau2 sad ending ini...😭😭😭
untari mustofa
masih berharap arkan baik2 saja😭😭
untari mustofa
lup yu kak
untari mustofa
aq masih setia kak jan lama2 upnya 😘😘
Reena Azza
jgn lma2 lah thor up nya...
roman2nya ni nnti sad ending deh...🥺🥺🥺
untari mustofa
biarkan arkan sembuh ya neng otor 😘😘 jan kejem2 deh ya 😂😂 upnya diseringin dong aq masih setia loh
Mirna: Makasih udah setia sama otor yang up nya seabad sekali 😍
total 1 replies
untari mustofa
setelah sekian purnama menanti....💖💖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!