Zora pulang ke kampung halaman Setelah sekian lama tinggal di kota, kepulangan dia kali ini tentu untuk merawat orang tua yang sudah begitu lanjut usia dan hanya Dia anak yang dimiliki oleh keluarga tersebut.
Rumah yang begitu besar dan terkesan begitu menyeramkan sekali bila hanya dilihat dari luar, tapi ternyata bukan hanya di luar dan di dalam telah menyimpan misteri yang begitu mengerikan sekali, bahkan Zora sama sekali tidak menyangka bahwa itu semua bersangkutan dengan dirinya.
Apa yang terjadi dengan rumah itu?
Apa kah Zora bisa bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03. Keanehan
Devano menatap sang istri yang sudah tertidur pula sekarang yang mungkin saja merasa kelelahan, dia merasa tidak enak dengan ini semua namun mau tidak mau mereka juga harus bertahan di rumah tersebut karena Bu Susi yang sangat keras kepala tidak ingin meninggalkan rumah ini sehingga harus mereka yang datang ke rumah tersebut.
Sementara Zora merasa begitu enggan sekali untuk tetap tinggal di rumah ini karena dia merasa ada yang tidak beres, Devano sebelumnya tidak percaya dengan ucapan sang istri tentang rumah ini telah menyimpan sesuatu yang tidak biasa, namun ketika melihat sendiri bagaimana keadaan Zora saat itu maka dia merasa memang rumah ini ada sesuatu yang tersimpan.
Walau Dia adalah orang kota namun tetap saja ada rasa percaya di dalam diri Devano bahwa makhluk tak kasat mata itu memang ada di dunia ini, terlebih lagi Desa ini terlihat begitu suram serta rumah milik keluarga Bu Susi memang seolah tidak nyaman untuk mereka tinggali.
Namun Entah mengapa Bu Susi begitu berat meninggalkan rumah itu sehingga membuat mereka menjadi tidak memiliki pilihan lain, ini adalah malam pertama untuk mereka tinggal di rumah tua tersebut setelah beberapa waktu Zora meninggalkan rumah itu untuk tinggal di kota bersama dengan tante dia sendiri.
''Apa mungkin ada sesuatu di dalam rumah ini yang tidak biasa?'' batin Devano sembari menghisap rokok di tangan.
Suasana rumah sudah begitu sunyi sekali pertanda memang para penghuni telah tertidur nyenyak, hanya Devano yang masih belum bisa memejamkan mata karena tadi dia berencana untuk keliling desa untuk melihat serta berkenalan dengan para penduduk namun dia batalkan karena Zora yang mendadak saja pingsan.
Entah apa yang sudah terjadi pada Zora itu karena wanita tersebut juga tidak mengatakan kepada Devano, namun dari sorot mata saja maka Devano sudah bisa memahami bahwa Zora sedang ketakutan dengan perasaan yang begitu besar di dalam hati dia sekarang.
''Em aku akan melihat ibu terlebih dahulu kalau begitu.'' Devano bangkit menuju lantai atas.
''Rumah bagus begini namun auranya sama sekali tidak terbuka.'' ujar Devano sembari menatap sekeliling.
Wuuusssh.
Wuuusssh.
Braaaaak.
'' La Ilaha Illallah!'' Devano tersentak kaget ketika pintu utama justru terbuka lebar.
Wuuuuusssshhh.
''Aih jadi masuk semua ini daun kering ke dalam rumah, apa tadi memang belum dikunci ya pintu ini.'' gumam Devano sendirian dan dia berjalan untuk menutup pintu itu kembali.
Jedeeeeeerr.
''Ya allah, sepertinya malam ini akan turun hujan begitu deras.'' Devano berdiri di ambang pintu sembari menatap langit yang begitu kelam pertanda hujan akan segera turun.
''Ha?!''
Devano agak bengong ketika tadi dia tidak sengaja melihat bayangan seolah melintas di depan patung wanita yang sedang menuang air itu, Karena penasaran maka dia segera keluar dari rumah untuk memastikan apakah di halaman rumah ini memang ada seseorang yang sedang mengintai atau mungkin itu adalah pembantu rumah mereka yang belum pulang.
''Mbak? Mbak Paini!'' Devano memanggil nama pembantu rumah mereka.
''Kok tidak ada orang, Padahal tadi aku melihat ada seseorang yang berjalan ke sini.'' ujar Devano sembari menatap kesana kemari.
Jedeeeeeerr.
''Greeeem.''
Andai saja saat ini Devano menoleh dan bisa melihat maka dia pasti akan segera pingsan, sebab di belakang dia telah berdiri seorang wanita memakai jilbab berwarna hitam dengan wajah berwarna hijau seolah akan membusuk, bahkan bola mata itu juga akan keluar dari dalam rongga mata sehingga semuanya terlihat begitu menyeramkan sekali.
''Apa sih, kok terasa aneh dan janggal seperti ini?'' Devano menoleh ke belakang dan tidak ada bayangan lagi.
Sosok wanita berbaju dan bertudung hitam itu juga sudah tidak ada di belakang dia, namun hidung Devano mencium aroma busuk yang begitu kuat sehingga dia melongok ke dalam kolam air kecil itu untuk memastikan apakah ada bangkai hewan yang tertinggal di sana, namun kolam Itu tampak bersih sehingga tidak mungkin ada hewan yang mati di sana tanpa ketahuan.
''Pantas saja Zora sangat enggan sekali untuk pulang ke rumah ini.'' batin Devano dalam hati dia.
''Semua terasa aneh namun aku sendiri sama sekali tidak tahu itu keanehan yang berasal dari mana.'' Devano sungguh bingung dengan perasaan dia sendiri sekarang ini.
Memang seolah ada orang lain namun dia sendiri tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, kepala pria ini mendongak ke atas dan seketika dia menjadi kaget bukan main ketika melihat di balkon rumah, Bu Susi sedang berdiri di sana dengan pakaian putih itu sehingga membuat Devano kaget bukan main.
''Ibu!'' Devano berteriak karena takut bila nanti sang mertua akan loncat dari sana.
''Ya allah, jangan sampai terjadi sesuatu pada ibu.'' pria ini berlari kencang menuju masuk ke dalam rumah untuk menghentikan Bu Susi yang ada di balkon.
''Ibuuu, Jangan lakukan itu.'' Devano berteriak dan langsung membuka pintu kamar milik Bu Susi.
Namun pria ini menjadi kaget bukan main karena Bu Susi tetap terbaring di atas ranjang dengan pandangan mata kosong menatap ke atas, sementara tadi di bawah dia melihat sendiri bagaimana Bu Susi berjalan dengan tubuh gemetar menuju balkon dan seolah dia akan segera meloncat dari lantai dua rumah ini.
''Bu?'' Devano mendekati ranjang untuk melihat keadaan Bu Susi.
''Eeeeghhhh.''
''Kenapa Ibu tidak tidur?'' Devano bertanya dengan lembut.
''Eeeeghh, di.... diaaaaa....
''Dia siapa? Ibu harus nya tidur karena ini sudah malam kan.'' ujar Devano sambil menarik selimut.
''Zo... raaaaaa....
''Zora sedang istirahat di kamar karena dia merasa lelah dengan perjalanan tadi siang.'' Devano menjawab dengan lembut.
Namun Bu Susi terus saja menggeleng dengan mata tak berkedip itu sehingga kadang membuat Devano juga merasa merinding, ini dia mulai bertanya-tanya apakah memang Bu Susi tidak pernah tertidur Semenjak dia sakit atau hanya malam ini saja dia tidak bisa memejamkan mata.
''Ibu istirahat ya, Aku akan menemani Zora di bawah.'' pamit Devano karena dia merasa kamar ini sangat memiliki udara yang dingin sekali.
Sreeeeet.
''Kenapa, Bu? Ibu mau apa, biar aku ambilkan.'' Devano berhenti karena Bu Susi menangkap tangan dia.
''Pergi..... Zen.....
''Kenapa Ibu ini?'' batin Devano yang tidak mengerti sama sekali.
Tubuh orang tua yang terlihat kaku itu membuat Devano merasa ngeri dan juga merinding, sebab sampai sekarang ini sebenarnya dokter tidak bisa memvonis sakit Bu Susi dengan pasti, beda dokter yang didatangi maka akan berbeda juga penyakit yang mereka katakan sehingga membuat Zora begitu pusing sekali memikirkan keadaan Bu Susi ini.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar nya ya.