IG: margaretraegis
Season 1 END , now S2 Oliver
Partnya emamg banyak tapi pendek 😁 Jangan keder ama part banyak ya
Usia 47 disangka 30an, aki-aki tapi daun muda ini rebutan kue terakhir dengan Anita, diskon lagi.
“Nah, buat kamu.”
“Gak usah.” Aku melenggos, mementahkan tawarannya begitu saja.
“Bener gak mau?” Dia masih memamerkan senyumannya.
“Gak. Thanks.”
“Ini gratis lho, gak usah bayar ke saya.”
“Gue gak suka gratisan.”
“You gak suka gratisan, tapi seneng diskon. Oke-oke, got it.” Kutu kupret! Cari masalah nih kutu.
“Ehhh, kutu... “ Baru mau nyembur dia udah angkat tangan.
Begitulah kisah pertemuan pertama mereka. Bagaimana bisa Anita akhirnya berkenalan lebih dekat dengan aki-aki ganteng ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24. Berjalan Bersama Waktu 1
“Ma?” Aku mengoncangkan tubuhnya pelan. Kunyalakan lampu kamar, dia masih tak bangun. Mukanya pucat. Sekarang jantungku berdebar keras. “Mama!” Kuraba lehernya dingin. Kenapa dingin! “Mama! Bangun Ma!” Aku langsung menangis, sekarang kusadari Mama tidak bernapas. “Mama jangan nakutin Tata Ma...” Sekarang aku tahu sesuatu buruk telah terjadi.
“Ma! Mama sakit Ma? Kita ke dokter aja Ma...” Aku tahu didalam hati apa yang terjadi, tapi aku menolak mengakui itu, “Mama, Tata panggil dokter...” aku mengatakan itu sambil menangis, dokter! Mungkin Mama masih bisa dibawa kerumah sakit, kemungkinan yang lain. Aku berlari gemetar mencari ponselku, menelepon dokter Ridwan, dokter umum yang membuka praktek di bawah dan juga tinggal di apartment ini.
“Dok!” Aku hampir berteriak saat dia mengangkat teleponku.
“Iya?”
“Ini Anita, Mama saya dok! Gak bisa bangun Dok, tolongin Dok! Dia gak napas dok!” Aku mengatakan itu sambil histeris dan mengoncangkan tubuh Mama, berharap dia terbangun dan meresponku.
“Unit kamu berapa?!” Aku langsung menyebutkan unitku yang harusnya ada di lantai dibawahnya.
“Tunggu saya.”
Telepon terputus dan aku mengoncangkan tubuh Mama, membopongnya ke pangkuanku berharap dia bangun sekarang juga. Tapi yang kudapati hanya tubuhnya yang terasa dingin. Aku mengosok tangannya,memeluknya agar dia merasa hangat, aku tak tahu apa yang kulakukan.“Ma, mama jangan nakutin Tata Ma. Bangun Ma... Ma, kan kita mau jalan-jalan Ma!” Mama tidak menanggapi, otakku kosong karena panik, aku terus memanggil namanya dan memohon Mama bangun, bayangan buruk terjadi di kepalaku tentang apa yang terjadi, rasanya seabad seseorang mengetuk pintuku.
Aku melepas Mama dan berlari ke pintu. Dokter Ridwan yang hanya memakai kaus tiba didepan pintuku.
“Dok, cepetan dok. Tolong Mama...” Aku menyeret tangannya dengan panik dengan muka bersimbah air mata. Saat dia tiba dia langsung memeriksa leher Mama.
“Ini...” dia menekan dadanya. Sementara aku menunggu disampingnya dengan menggosok tangan Mama.
“Mama gak bangun-bangun Dok,aku masuk udah begini...” Dokter Ridwan diam tidak bicara, dia mengambil senternya memeriksa pupil mata.
“Dok, apa langsung telepon ambulan. Saya mesti apa?!” Dia tidak menjawabku, tapi mendengarkan suara jantung Mama. Melihatku ... dan tak lama kemudian menggeleng. Kurasa dari awal dia sudah menentukan, aku benar-benar berharap ada keajaiban. Tapi itu tidak mungkin terjadi sekarang.
“Sorry Nita, ...” perkataannya membuatku meraung memeluk Mama sekarang.
“Mama... Bangun Ma!” Tak mungkin begini, Mama janji kita bakal ke HK bulan depan.” Rasanya sangat sakit, aku tak percaya ini harus terjadi sekarang. Aku tak mau percaya....! ”Ma, mama bilang mau ketemu Papa Ma...Kok mama pergi Ma.” Aku sudah tak tahu apa yang harus kukatakan pada Mama lagi. Aku hanya menangis dan memeluknya. Dokter Ridwan menepuk bahuku, membiarkan aku menangis beberapa saat.
“Mama perginya gak sakit... Iklasin.” Dia memcoba bicara padaku, sementara aku mengelengkan kepalaku memeluk Mama dan tak mau melepaskannya.
“Kok bisa Dok, kok bisa, Mama gak kenapa-kenapa tadinya?”
“Saya tidak bisa memastikan, kemungkinan besar masalah jantung. Saya minta maaf, mungkin ini terjadi sudah berjam-jam yang lalu menurut rekaan suhu tubuhnya. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi...” Aku bahkan tidak sempat mengatakan apapun pada Mama.
Dokter Ridwan duduk bersamaku beberapa saat dan membiarkanku menangis.
“Kamu harus menelepon keluarga kamu. Mau saya bantu telepon? Saya tunggu disini sampai kamu ada yang bantu.”
Aku harus menelepon Tante Yuni, satu-satunya saudara Mama.
“Tante,...”
“Tata? Kenapa nangis Ta.”
“Mama ...” Sekarang aku tak sanggup mengatakannya.
“Mama kenapa?!”
“Mama udah gak ada.”
“Gak ada?” Dia diam disana. “Maksud kamu apa?!Kenapa... kok...” Detik berikutnya kami sudah bertangisan berdua. Aku mengatakan pada tante mama meninggal dalam tidurnya. “Tante kesana sekarang... Tante kesana.” Dia mungkin baru sampai sejam lagi, Tante di Bekasi.
Aku harus memberitahu Papa. Tapi yang biasa telepon Papa dari ponsel Mama, aku bahkan belum menyimpannya di ponselku. Satu-satunya yang bisa kutelepon adalah Ko Derrick untuk mengabari Papa.
“Ko...” Aku menelepon dengan suara masih terisak.
“Tata? Kenapa?”
“Minta tolong telepon Papa, Mama gak ada.” Sekarang dia diam karena binggung.
“Gak ada? Apa maksud kamu gak ada?” Katanya Mama mau ngajak ke HK, ketemu Papa, kok bisa kami gak dikasih kesempatan sama sekali. Dosa apa aku, kenapa ... Aku gak sanggup ngomong sama Ko Derrick. “Tata?!”
“Sini saya yang ngomong...” Dokter Ridwan mengambil ponselku. Menyalakan loudspeaker, supaya aku bisa mendengar.
“Apa maksud kamu gak ada, saya gak ngerti bahasa kamu gak ada?!”