NovelToon NovelToon
Menyesal Telah Selingkuh

Menyesal Telah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.

Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.

Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.

Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.

Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.

Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.

Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12_Sikap protektif seorang kakak

"Kak, tidak bisa kah hidupku jangan terlalu Kakak yang mengatur? Jika aku kembali hanya untuk dikekang, lebih baik aku kemarin tidak ikut Kakak!" ucap Elvara. Wajahnya memerah, kedua matanya berkaca-kaca menahan emosi yang selama ini dipendam.

Ruangan kerja yang luas itu mendadak sunyi.

Suara pendingin ruangan yang biasanya terdengar samar kini terasa begitu jelas. Edgar yang sedang membaca laporan di meja kerjanya perlahan meletakkan berkas yang ada di tangannya.

Tatapannya beralih kepada Elvara yang berdiri beberapa meter di depannya.

Tatapan itu dingin. Terlalu dingin. Membuat siapa pun yang melihatnya pasti merasa takut. Namun tidak untuk Elvara.

Hari ini, ia sudah terlalu lelah untuk merasa takut.

"Apa yang baru saja kamu katakan?" tanya Edgar. Rahangnya mengeras, alisnya bertaut tajam.

"Aku tidak akan mengulanginya lagi." sahut Elvara dengan mengangkat dagunya.

"Kakak sudah mendengarnya dengan jelas." balas Edgar singkat.

Edgar bangkit dari kursinya. Perlahan. Namun justru gerakan tenang itu membuat suasana semakin menegangkan.

"Kamu sedang membantahku sekarang?" tanya Edgar. Tatapannya menusuk tajam.

"Bukan membantah." Sahut Elvara tersenyum pahit. "Aku hanya sedang memperjuangkan hidupku sendiri."

Kalimat itu membuat Edgar mengepalkan tangannya.

Sejak kecil, Elvara memang jarang membantah. Bahkan ketika hidupnya sulit. Bahkan ketika ia terluka. Bahkan ketika hatinya hancur.

Namun hari ini berbeda.

Hari ini, gadis itu seperti meledak setelah terlalu lama menahan semuanya.

"Aku mendengar dari Berry kalau kamu ingin kembali ke Indonesia." kata Edgar. Nada suaranya terdengar dingin.

"Iya." Elvara menjawab tanpa ragu.

"Aku memang ingin pulang." Ulangnya

"Kenapa?" tanya Edgar dengan Mata menyipit.

"Karena aku muak." ulang Elvara.

Jawaban itu membuat Edgar membeku.

Muak.

Satu kata yang tidak pernah ia bayangkan akan keluar dari mulut adiknya.

"Muak dengan apa?" tanyanya pelan. Tatapannya mulai berubah.

"Muak hidup seperti tahanan." jawab Elvara dengan sedih. Air mata mulai menggenang di mata Elvara.

"Apa?" Ulang Edgar

"Aku merasa seperti tahanan." Ulangnya

"Kamu berlebihan." jawab Edgar menggeleng pelan.

"Tidak." Elvara langsung membalas. "Kakak yang berlebihan."

Edgar menghembuskan napas panjang. Ia mencoba menahan emosinya. Namun semakin lama, kata-kata Elvara semakin membuat dadanya terasa sesak.

"Kakak mengatur semua hidupku." Ucap Elvara mulai berjalan mondar-mandir.

"Aku ingin keluar, harus izin. Aku ingin pergi, harus izin. Aku ingin bertemu teman, harus izin. Bahkan setiap aku keluar rumah selalu ada pengawal mengikuti." jelas Elvara dengan nada suaranya semakin meninggi.

"Itu demi keamananmu." Edgar menjawab tegas.

"Itu demi ketenangan Kakak." Bantah Elvara

"Bukan." jawab Edgar singkat.

"Iya." jawab Elvara menatapnya tajam.

"Kakak tidak pernah bertanya apa yang aku inginkan." Ucap Elvara ingin di mengerti.

"Aku tahu apa yang terbaik untukmu." Balas Edgar cepat.

Kalimat itu membuat Elvara tertawa kecil. Namun tawa itu terdengar menyakitkan.

"Sampai sekarang Kakak masih berpikir seperti itu?" tanya Elvara, Senyumnya penuh kekecewaan.

"Aku memang tahu." Balas Edgar tak mau kalah.

"Aku bukan anak kecil lagi, Kak." ucap Elvara, air matanya mulai jatuh.

Ruangan kembali hening.

Edgar menatap wajah adiknya. Wajah yang dulu selalu ceria. Wajah yang dulu selalu penuh senyuman.

 Namun sekarang, yang ia lihat hanyalah kelelahan. Kelelahan yang selama ini tidak pernah ia sadari.

"Aku hanya ingin melindungimu." Nada suara Edgar mulai melemah.

"Tapi aku tidak butuh perlindungan seperti ini." Balas Elvara menghapus air matanya.

"Aku butuh kepercayaan."

Kata-kata itu membuat Edgar terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu Elvara benar.

Namun rasa takut yang selama ini menghantuinya membuatnya tidak bisa melepaskan adiknya begitu saja.

"Apa kamu tahu kenapa aku seperti ini?" tanya Edgar pelan. Tatapannya mulai sendu.

Elvara menunduk. Kemudian menggeleng.

"Tidak." Jawab Elvara, wajahnya dipenuhi kesedihan.

Edgar tertawa pahit. Tawa yang sama sekali tidak mengandung kebahagiaan.

"Tentu saja kamu tidak tahu." jawab Edgar, natanya mulai memerah. "Karena aku tidak pernah menceritakannya."

Elvara perlahan mengangkat kepalanya.

Untuk pertama kalinya, ia melihat ada luka yang begitu dalam di mata kakaknya. Luka yang selama ini disembunyikan dengan sikap dingin dan keras.

"Aku begini karena aku sayang kepadamu, Elvara." Suara Edgar bergetar, wajahnya dipenuhi rasa sakit.

Air mata yang selama ini ditahannya hampir jatuh.

"Aku tidak terima jika kamu terus-terusan disakiti seseorang." Ulang Edgar, tatapannya mulai berkaca-kaca.

"Kak..." Suara Elvara melemah.

"Aku merasa gagal menjadi seorang kakak melihat adiknya disakiti orang." kata Edgar dengan senyum pahit, matanya memerah.

Kalimat itu menghantam hati Elvara.

Selama ini ia hanya melihat sisi keras Edgar. Namun ia tidak pernah melihat rasa bersalah yang dipikul pria itu.

"Aku masih ingat malam ketika kamu menangis karena Arsenio." katq Edgar, tatapan Edgar kosong menatap lantai.

"Aku masih ingat bagaimana kamu mengurung diri di kamar. Aku masih ingat bagaimana kamu tidak mau makan. Aku masih ingat bagaimana kamu menangis sampai tertidur." jelas Edgar, suaranya terdengar semakin serak.

Setiap kata yang keluar dari bibirnya membuat dada Elvara terasa sesak. Karena semua itu benar.

Ia pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Dan tanpa ia sadari, Edgar melihat semuanya.

"Aku berdiri di depan pintu kamarmu malam itu." kata Edgar dengan air mata mulai mengalir di pipi Edgar.

"Aku mendengar kamu menangis. Aku mendengar kamu memohon agar rasa sakit itu berhenti. Aku mendengar semuanya." Ucap Edgar dengan wajah dipenuhi penyesalan.

Elvara menutup mulutnya. Air matanya jatuh semakin deras.

Ia tidak pernah tahu. Ia benar-benar tidak pernah tahu.

"Aku ingin masuk dan memelukmu." Suara Edgar bergetar. "Tapi aku tidak bisa. Aku tidak tahu bagaimana cara menghilangkan rasa sakitmu. Itu pertama kalinya aku merasa menjadi kakak yang gagal." jelas Edgar, tatapannya penuh luka.

Ruangan itu kembali sunyi.

Tidak ada lagi kemarahan. Tidak ada lagi teriakan. Yang tersisa hanya dua orang yang sama-sama terluka.

"Kak..." Suara Elvara pecah karena tangis.

"Aku tidak pernah menyalahkan Kakak. Tapi aku menyalahkan diriku sendiri." ulangnya

Edgar menunduk.

"Aku merasa seharusnya aku bisa melindungimu. Aku merasa seharusnya aku bisa membuatmu bahagia. Aku merasa seharusnya aku bisa mencegah semua itu terjadi." ucapnya, wajahnya dipenuhi rasa bersalah.

Elvara tidak sanggup lagi menahan tangisnya. Ia berjalan mendekati Edgar. Kemudian berdiri tepat di hadapannya.

"Tidak semua hal bisa Kakak kendalikan." Balas Elvara, matanya dipenuhi air mata.

"Tapi aku bisa berusaha." Sahut Edgar cepat.

"Aku tahu." Elvara mengangguk pelan.

"Tapi jangan sampai karena rasa takut itu, Kakak mengurung hidupku." ulangnya

Kalimat itu membuat Edgar terdiam lama. Sangat lama. Hingga akhirnya ia menghela napas panjang. Seolah baru saja melepaskan beban yang selama ini menghimpit dadanya.

"Mungkin aku memang terlalu berlebihan."

ucap Edgar, senyumnya tipis penuh penyesalan.

"Bukan mungkin." balas Elvara menyeka air matanya. "Memang."

Wajah Edgar langsung berubah kesal. Sementara Elvara justru tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran itu dimulai, suasana menjadi sedikit lebih ringan.

"Aku serius." kata Elvara tersenyum tipis.

"Aku tidak ingin pergi dari Kakak. Tapi aku juga tidak ingin terus hidup seperti ini." ulangnya

Edgar menatap adiknya lama. Kemudian perlahan mengangguk.

"Aku akan mencoba berubah." balas Edgar, tatapannya melembut.

"Benarkah?" tanya Elvara, mata berbinar penuh harap.

"Iya. Aku akan belajar mempercayaimu." balas Edgar dengan senyum hangat.

Air mata kembali jatuh di pipi Elvara. Namun kali ini bukan karena sedih. Melainkan karena lega. Ia langsung memeluk kakaknya erat.

"Aku sayang Kakak." katanya, tangisnya pecah di bahu Edgar.

Edgar membalas pelukan itu. Sama eratnya.

"Aku juga sayang kamu, Vara." balas Edgar, matanya terpejam, wajahnya dipenuhi kehangatan.

Di saat itulah keduanya akhirnya menyadari satu hal. Bahwa cinta tidak selalu berarti menjaga seseorang dalam genggaman.

Terkadang, cinta berarti memberikan kepercayaan. Dan terkadang, menjadi keluarga bukan hanya tentang melindungi satu sama lain.

Tetapi juga belajar memahami luka yang selama ini disembunyikan di dalam hati.

1
Anne Soraya
lanjut
Ifana
sok²an selingkuh eh ternyata punya jabatan krn istri nya
Sulati Cus
hrsnya g kaget dr awal kan udah tau, istrinya akan mencabut semuanya aneh bgt
Sulati Cus
lah kata nya semua aset di cabut trus di usir kok msh takut 🤔cerita rada nggak nyambung
Sulati Cus
kok gak nyambung udah di usir pdhl🤔msh mencintaimu tp sanggup berkhianat omong kosong👿
sunaryati jarum
Arsenio hanya akan meratapi nasibnya
sunaryati jarum
Hidup dari kekayaan istri saja belagu, selingkuh .Edgar adikmu sudah dewasa dan berumah tangga,sudah bukan tanggung jawab sepenuhnya,namun jika kamu masih merasa itu kewajiban kamu melindunginya baguslah,biar Arsenio tahu siapa yang dikhianatinya.
sunaryati jarum
Sokoor
sunaryati jarum
Kok masih di rumah Elvara
sunaryati jarum
Bukankah Arsenio sudah di usir
sunaryati jarum
Baru mampir semoga suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!