Azara Amora adalah gadis cantik berambut panjang dan bertubuh pendek
Bryan Jason Willy, cowok tampan, bertubuh tinggi,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurdahlia Awani hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 22 kembalinya lea
Aku berjalan dikoridor kelas, melewati beberapa siswa dan siswi, yang kebanyakan melihat kearahku. Kenapa? Tampan kah?
"Kak, boleh minta foto nggak?" Aku melirik salah satu siswi bernama Lala, yang menghadang jalanku. Ia cantik, dengan rambut panjang berwarna cokelat. Aku membalasnya dengan tersenyum, lalu mengangguk. Dia nampak tersenyum bahagia, lalu mengotak-atik ponselnya.
"Senyum ya, Kak," aku tersenyum ketika kamera menyala. Sumpah, aku manis sekali, ya ampuuunn!
"Eh, lihat tu, si Lala foto sama Kak Bryan!"
"Ini gak boleh terjadi! Kita juga harus bisa foto sama dia!" Segerombolan siswi berlari kearahku.
"Aku juga, kak!" begitulah permintaan yang mereka lontarkan. Aku hanya bisa pasrah dan menuruti semua permintaan mereka.
...
Aku memasuki kelas, disana sudah ada ketiga kadal, alias ketiga teman-temanku sedang terduduk dengan tawa diwajannya, eh diwajahnya. Tega sekali mereka tidak mengajakku untuk tertawa bersama!
"Roma! Kenapa kau meninggalkanku, dan tertawa bersama mereka!" dramaku, sambil memeluk kaki Karell. Ketiganya menatap kearahku, lalu tertawa lagi.
"Aku tidak mau lagi denganmu, Ani! Kau sudah ternoda, lihatlah bajumu, yang terkena lipstik!" lanjut Karell lagi. Aku pun melirik bajuku yang kini terlihat ada berkas ciuman.
Vangke.
Ini pasti karena siswi-siswi yang tadinya berfoto denganku. Mereka mengambil kesempatan dalam kesempitan ternyata.
"Tau tuh, lo habis ngapain? Apa jangan-jangan, lo sama Ara ...," Vino menggantung ucapannya, dengan cepat aku pun langsung menutup mulutnya itu. Dia pasti akan mengatakan hal yang tidak-tidak.
"Diem lo! Ngomong aneh, gue bunuh lo!" ancamku. Vino dengan cepat meleps tanganku.
"Tangan lo bau parfum cewek!" ujar Vino seraya menutup hidungnya. Ku cium bau tanganku, ternyata memang bau parfum.
Aku berjalan kearah bangkuku, lalu mendudukkan bokongku di kursi. Rasanya, aku ingin bersantai dan membuka ponselku. Ku buka aplikasi bertuliskan whatsApp, baru saja menyalakan data ponselku sudah bergetar.
Aku beralih ke status WA, seketika mataku membulat sempurna. Apa ini? Para siswi yang tadinya minta berfoto denganku, memposting foto itu. Pertama, ku buka status dari kontak yang bernama 'Lala'
"TUHAN, DIA KOK TAMPAN BETT SIH! AKU KAN JADI GIMANA-GIMANA GITU."
Aku menepuk jidatku, apa ini? Aku pun beralih, melihat status yang lain.
"AKU MENGAGUMINYA!"
"JADIKAN DIA JODOHKU, TUHAN,"
Bujubusyet! Gini amat yak, harga diri gue mau di bawa kemana ini woii!
...
Bagaikan langit, disore hari ... berwarna biru, sebiru hatiku ... ayye ayyee.
Hari sudah sore, waktunya pergi jalan-jalan bersama tuyul cantik nan polosnya sampe ubun-ubun. Aku tak pernah berhenti bergaya-gaya di pantulan cermin.
"Ganteng banget, sih lu!" ucapku percaya diri, lalu melangkahkan kaki keluar dari kamar.
"Lho, Yan. Mau kemana kamu rapi-rapi nan ganteng kek gitu?" tanya Mami, ketika aku sudah turun kebawah.
"Biasanya, juga Bryan ganteng kali, Mi," Mami menatapku, lalu geleng-geleng kepala.
"Biasanya juga, kek orang gembel kamu dirumah. Kerjaannya tidor mulu kek kebo," aku mendatarkan wajahku. Aku langsung pergi saja dari sini, daripada harus debat dengan Mamiku tercuinta ini.
Ku lajukan motorku menuju kediaman Ara. Semoga saja orang tuanya tidak ada dirumah, karena kemarin aku sempat membawa pergi Ara begitu saja.
Setelah sampai, Ara sudah terlihat cantik dan rapi dengan dress selutut, dan make up tipis. Ah, meleleh Abang dek!
Tapi boong, papale palepal pale pale.
...
Setelah membeli es krim, aku dan Ara pun duduk di salah satu bangku di bawah pohon rindang. Kami berdua pun menikmati es krim tersebut.
"Abang lucu, kek badut, Haha!" tawa Ara menggelegar, ketika mencolekkan es krim tersebut kehidungku. Aku pun membalasnya juga, dengan mencolekkannya dihidungnya.
"Haha, lo kayak badut woii!" Ara mengerucutkan bibirnya.
"Ih, kok diolesin sih! Ara gak kayak badut, Ara itu imut sejagat raya!" ucapnya lagi. Dih geer juga nih anak. Sebenarnya sangat imut sih, jadi pengen nelen. Eh.
"Gue gemes!" dengan gemas, aku pun mencubit hidung Ara dengan keras, membuat si empu meringis kesakitan. Aku tertawa lepas melihat ekspresinya yang seperti bayi tersebut.
"Aa sakit! Kok dicubit sih? Abang jahat banget!" Ara membalasnya dengan mencubit pinggangku. Rasanya, ah mantap, mantap rasa sakitnya maksudnya.
"Aduh, sakit tau!
"Biarin!" balasnya.
"Kayaknya, ginjal gue mau c-copot," kuambil kesempatan ini, dan pura-pura pingsan di pangkuannya. Rasakan itu Maemunah!
"Aaa Abang, kok pisang sih?" ingin tertawa tapi juga greget dengannya. Salah kata neng, pingsan kali, bukan pisang.
"Abang, maafin Ara ... Ara janji nggak ngelakuin lagi, Abang jangan mati dong, huaa!" Ara terisak, gampang sekali gadis ini dikerjai. Mungkin, Air matanya sudah luruh sekarang.
'Busett, gue dikira mati!" aku hanya berucap dalam batin. Ara kembali menggoyang-goyangkan tubuhku.
"Kok, Abang nggak bangun sih? Huaa!" isaknya lagi.
"Cium aku, dan rasa sakitnya pun akan hilang," lirihku dengan sedikit drama.
Cup!
Kurasakan pipiku tercium olehnya. Kalian tau rasanya? Rasanya seperti anda menjadi ironman. Aku langsung membuka mataku, menatap kearah Ara, aku pun bangkit.
"Abang jangan tinggalin Ara, kayak tadi! Ara nggak suka!" Ara langsung memelukku erat, aku hanya bisa melukis senyuman dibibir tanpa berkata-kata lagi.
"Gue akan selalu bersama lo, kok. Yakali gue ninggalin manusia se-imut dan se-lucu elo," aku pun membalas pelukannya, dan mengusap lembut rambutnya yang terurai.
'Ya Allah, jangan biarkan momen ini pergi dalam hidupku."
...
Setelah mengantar Ara kerumahnya, aku kembali melajukan motorku untuk pulang. Beberapa menit beralu dan aku sampai, aku langsung memakirkan motorku pada tempatnya. Mataku menatap kearah mobil berwarna putih yang sepertinya tak asing, tapi siapa yang punya?
Aku langsung masuk saja kedalam rumah, dan membuka pintunya. "Assalamu'alaikum," salamku.
"Wa'alaikumussalam,"
DEG!
Suara itu? Aku kaku, terdiam seribu bahasa, mendapati sesosok wanita cantik yang selama ini membuatku terpuruk dalam luka, wanita yang berhasi membuatku rindu setiap masa. Lea, kenapa dia kembali?
Lea berlari kecil kearahku, ia tersenyum lalu memeluk tubuhku yang kaku. Aku terdiam, pelukan ini, masih saja sama seperti dulu.
"Bryan, aku kembali lagi seperti janjiku dulu. Aku kangen sama kamu, Bery." Hatiku terasa terguncang mendengar ia memanggilku dengan panggilan masa kecil kami dulu.
Kenapa dia datang diwaktu yang tidak tepat? Apa yang harus kulakukan sekarang?
#BERSAMBUG
Malem guys. Inget sama Lea? Kalau gak inget, coba baca lagi di part yang pertama-tama:v
____
Yang gak author tag, maaf yah:')
anak" bryan kak gimana ketemu sama anak sabahat papanya😁😁
jangan lupa mapir di KARYA ku yaaa🙏❤️🖤
awas az klo Bryan sampe luluh
lucu
semangat thor lanjutin up nya. di tunggu epsd selanjutnya, aku suka dengan ceritanya, menarik😍