NovelToon NovelToon
7 Life Crystals Book I

7 Life Crystals Book I

Status: tamat
Genre:Teen / Action / Fantasi / Petualangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:104.6k
Nilai: 4.6
Nama Author: Koibumi Alana

Demi perdamaian Crymane, terbentuklah sebuah tradisi mencari Tujuh Kristal Kehidupan beserta pengendalinya, dan yang mengadakannya ialah adidaya Crymane, Kerajaan Woerlt.

Yula Athhra, putri bungsu Kerajaan Hearthose yang berusia 12 tahun, terpilih menjadi rekan pertama Putri Kerajaan Woert, Lacus Wallt, untuk menemukan ketujuh kristal kehidupan tersebut.

Bagaimana perjalanan Yula dalam mengumpulkan ketujuh kristal kehidupan tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koibumi Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23 : Perjalanan Kembali Berlanjut dengan Rekan Baru

Malam begitu cepat berlalu, dan matahari pagi tak sabar untuk membuat cahayanya bersinar terang hari ini. Burung yang berkicauan di luar jendela siap terbang mencari makan untuk anak-anak mereka yang menanti di sarang. Sebagai makhluk yang diciptakan sempurna manusia tak mau kalah, masing-masing mereka telah berkemas dan pergi ke tempat mereka bekerja pagi kini hingga petang menjelang.

Lacus dan Yula telah menyiapkan barang-barang mereka. Hari ini mereka akan berangkat dari Kerajaan Durasec. Lacus lega karena akhirnya ia bisa menyelesaikan permasalahan dan kesalahpahaman keluarga kerajaan Durasec, dan lagi ia telah menetapkan seseorang sebagai pengendali berikutnya. Setelah siap, mereka berdua pun keluar dari kamar.

Di luar, para pengawal telah menanti mereka, menemani mereka keluar dari istana. Seperti biasa senyuman menawan Lacus, seperti biasa sifat ceria Yula menyambut kehadiran Raja, Ratu Tyrischa, Lylia, Cathia, Nemuz serta Daisy yang ada di luar. Mereka hadir untuk mengiringi kepergian mereka. Yula dan Daisy sedikit mengobrol dengan akrab. Sedangkan Lacus berbincang sesaat dengan yang lain. Tak lama kereta kuda mereka tiba, dan yang membawanya ialah Esha. Yula terkejut saat melihat kudanya.

“Wah! Hearty punya teman!” kagetnya. Dan lebih kagetnya lagi kuda itu betina. Walau tak jelas oleh orang lain, Yula sangat mengerti wajah Hearty terlihat sangat senang dengan kehadiran kuda betina di sampingnya. Yula memasang wajah nakal dan menggoda kudanya sendiri. “Cie, cie, yang udah gak sendiri~!”

Yang lain tertawa mendengarnya, tapi Lacus malu melihat sikap Yula itu, tidak sopan. Kecuali Esha, dengan sikap tenangnya ia turun dari kereta dan berdiri di samping Daisy.

“Kuda ini....”

“Kuberikan kuda terbaik di kerajaan ini. Jika beratnya bertambah, sudah seharusnya ditambah pula kekuatan penariknya, bukan?” jelas Raja.

Lacus segan dengan kemurahan hati Raja Durasec, namun juga tak dapat menolak. “Terima kasih banyak, Yang Mulia. Kata terima kasih pun tak ada artinya dengan semua ini,” ucapnya senang.

“Tidak perlu sungkan. Ini juga karena demi perjalanan pertama Esha keluar dari kerajaan.” Raja melihat ke arah Esha. Walau tanpa ekspresi, Raja tahu anak itu terlihat senang.

“Dikasih nama apa ya?” Yula malah berpikir keras untuk memberi nama kuda betina itu.

Lacus mencubit lengannya, menarik gadis kecil itu ke hadapan Raja. Memberi tanda untuk berterima kasih. Yula mengerti dan langsung melakukannya.

“Terima kasih banyak, Yang Mulia,” ia membungkuk pada Raja. “Untuk kedepannya, saya yakinkan Hearty untuk menjaga Lovely dan menjadi keluarga yang baik ke depannya.”

“Wah, sudah diberi nama, ya?” Raja tertawa mendengar ucapan Yula yang blak-blakan.

Lacus malah menjitak kepala anak itu karena bicara yang tidak sopan. Karena saat ini menurutnya bukanlah waktu untuk bercanda.

“Apa kau sudah mempersiapkan segala hal untuk perjalanan, Esha?” tanya Raja beralih padanya. Esha beranjak ke arah Raja berdiri, ia mengangguk dan memperlihatkan tas dipunggungnya. “Kalau begitu bagus,” tambah Raja. Beliau tak banyak bicara lagi.

“Hati-hati di jalan ya, Esha,” ucap Ratu Tyrischa, ia terlihat sedih seakan anak kandungnya yang pergi. Ia menjadi teringat pada Yoshizu anak sulungnya, dan kepergian Esha sama memilukan saat Yoshizu memutuskan untuk pergi dari kerajaan.

Esha kembali mengangguk dengan semua nasihat Ratu Tyrischa.

Kata itu terulang dari bibir Lylia dan Cathia, dan juga kata semangat, basa-basi yang perlu dilakukan. Hanya Daisy yang menangis, ia sudah tak tahan untuk mengeluarkan perasaannya. Ia sangat sedih ditinggalkan. Esha mengelus kepala anak itu.

“Aku hanya pergi, bukan mati,” ujar Esha.

Daisy tertawa mendengarnya, dengan air mata yang masih mengalir. Ia tersedak karena air matanya sendiri.

Lacus merasa berat untuk bicara, walau sudah seharusnya ia berpamitan dengan Raja dan keluarganya. Ia mencari waktu yang pas untuk mengatakan kata perpisahan itu, walau entah kenapa saat pergi bersama Yula terasa seakan pergi sebentar dengannya. Tapi untuk kondisi saat ia akan membawa Esha, rasa asing dan hati-hati untuk bicara agar tidak menyinggung perasaan Raja, dan juga ia menyadari bahwa tanggung jawabnya semakin besar dan merasakan beban berat seolah ada di kedua tangannya.

Lacus menarik napas dengan tenang. “Kalau begitu...,” ia menatap Raja dan Ratu bergantian, “kami harus melanjutkan perjalanan.”

Raja Durasec mengangguk sekali. “Ya. Kami akan selalu mendoakan keselamatan kalian dalam perjalanan. Hati-hati.”

Lacus memberi hormat sebagai salam perpisahan pada Raja dan Ratu, dan Yula mengikutinya. Ratu Tyrischa, Lylia dan Cathia menjawabnya dengan membungkuk sedikit. Setelah itu, Lacus menaiki kereta, diikuti oleh Yula dan yang terakhir Esha. Lacus masuk ke bilik kereta, sedangkan Esha yang mengendalikan jalan kuda dan Yula duduk di samping kirinya.

Esha pun menarik tali kekang kuda dan membuat kedua kuda itu berjalan. Saat berjalan hingga menjauh dari istana, Yula melambaikan tangan pada Raja dan yang lainnya. Terakhir ia melihat Daisy yang dipeluk dari belakang oleh Cathia. Matanya masih basah karena air mata perpisahan walau ia tak lagi menitikkan air mata.

Dari jauh, di dalam istana, Seiger melihat kereta kuda Lacus dan yang lainnya pergi meninggalkan istana. Ia enggan untuk memberikan salam perpisahan. Ia berpikir hal itu juga bukan urusannya.

.

.

.

Lacus, Yula dan Esha pergi dengan kereta kuda hingga perbatasan Kerajaan Durasec. Gerbang terbuka menyambut kepergian mereka, terutama Luweis, kepala penjaga gerbang yang ditemui Lacus dan Yula saat pertama kali tiba di kerajaan ini. Luweis memberi salam hormat pada mereka bertiga, dan diikuti oleh penjaga gerbang yang ada di sana.

“Semoga perjalanan Yang Mulia Putri selalu dilindungi Tuhan dengan selamat, terlindungi dari berbagai kejahatan dan tipu daya, kami semua mendoakan keselamatan dan kesehatan selalu pada Yang Mulia Putri dan juga putra-putri pilihan.”

“Terima kasih atas doanya, kami sangat menghargainya,” ujar Lacus. Ia pun memberi aba pada Esha untuk pergi, namun mereka dikagetkan oleh suara seseorang memanggil nama Esha.

“Tunggu!”

Mereka menoleh ke belakang, seorang anak berlari menuju mereka. Esha turun untuk menemui anak itu. Anak itu napasnya tersengal, dan secepatnya mengatur napas. Ia menatap Esha dengan serius. Ia tak percaya Esha pergi begitu saja.

“Dari mana kau tahu aku akan pergi?” heran Esha.

“Kamu lupa kalau ayahku salah satu pengawal di istana?”

“Haa! Hikson, bukan?” kaget Yula.

Hikson kaget melihat Yula, kenapa bisa ia ada di sana. Yula ikut turun dan menyapa Hikson. “Ada apa?” tanyanya heran.

“Justru aku yang harusnya bertanya! Ada apa? Kenapa kamu harus pergi dari sini?” ia menunjuk ke arah Esha, lalu ke arah Yula. “Dan kenapa kamu ada di sini?”

“Itu bukan urusanmu,” jawab Esha singkat.

“Huu, dinginnya~,” ejek Yula. Yula melihat ke arah Hikson yang kebingungan, ia tahu Esha tak akan menceritakan apapun jadi ia ingin mengambil alih pembicaraan.

“Sebenarnya kami utusan dari Kerajaan Woerlt, mencari Batu Kristal Kehidupan. Kami datang ke sini untuk menjemput perwakilan kerajaan untuk menjadi pengendali batu kristal. Nah, untuk Kerajaan Durasec, Eshalah yang terpilih!”

“Kalau itu aku sudah tahu!” timpal Hikson. Yula membatu mendengarnya karena penjelasannya sia-sia. “Tapi aku tak menyangka kalau kamu utusan Kerajaan Woerlt.”

“Maaf, kalau kemarin aku tak bicara jujur,” sesal Yula.

“Padahal baru kemarin kamu mengajarkanku cara membuat bola api. Kamu tahu, Yula, aku sudah bisa membuat bola api dari tanganku!”

Esha kaget mendengarnya. Ia melirik Yula tajam. “Kau mengajari anak ini mengendalikan magica?” herannya tak percaya.

“Apa salah?” balas Yula tak mau ditentang.

Esha tertegun sesaat. “Tidak. Itu ... bagus.”

Jawaban Esha membuat Yula maupun Hikson tercengang.

“Hikson, ada yang ingin aku sampaikan padamu.” Esha membawa Hikson bicara empat mata, hanya mereka berdua, menjauh dari tempat Yula dan yang lain berada.

Lacus heran. Ia pun turun dari kereta. “Kita tunggu saja,” ujarnya pada Yula.

Saat itu, Esha membicarakan suatu hal yang membuat Hikson terkejut bukan main. Matanya membulat begitu pula dengan mulutnya, tapi ia langsung menutupnya karena mata Esha sangat serius mengatakan hal itu. Ia mengangguk mengerti dengan segala apa yang dikatakan oleh Esha. Ia mendengarnya tanpa berkata apapun.

Yula dan Lacus saling melihat, lalu menggeleng, mereka tak mengerti dengan apa yang sedang Esha bicarakan pada Hikson. Bisa saja Yula menggunakan ilmu magica-nya dengan membuat suara Esha terbawa oleh angin dan terbisik ke telinganya, tapi menguping itu tidak baik—meski ia sering menguping pembicaraan orang. Jadi, ia tetap mengamati dari jauh. Jika itu sebuah rahasia, sebaiknya tidak usah diketahui, apalagi untuk orang luar sepertinya.

Namun di mata Yula, Esha berubah menjadi seseorang yang berbeda saat itu, berbeda dari orang yang ia kenal saat melihatnya menolak mentah-mentah keinginan Hikson mengajarinya magica api. Ia terlihat tenang bicara tapi seperti memberi sorot mata yang lembut, entah kenapa, entah apa yang mereka bicarakan. Esha jadi terlihat seperti seorang kakak yang bicara dengan adik, sangat terlihat akrab. Benar-benar misterius.

Tak lama, akhirnya Esha meninggalkan Hikson yang terdiam melihat Esha yang pergi menjauh. Esha pun kembali bergabung dengan Lacus dan Yula.

“Apa sudah siap?” tanya Lacus ramah.

Esha mengangguk.

“Kalau begitu—

Tunggu sebentar, Kak!”

Yula turun dari kereta lalu pergi menemui Hikson.

“Aku hanya ingin minta padamu, titip salam perpisahanku pada Toni, Mary dan yang lainnya. Dan permohonan maafku karena tak bisa mengucapkannya langsung.”

Hikson menatap wajah sesal Yula. Kemudian ia mengangguk. “Hm! Akan kusampaikan.”

Yula pun tersenyum ceria. “Terima kasih banyak, Hikson! Dengan begitu aku bisa melanjutkan perjalanan dengan tenang.”

Hikson menggelengkan kepala. “Justru aku yang harus berterima kasih karena kamu sudah mengajariku mengendalikan magica-ku sendiri. Terima kasih banyak!”

Yula tersenyum senang. “Kalau begitu aku pergi dulu, ya!” Ia melambaikan tangan dan pergi kembali ke kereta.

Hikson melambaikan tangan. “Hati-hati di jalan!!!”

Lacus kembali masuk ke bilik kereta, Yula sudah duduk di samping Esha, dan Esha mulai mengekang tali kuda untuk menarik kereta. Kereta mereka berjalan melewati para penjaga gerbang yang mengucapkan salam perpisahan, lalu melewati gerbang besar pembatas wilayah kerajaan. Gerbang tak ditutup hingga kereta melewati jembatan, begitu yakin kereta telah pergi jauh gerbang pun ditutup.

Esha tak memandang ke belakang, matanya menatap lurus ke depan. Ia telah memantapkan hati untuk berkelana mencari jati dirinya dan juga menjadi pengendali batu kristal. Ia sudah meneguhkan keyakinan untuk menjadi rekan sekaligus pengawal Putri Kerajaan Woerlt dan membantunya dalam perjalanan hingga semua kristal terkumpul dan tugasnya selesai. Meski berkemungkinan ia akan berhadapan dengan keturunan Duragon Reiners yang mengincarnya, ia tak gentar, ia yakin bisa mengatasi segalanya dengan kekuatan yang ia miliki.

1
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
kasian esha
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangatt semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
ko we jadi sedih
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat Semangat Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat thor semangat
Vivi
Semangat thor semangat
Nayla Syberia
namanya lacus tapi aku baca nya berkali-kali salah malah Lucas 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!