Hallo readers. Selamat datang di cerita pertama author. Mohon dimaklumi kekurangannya ya.
__________
Kehidupan seorang gadis cantik berusia 18 tahun yang sering dipanggil Jeje. Hidup tanpa kasih sayang seorang ibu.
Namun dia memiliki sosok ayah yang sempurna. Kasih sayang dan perhatiannya tanpa batas. Dia sangat menyayangi putri bungsunya. Menjaganya bak berlian paling berharga di dunia.
Jeje juga memiliki seorang kakak laki laki yang melengkapi kebahagiaan hidupnya. Walaupun mereka sering bertengkar, tapi kasih sayang di antara keduanya tak dapat dijabarkan dengan kata kata.
Dibalik kebahagiaan itu semua, ada sisi gelap kehidupan yang dijalani daddynya. Tak jarang berbagai bahaya selalu mengancam keselamatan dirinya.
Bagaimana Jeje menghadapi setiap ancaman itu? Mampukah dia menjalaninya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeLiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. MENCOBA
Di tempat lain, jauh dari negara tempat Jeje dan keluarganya tinggal, terlihat seorang pria jangkung tengah mengamuk di sebuah ruangan.
Dia melemparkan apa saja yang ada di dekatnya. Benda benda berserakan dan pecah.
Dia sangat murka dengan pekerjaan anak buahnya. Kali ini rencananya gagal lagi.
Entah mengapa dia selalu kalah dengan orang yang selama ini dibencinya itu. Dia bahkan bersedia menjadi temannya hanya untuk mencari kelemahannya.
Sekarang dia juga sudah mendirikan kerajaan mafia nya sendiri di negara yang berbeda dengan temannya itu.
Namun tetap, saat dia ingin menguasai daerah demi daerah, namun negara yang sangat diincarnya tidak bisa dia dapatkan. Semua itu karena organisasi temannya yang mulai meluas dan menguasai setiap sudut negara itu.
Dia sangat marah, lagi lagi dirinya tertinggal selangkah darinya.
Dan kemarin, saat rencananya hampir berhasil, ada seseorang yang menggagalkan rencananya.
Juga anak buahnya yang ceroboh melakukan semua rencana yang sudah dia susun.
"AAAAARRRRRGGGGHHH."
"Dasar bodoh!! Sudah aku bilang jangan mengandalkan wanita ceroboh seperti dia. Dia menggagalkan rencana ku yang sebentar lagi akan berhasil!"
Teriaknya marah melihat ke arah Tomi, pria yang menjadi tangan kanannya, telah gagal dalam operasi kemarin.
Dia mendekati Tomi kemudian berdiri di hadapannya dengan tarikan nafas dalam.
"Apa kau sedang bercanda denganku?" tanya nya dengan nada suara dalam dan sorot mata menghunus tajam menusuk.
"Ti-tidak tuan. Maafkan saya." jawab sang tangan kanan gemetaran.
Habislah dia, sudah membuat singa ini murka.
"Maaf? Mangsaku tidak akan kembali dengan perkataan maafmu, bodoh!!" teriaknya lagi di depan wajah pria kepercayaannya itu.
"Bagaimana bisa kau mempermainkan rencanaku dengan memungut wanita sampah itu, HAHH!!" bentak nya tepat di depan wajah Tomi.
Tomi hanya diam. Berbicara hanya akan semakin membuat murka tuannya. Lebih baik dia tidak memperkeruh keadaan dengan salah berbicara.
Dia juga tidak menyangka wanita yang sudah membuat kesepakatan dengannya sangat ceroboh.
Dia tidak tau bagaimana sampai Harsen mengetahui anaknya yang disekap di sana dan tiba tiba dia sudah merangsek masuk ke gedung dan menyerang beberapa anak buahnya.
Tak ada yang tersisa dari mereka. Dia tau betul bagaimana musuh tuannya itu sangat rapi dalam memberantas musuh. Dia tidak akan menyisakan satu hama pun, yang akan membawa bahaya yang lebih besar jika dibiarkan hidup.
Beruntung dirinya tidak berada di tempat kejadian saat gadis itu disekap oleh anak buahnya. Awalnya dia ingin memberi waktu untuk wanita itu membalas dendam sesuai kesepakatan mereka, dan dia akan memberitau tuannya setelah itu.
Itu cukup adil, pikirnya. Namun, dia benar benar salah langkah. Salah mengira bahwa ternyata gadis itu bukanlah gadis yang lemah. Dia berhasil kabur dari gedung di lantai atas dan di saat bersamaan Harsen muncul di sana untuk menyelamatkannya.
Dia mendapat kabar itu dari salah satu anak buahnya sebelum penyerangan terjadi di dalam gedung, saat melihat target mereka kabur. Ketika akan dikejar, malah mereka yang tertangkap dan dibasmi saat itu juga.
BUGH..
Dia seolah tersadar kembali saat perutnya terasa dihantam sesuatu yang keras.
Robert masih terus meluapkan kekesalannya pada tangan kanannya yang bertindak ceroboh.
Dia memukul juga menendang kaki pria itu dengan kesal dan marah.
Setelah puas, terlihat Tomi sudah babak belur dan terkulai di lantai dengan memegangi perut dan wajahnya.
"Pergilah sebelum aku menghabisimu saat ini juga. Kali ini aku memberikanmu kesempatan. Jika nanti kau mengulangi kesalahan yang sama. Kau akan dilemparkan sebagai makanan peliharaan kesayanganku!" ujar Robert mengancam.
Dia memiliki 8 ekor harimau putih sebagai peliharaannya. Juga beberapa ekor buaya muara yang sudah dia pelihara sejak 10 tahun. Dan ukurannya cukup untuk mencabik cabik halus mangsanya dengan giginya yang kuat dan besar.
"Ba-baik, tuan." jawab Tomi.
Dia berdiri kemudian menunduk dan keluar dari ruangan yang sudah habis dihancurkan pemiliknya sendiri.
...****************...
Sementara itu, Jeje dan Harsen sudah keluar dari ruangan tempat Jeje melakukan pemeriksaan oleh dokter tadi.
Jeje menghela nafas lega, akhirnya selesai juga, batinnya.
Hari belum cukup sore, Jeje ingin sekali berjalan jalan setelah lama berada di rumah. Dia bosan berada di rumah tidak melakukan kegiatan apa pun karena kakinya sakit saat berjalan.
"Dadd. Ayo kita jalan jalan sebentar sebelum pulang." ajaknya pada Harsen yang mendorong kursi roda di belakang nya.
"Tapi sayang. Kau belum sembuh. Ini juga sudah hampir sore." ujar Harsen.
"Please, dadd. Sebentar saja. Aku bosan di rumah. Ayolaaah. Yaa?" rengek Jeje.
Dia menengok ke belakang dan menatap wajah Harsen memohon.
Harsen sedikit luluh saat mengingat Jeje memang sudah berada di rumah beberapa hari ini tidak melakukan kegiatan apa pun.
Dia mengerti jika Jeje merasa bosan berada seharian di rumah.
Dia kemudian tersenyum menatap putrinya yang sedang memelas dengan wajah imutnya.
Kemudian mengelus kepalanya.
"Baiklah, oke. Tapi sebentar saja dan tidak membeli makanan sembarangan." ujarnya akhirnya.
Jeje senang bukan kepalang mendengarnya. Dia bersorak, bertepuk tangan kecil.
Harsen terkekeh melihatnya. Dia kembali mendorong kursi roda putrinya menuju mobil.
Mereka pergi ke taman kota. Sekedar menyegarkan pikiran.
Setelah sampai, Harsen keluar mobil terlebih dahulu kemudian mengambil kursi roda. Setelah nya dia menggendong Jeje dan mendudukkannya di kursi roda.
"Kau ingin sesuatu, honey?" tanya Harsen sambil mendorong kursi roda.
"Kita berkeliling santai saja dulu dadd sambil melihat lihat." jawab Jeje melihat sekelilingnya yang penuh keramaian.
Berbagai penjual menjajakan dagangannya di setiap sudut mengelilingi taman kota. Ada anak anak berlarian sambil tertawa lepas disusul oleh ibu ibu mereka yang tampak khawatir anak nya akan terjatuh.
Ada pasangan yang sedang menghabiskan waktu bersama sepulang bekerja. Juga muda mudi yang masih memakai seragam, mereka tengah bersenda gurau dengan teman temannya sambil menenteng beberapa jajanan di tangannya masing masing.
Cuaca juga cukup cerah. Tidak ada mendung sedikit pun. Seperti Jeje saat ini, wajahnya tampak berbinar karena bisa jalan jalan lagi.
Meskipun kakinya tak bisa berjalan, untuk saat ini, selalu ada daddy nya yang setia mengantarnya kemana pun dia ingin pergi.
"Dadd, aku ingin mencoba berjalan di sini." ujar Jeje tiba tiba saat sudah berada di tengah taman yang lokasinya rata serta hijau oleh rumput yang dirawat dengan baik.
Jeje memerlukan suasana segar untuk mulai berjalan, karena hal itu akan mengalihkan rasa sakitnya.
"Kau yakin? Kakimu masih belum sembuh honey." jawab Harsen. Khawatir jika Jeje moncoba berjalan kakinya akan sakit lagi.
"Biar aku coba dadd. Aku sudah lama duduk di kursi roda. Ini juga tidak baik, nanti kaki ku jadi malas berjalan." jelas Jeje.
Harsen berpikir. Benar juga, sakit tidak boleh terlalu dimanjakan supaya bisa lebih kuat dan cepat sembuh. Tetapi tidak boleh terlalu dipaksakan juga, itu akan berpengaruh pada sakit yang diderita.
Benar bahwa Jeje memang sudah seminggu duduk di kursi roda. Dan itu hanya luka tembakan, tidak bisa terus dibiarkan.
Namun tetap saja, Harsen khawatir Jeje akan kesakitan dan kondisinya semakin memburuk.
"Tidak. Kau baru satu minggu memakai kursi roda. Itu tidak lama. Bagaimana jika nanti kau terjatuh dan lukamu semakin parah, sayang." ujar Harsen dengan wajah frustasi, berjongkok di depan Jeje.
Jeje memutar mata malas,
"Dadd. Daddy tak perlu khawatir. Ini hanya luka kecil." ucap Jeje yang sedikit tersulut dan mulai kesal.
Kecemasan daddynya terlalu berlebihan, pikirnya.
Harsen membelalak mendengar ucapan Jeje.
"Luka kecil katamu? Kau berteriak dan menangis kesakitan. Kau masuk ruang operasi selama 2 jam. Kau sudah membuat daddy khawatir hingga rasanya ingin mati. Kau bilang itu hanya luka kecil? Luka kecil?" jelas Harsen menatap Jeje tak percaya.
Yang benar saja. Dia hampir mati berdiri waktu melihat wajahnya pucat dengan darah memenuhi kaki nya, batinnya.
Jeje yang mendengar perkataan Harsen barusan langsung memasang wajah menyesal.
Bukannya dia meremehkan luka ini dan membuat daddynya panik.
Hanya saja, dia sudah lelah tidak beraktifitas seperti biasanya, dia ingin bergerak bebas lagi tanpa kursi roda ini.
"Bukan begitu maksudku dadd. Aku hanya tidak ingin membuat daddy kerepotan dengan mengurusiku. Setiap pergerakanku selalu terhalang karena kursi ini.." ucap lirih Jeje sambil menunduk.
Emosi Harsen kembali mereda setelah mendengar keluhan putrinya.
"Kau itu putri daddy, sudah tanggung jawab daddy merawatmu. Daddy melakukannya dengan semampu daddy dan daddy senang bisa mengurusimu. Daddy tidak pernah merasa direpotkan sama sekali. Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu?" jelas Harsen pelan. Tangannya terulur mengusap kepala putrinya.
Bagaimanapun kondisi Jeje dia akan mengurusi nya dengan sepenuh hati, karena dia putri nya, darah dagingnya. Mana mungkin dia merasa terbebani mengurus putrinya sendiri.
"I'm sorry dadd." ucap Jeje akhirnya. Dia selalu kalah bila beradu kata dengan ayahnya.
"Aku hanya ingin mencoba. Aku juga lelah terus duduk di kursi ini." lanjutnya lagi.
Harsen menghela nafas dalam.
"Baiklah jika itu maumu. Kau bisa mencobanya, tapi dengan satu syarat." ujar Harsen menyerah dengan kekeras kepalaan putrinya.
Jeje mendongak, "Syarat? Syarat apa dadd?"
"Jika kau mencobanya kemudian merasakan kakimu sakit, kau jangan memaksa lagi dan harus mendengarkan apa yang daddy katakan." tawar Harsen.
Jeje tersenyum dan mengangguk anggukan kepala. Lagipula aku belum mencobanya, jadi mungkin saja tidak akan terasa sakit, batinnya.
"Oke. Aku setuju."
"Oke. Ayo daddy bantu berdiri. Pelan pelan saja. Jika sakit, langsung bilang pada daddy. Mengerti!"
"Iya dadd, aku mengerti."
Perlahan Jeje bangun dari kursi rodanya. Dengan pelan dia mengangkat kaki kanannya yang diperban di bagian tulang kering nya.
Itulah masalahnya, kata dokter, peluru itu sedikit mengenai tulang kering Jeje dan membuatnya retak.
Jadi kesembuhannya sedikit memakan waktu cukup lama.
"Ssshhh." desis Jeje pelan, merasa sedikit ngilu saat kakinya sudah menyentuh tanah.
"Kau baik baik saja? Apa terasa sakit?" tanya Harsen panik menatap raut wajah putrinya yang meringis.
"Tidak dadd. Hanya sedikit ngilu karena sudah lama tidak digerakkan." kilahnya.
"Baiklah. Kau bisa melangkah? Kau bisa mengangkat kakimu?" tanya Harsen lagi.
Sembari terus memegangi pundak Jeje dari samping dan tangannya menggenggam tangan kanan Jeje. Menuntunnya berjalan ke depan dengan perlahan.
Jeje masih bertahan dan mencoba beberapa langkah lagi. Dengan menahan sakit dia tidak mengatakannya pada Harsen. Bisa bisa nanti dia tidak akan diijinkan mencoba lagi.
Setelah beberapa menit, dia menyerah. Rasanya rasa sakit di kaki nya semakin menjalar ke seluruh tubuh jika semakin dipaksakan.
Dengan peluh yang berjatuhan dari kening nya Jeje berkata.
"Aku lelah dadd. Aku menyerah."
Harsen menatap kasihan putrinya. Dia mengusap peluh di kening Jeje dengan telapak tangannya. Kemudian tersenyum.
"Baik sudah cukup untuk hari ini, ayo kembali ke kursi dan pulang." ujar Harsen.
Jeje hanya mengangguk. Namun, Harsen tidak tega melihat keadaan Jeje, dan hanya menyuruh anak buahnya untuk mengambilkan kursi itu.
Kursi roda didekatkan ke tubuh Jeje. Lalu dia duduk dan menghela nafas lega.
Kemudian mereka masuk mobil dan melaju menuju rumah.
.
.
.
Bersambung.
kan emaknya dah koit tuh, kapan menghianati nya 🤔🤔🤔