Part 2, lanjutan dari Ta'aruf Pembawa Cinta. Disarankan untuk membaca part pertama terlebih dahulu.
Daffa pergi meninggalkan rumah dan melepaskan semua yang akan menjadi miliknya dan mulai membuka usahanya sendiri.
Lelaki bernama Daffa itu adalah seorang duda yang memiliki seorang putri kecil yang begitu cantik, Ia sangat menyayangi putrinya itu bahkan memberinya nama seperti nama mendiang istrinya, Zeline.
Daffa dibuat frustasi saat semua orang mendesaknya agar menikah lagi, hal yang sangat sulit lelaki itu pikirkan, bahkan dengan membayangkannya saja ia sama sekali tidak sanggup jika harus mencari pengganti dari istrinya, wanita yang sangat ia cintai itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Butuh Satu Orang Saja
"Masalah? masalah apa nona Zafina?" tanya Daffa khawatir sekaligus penasaran.
"Bukan masalah besar Pak Daffa, hanya saja semoga ini tidak terulang lagi" jawab Zafina menyayangkan hal tadi, sebenarnya walaupun bukan masalah yang terlalu besar tapi Zafina khawatir jika hal itu terulang lagi malah akan mendatangkan bahaya bagi anak sekecil Zeline
"Masalah apa memangnya?" tanya Daffa lagi semakin penasaran
"Tadi Zeline kemari naik taksi, dia tidak membawa uang dan handphone. Anak sekecil itu masih harus terus di pantau pak Daffa" kata Zafina mengingat bagaimana ketakutannya Zeline tadi.
"Astaga, kasihan sekali putriku" ucap Daffa menyesal terlambat menyusul Zeline tadi, rasanya Daffa ingin memukul dirinya sendiri karena merasa bersalah pada Zeline
"Kalau boleh saya tau, ada apa yah dengan Zeine? matanya juga sangat sembab tadi" tanya Zafina penasaran terlebih saat melihat wajah Daffa sangat frustasi
"Zeline menangis?" tanya Daffa merasa semakin bersalah, selama ini ia sangat menjaga putrinya dan berusaha membuatnya bahagia, bahkan setetes air mata Zeline pun tidak ingin ia lihat jika itu adalah air mata kesedihan
"Iya pak Daffa, dia juga mengeluh lapar jadi ku bawa saja ke rumahku untuk makan siang" kata Zafina mengundang rasa bersalah yang bertubi-tubi dihatinya hari ini
"Maaf nona Zafina jadi merepotkan anda" ucap Daffa merasa tidak enak karena merepotkan orang lain, terlebih orang lain itu hanya orang asing baginya
"Sama sekali tidak masalah Pak Daffa, bagaimana pun saya kenal dan berteman dengan Zeline. Lagipula bantuan saya juga tidak seberapa" kata Zafina terdengar begitu tulus
"Terima kasih banyak nona Zafina, untungnya ada anda. Akan saya ganti uang anda nanti dan juga pengeluaran makan siang Zeline di rumah anda" kata Daffa tidak ingin berutang budi pada wanita itu
"Astaga itu tidak perlu pak Daffa, saya sangat senang bisa membantu Zeline. Saya mohon jangan memberikan saya gantinya" pinta Zafina karena ia merasa tidak nyaman jika harus mengambil kembali apa yang sudah ia ikhlaskan
"Tapi nona Zafina.."
"Daripada memberi saya uang, saya lebih penasaran kenapa Zeline bisa sampai seperti tadi. Ekhm maaf jika saya lancang tapi melihat Zeline sedih seperti itu juga sangat menyakitkan untuk saya" kata Zafina yang masih penasaran sebenarnya ada apa dengan Zeline. Lagipula ia juga tidak akan menerima ucapan terima kasih Daffa dalam bentuk imbalan jadi ada baiknya ia bersikap lancang saja, pikirnya.
Daffa menatap Zafina sekilas mempertimbangkan apakah ia akan menceritakan apa yang membuat Zeline sedih dan sampai seperti itu hari ini atau tidak. Di dalam hati, Daffa memang sangat ingin menuangkan segala beban yang ia simpan sendiri, ia tidak butuh seseorang mengertikannya, ia hanya butuh satu orang saja untuk mendengar ceritanya. Saat ini, pikirannya yang menolak keinginan hatinya sedang berperang dalam dirinya, namun rupanya pertahanan Daffa runtuh, keinginan hatinya menang saat ini. Walaupun harus menceritakan keluh kesahnya, setidaknya Zafina hanya orang asing yang tidak akan membawa dampak apa-apa jika ia menceritakan masalahnya pada wanita itu, pikirnya.
"Tadi di rumah adik saya ada sedikit masalah, Zeline tersinggung dengan ucapan sepupunya. Maklum sepupunya masih sangat kecil tapi saya tau bagaimana sakitnya perasaan anak saya di lontarkan pertanyaan seperti tadi" kata Daffa mulai membuka mulutnya dan menceritakan awal mula kenapa Zeline bisa terluka seperti itu walau hanya sekedar pertanyaan.
"Pertanyaan?" ulang Zafina tidak mengerti sama sekali
"Iya, pertanyaan tentang Mamanya" jawab Daffa dengan berat hati, baru kali ini Daffa menceritakan hal itu selain dengan adiknya Rafif dan adik iparnya Zahra. Raut wajah Zafina seketika berubah entah karena apa saat mendengar jawaban dari Daffa.
"Memangnya..Mamanya Zeline kemana pak Daffa" tanya Zafina dengan hati-hati, ia takut Daffa akan menganggapnya terlalu ingin mengetahui urusannya, namun tampaknya Daffa sama sekali tidak merasa demikian
Daffa terdiam sejenak berpikir apakah ia akan melanjutkan ceritanya atau tidak, ia menarik nafas dalam lalu kembali menatap Zafina sekilas lalu tersenyum tipis namun terlihat begitu menyakitkan di mata Zafina
"Istri saya sudah tenang di alam sana, tapi saya tidak tau bagaimana caranya memberitahukan hal itu pada Zeline" kata Daffa dengan begitu berat mengeluarkan kata-kata itu, selama ini hal itulah yang membuatnya merasa sangat bersalah pada anaknya dan juga mendiang istrinya. Daffa tau hal yang ia lakukan salah karena tidak bisa jujur pada putrinya tapi ia memang akan memberitahukan semuanya pada Zeline suatu saat nanti jika ia rasa waktunya sudah pas.
"Apa salahnya memberitahukan Zeline tentang kebenarannya pak Daffa" sela Zafina, yah memang tidak salah, hanya saja Daffa takut akan mental Zeline kedepannya jika ia mengetahui alasan dibalik kematian Mamanya.
"Saya pasti akan memberitahunya tapi tidak sekarang, Zeline masih sangat kecil untuk mengetahui kebenaran dari kematian Mamanya" ucap Daffa yang terlihat menyimpan sangat banyak luka dan beban dalam dirinya, Zafina dapat merasakan hal itu hanya dengan mendengar nada suara Daffa dan juga raut wajahnya
"Apa..kematian Mamanya Zeline ada hubungannya dengan Zeline? maaf jika saya terlalu lancang pak Daffa" tanya Zafina yang menyadari ia sudah terlalu melewati batasnya.
"Tidak apa-apa, tapi maaf saya tidak bisa menjawab hal itu. Apa boleh saya menemui Zeline dirumah anda?" jawab Daffa mengertikan rasa penasaran wanita itu, tapi Daffa juga tidak akan menceritakan semuanya lebih jauh, ia sudah merasa agak lega sudah menceritakan masalahnya pada Zafina, setidaknya ia bisa menuangkan ceritanya untuk didengarkan oleh seseorang. Ia mengalihkan pembicaraan tersebut dengan meminta izin pada Zafina agar ia dapat bertemu dengan putrinya
"Tentu saja, ayo kita ke atas" ajak Zafina dengan segera berjalan mendahului Daffa menuju ke lift. Ada butiran bening dipelupuk mata Zafina, mungkin saja ia merasa iba pada Daffa setelah mendengar ceritanya. Ia segera mengusap air matanya agar tidak terlihat oleh Daffa yang kini berjalan masuk ke lift menyusulnya.
lanjut dg karya yg bagus lagiii....
semangaaaattt....
MENGEJAR CINTA KAKAK KELAS dari Endergamer 1256
"Malam ini kamu pulang ke rumah.
Rumah kita.
Udah terlalu lama kamu berkeliaran di luar.
Aku harus jaga calon istriku biar gak ditidurin orang lain.
Besok..kita pulang ke Indonesia.
Langsung kawin.
Sedikit aja kamu mau kabur...aku gak akan segan-segan ngeluarin video kita." kembali Michael mengancam.
Numpang iklan dan terima kasih kakak author 😘