🛑 COBA BACA DULU 10 PART jamin nagih 😁😁😁
Karena ancaman kedatangan Iblis di Blood Moon. Alexa Aegis, putri pertama klan Penyihir harus merelakan dirinya menikahi Alexander Ostrander, pertemuan pertama mereka tidaklah meninggalkan kesan baik.
Sementara dia lebih bisa berteman dengan Ahiga, putra kedua dari Kekuatan Warewolf yang ikut bergabung. Alexander yang asing baginya tiba-tiba berada di didekatnya sepanjang waktu. Sementara ternyata dalam klannya sendiri dia punya begitu banyak wanita yang siap menumpahkan darah satu sama lain
Akankah cinta bisa menemui mereka.
🌸
Ini adalah The Light Protector Witch Series
Terdiri dari 7 Book
BOOK 1 . ALEXA ● Blood Of Love
BOOK 2 . AURORA ● The Blood Moon
BOOK 3 . SOFIA ● The Cursed Diamond
BOOK 4 . APOCALYPSE ● The Faith of Love
BOOK 5 . NEW ERA ● The Next Leader
BOOK 6 . CARA ● Rewriting The Star
BOOK 7 . ALENA ● The Dragon Hatcher (On going)
🛑Book 2+3+4 ada di AURORA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24. Perjanjian Darah
Upacara pernikahan itu dimulai. Tamu mengelilingi sebuah altar indah yang dihias oleh banyak lilin dan dekorasi mawar.
Pengantin wanita bergaun merah panjang berjalan memasuki ruangan aula, dia terlihat cantik dengan hiasan kerudung tulle merah dan gaun merahnya. Sementara pengantin pria dengan jas hitam lengkap dengan dasi merahnya menunggu di depan altar, tata caranya mirip dengan upacara pernikahan pada umumnya.
Aku mengikuti upacara itu dengan haru. Sang pengantin diantar oleh Komandan Olev. Odelia dan Odette melambai kepada temannya itu, mereka terlihat sangat bahagia. Odelia bahkan terlihat menyeka air matanya. Saat kau tidak punya keluarga, teman teman satu klan ini adalah keluarga mereka. Aku membayangkan kehidupan mereka tanpa keluarga sebenarnya, sebatang kara karena perang merenggut semua yang mereka kenal. Bagaimanapun aku lebih beruntung dari mereka.
Pengantin sampai ke depan altar. Lord Valerie bertindak sebagai semacam pemimpin upacara. Setelah pengantin berdiri di depan altar dan saling berpegangan tangan . Para undangan dipersihlakan duduk.
"Kita disini untuk menyaksikan perjanjian darah dari Selene Ostrander dan Dennis Solley. Mereka berdua telah bersedia mengikat diri mereka sebagai pasangan darah dan berbagi kehidupan mereka sebagai suami istri, kekasih , teman sepanjang hidup mereka. Mereka berjanji akan saling mencintai, saling menghormati, saling mendukung sepanjang hidup mereka. Mari kita mendengar janji mereka dihadapan para saksi. "
" Dennis Solley sihlakan beri janjimu pada Selene Ostrander." Lord Valerie mengikatkan sebuah pita merah ditangan kedua pengantin.
" Selene Ostrander, aku Dennis Solley berjanji dan bersumpah dengan segenap hatiku mencintai, melindungi, menjagamu , menghormatimu sepanjang kehidupanku. Aku akan menjadikan diriku bagian dari darahmu, terikat dengan hatimu sepanjang hidupku. Jika aku melanggar janji dan sumpahku, aku bersedia menerima hukuman sesuai dengan permintaanmu. " manis sekali, mereka saling berpandangan dan berpegangan tangan. Sang pria mengucapkan kalimatnya sambil memandang mata kekasihnya. Apakah aku punya kesempatan mengucapkan janji seperti itu. Aku rasa tidak, Alexander tidak mungkin melepaskan hareemnya. Sebutir air mata lolos dari mataku. Aku menyekanya dengan cepat.
"Kenapa kau menangis ... " Alexander ternyata memperhatikan aku dari tadi.
"Itu janji yang indah, aku hanya terharu mendengarnya..." Aku berbohong, aku menangisi nasib kisah cintaku sendiri.
Alexander tersenyum, sesaat kami berpandangan seakan dunia hanya milik kami. Tiba-tiba Alexander memegang tanganku dan menggengamnya. Aku memandangnya. Laki-laki ini, sikapnya membuatku terperangkap dalam perasaaanku. Tapi sekaligus menyakitiku dengan apa yang dilakukannya. Perasaan sakit yang mengantarkan sebutir lagi air mata lolos dari mataku.
"Astaga Alexa, apa yang ada dipikiranmu sehingga kau menangis seperti ini." kali ini dia menyeka air mataku. Aku memalingkan pandanganku.
"Aku terlalu terbawa perasaan... maafkan aku." Alexander membawaku ke dalam pelukannya. Demi Sang Pencipta, rasanya aku ingin menangis sepuasnya saat ini. Menumpahkan air mataku di kamarku. Semua tekanan ini membuat perasaanku kacau. Aku harus berusaha keras agar tak terisak. Sementara upacara terus berjalan.
"Selene Ostrander sihlakan berikan janjimu untuk Dennis Solley"
" Dennis Solley aku Selene Ostrander berjanji dan bersumpah dengan segenap hatiku mencintai, melindungi, menjagamu , menghormatimu sepanjang kehidupanku. Aku akan menjadikan diriku bagian dari darahmu, terikat dengan hatimu sepanjang hidupku. Jika aku melanggar janji dan sumpahku, aku bersedia menerima hukuman sesuai dengan permintaanmu. "
"Lakukan pertukaran darah sebagai lambang terikatnya kalian." Dua buah wadah serupa gelas kecil berisi darah dituangkan dalam satu gelas yang lebih besar dan keduanya meminum darah yang telah tercampur dalam gelas itu. . Well, mataku membesar melihat hal itu, itu agak seram, tapi disisi lain mereka melakukannya dengan romantis.
"Perjanjian darah telah dilakukan. Kita telah berkumpul disini sebagai saksi perjanjian mereka mereka. Sesuai hukum klan sejak ribuan tahun yang lalu, mereka telah terikat satu sama lain, dan tidak boleh ada yang memisahkan mereka."
" Kau boleh mencium pengantinmu dan memberinya tanda." Apa itu memberi tanda? Aku binggung. Mereka berciuman dengan panas dan tiba-tiba pengantin pria menyasar leher pengantin wanita dan menggigitnya. Reaksi si wanita bukan kesakitan, well awalnya iya, tapi kemudian itu terlihat seperti sebuah pelepasan. Aku binggung melihatnya.
" Kau binggung kenapa dia bereaksi seperti itu ... " Alex melihat kebingunganku, aku mengangguk.
"Dia sedang memberikan tanda racun vampire, ada kelenjar racun di taring kami efeknya jika serum asing itu masuk ke tubuhmu, tubuhmu akan melepaskan endorphin dalam jumlah besar, reaksi yang hampir sama jika sedang berada di puncak, baik bagi pria dan wanita ." Aku memerah mendengar penjelasan itu. Dan sekarang si wanita menggigit nadi di lengan si pria. Dan pria itu seperti mendapat kepuasan. Aku membelalakkan mataku, sambil menutup bibirku sendiri, Alexander tersenyum lebar melihat ekspresi melongoku.
Aku melihat padanya."Apa seseorang yang memilih menjadi vampire juga akan bereaksi seperti itu."
" Tepat, tapi kemudian racunnya membuat jantungmu berdetak pelan dan tubuhmu diperbaharui. Penerima racun akan tidak sadar selama beberapa hari. " Alexander tersenyum.
"Ohhh..... " sekarang aku mengetahui prosesnya. Ternyata tidak mengerikan. Malah itu terdengar seperti pengalaman erotis. Sementara upacara berlanjut.
"Perjanjian darah telah dilakukan dan tanda telah dibuat. Semoga kalian tetap bersatu sampai maut memisahkan kalian." Lord Valerie menutup upacara tersebut. Sementara kedua pengantin yang berbahagia itu berciuman lagi dengan romantis sampai membuatku tersipu-sipu.
"Itu romantis sekali... " aku berkata dengan raut wajah gemas, Alexander tersenyum melihat rona merah yang sudah menetap di pipiku sejak tadi.
"Kau terlihat sangat cantik ketika tersenyum malu begitu, gadis perawan." Alexander membisikkan kata-kata yang membuatku tambah tersipu. Aku mencubit lengannya dengan gemas.
"Itu sakit ... " dia memberikan ekspresi lucu yang membuatku ingin mencubitnya kembali.
Kedua pengantin turun dari altar, Lord Valerie menyalami mereka, disusul dengan Ketua dan Nyonya Solley. Kemudian Alexander dan aku menyusul memberikan selamat kepada kedua pengantin itu. Pasangan pengantin itu dengan sopan juga memberikan selamat atas pertunangan kami.
Acara kemudian berakhir. Tengah malam kami kembali ke Mansion Alexander.
Alexander mengantarku ke kamar seperti biasa.
"Alexa, kenapa kau menangis tadi. Keira mengatakan hal yang buruk padamu ... Katakan padaku, jangan kau sembunyikan. Atau aku akan tanya sendiri kepada Odelia dan Odette...Jika mereka tidak mengetahuinya aku akan memaksa Keira mengatakannya padaku...." Alex menarikku duduk dan berbicara serius.
"Haha... tidak dia hanya membanggakan diri pernah tidur denganmu, lalu menghinaku sebagai manusia. Tapi aku berhasil membalas perkataannya sehingga dia mengancam akan membunuhku .... lalu Odelia dan Odette membalas mengancamnya, itu yang terjadi tadi..." aku tersenyum masam.
"Wanita itu memang perlu diberi pelajaran. Akan kupastikan dia menerima hukuman karena mengancam keluarga utama.... "
"Tidak Alex, aku sudah mengurusnya ... dia sudah minta maaf ... dia tidak akan berani lagi. Kau tenang saja, aku bisa mengatasinya. Kau tak perlu ikut campur dalam hal ini,... " aku menghela napas dan berpikir apakah masing-masing sisa wanitanya yang belum kutemui juga akan berusaha menguji kesabaranku.
"Maafkan aku, aku membawamu dalam masalah ini ..." dia memelukku, aku diam. Aku menangis bukan karena hinaan tak berarti itu. Aku akan melawan 100 wanita yang berani menghinaku, tapi aku akan menangis karena kau masih menyentuh hareemmu. Kenapa kau bersikap seakan akulah pusat duniamu tapi dibelakangku kau mengkhianatiku. Pelukannya membuat aku menjatuhkan kembali airmataku.
"Kumohon jangan menangis Alexa... apa kau tertekan disini, kau ingin kembali ke London untuk sementara. Katakan padaku apa yang bisa membuatmu bahagia." kau tahu dengan jelas Alex, aku hanya ingin dicintai. Dan mempunyai kisah cinta sendiri tanpa dibayangi wanita lain.
"Aku ingin kembali ke London setelah lukaku membaik." kuputuskan untuk melepaskan sejenak semua tekanan ini.
"Aku akan menjemputmu dan keluargamu ke Paris tiga hari sebelum acara pertunangan kita. Dan Odette dan Odelia akan tetep mengikutimu. Mereka akan menginap di hotel dekat dengan Mansion Aegis. Aku akan bicara kepada ayahmu mengenai pengawalan ini."
" Tidak! Biarkan mereka mengawalku secara diam-diam." Aku membayangkan Ayah akan marah besar dan bertanya kenapa aku harus dikawal. Akan sulit menjelaskan pengawalan ini.
"Baiklah ...." dia menarikku mendekat dan menyender padanya, mencium rambutku dan tengkukku sambil memelukku "Aku belum bilang kau terlihat cantik malam ini." aku tersenyum geli
"Kau sedang menginginkan ciuman?"
"Bagaimana kau bisa tau." dia meringis lucu sambil menyipitkan matanya.
"Kau selalu memuji jika ingin sesuatu. Kau playboy alami, sudah mengalir dalam darahmu ...pujianmu tidak gratis" aku menjauhkan diri.
"Kau sedang menyindirku, tunanganku yang cerewet? "
"Kau benar sekali Tuan Alexander. Itu sudah jelas." aku berputar menghadap ke arahnya sambil mengeluarkan lidah.
"Kau tak pernah menyerah dengan mudah heh...."
"Kau benar... aku tak pernah membuat sesuatunya mudah untukmu."
"Aku akan membuatnya mudah ..." kali ini dengan kekuatannya yang tidak bisa kulawan, dia menarikku ke arahnya, memeluk pinggangku dan menyarangkan mencium leherku, bermain di daguku dan **** telingaku. Membuatku langsung memegang lengannya. Desahan lolos dari bibirku.
"Alex... hentikan..." aku memejamkan mata, tapi menyuruhnya berhenti.
"Kau menikmatinya ... Berhentilah membohongi dirimu sendiri ... " dia menyandarkanku ke lengannya dan melanjutkan cumbuannya di leherku yang membuatku lemas. Dia benar, aku menikmati ini.
"Kau selalu menggunakan kekuatanmu untuk memaksakan kehendakmu...."
"Kau terlalu banyak bicara ..." sekarang bibirnya mengunci bibirku dalam ciumannya. Lidahnya membelit dan mencari lidahku, aku membalasnya dengan cepat.
Tiba-tiba Aku tersadar aku belum bisa melakukan ini. Tidak, aku akan lebih sakit lagi jika kami melakukan ini sekarang, saat aku bahkan tidak bisa menahan diriku untuk cemburu ke wanita wanitanya. Aku akan mempertahankan diriku sampai dia menyerahkan hareemnya. Aku menegang, Alexander merasakannya.
"Ada apa..." dia menghentikan ciumannya, aku memakai kesempatan itu untuk lolos dan berjalan menjauh.
"Aku lelah ...bisakah aku istirahat saja, ini sudah sangat larut." aku tak memandangnya saat ini.
"Alexa, sebenarnya ada apa?"
"Tidak ada ... aku cuma lelah. Jangan memaksaku, kumohon Alex. Bisakah kau keluar dari kamarku, kita bicara besok saja " aku berjalan ke pintu dan membuka pintunya.
"Sebenarnya apa yang terjadi di pesta tadi, bicaralah terus terang? Apa yang Keira katakan? Kenapa kau menyembunyikan masalahmu dariku, katakan terus terang apa yang kau inginkan " dia maju mendekatiku.
"Aku cuma lelah Alex, ... kumohon aku ingin istirahat." aku tak mau melihatnya.
"Alexa kau jangan mempermainkanku, sebenarnya ada apa!?" dia marah karena tiba-tiba aku menolaknya. Dia bukan tipe yang terbiasa ditolak. Dan aku tidak akan mengatakan alasanku.
"Aku cuma lelah ... tak bisakah kau mengerti itu!?" aku mengatakannya dengan ketus karena teringat kejadian di Berlin. Mata Alexander berkilat tajam. Dia pergi dengan cepat sambil menutup pintu kamarku dengan keras. Aku mengunci pintuku. Ini sudah benar, dia tidak bisa mempermainkanku seperti ini.
Aku menyenderkan tubuhku di balik pintu. Membiarkan diriku menangis, merasa menderita karena menolaknya, karena aku juga menginginkannya. Tapi aku tak bisa membiarkannya menyentuhku, aku tidak bisa! Aku akan lebih hancur dan tidak rela karena membayangkan dia juga menyentuh wanita lain.
padahal ini plus point.anda dari author lain, jeung..😍
makasih othor karyamu menambah wawasan dan pengetahuan