Reina Firdausya Atmaja
Seorang wanita yang tegar. Berusaha sekuat tenaga mempertahankan perusahaannya yang nyaris bangkrut.
Ketika ada jalan, dia harus bertemu dan menjalin hubungan kembali dengan mantan kekasihnya 10 tahun yang lalu, yang kini sudah berubah menjadi sosok yang sangat berbeda. Seorang CEO kaya raya dan playboy?
🌸
Erlan Fabian, mantan pacar Reina saat SMA dulu. Kini telah menjadi executive muda yang sukses, mengidap penyakit psikis akibat trauma di masa kecilnya.
Misinya adalah menikahi Reina, dan balas dendam pada ibu kandungnya sendiri.
Mampukah Reina bertahan?
Dan bagaimana kehidupan mereka setelah menikah?
Apakah Reina mampu mengobati kehidupan Erlan yang kelam dan penuh dengan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alin yuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Dimas
Pagi hari,
Reina sudah sibuk di dapur, ia mengenakan kemeja putih Erlan yang kebesaran. Dan rambut panjangnya di ikat cepol ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih dan mulus.
Tangan Reina bergerak lincah, memasukkan beberapa sayuran yang sudah di potong, ke dalam air mendidih di panci. Sambil menunggu matang, Reina mengeluarkan beberapa mangkok dan piring.
Gerakannya tiba-tiba terhenti, ketika sepasang tangan melingkar dari belakang, memeluk pinggangnya.
"Morning, Honey...."
Reina tersenyum, ia menyentuh tangan Erlan.
"Lepas dulu, Erlan. Aku lagi masak."
"Berarti kalau udah masak, boleh?"
Plak.
Pukulan pelan mendarat di punggung tangan Erlan.
"Masih pagi, otak di bersihin jangan ngeres."
"Haha apa sih. Emang siapa yang ngeres? Kamu tuh. Aku kan cuma bilang boleh meluk kamu begini aja. Bukan yang lain."
"Oh ya? udah ah, duduk dulu ya di sana. Sebentar lagi selesai. Kita sarapan bareng." Reina mendorong Erlan, agar duduk di kursi meja makan.
Erlan pun menuruti perintah Reina. Dia sudah berpakaian rapi, karena hari ini harus kembali masuk ke kantor, untuk menanyakan bagaimana perkembangan proyek di Bali.
Dipandanginya sosok Reina dari belakang. Kemeja Erlan yang kebesaran sampai ke paha, justru membuat Reina bertambah seksi di matanya.
Jadi ini yang di namakan dengan jatuh cinta berkali-kali?
Setiap hari, ia merasakan rasa itu semakin tumbuh membesar dan hampir membuatnya gila.
"Sudah matang...." Reina datang, dengan membawa dua mangkuk sup dengan aroma yang sedap.
"Terima kasih, sayang."
"Sama-sama. Cobain dulu, aku pertama kali buat sup krim jagung. Semoga rasanya enak."
Erlan mulai memasukkan satu sendok sup ke dalam mulutnya.
"Bagaimana? Enak?" tanya Reina dengan penuh harap.
"Ini enak. Perfect." sahut Erlan, sambil mengacungkan dua jempol sekaligus.
Reina tersipu malu, pujian Erlan membuat rasa percaya dirinya muncul.
Dia bertekad untuk memasak setiap hari, demi melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
Yaitu melayani suami sebaik mungkin.
"Hari ini kamu ada acara mau kemana?" tanya Erlan.
"Hemm, aku mau pulang ke rumah. Ada barang yang mau di ambil. Terus habis itu mau ke cafe Dimas mungkin."
Uhuk.
Erlan tersedak begitu mendengar nama Dimas di sebut.
"Kenapa kamu harus ketemu dia?"
"Kamu gak apa? ini minumnya." Reina menatap Erlan khawatir, dan memberikan segelas air putih yang langsung ditenggak habis oleh Erlan.
"Jadi... Kenapa kamu harus ketemu dia?" tanya Erlan lagi.
"Aku mau makan es krim."
"Makan es krim memangnya harus ke cafe dia? huh?"
Reina menghela napas, ia melipat tangannya di meja, lalu menatap Erlan dengan serius.
"Kenapa? kamu cemburu?" tembaknya langsung.
Uhuk.
Erlan terbatuk lagi. Shit! Bisa-bisa aku mati muda kalau begini terus.
"Mana sini, aku mau lihat wajahnya orang cemburu gimana." sindir Reina.
"Ya udah terserah kamu. Hati-hati dan jangan macam-macam."
"Siap Bos!"
Reina tersenyum lebar karena berhasil membujuk Erlan. Dia sudah sangat kangen sekali dengan Jakarta, dan ingin makan es krim sepuasnya di cafe Dimas.
🌸🌸🌸
Rapat dengan dewan direksi telah selesai, dan jadwal Erlan masih panjang sampai sore ini.
Tapi pikiran Erlan tidak tenang, otaknya seperti bercabang memikirkan banyak hal.
Pertama, tentang pil kontrasepsi yang dia temukan di tas Reina.
Kedua, tentang pertemuan Reina hari ini dengan Dimas.
Dia ingin menghubungi Reina, tapi takut kalau istrinya itu akan marah dan menuduh dirinya curiga atau tak percaya.
Rangga sampai bingung, melihat bosnya gelisah sejak tadi.
"Bos, ada apa?"
"Rang, jadwal saya habis ini apa?"
"Sore ini ada meeting dengan Pak Robert pengusaha Bali itu, Bos. Beliau sudah sampai di Jakarta pagi ini."
Erlan berdecak kesal. Tidak mungkin kalau ia meninggalkan meeting itu. Kemarin saja sudah tertunda karena ia tiba-tiba harus pergi meninggalkan Bali.
Sekarang Pak Robert sampai menyusul ke Jakarta untuk meeting, jadi Erlan tidak bisa membatalkannya begitu saja. Bisa buruk citranya nanti.
"Baik, hubungi Pak Robert. Kita percepat waktu pertemuannya sekarang." titah Erlan.
Rangga mengangguk, ia bergegas keluar dari ruangannya untuk menghubungi pihak dari Pak Robert.
Erlan menatap keluar, memandang deretan gedung dan jalanan yang padat di Ibukota. Hatinya gamang dan galau, memikirkan Reina.
Sedang apa dia di sana?
Di sisi lain,
Reina tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon yang di ucapkan Dimas, ia sedang mengobrol santai di cafe sambil menikmati semangkuk besar es krim.
"Jadi, kenapa kamu pulang?"
Reina menyuap kembali es krim ke dalam mulutnya. Lumer, manis dan dingin. Sensasi yang sangat ia rindukan sewaktu di Bali. Es krim di cafe Dimas memang terbaik. Tak heran, cafe ini selalu di penuhi pengunjung.
"Aku gak betah di sana. Kesepian tepatnya."
Dimas memicingkan mata, "Apa pria itu memperlakukan kamu dengan baik?"
"Tentu. Dia sangat baik."
Dimas tersenyum tipis. Dalam hatinya, ia ingin sekali menanyakan perihal pernikahan kontrak yang dia dengar dari Zoya.
"Jadi kamu berhenti kerja sekarang?"
Reina mengangkat bahu, "Gak tau. Aku sih maunya tetap kerja. Tapi belum tau Erlan kasih ijin atau gak."
"Reina, dengar! Tujuan kamu menikah sama Erlan itu mau menyelamatkan perusahaan papi kamu kan? aku heran kenapa setelah menikah kamu malah menyerahkannya pada Erlan?" ucap Dimas.
Dia berusaha mempengaruhi Reina. Kalau Reina kembali bekerja, setidaknya waktu mereka berduaan bisa berkurang. Kalau memang harus menunggu setahun, Dimas bersedia untuk itu.
"Ah kamu benar, Dim. Aku jadi merasa bersalah udah melupakan misi awalku. Papi pasti kecewa sama aku, kalau aku meninggalkan perusahaan begitu aja." Reina berkata lirih.
Dia membenarkan ucapan Dimas. Tujuan awalnya memang hanya untuk perusahaan. Agar Erlan membantunya, tapi hatinya justru semakin luluh pada Erlan. Dia kembali mencintai pria itu.
"Belum terlambat, menurutku Erlan pasti mengerti. Kata kamu, dia pria yang baik kan?"
Reina terdiam, hanya fokus pada es krim di hadapannya. Dalam pikirannya, Ia berniat untuk membicarakan hal ini pada Erlan nanti.
"Ehem!"
Suara bariton dan berat terdengar dari belakang punggung Reina, membuat gadis itu menoleh.
Mata Reina mengerjap tak percaya, melihat siapa yang sedang berdiri angkuh di belakangnya.
"Erlan? kamu kenapa di sini?"
Erlan tersenyum lebar, meskipun terlihat terpaksa. Rambutnya sedikit berantakan, mungkin karena ia habis berlari ke sini.
"Halo, Dimas. Kita belum berkenalan dengan baik sebelumnya." seru Erlan, ia menghampiri Dimas, lalu mengulurkan tangannya.
"Saya Erlan, 'Suaminya' Reina." tegas Erlan. Kata Suami sengaja ia tekankan, seolah memberi peringatan pada Dimas.
Dimas tertawa kecil melihat sikap Erlan yang menurutnya sangat kekanakan. Dia pun membalas uluran tangan Erlan.
"Dimas. Sahabat dekat Reina."
Meskipun saling berjabat tangan, tapi aura tak bersahabat tetap terlihat di antara mereka. Fake! begitulah yang terlihat.
Kemudian, Erlan duduk di samping Reina, dan dengan sengaja merangkul pundak istrinya itu, sambil mendaratkan kecupan di pipi mulus Reina.
"Erlan, malu tau!" bisik Reina, wajahnya merona akibat kecupan tadi.
Dimas yang masih duduk di hadapan mereka, langsung memalingkan wajah. Tak ingin menonton pertunjukan Erlan, yang dia tahu sangat di sengaja itu.
"Kenapa malu? kita kan udah sah sayang. Jadi gpp dong, ya kan Bro?"
Dimas hanya tersenyum miring menanggapinya.
****** lo! Gak ada harapan lagi.
Jadi jangan dekat- dekat dengan bini orang! Hwehehe. Erlan tertawa dalam hati.
Dia merasa menang dan bahagia. Tidak percuma pengorbanannya tadi. Dia sampai harus memajukan jadwal pertemuan dengan Pak Robert. Begitu selesai, Erlan langsung berlari dan ngebut menuju cafe ini.
Semuanya demi menjemput Reina, karena pikirannya tidak tenang, membayangkan wanita yang ia cintai berlama-lama dengan pria lain, walaupun itu sahabatnya.
Tidak rela pokoknya! Reina hanya miliknya. Tidak boleh di bagi-bagi.
🌸🌸🌸