"Mentari, istri bocah ku......aku sangat mencintaimu. Taukah kau seberapa besar cinta ku pada mu?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Memangnya seberapa besar pacar ku ini mencinta aku?" (Mentari)
"Tidak besar, kecil sekali!" (Arka Anggara Wijaya)
"Ngapain nanyak kalau gitu!" (Mentari)
"Mentari?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Em!" (Mentari)
"Cinta ku pada tak seluas samudera dan tidak sedalam lautan biru, tapi aku lebih mencintai mu dari pada diri ku sendiri, dan aku cemburu walau yang memandang mu seorang wanita. Aku ingin mengurung mu dalam sangkar cintaku. Agar tidak ada yang dapat menyentuh mu, kau Mentari ku dan hanya boleh menyinari ku saja. Biarlah aku menjadi budak cinta mu," (Arkana Anggara Wijaya)
"Pacar ish.....Tari gemuszzzz, oppa sarangheo," (Mentari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
"Gila ini soal susah parah," Mentari bergumam tidak jelas, ia melihat ke kanan di mana ada Lala di sana, kemudian ke sebelah kiri ada Rika yang duduk tidak jauh darinya. setelah itu Mentari melihat kebelakang ia menggaruk kepalanya kebingungan karena belum mendapat jawaban sama sekali.
Lala tahu seperti apa Mentari, ia bahkan ingin tertawa melihat wajah mentari yang sedang kebingungan, "Woi woi woi," Lala mencoba memanggil Mentari.
Mentari melihat pada Lala, sambil menggerakkan alisnya seolah bertanya pada Lala, "Soal nomor 4," kata Mentari dengan suara yang pelan.
Lala mengangguk dia melihat kertas jawaban miliknya kemudian menuliskan pada selembaran kertas lainnya, setelah Lala merasa jawaban miliknya ia tulis di kertas ia berniat melempar kertas tersebut pada Mentari. Lala sedikit berjongkok namun tiba-tiba matanya melihat sepatu kulit berwarna hitam pekat Lala penasaran ia mulai melihat ke atas secara perlahan sampai akhirnya matanya melihat Arka berdiri di sana, "Wow aku ketahuan oh no," gumamnya yang hanya didengar oleh telinga nya sendiri.
Arka melipat kedua tangannya sambil menatap Lala.
Lala pun membenarkan duduknya kembali dengan susah payah.
Arka menggerakkan sebelah tangannya pada Lala.
"Maaf Pak," lirih Lala dengan ketakutan.
Arka tidak berbicara ia menunjuk kertas yang digenggam oleh Lala.
"Tapi Pak," Lala ketakutan dan takut disuruh keluar saat waktu ujian masih berlangsung sedangkan jawaban miliknya belum selesai.
Arka mengangguk ia masih fokus dengan kertas yang di tangan Lala.
Akhirnya dengan ragu dan perasaan harap-harap cemas Lala memberikan kertas di tangannya yang berisi jawaban yang seharusnya ia serahkan kepada Mentari.
Arka menerima kertas yang sudah ditulis oleh Lala kemudian ia meminta Lala untuk kembali melanjutkan ujiannya, Arka membuka kertas tersebut dan benar saja isinya adalah contekan yang diberikan Lala untuk Mentari.
Arka diam dan kembali ke depan kelas tidak lupa ia memberikan kertas lainnya kepada Lala untuk diberikan lagi kepada Mentari.
Mentari yang menyadari Lala terlalu lama memberikannya jawaban mulai kembali melirik Lala, "Lalat cepetan mana," kata Mentari sambil melihat ke depan dan memastikan semua aman.
"Hehehe," Lala ragu memberikan kertas tersebut tapi ia pun takut pada Arka yang dari depan sana menatapnya dengan tajam, hingga sedetik kemudian Lala melempar kertas di genggamannya pada Mentari.
"Thanks ya beb," Mentari tersenyum dengan bahagia karena dengan mudahnya ia bisa mendapatkan jawaban seperti biasanya, Namun sayang saat ia membuka kertas tersebut ternyata yang berisi bukanlah jawaban melainkan kata-kata yang sangat menyakitkan bagi Mentari, "Kalau mau pintar belajar," Mentari langsung menatap Lala karena isi kertas tersebut bukan jawaban melainkan hinaan untuk dirinya, "Sialan lu," kesal Mentari sambil menatap Lala yang juga menatap dirinya.
Lala menunjukkan dua baris gigi rapinya dan mengangkat tangannya dengan dua jari berbentuk v, kemudian Lala menunjuk ke depan di mana ada Arka di sana yang menatap dirinya.
Mentari juga ikut melihat arah yang ditunjuk oleh Lala, "Sialan....Jadi ketahuan kan," Mentari menutup mata karena malu sementara Arka hanya menatapnya dengan datar dari depan sana. Mentari tidak kehabisan ide ia masih mencoba mendapatkan jawaban dari teman lainnya yaitu Rika, "Sut....." kali ini Mentari harus hati-hati dan dan tidak boleh ketahuan oleh Arka.
"Apa an?" tanya Rika dengan suara yang pelan bahkan yang terlihat hanya gerakan mulutnya saja tanpa bersuara namun Mentari mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rika.
Mentari menunjuk kertas jawabannya yang artinya ia sedang butuh jawaban.
Rika menunjukkan jempolnya kemudian ia menulis di selembaran kertas untuk diberikan kepada Mentari, saat Rika akan melempar kertas tersebut kepada Mentari tiba-tiba dari depan sana Arka berdeham.
"Ehem...." Arka menatap Rika tanpa melepaskan sedikitpun pandangannya, "Yang memberi jawaban akan dihukum tidak boleh menyelesaikan ujian dan kepada yang menerima jawaban tidak boleh juga melanjutkan ujian bisa keluar sekarang juga, untuk membersihkan toilet sekolah selama satu minggu!" kata Arka dengan tegas.
Rika bergidik ngeri mendengar apa yang dikatakan gurunya di depan sana hingga ia mengurungkan niatnya untuk memberi jawaban kepada Mentari.
"Sial," Mentari menggaruk kepalanya karena pusing dengan banyaknya masalah yang ia hadapi akhir-akhir ini membuatnya tidak belajar sama sekali, bahkan ia masih terlalu memikirkan pernikahannya yang mendadak. dua kali gagal bukan halangan untuk berusaha kali ini Mentari mencoba meminta jawaban kepada sahabat karibnya yaitu Radit, "Jawaban!" kata Mentari dengan bisik-bisik.
"Mentari ada yang mau kamu tanyakan?!" tanya Arka dari depan sana.
"Hehehe......" Mentari menggeleng sambil cengengesan.
"Kemari!" Arka menggerakkan tangannya meminta Mentari maju ke depan.
"Tapi Pak, Tari belum selesai......" kata Mentari, "Di sekolah berani lu ya...." gerutu Mentari yang hanya di dengar telinganya.
"Kamu mau saya minta maju kemari atau saya minta kamu menghadap kepala sekolah!" Arka tahu Mentari mengerti maksud dari perkataannya.
"Iya Pak ya....Tari maju aja ke depan ya pak ya, nggak usah ke kepala sekolah," Mentari pank ia tahu Arka mengancamnya akan memberitahu kepala sekolah jika ia dan Arka sudah menikah lalu ia akan dikeluarkan sekarang juga dari sekolah itu sudah pasti pikir Mentari.
"Bagus!"
Dengan perlahan dan hati-hati Mentari berjalan ke depan, wajahnya menunduk sambil melihat Arka, "Ada apa Pa?" tanya Mentari dengan ragu.
Arka bangun dari duduknya, "Duduk di sini," Arka menunjuk kursi yang sedari tadi ia duduki
Tapi Pak," Bukan Mentari namanya bila tidak membantah dan kali ini pun sama Mentari tetaplah Mentari. Mentari yang ceria dan pembangkang.
Walaupun mentari membangkang terus menerus, namun bagi Arka itu adalah hal yang biasa dan sudah melekat pada Mentari hingga Ia hanya menatap Mentari dengan tajam tanpa berbicara sepatah kata pun hingga akhirnya Mentari duduk.
"Ayo selesaikan semua soal-soal itu sebentar lagi waktunya istirahat!"
"Ih....kesel banget deh gw!" gerutu Mentari.
"saya mendengar!"
Wajah Mentari memerah kemudian ia mulai menjauh dan ia lebih memilih menatap soal-soal miliknya. Namun karena terlalu pusing akan jawaban yang masih belum terjawab akhirnya, akhirnya Mentari memutuskan untuk menulis huruf a, b, c, dan d, e, pada kertas kecil lalu digulung. Mentari tersenyum dan ia ingin tertawa dengan kelakuannya yang gila itu, tangannya seolah ia isi dengan kertas yang berisi angka. Kemudian bila ada salah satu kertas jatuh berisi satu huruf akan ia anggap sebagai jawaban.
Arka hanya diam saja sebenarnya ia ingin tertawa melihat kelakuan Mentari, tapi tidak mungkin menjaga image adalah hal yang sangat penting. Arka hanya tertawa dalam hati karena kelakuan gila Mentari, mungkin tanpa Arka sadari Mentari sedikit-sedikit mulai mengisi kekurangannya, hingga akhirnya Mentari selesai menjawab semua soal miliknya ia tidak butuh dinilai jawabannya yang bagus untuk saat ini yang ia butuhkan adalah semua soal-soal miliknya selesai.
Paling tidak sekarang suami yg kayak es beku sdh mencair.
Tadinya cerita awal dimulai dari Arka dan Rembulan lalu masuklah sosok Mentari, dikupas Thor tentang mereka.