Nindy adalah siswi yang slalu bermasalah di sekolah dan Bryan adalah ketua OSIS yang tegas dari dari permasalahan yang selalu melibatkan keduanya di sekolah hingga perjodohan yang memaksa mereka bersama menumbuhkan benih cinta
tapi banyak masalah dan ujian yang harus mereka hadapi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ai laelasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 24
Nindy semakin menangis karena perlakuan Bryan
dia sadar dia memang salah tapi dengan sikap Bryan yang seperti itu sulit untuk Nindy menceritakan yang sebenarnya
" Bodoh banget kenapa gue gak jujur aja kemaren" gumam Nindy di sela Isak tangisnya
Nindy memunguti satu persatu pecahan piring di lantai
tanpa di sadari Nindy menginjak pecahan beling kecil
kakinya terluka mengeluarkan cukup banyak darah
"Kenapa hari ini gue sial banget" ucap Nindy mengambil p3k di dapur
Setelah membersihkan lukanya dan memperbannya
Nindy pergi ke sekolah mengendarai motornya
sesampainya di depan gerbang sekolah Bryan melihat Leo yang tersenyum padanya
Bryan yang juga melihat itu semakin di bakar api cemburu
dia sengaja mengobrol dengan Maria dan Meira berniat membuat Nindy cemburu
tapi Nindy hanya meliriknya sekilas lalu pergi masuk ke sekolah
melihat aksinya gagal Bryan menepis kasar tangan Maria yang memeluk lengannya
sikapnya kini berbeda dari sebelumnya
membuat 2wanita itu heran
" Lo kenapa sih bry..." ucap Maria terpotong
" Minggir sana, awas aja kalo Lo terbukti sebagai orang yang menyebarkan gosip di sekolah Nindy" ucap Bryan lalu pergi
"pagi zeyeng" ucap Dara dan Wina
"pagi" singkat Nindy lalu berjalan mendahului mereka
'' Lo kenapa jalannya pincang gitu?" tanya Dara
"gak apa apa, tadi gue kena pecahan piring" ucap Nindy
Dara dan Wina berinisiatif memapah Nindy masing masing berada di sampingnya
Nindy memutar matanya jengah dengan tingkah sahabatnya
"Lo pada kenapa sih? gue gak apa apa guys gue masih bisa jalan" ucap Nindy menurunkan tangan mereka yang memegang lengannya
"gue khawatir sama Lo dan baby" bisik Wina
Nindy tersenyum dengan perhatian kedua sahabatnya
Nindy menggandeng pundak keduanya merapatkannya ke tubuhnya
"kalian sayang banget ya sama gue?" tanya Nindy seraya menaik turunkan alisnya
"Ya iyalah bege" ucap Wina menoyor kepala Nindy
"Masuk yuk ah " ucap Dara menarik ke dua sahabatnya
Sesampainya di kelas Nindy melihat Damar yang sedang berbincang dengan teman sekelasnya
Nindy berjalan mendekati meja Damar dan berhenti di dekat mejanya
"Damar gue boleh minta waktunya bentar gak?" tanya Nindy
"Sama gue aja nin gue juga gak kalah ganteng sama Damar" ucap teman lelakinya
"Awas entar viral lagi" sindir murid lain
"Gak apa apa viral sama yang ono masih di lindungin sama pihak sekolah kalo sama yang lain bisa bisa di DO" sindir yang lain
Tanpa bicara lagi Nindy langsung kembali ke tempat duduknya
dia merasa kesal dengan apa yang dia alami saat ini
bagaimana cara agar dia tidak di rundung lagi di sekolah
Waktu jam istirahat Nindy tidak ikut ke kantin bersama sahabatnya
dia lebih memilih duduk di bawah pohon yang ada di belakang sekolah
Damar yang mencari cari keberadaan Nindy kemana mana akhirnya menemukannya
"Hei nin, boleh gak gue duduk disini?"tanya Damar
" Mending Lo pergi aja gue gak mau jadi bahan omongan lagi" ucap Nindy
" Tapi bukannya ada yang mau Lo omongin?" tanya Damar tapi Nindy tidak menjawab
Damar lalu duduk di balik pohon di belakang Nindy
jarak duduk mereka terhalang pohon jadi mereka tidak berdekatan
Nindy tersenyum karena ide Damar yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Nindy
"Nah kalo gini kan gak Deket Deket coba sekarang mau tanya apa?" tanya Damar
"Lo sodaranya kak Leo kan?" tanya Nindy
"Iya, emang kenapa? Lo suka sama dia?" tanya Damar
"Enggak bukan gitu, gue mau tanya emang iya orang tuanya hilang dan dia di rawat sama orang lain?" tanya Nindy
"Iya jadi dia anak angkat paman Dion, gue kurang tau juga sih gimana ceritanya soalnya dia dulu di luar negeri baru pindah waktu masuk kuliah aja" jawab Damar
"Ooh gitu" ucap Nindy seraya manggut-manggut
" Iya Lo tau dari mana?" tanya Damar
"Kemarin dia cerita katanya gue mirip nyokapnya, tapi emang iya sih gue udah liat potonya" ucap Nindy
" Yang mirip kan banyak Nindy, kenapa Lo jadi sepenasaran ini?" tanya Damar
"Eeh iya kenapa ya? kok gue jadi kepo" gumam Nindy
bel berbunyi Nindy dan Damar segera pergi dari sana
mereka masuk kekelas sahabatnya menunggu di kursi setelah mencari cari Nindy
"Lo kemana aja sih?" tanya Wina saat Nindy duduk
" Gue tadi nyari angin di belakang sekolah" jawab nindy
" pantesan gue cariin gak ada" ucap Wina
Waktu belajar sudah selesai Nindy terlihat kesusahan saat memarkir motor
tiba tiba motornya terasa di tarik kebelakang Nindy melirik ternyata Leo menarik motornya seraya tersenyum manis
"Kak Leo ngapain disini?" tanya Nindy
"tadi gue lagi nongkrong di depan liat Lo kesusahan gue bantuin deh" ucap Leo
"Thanks ya kak" ucap Nindy
"Ya, kenapa Lo kesusahan gitu waktu parkir?" tanya Leo
"Kaki gue sakit kak kena pecahan piring" ucap Nindy
" Udah di bawa kedokter? mau gue anterin?" tanya Leo panik
"Gak usah kak udah di obatin kok, tinggal sakit bekasnya aja" ucap Nindy
Saat sedang mengobrol tiba tiba ada yang menarik tangan Nindy
Nindy yang terkejut hampir terjengkang tapi tubuhnya menubruk dada bidang seseorang
Nindy mendongak menatap siapa yang ada di belakangnya
"Ngapain Lo disini? pergi sana jangan ganggu cewek orang" ucap Bryan
"Cewek orang? apa artinya sebuah status kalo Lo gak pernah ada buat dia, Lo malah dekat sama cewek lain menjijikkan" ucap Leo tersenyum miring
Saat Bryan akan melayangkan pukulan Leo menangkisnya
Leo mencengkram erat kepalan tangan Bryan
pertarungan diantara mereka terasa semakin sengit
Nindy melerai melepaskan tangan Bryan dan Leo
"Udah udah kalian apaan sih kayak anak kecil tau gak" ucap Nindy
" Kalo ada apa apa hubungin gue" ucap Leo seraya mengacak pelan rambut Nindy lalu pergi setelah tangannya di tepis kasar oleh Bryan
setelah menepis tangan Leo Bryan merangkul kepala Nindy ke dadanya
Nindy mendorong pelan tubuh Bryan
"Awas aku mau pulang" ucap Nindy hendak duduk di motornya tapi Bryan mengambil kuncinya
"Jadi kamu lebih suka dekat sama dia?" tanya Bryan
"Seenggaknya dia memperlakukan aku dengan baik, dia percaya sama aku gak kayak kamu yang dengerin penjelasan aku aja enggak" ucap Nindy seraya berbalik pergi
Nindy jalan teerpincang pincang Bryan baru menyadari terjadi sesuatu pada Nindy
dia segera mengejar Nindy yang sudah keluar gerbang sekolah
"Kaki kamu kenapa?" tanya Bryan
''Bukan urusan kamu, lepas aku mau pulang" ucap Nindy melepas Cengkraman tangan Bryan di lengannya
"Keras kepala" ucap Bryan menarik paksa tangan Nindy ke mobilnya
Karena Bryan menariknya kaki Nindy yang luka mengeluarkan darah kembali
Nindy yang meringis kesakitan tidak Bryan pedulikan
dia sudah di kuasai amarahnya Nindy terisak merasakan kakinya yang sakit
Sudah tidak ada orang di sekitar sekolah dan universitas
semua orang sudah pulang termasuk Leo hingga tidak ada yang membantu Nindy
Bryan memasukan Nindy ke mobilnya
Dengan nafas yang memburu sudah di kuasai amarah
Bryan menatap Nindy yang terisak bercucuran air mata
Bryan akhirnya sadar dia sudah menyakiti Nindy
Bryan meraih tangan Nindy mengecup berkali kali seraya meminta maaf
tapi Nindy menepis Nindy menyeka air matanya
menatap keluar jendela seolah enggan menatap Bryan
Tanpa berkata apa-apa Bryan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
Nindy berpegang dengan wajah yang sudah pucat
sesampainya di apartemen Bryan menggendong Nindy
Sekarang Nindy hanya diam tanpa melawan atau mengeluarkan kata
dia sudah sangat ketakutan hingga tidak bisa berbicara lagi
Bryan tidak mempedulikan tatapan semua orang padanya
dia masuk ke apartemen lalu menurunkan Nindy ke ranjang dengan kasar
Nindy meringis membuka sepatunya Bryan hanya melihat tanpa melakukan apapun
dia berdiri dengan tangan menyilang di dadanya
dia terkejut melihat darah yang memenuhi sepatu dan kaos kaki Nindy
Bryan berlutut di hadapan Nindy memegangi kaki Nindy yang terluka
dia mengacak rambut frustasi lalu pergi mencari p3k untuk membersihkan luka Nindy
Bryan membersihkan darahnya dan mengganti perban pada kaki Nindy
Nindy meringis dengan air matanya yang tidak berhenti mengalir
setelah selesai mengobati lukanya Bryan berdiri dihadapan Nindy memeluk Nindy yang menangis sedari tadi
Bryan merasa bersalah sudah menyakiti Nindy
dia menangkup wajah Nindy mengusap air matanya dan mengecup sekilas bibirnya
Nindy hanya diam tidak menolak atau berbicara dia takut akan salah lagi dan Bryan marah padanya
" Maaf" ucap Bryan kembali memeluk Nindy
Tidak ada jawaban dari Nindy dia hanya menangis membuat Bryan semakin merasa bersalah
Bryan mengecupi setiap inci wajah Nindy dan mengusap air matanya
Dia lalu duduk di samping Nindy menyandarkan kepala Nindy di dadanya
seraya mengelus rambut Nindy
"Kaki kamu kenapa?" tanya Bryan
"Gak apa apa, tadi cuma gak sengaja nginjek pecahan piring" jawab Nindy pelan
D****eeegggg
Bryan semakin merasa bersalah karena dia ingat piring yang dia lempar pecah
Bryan mengambil tangan Nindy dan memukul mukulkannya ke wajahnya
Nindy menarik tangan mengepalkannya di sembunyikan di pangkuannya
"Pukul aku, aku udah nyakitin kamu berkali kali bahkan aku gak bisa jadi suami yang baik" ucap Bryan tapi Nindy hanya menggeleng
Bryan memeluk erat Nindy dia benar benar merasa bersalah dia sudah membuat Nindy terluka bukan hanya tubuhnya tapi juga hatinya
"Hukum aku sayang hukum aku, aku bukan suami yang baik" ucap Bryan yang kini sudah meneteskan air mata
Nindy mendongak menghapus air mata Bryan
Nindy juga mengecup lama bibir Bryan mereka berdua memejamkan matanya
lalu Nindy melepaskan ciumannya and kembali memeluk Bryan
"Jangan marah lagi aku takut" ucap Nindy membenamkan wajahnya di dada bidang Bryan
"Maaf sayang aku janji gak akan marah marah lagi" ucap Bryan memeluk erat Nindy
"Aku ngantuk" ucap Nindy
"Sini aku peluk" ucap Bryan membaringkan tubuhnya dan Nindy
Bryan memeluk Nindy menjadikan tangannya bantal untuk Nindy
terdengar deru nafas Nindy yang teratur sepertinya dia sudah tidur
Bryan mengusap lembut rambut Nindy mengecupi pucuk kepalanya
"Maaf aku udah nyakitin kamu" ucap Bryan kemudian ikut terlelap memeluk Nindy
Di tempat lain Meira dan Maria sedang mencari informasi tentang Nindy
Meira pernah melihat Nindy masuk ke ruangan dokter kandungan
tapi hasilnya tetap sama tidak menemukan fakta apapun
Mereka sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan Nindy
tiba tiba Meira ingat sesuatu Hendrico sangat menyukai Nindy
Meira menghubunginya agar datang menemuinya di cafe tempat mereka berkumpul sekarang
Tidak butuh waktu lama Hendrico datang menemui mereka
Maria sudah antusias menyambut Hendrico yang belum tentu mau bergabung dengan mereka
"Apa bener Lo suka banget sama Nindy?" tanya Maria
"Ya tapi dia gak pernah anggap gue serius dia gak pernah liat cinta gue buat dia" jawab Hendrico
"Gue ada penawaran buat Lo, gimana kalo kita kerja sama Lo bisa dapetin Nindy dan gue bisa dapetin Bryan" ucap Maria
"Apa Lo yakin? apa ide Lo buat mereka pisah?" tanya Hendrico
" Itu dia kenapa gue hubungin Lo gue mau tanya tentang Nindy, Lo kan cinta banget sama dia masa Lo gak tau apa apa tentang Nindy" ucap Maria
" Gue emang gak tau apa pun" ucap Hendrico
"Termasuk Lo buat Nindy ketakutan waktu di lorong sekolah?" tanya Meira membuat Hendrico terdiam
"Maksud lo? tanya Maria
"Gue pernah liat dia nakutin Nindy di sekolah, masa dia takut sama orang yang cuma pake Hoodie mana histeris banget lagi pasti ada sesuatu yang kita gak tau" ucap Meira
"Lo mau bilang atau gue kasih tau sama Nindy dan Bryan biar Lo di kasih pelajaran" ucap Maria
"Oke tapi awas kalo Lo bawa bawa nama gue kalo suatu saat Lo ketauan" ucap Hendrico
" oke deal" ucap Maria menjabat tangan Hendrico
" Lo bisa liat video ini" Hendrico memberikan rekaman video saat Nindy di lecehkan sekumpulan pemuda
" Wwoooww, ini ini hahahaha akhirnya gue bisa hancurin Lo" ucap Maria tertawa seperti orang gila
" Tapi gue gak mau ke bawa bawa kalo suatu saat kalian dapat masalah" ucap Hendrico
"oke, tapi satu lagi gue mau minta Hoodie yang Lo pake kemaren" ucap Maria
Hendrico setuju dia memberikan semua bukti kejahatannya
karena dia juga berniat pindah dari kota itu dengan begitu mereka tidak akan bisa melacak keberadaannya
"Inget satu hal jangan seret nama gue kalo suatu saat Lo punya masalah dengan ini" ucap Hendrico
"Lo tenang aja" ucap Maria tersenyum miring
Malam sudah sangat larut sepasang mata mulai terbuka
Nindy merasa sangat lapar dia bangun merapihkan rambutnya
Bryan yang terusik dengan pergerakan Nindy pun ikut bangun
"Kenapa bangun?" tanya Bryan mengucek matanya
"Aku lapar" jawab Nindy lalu Bryan melihat jam di handphonenya
"Ya ampun kita belum makan dari sore" ucap Bryan
"Kamu mau makan apa? kita makan di luar ya?" lanjut Bryan
" Gak usah, makan disini aja" ucap Nindy
" Kita pesan dulu kamu mau apa?" tanya Bryan
" Kalo pesan lama kita masak aja ya" ucap Nindy
Mereka memeriksa kulkas tapi tidak ada apa apa selain telur dan mie instan
"Aku lupa belum belanja" ucap Nindy
" Kita beli aja ya" ucap Bryan
"Aku mau makan mie instan tapi kamu yang buatin ya" pinta Nindy
"Aku gak setuju itu gak sehat aku masakin telor aja gimana?" tanya Bryan
"apa aja deh terserah, yang enak ya" ucap Nindy
"Siap sayang kamu duduk dulu aku mau masak" ucap Bryan mendudukkan Nindy
Bryan tampak serius dengan pekerjaannya dia sepertinya terampil dalam memasak
saat sedang memasak konsentrasinya buyar saat handphone Nindy berdering
Bryan terus memperhatikan Nindy yang sedang berbicara di telepon
"Iya gue lupa, besok gue bawa" ucap Nindy lalu menutup teleponnya
"Siapa yang telepon malem malem gini?" tanya Bryan dengan nada mengintimidasi
" Si Wina dia nanyain novelnya yang aku pinjem" jawab Nindy menyerahkan ponselnya pada Bryan
"Nih liat aja kalo gak percaya" ucap Nindy
"Aku percaya" ucap Bryan menaruh handphone di meja
Dia teringat telur yang sedang ia masak meskipun apinya ia kecilkan tapi dia lupa membaliknya sampai telurnya gosong sebelah
Bryan akan memasak yang baru tapi telurnya tinggal satu terpaksa dia memberikan telur gosong itu pada Nindy
Nindy hendak menyantapnya tapi saat di balik Nindy terkejut melihat telur yang berbeda di kedua sisinya
" Ini kenapa gosong begini?" tanya Nindy tapi Bryan tidak menjawab dia hanya cengir kuda seraya menggaruk tengkuknya
Karena telurnya tidak dapat di makan akhirnya Nindy tetap makan makanan yang di pesan Bryan lewat ojol
Kunjungi juga cerita othor yang lain 😍😍
seru ceritanya.
dan tak favorit juga.