NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Dijodohkan Dengan Ketos Galak

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Ketos / Tamat
Popularitas:563k
Nilai: 5
Nama Author: ai laelasari

Nindy adalah siswi yang slalu bermasalah di sekolah dan Bryan adalah ketua OSIS yang tegas dari dari permasalahan yang selalu melibatkan keduanya di sekolah hingga perjodohan yang memaksa mereka bersama menumbuhkan benih cinta
tapi banyak masalah dan ujian yang harus mereka hadapi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ai laelasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 24

Nindy semakin menangis karena perlakuan Bryan

dia sadar dia memang salah tapi dengan sikap Bryan yang seperti itu sulit untuk Nindy menceritakan yang sebenarnya

" Bodoh banget kenapa gue gak jujur aja kemaren" gumam Nindy di sela Isak tangisnya

Nindy memunguti satu persatu pecahan piring di lantai

tanpa di sadari Nindy menginjak pecahan beling kecil

kakinya terluka mengeluarkan cukup banyak darah

"Kenapa hari ini gue sial banget" ucap Nindy mengambil p3k di dapur

Setelah membersihkan lukanya dan memperbannya

Nindy pergi ke sekolah mengendarai motornya

sesampainya di depan gerbang sekolah Bryan melihat Leo yang tersenyum padanya

Bryan yang juga melihat itu semakin di bakar api cemburu

dia sengaja mengobrol dengan Maria dan Meira berniat membuat Nindy cemburu

tapi Nindy hanya meliriknya sekilas lalu pergi masuk ke sekolah

melihat aksinya gagal Bryan menepis kasar tangan Maria yang memeluk lengannya

sikapnya kini berbeda dari sebelumnya

membuat 2wanita itu heran

" Lo kenapa sih bry..." ucap Maria terpotong

" Minggir sana, awas aja kalo Lo terbukti sebagai orang yang menyebarkan gosip di sekolah Nindy" ucap Bryan lalu pergi

"pagi zeyeng" ucap Dara dan Wina

"pagi" singkat Nindy lalu berjalan mendahului mereka

'' Lo kenapa jalannya pincang gitu?" tanya Dara

"gak apa apa, tadi gue kena pecahan piring" ucap Nindy

Dara dan Wina berinisiatif memapah Nindy masing masing berada di sampingnya

Nindy memutar matanya jengah dengan tingkah sahabatnya

"Lo pada kenapa sih? gue gak apa apa guys gue masih bisa jalan" ucap Nindy menurunkan tangan mereka yang memegang lengannya

"gue khawatir sama Lo dan baby" bisik Wina

Nindy tersenyum dengan perhatian kedua sahabatnya

Nindy menggandeng pundak keduanya merapatkannya ke tubuhnya

"kalian sayang banget ya sama gue?" tanya Nindy seraya menaik turunkan alisnya

"Ya iyalah bege" ucap Wina menoyor kepala Nindy

"Masuk yuk ah " ucap Dara menarik ke dua sahabatnya

Sesampainya di kelas Nindy melihat Damar yang sedang berbincang dengan teman sekelasnya

Nindy berjalan mendekati meja Damar dan berhenti di dekat mejanya

"Damar gue boleh minta waktunya bentar gak?" tanya Nindy

"Sama gue aja nin gue juga gak kalah ganteng sama Damar" ucap teman lelakinya

"Awas entar viral lagi" sindir murid lain

"Gak apa apa viral sama yang ono masih di lindungin sama pihak sekolah kalo sama yang lain bisa bisa di DO" sindir yang lain

Tanpa bicara lagi Nindy langsung kembali ke tempat duduknya

dia merasa kesal dengan apa yang dia alami saat ini

bagaimana cara agar dia tidak di rundung lagi di sekolah

Waktu jam istirahat Nindy tidak ikut ke kantin bersama sahabatnya

dia lebih memilih duduk di bawah pohon yang ada di belakang sekolah

Damar yang mencari cari keberadaan Nindy kemana mana akhirnya menemukannya

"Hei nin, boleh gak gue duduk disini?"tanya Damar

" Mending Lo pergi aja gue gak mau jadi bahan omongan lagi" ucap Nindy

" Tapi bukannya ada yang mau Lo omongin?" tanya Damar tapi Nindy tidak menjawab

Damar lalu duduk di balik pohon di belakang Nindy

jarak duduk mereka terhalang pohon jadi mereka tidak berdekatan

Nindy tersenyum karena ide Damar yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Nindy

"Nah kalo gini kan gak Deket Deket coba sekarang mau tanya apa?" tanya Damar

"Lo sodaranya kak Leo kan?" tanya Nindy

"Iya, emang kenapa? Lo suka sama dia?" tanya Damar

"Enggak bukan gitu, gue mau tanya emang iya orang tuanya hilang dan dia di rawat sama orang lain?" tanya Nindy

"Iya jadi dia anak angkat paman Dion, gue kurang tau juga sih gimana ceritanya soalnya dia dulu di luar negeri baru pindah waktu masuk kuliah aja" jawab Damar

"Ooh gitu" ucap Nindy seraya manggut-manggut

" Iya Lo tau dari mana?" tanya Damar

"Kemarin dia cerita katanya gue mirip nyokapnya, tapi emang iya sih gue udah liat potonya" ucap Nindy

" Yang mirip kan banyak Nindy, kenapa Lo jadi sepenasaran ini?" tanya Damar

"Eeh iya kenapa ya? kok gue jadi kepo" gumam Nindy

bel berbunyi Nindy dan Damar segera pergi dari sana

mereka masuk kekelas sahabatnya menunggu di kursi setelah mencari cari Nindy

"Lo kemana aja sih?" tanya Wina saat Nindy duduk

" Gue tadi nyari angin di belakang sekolah" jawab nindy

" pantesan gue cariin gak ada" ucap Wina

Waktu belajar sudah selesai Nindy terlihat kesusahan saat memarkir motor

tiba tiba motornya terasa di tarik kebelakang Nindy melirik ternyata Leo menarik motornya seraya tersenyum manis

"Kak Leo ngapain disini?" tanya Nindy

"tadi gue lagi nongkrong di depan liat Lo kesusahan gue bantuin deh" ucap Leo

"Thanks ya kak" ucap Nindy

"Ya, kenapa Lo kesusahan gitu waktu parkir?" tanya Leo

"Kaki gue sakit kak kena pecahan piring" ucap Nindy

" Udah di bawa kedokter? mau gue anterin?" tanya Leo panik

"Gak usah kak udah di obatin kok, tinggal sakit bekasnya aja" ucap Nindy

Saat sedang mengobrol tiba tiba ada yang menarik tangan Nindy

Nindy yang terkejut hampir terjengkang tapi tubuhnya menubruk dada bidang seseorang

Nindy mendongak menatap siapa yang ada di belakangnya

"Ngapain Lo disini? pergi sana jangan ganggu cewek orang" ucap Bryan

"Cewek orang? apa artinya sebuah status kalo Lo gak pernah ada buat dia, Lo malah dekat sama cewek lain menjijikkan" ucap Leo tersenyum miring

Saat Bryan akan melayangkan pukulan Leo menangkisnya

Leo mencengkram erat kepalan tangan Bryan

pertarungan diantara mereka terasa semakin sengit

Nindy melerai melepaskan tangan Bryan dan Leo

"Udah udah kalian apaan sih kayak anak kecil tau gak" ucap Nindy

" Kalo ada apa apa hubungin gue" ucap Leo seraya mengacak pelan rambut Nindy lalu pergi setelah tangannya di tepis kasar oleh Bryan

setelah menepis tangan Leo Bryan merangkul kepala Nindy ke dadanya

Nindy mendorong pelan tubuh Bryan

"Awas aku mau pulang" ucap Nindy hendak duduk di motornya tapi Bryan mengambil kuncinya

"Jadi kamu lebih suka dekat sama dia?" tanya Bryan

"Seenggaknya dia memperlakukan aku dengan baik, dia percaya sama aku gak kayak kamu yang dengerin penjelasan aku aja enggak" ucap Nindy seraya berbalik pergi

Nindy jalan teerpincang pincang Bryan baru menyadari terjadi sesuatu pada Nindy

dia segera mengejar Nindy yang sudah keluar gerbang sekolah

"Kaki kamu kenapa?" tanya Bryan

''Bukan urusan kamu, lepas aku mau pulang" ucap Nindy melepas Cengkraman tangan Bryan di lengannya

"Keras kepala" ucap Bryan menarik paksa tangan Nindy ke mobilnya

Karena Bryan menariknya kaki Nindy yang luka mengeluarkan darah kembali

Nindy yang meringis kesakitan tidak Bryan pedulikan

dia sudah di kuasai amarahnya Nindy terisak merasakan kakinya yang sakit

Sudah tidak ada orang di sekitar sekolah dan universitas

semua orang sudah pulang termasuk Leo hingga tidak ada yang membantu Nindy

Bryan memasukan Nindy ke mobilnya

Dengan nafas yang memburu sudah di kuasai amarah

Bryan menatap Nindy yang terisak bercucuran air mata

Bryan akhirnya sadar dia sudah menyakiti Nindy

Bryan meraih tangan Nindy mengecup berkali kali seraya meminta maaf

tapi Nindy menepis Nindy menyeka air matanya

menatap keluar jendela seolah enggan menatap Bryan

Tanpa berkata apa-apa Bryan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi

Nindy berpegang dengan wajah yang sudah pucat

sesampainya di apartemen Bryan menggendong Nindy

Sekarang Nindy hanya diam tanpa melawan atau mengeluarkan kata

dia sudah sangat ketakutan hingga tidak bisa berbicara lagi

Bryan tidak mempedulikan tatapan semua orang padanya

dia masuk ke apartemen lalu menurunkan Nindy ke ranjang dengan kasar

Nindy meringis membuka sepatunya Bryan hanya melihat tanpa melakukan apapun

dia berdiri dengan tangan menyilang di dadanya

dia terkejut melihat darah yang memenuhi sepatu dan kaos kaki Nindy

Bryan berlutut di hadapan Nindy memegangi kaki Nindy yang terluka

dia mengacak rambut frustasi lalu pergi mencari p3k untuk membersihkan luka Nindy

Bryan membersihkan darahnya dan mengganti perban pada kaki Nindy

Nindy meringis dengan air matanya yang tidak berhenti mengalir

setelah selesai mengobati lukanya Bryan berdiri dihadapan Nindy memeluk Nindy yang menangis sedari tadi

Bryan merasa bersalah sudah menyakiti Nindy

dia menangkup wajah Nindy mengusap air matanya dan mengecup sekilas bibirnya

Nindy hanya diam tidak menolak atau berbicara dia takut akan salah lagi dan Bryan marah padanya

" Maaf" ucap Bryan kembali memeluk Nindy

Tidak ada jawaban dari Nindy dia hanya menangis membuat Bryan semakin merasa bersalah

Bryan mengecupi setiap inci wajah Nindy dan mengusap air matanya

Dia lalu duduk di samping Nindy menyandarkan kepala Nindy di dadanya

seraya mengelus rambut Nindy

"Kaki kamu kenapa?" tanya Bryan

"Gak apa apa, tadi cuma gak sengaja nginjek pecahan piring" jawab Nindy pelan

D****eeegggg

Bryan semakin merasa bersalah karena dia ingat piring yang dia lempar pecah

Bryan mengambil tangan Nindy dan memukul mukulkannya ke wajahnya

Nindy menarik tangan mengepalkannya di sembunyikan di pangkuannya

"Pukul aku, aku udah nyakitin kamu berkali kali bahkan aku gak bisa jadi suami yang baik" ucap Bryan tapi Nindy hanya menggeleng

Bryan memeluk erat Nindy dia benar benar merasa bersalah dia sudah membuat Nindy terluka bukan hanya tubuhnya tapi juga hatinya

"Hukum aku sayang hukum aku, aku bukan suami yang baik" ucap Bryan yang kini sudah meneteskan air mata

Nindy mendongak menghapus air mata Bryan

Nindy juga mengecup lama bibir Bryan mereka berdua memejamkan matanya

lalu Nindy melepaskan ciumannya and kembali memeluk Bryan

"Jangan marah lagi aku takut" ucap Nindy membenamkan wajahnya di dada bidang Bryan

"Maaf sayang aku janji gak akan marah marah lagi" ucap Bryan memeluk erat Nindy

"Aku ngantuk" ucap Nindy

"Sini aku peluk" ucap Bryan membaringkan tubuhnya dan Nindy

Bryan memeluk Nindy menjadikan tangannya bantal untuk Nindy

terdengar deru nafas Nindy yang teratur sepertinya dia sudah tidur

Bryan mengusap lembut rambut Nindy mengecupi pucuk kepalanya

"Maaf aku udah nyakitin kamu" ucap Bryan kemudian ikut terlelap memeluk Nindy

Di tempat lain Meira dan Maria sedang mencari informasi tentang Nindy

Meira pernah melihat Nindy masuk ke ruangan dokter kandungan

tapi hasilnya tetap sama tidak menemukan fakta apapun

Mereka sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan Nindy

tiba tiba Meira ingat sesuatu Hendrico sangat menyukai Nindy

Meira menghubunginya agar datang menemuinya di cafe tempat mereka berkumpul sekarang

Tidak butuh waktu lama Hendrico datang menemui mereka

Maria sudah antusias menyambut Hendrico yang belum tentu mau bergabung dengan mereka

"Apa bener Lo suka banget sama Nindy?" tanya Maria

"Ya tapi dia gak pernah anggap gue serius dia gak pernah liat cinta gue buat dia" jawab Hendrico

"Gue ada penawaran buat Lo, gimana kalo kita kerja sama Lo bisa dapetin Nindy dan gue bisa dapetin Bryan" ucap Maria

"Apa Lo yakin? apa ide Lo buat mereka pisah?" tanya Hendrico

" Itu dia kenapa gue hubungin Lo gue mau tanya tentang Nindy, Lo kan cinta banget sama dia masa Lo gak tau apa apa tentang Nindy" ucap Maria

" Gue emang gak tau apa pun" ucap Hendrico

"Termasuk Lo buat Nindy ketakutan waktu di lorong sekolah?" tanya Meira membuat Hendrico terdiam

"Maksud lo? tanya Maria

"Gue pernah liat dia nakutin Nindy di sekolah, masa dia takut sama orang yang cuma pake Hoodie mana histeris banget lagi pasti ada sesuatu yang kita gak tau" ucap Meira

"Lo mau bilang atau gue kasih tau sama Nindy dan Bryan biar Lo di kasih pelajaran" ucap Maria

"Oke tapi awas kalo Lo bawa bawa nama gue kalo suatu saat Lo ketauan" ucap Hendrico

" oke deal" ucap Maria menjabat tangan Hendrico

" Lo bisa liat video ini" Hendrico memberikan rekaman video saat Nindy di lecehkan sekumpulan pemuda

" Wwoooww, ini ini hahahaha akhirnya gue bisa hancurin Lo" ucap Maria tertawa seperti orang gila

" Tapi gue gak mau ke bawa bawa kalo suatu saat kalian dapat masalah" ucap Hendrico

"oke, tapi satu lagi gue mau minta Hoodie yang Lo pake kemaren" ucap Maria

Hendrico setuju dia memberikan semua bukti kejahatannya

karena dia juga berniat pindah dari kota itu dengan begitu mereka tidak akan bisa melacak keberadaannya

"Inget satu hal jangan seret nama gue kalo suatu saat Lo punya masalah dengan ini" ucap Hendrico

"Lo tenang aja" ucap Maria tersenyum miring

Malam sudah sangat larut sepasang mata mulai terbuka

Nindy merasa sangat lapar dia bangun merapihkan rambutnya

Bryan yang terusik dengan pergerakan Nindy pun ikut bangun

"Kenapa bangun?" tanya Bryan mengucek matanya

"Aku lapar" jawab Nindy lalu Bryan melihat jam di handphonenya

"Ya ampun kita belum makan dari sore" ucap Bryan

"Kamu mau makan apa? kita makan di luar ya?" lanjut Bryan

" Gak usah, makan disini aja" ucap Nindy

" Kita pesan dulu kamu mau apa?" tanya Bryan

" Kalo pesan lama kita masak aja ya" ucap Nindy

Mereka memeriksa kulkas tapi tidak ada apa apa selain telur dan mie instan

"Aku lupa belum belanja" ucap Nindy

" Kita beli aja ya" ucap Bryan

"Aku mau makan mie instan tapi kamu yang buatin ya" pinta Nindy

"Aku gak setuju itu gak sehat aku masakin telor aja gimana?" tanya Bryan

"apa aja deh terserah, yang enak ya" ucap Nindy

"Siap sayang kamu duduk dulu aku mau masak" ucap Bryan mendudukkan Nindy

Bryan tampak serius dengan pekerjaannya dia sepertinya terampil dalam memasak

saat sedang memasak konsentrasinya buyar saat handphone Nindy berdering

Bryan terus memperhatikan Nindy yang sedang berbicara di telepon

"Iya gue lupa, besok gue bawa" ucap Nindy lalu menutup teleponnya

"Siapa yang telepon malem malem gini?" tanya Bryan dengan nada mengintimidasi

" Si Wina dia nanyain novelnya yang aku pinjem" jawab Nindy menyerahkan ponselnya pada Bryan

"Nih liat aja kalo gak percaya" ucap Nindy

"Aku percaya" ucap Bryan menaruh handphone di meja

Dia teringat telur yang sedang ia masak meskipun apinya ia kecilkan tapi dia lupa membaliknya sampai telurnya gosong sebelah

Bryan akan memasak yang baru tapi telurnya tinggal satu terpaksa dia memberikan telur gosong itu pada Nindy

Nindy hendak menyantapnya tapi saat di balik Nindy terkejut melihat telur yang berbeda di kedua sisinya

" Ini kenapa gosong begini?" tanya Nindy tapi Bryan tidak menjawab dia hanya cengir kuda seraya menggaruk tengkuknya

Karena telurnya tidak dapat di makan akhirnya Nindy tetap makan makanan yang di pesan Bryan lewat ojol

1
Riri Lala
lagian dah di bilangin hindarin lawan jenis malah pada ejoy aja kalau ktmu SMA mereka aneh thor
Riri Lala
cerita Lo Lo rumit Thor ah
Andi Fitri
meira sepertinya g kapok2 jdi kambing hitam..
Andi Fitri
perusak rmh tangga orang dan jahat emang gtu Maria..
Andi Fitri
byk banget musuh mereka kasian mana Nindy hamil lgi..Maria obsesi nya sm Bryan mengerikan..
Andi Fitri
makanya Bryan jgn lgsg embat aja tanpa pengaman pula msh sekolah juga kan pusing sendiri..🤣
Nabila Lmpng
👍
Tiuli Ayu
Kecewa
imam zulkifli
kenapa ga tes DNA pada cia
Ai laelasari
Terimakasih sudah membaca cerita othor.. jangan lupa like, komen, vote dan bunganya ya
Kunjungi juga cerita othor yang lain 😍😍
imam zulkifli
mantan suami tak punya otak
imam zulkifli
orang hamil wajar ada lakinya
Ai laelasari
cek beranda Othor guys ada novel baru yang di jamin seru 🥰🥰
Salma Cheng
kasian Meira , ngapain juga masih betah itulah cinta mengalahkan segalanya meskipun di abaikan masih tetap berharap
Ai laelasari
Terimakasih sudah mau membaca karya receh aku 🤗
Nur Khasanah
ceritanya seru sampai saya tidak bisa berhenti membaca dari tadi siang.
Nur Khasanah
aku dah mampir.

seru ceritanya.

dan tak favorit juga.
Ai laelasari
aku siapin golok ya 😁
Yenni
pen gua bunuh tu maria😡😡
Vanessa MPC
moga aja Maria mati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!