Safira menyayangi Zaini, bocah manis berumur 4 tahun. Pipi tembem dari bocah yang terlantar akibat orang tuanya bercerai itu selalu Safira rindukan.
Safira pikir Zaini akan bersama dia selamanya, tapi tiba-tiba ayah kandung Zaini mengambil bocah malang itu. Membuat mental Zaini terguncang. Satu-satunya cara supaya Zaini bisa kembali normal adalah memiliki keluarga lengkap.
Pada akhirnya Safira dan Ashqar terpaksa menikah demi kesembuhan mental Zaini, akankah pernikahan itu akan menjadi obat ataukah racun untuk kehidupan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan
Daripada menghakimi saat seseorang melakukan kesalahan, lebih baik memahami alasan dibaliknya.
✩。:•.───── ❁ ❁ ─────.•:。✩
Ketika Safira berada di depan pintu kamar, ia melirik ke ruang tamu. Tempat Zain tengah duduk tenang menonton acara kartun. Menenangkan Zain tidak lebih sulit ketimbang menjelaskan apa yang sedang Alvin lakukan sendirian di dalam kamar yang tertutup.
Nyatanya, Zain sama sekali tidak memahami apa yang sedang terjadi. Namun, yang Zain mengerti adalah Alvin tidak dalam situasi yang baik. Mungkin itu insting atau sesuatu yang lebih rumit yang tidak Safira pahami sama sekali.
Safira menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum meraih gagang pintu dan mendorongnya. Hal pertama yang Safira lihat ketika pintu terbuka adalah Alvin yang duduk bersila di lantai, punggung kecil itu bersandar pada kasur. Safira yakin Alvin menyadari kehadirannya, tapi sepertinya anak itu terlalu enggan melirik apalagi memalingkan muka.
Begitu pintu tertutup kembali, Safira berjalan ke arah Alvin dan duduk di sampingnya. Beberapa saat kebisuan menyelimuti kedua orang beda usia tersebut. Alvin yang memendam kekesalan sehingga enggan untuk berbicara lebih dulu, sementara Safira merasa kebingungan harus mulai dari mana.
“Kamu sudah tahu apa salahmu?” tanya Safira memecah keheningan.
Alvin tidak menjawab. Dari sudut mata, Safira bisa melihat Alvin menangguk halus. “Sekarang bisa kasih tau tante, apa alasan kamu berbohong?”
Suara tarikan napas Alvin terdengar berat, ada isakan yang anak itu coba tahan. “Itu bukan salah Zain.”
Mendengar jawaban tak nyambung Alvin membuat Zafira memejamkan mata. Harus Safira akui jika rasa sayang Alvin terhadap Zain selalu bisa membuatnya tersentuh, tapi tekadang hal itu juga membuat Safira merasa lelah.
“Tante tahu itu bukan salah Zain. Jadi sekarang bilang sama tante apa alasan kamu berbohong? Dan bagaimana kamu bisa ketemu sama orang asing itu?”
Safira menoleh ke arah Alvin yang masih menundukan kepala, lalu ketika Alvin tak kunjung menjawab pertanyaan, Safira memanngil namanya. “Alvin?”
Alvin mendongak, menatap Safira yang tengah menunggu jawabannya. Dengan ragu-ragu Alvin menjawab, “Aku nggak bohong, Tante. Tadinya aku mau ke toilet, tapi Zain bilang mau cari mamahnya. Jadi Alvin ajak Zain pergi, nggak jauh kok.”
Safira menghembuskan napas lelah. Alih-alih memarahi Alvin, Safira berdiri dan membimbing Alvin untuk duduk di tepi kasur. Safira bisa melihat wajah kebingungan Alvin, tapi anak itu tetap mengikuti perintah tersirat Safira.
Safira mensejajarkan tubuh, duduk bersila di depan Alvin. “Alvin, kamu tahu nggak kalau kebohongan itu seperti ulat yang memakan daging?” ucap Safira dengan nada lembut yang membuat dirinya sendiri heran.
Ketika Alvin menggelengkan kepala, Safira melanjutkan, “Satu kebohongan seperti satu ulat yang makan daging di tangan.” Safira meraih tangan Alvin dan membuat ilustrasi di sana. “Ulat itu membuat lubang, satu ulat, satu kebohongan. Tapi gimana kalau kebohongannya banyak?”
Keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa saat. Safira sengaja memberikan waktu untuk Alvin berpikir dan menyadari kesalahannya. Lagi-lagi ini cara yang neneknya lakukan padanya dulu.
“Tangannya jadi bolong-bolong,” cicit Alvin.
“Iya, dan nggak Cuma tangan, mungkin juga seluruh badan. Tante tahu kamu bohong sama tante. Kamu bilang mau ke toilet, tapi kamu nggak ke sana. Terus sekarang kamu berbohong kalau Zain mau cari mamahnya. Iya, ‘kan?”
Safira bisa melihat bahu Alvin terangkat, anak itu sepertinya kaget jika ternyata Safira tahu kebohongannya. Lalu kepala Alvin lagi-lagi tertunduk, tapi kali ini lebih dalam. Safira sendiri tidak bisa memaksa Alvin untuk segera menjawab pertanyaannya, anak itu mungkin saja sedang bingung dan takut.
Sejujurnya, ketimbang marah, Safira lebih merasa khawatir dan kesal dengan tingkah Alvin dan Zain. Namun, jika ia menunjukan emosi berlebih pasti kedua anak itu tidak bisa diajak bicara, terlebih Alvin. Saat ini yang terpenting adalah mengetahui alasan kedua anak itu berbohong dan identitas mereka yang sebenarnya.
Kalau sialnya Safira tidak bisa mengetahui apapun tentang mereka, maka Safira tidak punya pilihan lain selain melaporkan mereka ke kantor polisi dengan laporan anak hilang.