"Dua jiwa bersimpul merah.
Tujuh kehidupan dan tujuh kematian.
Bencana, hanya dapat dihentikan oleh sang pengelana."
Dari tiupan angin yang mengumandangkan laguan dari sang takdir, dari tempat terdalam dimana kegelapan terlelap, sepasang tangan yang terikat benang mera menggenggam sepetak cahaya. Dari tempat paling tidak terduga, sang pengelana akan datang untuk membawa sang cahaya, dan bersama melampaui batas dari keabadian sang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilleMoone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 | Kebenaran Suku Lavia
Kalara mengambil gulungan kertas ditangannya. Semua orang berkumpul di aula Celestial Academy dan saling pandang saat mengambil kertas.
Diarena, sosok Aloda, Alika, Ahials, dan Seren berdiri dengan wajah tenang. Keempat orang itu meneliti sekelilingnya sebelum sosok Aloda melangkah maju.
"Kalian bisa membuka gulungan itu. Siapapun yang lolos tetap tinggal. Dan yang tidak lolos, harap langsung pergi meninggalkan Celestial Academy. Gulungan itu sudah dinilai berdasarkan ujian tes tahap pertama. Tahap kedua. Dan tahap terakhir. Jangan ada yang memprotes, karena itu sudah keputusan akhir kami." Katanya dengan wajah serius.
Orang-orang mulai membuka kertas masing-masing. Kalara dan Gwenny membuka secara bersamaan dan menemukan keterangan yang berbeda. Levi dan Elezar melakukan hal yang sama.
Gwenny menatap kertasnya.
Nama: Gwenny Kalicia
[Diterima]
Tes Pertama : 6/6 +0 [Lolos]
Tes Kedua : [Lolos]
Tes Ketiga : [Lolos] +4
Elezar menatap kertasnya sesaat dan menyimpannya.
Nama: Elezar Gualen
[Diterima]
Tes Pertama : 6/6 +1 [Lolos]
Tes Kedua : [Lolos]
Tes Ketiga : [Lolos] +8
Sementara Levi menatapnya sekilas dan memberikannya pada Elezar. Elezar menyimpan kertas itu didalam cincin dimensinya.
Nama: Levi Ilanoraz
[Diterima]
Tes Pertama : 6/6 +1 [Lolos]
Tes Kedua : [Lolos]
Tes Ketiga : [Lolos] +10
Hanya saja, wajah Kalara menampakkan ekspresi sedikit aneh. Ketika ia melihat kertasnya, ia tak bisa menahan senyuman kecil. Terlebih, ketika melihat perolehan nilai benar yang ada ditahap pertama.
Nama: Kalara Io
[Diterima]
Tes Pertama : 1/6 +2 [Tidak Lolos]
Tes Kedua : [Lolos]
Tes Ketiga : [Lolos] +9
"Kala, bagaimana denganmu? Aku lolos astaga! Aku sangat senang!" kata Gwenny sembari berjingkrak.
Gwenny mengambilnya dan membacanya. Ekspresinya blank. "Hah? Apa ini?"
Levi mengambil kertas itu dari tangan Gwenny. Menatapnya serius, alisnya tertekuk. Kalara yang kemudian ditatap oleh Levi mengedikkan bahunya dan tertawa ringan. Seolah-olah Kalara tak peduli dengan isi gulungan yang didapatnya. Bagaimana bisa nilai tes tertulis Kalara mendapatkan poin 3? Itupun nilai dari soal tambahan.
Tunggu, soal tambahan itu Levi mendapatkan nilai 1?
Kalara mendapatkan 2?
"Apa jawabanmu untuk soal tambahan tes tertulis?" tanya Levi.
Kalara menatapnya. Belahan bibir tipis dan merah mudanya terpisah. Mengucapkan rangkaian kata yang membuat Levi terdiam.
...🌙...
Dua hari yang lalu, setelah tes tertulis selesai dilaksanakan...
Chase memasuki ruangan guru untuk memeriksa hasil tes tertulis pendaftar. Mendudukkan dirinya disamping seorang pria dengan rambut hijau, ia meletakkan tumpukan kertas jawaban diatas meja.
"Ini dari kelas Air, Bulan, Bintang dan Daun?" tanya guru disampingnya.
Chase menanggapi pertanyaan pria bernama Dation itu dengan anggukan kepala. Keduanya kemudian bersamaan memeriksa dan menilai jawaban dari tumpukan kertas yang menggunung itu. Ketika mendapati soal jawaban milik Kalara, wajah Chase yang sejak awal sudah muram menjadi makin muram.
"Penjelasan macam apa ini? Sepertinya orang ini benar-benar tidak pernah belajar apapun tentang sihir." Gumam Chase dengan tatapan tajam.
Chase menghela napas, dan dengan kesal menuliskan angka 1 diatas kertas jawaban Kalara. Helaan napas Chase membuat Dation menoleh dan menaikkan satu alisnya bingung.
"Ada apa?" tanya Dation pada rekannya itu.
Chase menyerahkan kertas jawaban Kalara pada Dation. Begitu Dation membacanya, ia tak bisa menahan tawanya. Ia tertawa sementara Chase mengulirkan bola matanya kesal. Ketika tawa Dation terhenti tiba-tiba, Chase menaikkan satu alisnya dan menoleh. Dan mendapati wajah serius Dation yang membuatnya keheranan.
"Hey." Katanya.
Dation menoleh dan menyodorkan kertas itu dan menunjuk jawaban terbawah. Chase membacanya.
Suku Lavia adalah salah satu suku tertua yang masih hidup hingga kini di Benua Zhoie. Suku Lavia memiliki sihir yang disebut dengan Sihir Ramalan. Jumlah mereka sangat sedikit, dan suku Lavia adalah suku yang sangat tertutup akan dunia luar. Bagaimana pendapatmu?
—— Suku Lavia memang tinggal dibenua Zhoie. Tapi mereka bukan pemilik sihir ramalan. Mereka memiliki sihir Pewujud. Sihir ini menjadikan pemiliknya mampu menciptakan situasi yang sesuai dengan yang dikatakan oleh pemilik sihir. Tapi tentu saja kekuatan seperti ini tidak terlalu besar, maksimal suku Lavia hanya bisa menciptakan situasi bencana yang cukup ringan, membuat seseorang memiliki sihir meski tak begitu kuat, memperpanjang umur, menentukan jodoh, menentukan jenis kelahiran bayi dan banyak hal lain. Namun tidak bisa membuat seseorang hidup abadi atau menguasai seluruh dunia.
Lagipula, sihir Pewujud ini tak bisa digunakan pada diri sendiri dan efek samping penggunaanya cukup beresiko. Yakni mampu membuat pemilik sihir mengalami sakit parah, pemendekan umur, bahkan kematian.
Dan lalu, jumlah penduduknya tidak sedikit. Mereka ada banyak dan tidak tertutup pada dunia luar. Hanya saja, mereka melindungi diri mereka sendiri. Dari orang-orang yang serakah dan tamak.
Chase mengernyit. "Omong kosong apa ini?"
"Bagaimana bisa dia justru bertanya balik? Jelas apa yang dia tahu tentang suku Lavia?! Bahkan sejarah saja dia tidak mengerti apapun." Kata Chase.
Sebuah tangan hangat mendarat dipundaknya, membuatnya menoleh. "Apa?"
"Bertanyalah pada pak kepala sekolah." Kata Dation.
"Kenapa?" tanya Chase.
Dation menatapnya sekilas. "Pergi saja,"
...🌙...
Sosok Chase telah ada didepan ruangan kepala sekolah Celestial Academy, ia mengetuk pintu ruangan beberapa kali. Sebelum pintu bercahaya samar dan dengan sendirinya membuka. Seseorang duduk disebuah kursi. Sosoknya tersamarkan dibalik kursi kepala sekolah yang membelakangi pintu. Hanya saja jelas terdengar dari suaranya yang berat, bahwa dia adalah seorang pria.
"Ada apa?" tanya kepala sekolah.
"Saya ingin bertanya tentang suku Lavia." Kata Chase juga tanpa basa-basi dengan atasannya itu.
Nada pria didepannya agak miring, "Bukankah anda adalah guru sejarah? Bagaimana anda bertanya pada saya?"
Chase menggulirkan matanya dan kemudian menyerahkan kertas yang dibawanya dengan menggunakan sihir anginnya. Kertas itu mendarat disepasang tangan putih yang kokoh. Dan mata sewarna bunga persik itu bergerilya diatas kertas.
"Jadi namanya Kalara ya?" gumam pria itu masih bisa didengar oleh Chase.
Pria itu menyunggingkan senyuman dibibir merah mudanya. "Gadis yang pandai."
Chase mengernyit, "Apa itu benar?"
Kertas itu kembali pada Chase, sementara pria didepannya menggerakkan kakinya dan mengetuk sandaran lengan kursi dengan senyuman tipis, "Benar."
"Bagaimana bisa? Bagaimana dengan sejarah yang ada dibuku?" tanya Chase.
"Ada sedikit kebenaran disejarah dalam buku yang memang diubah untuk menjaga keamanan Lavia." Kata kepala sekolah yang masih membelakanginya.
"Jadi," gumam Chase.
"Yah, entahlah. Mari kita lihat kedepannya." Gumam kepala sekolah membuat Chase terdiam.
gak ketebak