Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Aurora memeluk kedua lututnya erat-erat di dalam bilik toilet. Jemarinya menutup mulut sendiri, menahan isak yang nyaris pecah. Air mata mengalir tanpa mampu ia bendung, membasahi pipi hingga sela-sela jarinya.
Ia ingin menangis sekeras mungkin.
Namun ia bahkan tidak berani mengeluarkan suara.
Setiap detik terasa begitu panjang. Sedikit saja ia membuat kegaduhan, pria di luar sana mungkin akan mengingat bahwa masih ada seorang saksi yang bersembunyi di dalam toilet itu.
"Tenang... tenang..." batinnya berulang kali.
Tetapi ketenangan tidak pernah benar-benar datang.
Malam yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Belum lama ia menerima tawaran yang mungkin akan mengubah kariernya, kini ia justru terjebak di tempat yang sama dengan seorang pria misterius yang baru saja merenggut nyawa seseorang.
Aurora menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah, berusaha menahan tangis agar tidak terdengar.
Entah berapa lama ia bertahan seperti itu.
Perlahan, langkah kaki di luar mulai menghilang.
Suasana kembali sunyi.
Aurora memasang telinga beberapa saat lagi untuk memastikan. Ketika tak lagi terdengar suara percakapan maupun langkah kaki, ia memberanikan diri berdiri.
Dengan napas yang masih gemetar, ia membuka pengunci pintu bilik secara perlahan.
Klik...
Pintu terbuka hanya selebar beberapa sentimeter.
Aurora lebih dulu mengeluarkan kepalanya, mengamati keadaan di luar dengan hati-hati.
Namun...
Jantungnya kembali serasa berhenti berdetak.
Kael masih berada di sana.
Pria itu berdiri membelakanginya di depan wastafel. Kali ini ia telah berganti pakaian. Kemeja hitam bersih membalut tubuh tegapnya, sementara lengan bajunya sedang ia gulung perlahan hingga sebatas siku, seolah baru saja menyelesaikan urusan yang melelahkan.
Tak ada lagi bercak darah yang sebelumnya memenuhi pakaian dan tangannya.
Ia tampak begitu rapi.
Begitu tenang.
Seolah beberapa menit yang lalu tidak pernah terjadi apa-apa.
Aurora mengalihkan pandangan ke lantai.
Tubuh pria yang tadi tergeletak di sana...
Telah menghilang.
Genangan darah yang memenuhi keramik pun lenyap tanpa bekas.
Yang tersisa hanyalah lantai yang kembali bersih mengilap.
Bahkan aroma anyir yang semula menusuk hidung kini telah berganti dengan wangi lembut pengharum ruangan bercampur samar aroma mawar, seolah seseorang sengaja menghapus setiap jejak kejadian mengerikan itu.
Aurora merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Secepat ini..." batinnya.
"Mereka membersihkan semuanya hanya dalam hitungan menit..."
Baru saat itulah Aurora benar-benar memahami bahwa orang-orang yang datang tadi bukanlah pengunjung biasa.
Mereka datang bukan untuk menolong.
Mereka datang untuk menghilangkan semua jejak.
Dan Kael...
Pria itu bahkan tidak perlu memberi satu perintah pun.
Segalanya telah selesai sebelum Aurora sempat mengumpulkan keberanian untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
Aurora membeku di tempatnya.
Tatapannya terpaku pada Kael yang perlahan berbalik menghadapnya. Langkah pria itu tenang, terukur, tanpa sedikit pun menunjukkan tergesa-gesa. Namun justru ketenangan itulah yang membuat rasa takut Aurora semakin membesar.
Tanpa sadar, ia menahan napas.
Di tangan kanan Kael masih tergenggam sebilah belati yang telah dibersihkan. Mata pisaunya memantulkan cahaya lampu putih di langit-langit toilet, berkilau dingin di hadapan Aurora.
Jarak di antara mereka semakin dekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Hingga akhirnya Kael berhenti tepat di depan Aurora.
Glek...
Aurora menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering, sementara kedua kakinya nyaris kehilangan tenaga untuk menopang tubuhnya.
Entah mengapa, yang paling membuatnya gentar bukanlah belati itu.
Melainkan tatapan Kael.
Sepasang mata yang begitu tenang, tetapi menyimpan tekanan yang sulit dijelaskan. Tatapan itu seolah mampu membaca setiap kepanikan yang berusaha Aurora sembunyikan.
Kael mengangkat tangan kirinya secara perlahan.
Aurora refleks memejamkan mata, mengira sesuatu yang buruk akan terjadi.
Namun yang ia rasakan hanyalah sentuhan ringan di sudut bibirnya.
Kael mengusap setitik noda yang entah sejak kapan menempel di sana—mungkin sisa air mata atau riasan yang mulai luntur akibat tangisnya.
Gerakannya singkat.
Dingin.
Tanpa kelembutan, tetapi juga tanpa niat menyakiti.
Aurora membuka mata perlahan.
Kael menatap ujung jarinya sesaat sebelum mengalihkan pandangan kembali kepadanya.
"Lain kali," ucapnya pelan dengan suara datar, "jangan biarkan kepanikan membuatmu bersuara."
Ia mengangkat belati di tangannya, bukan untuk mengancam secara langsung, melainkan sekadar membiarkan Aurora menyadari keberadaan benda itu.
"Mulut yang terlalu banyak bicara..." lanjutnya tenang, "...sering kali membawa pemiliknya pada akhir yang tidak diinginkan."
Kalimat itu terdengar begitu biasa.
Namun maknanya jelas.
Itu bukan sekadar nasihat.
Melainkan peringatan.
Kael kemudian menggerakkan ujung jarinya perlahan di depan leher Aurora tanpa benar-benar menyentuhnya, seolah menggambar sebuah garis tipis di udara.
"Aku tidak suka mengulang ucapanku."
Aurora segera mengangguk cepat.
"A-aku mengerti, Om..." jawabnya lirih dengan suara yang hampir tak terdengar.
Untuk beberapa detik, Kael tetap menatapnya dalam diam.
Lalu ia menarik satu langkah ke belakang.
"Bagus."
Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya.
Namun bagi Aurora, satu kata tersebut terasa lebih menyesakkan daripada ancaman panjang apa pun.
Ia baru menyadari bahwa telapak tangannya telah basah oleh keringat dingin. Jantungnya masih berdetak begitu keras, sementara pikirannya dipenuhi satu harapan sederhana.
Semoga malam ini menjadi satu-satunya malam ia harus berhadapan dengan pria menyeramkan itu. Tanpa ia sadari, takdir justru sedang menyiapkan pertemuan-pertemuan lain yang jauh lebih sulit untuk ia hindari.
Kael menarik pandangannya dari Aurora untuk terakhir kalinya.
Tanpa sepatah kata lagi, ia memutar tubuhnya dan melangkah menuju pintu keluar toilet. Langkahnya panjang, mantap, dan tenang, hingga gema suara sepatunya perlahan menghilang di sepanjang lorong basement.
Pintu menutup.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Barulah setelah memastikan pria itu benar-benar pergi, seluruh kekuatan yang selama ini dipaksakan Aurora untuk bertahan seolah lenyap begitu saja.
Tubuhnya melemas.
Ia perlahan terduduk di lantai dingin, memeluk kedua lututnya erat-erat. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Isaknya menggema pelan di dalam toilet yang kini kembali sunyi.
Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan.
Malam yang semula dipenuhi harapan kini berubah menjadi mimpi buruk yang mungkin akan terus menghantuinya.
Aurora menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Seandainya Kak Adrian ada di sini..." bisiknya lirih di sela isak. "Aku... benar-benar takut."
Bayangan tatapan Kael kembali memenuhi pikirannya.
Pria itu bahkan tidak perlu meninggikan suara untuk membuatnya gemetar.
Ada sesuatu dalam dirinya yang jauh lebih mengerikan daripada sebilah belati.
Aurora berusaha menarik napas panjang beberapa kali hingga tangisnya perlahan mereda. Meski tubuhnya masih bergetar, ia memaksa dirinya bangkit. Ia membasuh wajahnya, memperbaiki riasan yang telah berantakan, lalu menatap pantulan dirinya di cermin.
Wajah itu tampak pucat.
Matanya memerah.
Namun ia tidak boleh pulang dalam keadaan seperti ini.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Aurora mengeluarkan ponselnya. Jemarinya mencari nama yang paling ia percaya.
Adrian.
Panggilan itu segera tersambung.
"Sudah selesai?" suara Adrian terdengar tenang dari seberang.
Mendengar suara kakaknya saja, tenggorokan Aurora langsung terasa sesak.
"Iya, Kak..." jawabnya pelan, berusaha terdengar biasa. "Bisa... jemput aku?"
Adrian terdiam sejenak.
"Kamu di mana?"
Aurora menyebutkan nama pusat perbelanjaan itu.
"Kakak berangkat sekarang."
Hanya itu.
Tak ada pertanyaan berlebihan.
Namun Aurora tahu, Adrian pasti menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari nada suaranya.
Meski begitu, ia tetap memilih menyembunyikan kejadian yang baru saja dialaminya.
Bukan karena tidak mempercayai Adrian.
Melainkan karena ancaman Kael masih terngiang jelas di telinganya.
"Mulut yang terlalu banyak bicara... sering kali membawa pemiliknya pada akhir yang tidak diinginkan."
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Aurora menggenggam ponselnya semakin erat.
Untuk saat ini...
Ia hanya ingin segera pulang.
Malam harinya, tepat ketika jarum jam menunjukkan pukul tujuh, Aurora menghubungi manajernya.
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa datang malam ini," ucapnya pelan. "Kondisiku sedang kurang baik. Tubuhku benar-benar tidak sehat."
Manajer yang sejak awal telah menyusun rencananya bergerak lebih cepat daripada yang diduga Aurora.
Saat Aurora mencoba menolak dengan alasan tubuhnya sedang tidak enak badan, wanita itu sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menghindar. Bahkan, tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, ia langsung mengirim seorang sopir untuk menjemput Aurora.
"Tenang saja," ujar sang manajer melalui sambungan telepon dengan suara yang terdengar begitu meyakinkan. "Klien yang akan kau temui adalah Tuan Kael. Dia orang yang baik. Ingat, ini adalah pertemuan penting untuk masa depanmu."
Aurora masih menyimpan keraguan.
"Benarkah Tuan Kael orang baik?" tanyanya untuk kesekian kali.
"Tentu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Aku sudah bertemu dengannya lebih dulu."
Jawaban itu akhirnya membuat Aurora menghela napas pelan. Meski ada firasat yang sulit dijelaskan, ia memilih mempercayai manajernya.
Tak lama kemudian, mobil yang dikirim telah membawanya menuju Grand Imperial Hotel.
Sepanjang perjalanan, Aurora beberapa kali menggenggam ponselnya erat. Entah mengapa, perasaannya semakin gelisah setiap mobil itu mendekati hotel megah tersebut.
Sesampainya di lobi, seorang petugas mengantarnya hingga ke lantai tempat Presidential Suite berada.
Di depan pintu bernomor 2701, Aurora kembali memastikan.
"Maaf... Apa benar Tuan Kael sudah menunggu di dalam?"
Petugas itu hanya mengangguk sopan.
"Benar, Nona. Silakan masuk."
Aurora menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah ke dalam kamar.
Ruangan itu begitu luas dan sunyi.
Ia duduk di sofa, menunggu dengan kedua tangan saling menggenggam di atas pangkuannya. Sesekali matanya melirik ke arah pintu, berharap pria yang ia sebut dengan Tuan Kael segera muncul agar semua urusannya segera selesai.
Beberapa menit berlalu.
Klik...
Suara gagang pintu diputar memecah keheningan.
Aurora spontan berdiri.
Senyumnya yang sempat terbit seketika membeku.
Sosok yang masuk bukanlah seorang pria paruh baya dalam bayangannya.
Melainkan pria yang beberapa jam lalu ditemuinya di toilet basement sebuah pusat perbelanjaan.
Pria bertubuh tinggi dengan lengan bertato itu.
Kael.
...****************...
maap,unfollow dan unsubscribe