Tepat di hari pernikahan Aaron.
Zianca dan Aaron akhirnya di pertemukan kembali setelah berpisah selama bertahun-tahun. Ternyata kini Zianca tengah menjalin hubungan dengan kakak laki-laki Aaron, Lucas pria dingin dan misterius itu kini sangat mencintai dan terobsesi dengan sosok Zianca. Namun di balik hubungan Zianca dan Lucas, ada rahasia besar di dalamnya.
Setelah kembali bertemu, Zianca dan Aaron perlahan memperbaiki hubungan pertemanan mereka. Namun, siapa sangka jika Aaron masih menaruh hati padanya. Lucas yang menyadari hubungan antara Aaron dan Zianca yang tampak tak biasa itu mulai terganggu, ia mulai bersikap semakin posesif dan over-reaction terhadap Zianca, bahkan ia sampai menyakiti Zianca tanpa ia sadari.
Perselisihan semakin memanas di antara ketiganya, hingga akhirnya Lucas sadar jika Zianca selama ini tidak mencintainya, melainkan ingin membalas dendam padanya atas kemaatian kakak perempuannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunita tri maryadi Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : M I K H A #2
Zianca memeriksa berulang kali alamat kos-kosan Mikha. Ia melihat sekeliling, tempat itu jauh dari ekspektasi Zianca. Mikha yang selalu tampil glamor pasti akan enggan tinggal di lingkungan seperti itu.
kini Zianca berada di pemukiman paling padat di ibukota, bahkan daerah itu bisa terbilang kumuh. Zianca harus berjalan kaki masuk ke sebuah gang kecil, sebelumnya ia menemukan plang nama kos-kosan yang pernah di sebutkan Mikha, ia berjalan menelusuri gang sempit itu.
Tak jauh masuk ke dalam, Zianca menemukan sebuah pagar besi berwarna hitam yang tinggi, Zianca masuk ke dalam dengan takut. Ia melihat pintu pagar itu terbuka, di dalam ada 4 tingkat kos-kosan. Pemandangan lain menambah hancurnya perasaan Zianca, ia dapat melihat banyak pasangan muda-mudi keluar dengan santai dari dalam kamar kos-an.
Di pojok pagar ada pos kecil, dan tengah duduk wanita berusia 40-an akhir tengah duduk disana sambil bermain ponsel.
"Maaf Bu.. Permisi.." sapa Zianca sungkan.
"Iya.. Ada perlu apa?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Maaf, saya mau cari kakak saya Mikha.. Katanya dia tinggal disini.."
"Mikha?? Yang rambutnya coklat panjang itu ya??" tebaknya mengira-ngira.
"I..Iya buk.." angguk Zianca cepat saat tebakan ibu itu benar. Memang baru-baru ini Mikha tampak mengecat rambutnya dengan warna coklat muda.
"Kamarnya di lantai 2, nomer 217, tuh..yang di pojokan dekat tangga itu.." tunjuk ibu itu mengarah ke lantai 2 bangunan.
"Baik Bu.. Terima kasih.."
"Oh..iya.. bilang sama dia.. uang sewa kosnya buruan di bayar, ini udah mau jatuh tempo lagi nih.." gerutu ibu itu mengomel.
"Telat berapa bulan Bu?"
"Udah mau 3 bulan.." jawabnya dengan nada kesal.
Zianca terdiam, ia menelan salivanya dengan sulit, lalu hanya mengangguk cepat lalu segera melangkah pergi menuju kamar kos Mikha.
Zianca menaiki anak tangga yang kotor itu. Bahkan tangga itu berbau pesing, seakan ada orang yang sudah buang air kecil sembarangan disana.
Setelah tiba di depan pintu kamar Mikha, tubuh Zianca bergetar hebat, ia merasa takut, sedih, cemas, kalut, marah, bahkan kasihan. Dalam rak sepatu di sisi pintu kamar tampak sepasang sendal dan sepatu pria. Cukup lama Zianca berdiri mematung di depan pintu kamar Mikha.
Merasa tak sanggup, Zianca memutuskan untuk segera pergi, ia segera menuruni anak tangga dengan langkah cepat, saat hampir tiba di bawah, langkahnya terhenti, tubuhnya membatu saat berpapasan dengan Mikha.
Matanya membelalak kaget, bahkan kantong belanjaannya jatuh ke tanah saat melihat Zianca tengah ada disana.
"Ngapain lo disini !!" bentak Mikha segera menyeret dan menarik keras pergelangan tangan Zianca.
"..." Zianca menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"**** !!! Lo kesini gara-gara gue ngambil duit lo kan??!! Gue bakal ganti !!! Lo nggak perlu sampe datang kesini !!" bentak Mikha dengan kasar.
"Jadi emang kakak yang ambil duit aku??" tanya Zianca lirih.
"Iya !!! Gue pasti balikin.. Sekarang lo pergi dari sini.." usirnya mendorong keras tubuh mungil Zianca.
"Sampai kapan kakak mau hidup kayak gini??" tanya Zianca menunduk.
"Apa?? Heh !! Lo mau ngajarin gue soal hidup?? lo juga baru lulus !! Belum tentu hidup lo lebih baik dari gue !!"
"Setidaknya kakak masih punya rumah, kenapa kakak harus tinggal di tempat kayak gini.. Aku tadi juga ke kantor kakak.. Mereka bilang kakak nggak pernah jadi karyawan disana.." imbuh Zianca tertunduk menahan tangisnya.
"Sial*n !!!" umpat Mikha menjambak keras rambut Zianca, "brengs*k !!! Ngapain lo harus kesana.. Cuma gara-gara duit segitu lo mau bikin malu kakak lo sendiri.. Iya???!!!"
Zianca yang meringis kesakitan berusaha melepas cengkraman Mikha.
"Dasar anak si*l !!!! Seharusnya lo di buang dari dulu !!! Kalau bukan gara-gara papa, lo itu nggak bakal bisa hidup di dunia ini tau nggak !!!" amuk Mikha terus menarik keras rambutnya.
Banyak pasang mata mulai melihat keributan itu, Zianca yang meringis kesakitan seketika terdiam dan tak melawan Mikha sama sekali sesaat setelah mendengar ucapan Mikha barusan.
"Mikha !!! Stop !!!" pekik seorang pria tampak berlari dari tengah kerumunan, ia segera menarik keras tangan Mikha. Menggendong tubuh kurus Mikha menjauh dari keramaian.
"Zianca !! Kamu buruan pergi.." seru pria asing itu segera menggendong Mikha naik ke atas tangga menuju kamar kosnya. Sementara Zianca yang masih terguncang termenung dengan air mata yang mengalir deras.
Kakinya terasa lemas, orang-orang di sekitarnya saling berbisik satu sama lain sambil melemparkan tatapan sinis pada Zianca.
Dengan lemas ia segera pergi meninggalkan tempat itu, ia berusaha berlari menjauh, sejauh yang ia bisa. Tangisnya sudah tak terbendung lagi, ia terus berlari sambil menangis. Ia tak peduli sama sekali dengan orang-orang yang memperhatikannya. Hatinya telah hancur berkeping-keping. Mikha yang selama ini lembut dan baik padanya bertingkah seperti musuh bebuyutannya. Ia merasa setengah dunianya mulai runtuh dan hancur.
Kaka gak ada akhlak