Alena wanda amira adalah seorang gadis berusia 20 tahun. Dari umur 10 tahun dia hanya hidup bersama paman, bibi dan kakak sepupunya. walaupun tinggal bersama paman dan bibinya namun kasih sayang yang dia terima tetap tidak lengkap. hingga suatu ketika dia terikat kontrak dengan laki-laki dewasa berumur 28 tahun, CEO sekaligus pewaris tunggal ADIDHARMA yaitu Andrian Ramatha. namun apakah kehidupan Ale akan menjadi lebih kelam atau Andrian adalah sosok yang selama ini dia tunggu untuk memberi pelangi bagi hidup Ale?
.
.
suport karya pertamaku ya teman-teman semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annisanurhasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22."khawatir II"
“Saya akan segera tiba 10 menit lagi, segera siapkan semuanya sekarang juga!!” Tegas Andrian dengan dingin. Siapapun yang mendengarnya pasti akan segera melakasanakannya dengan cepat, tak peduli berapa lama mereka akan berdiri menunggu di luar.
Tak lama kemudian mobil Andrian tiba dipelataran rumah sakit. Semua dokter dan perawat VIP memberi hormat kepada Andrian.
Andrian keluar dari mobilnya dan langsung membuka pintu mobil Ale dan menggendongnya, semua yang ada didepan berjalan cepat mengikuti Andrian yang membawa Ale ke ruangan yang sudah disiapkan sebelumnya.
Setelah melakukan pemeriksaan dokter keluar menemui Andrian yang berada diluar ruangan.
“Bagaimana keadaannya.” Tanya Andrian dengan raut tegasnya namun sangat terlihat bawa dia panik.
“Keruangan saya” Jawab sang dokter sekaligus teman Andrian saat kuliah di US secara singkat sambil berlalu meninggalkan Andrian dan perawat yang tadi menemaninya menangani pasien.
“ Kauu!!” Andrian sangat jengkel dengan tingkah Alan, dia sedang bingung dan panik saat ini namun untuk membicarakan kondisi pasien saja harus berada diruangannya.
Andrian mengkuti Alan yang sudah langsung berjalan mendahuluinya.
“Duduk” Perintah Alan dengan wajah seriusnya.
Andrian mengikuti perintah Alan dengan patuh.
“Siapa dia?” Tanya Alan, kini wajahnya berubah menjadi wajah seorang Alan yang selalu mengesalkan menurut Andrian.
"Kau masih seorang dokter? aku menanyakan keadaan pasien!!" Andrian berdiri dan mulai sedikit hilang kontrol karna begitu jengkel melihat tingkah Alan, dia benar-benar merasa takut dan khawatir saat ini.
"Tenang-tenang.. dia ehmm.. wanitamu tidak apa-apa, dia baik-baik saja" Alan sebenarnya ingin bermain-main lebih lama lagi dengan Andrian, tapi melihat sikapnya yang begitu mencemaskan keadaan pasien membuat dia tidak tega bermain terlalu lama dengan Andria, belum lagi sikapnya yang kadang bisa hilang kendali jika itu menyangkut orang-orang dekatnya.
Seperti mendapat angin syurga Andrian mendengar pernyataan singkat temannya itu, walaupun Alan memang kadang tetlihat bodoh, tapi Alan termasuk dokter kepercayaan keluarganya yang diagnosanya sangat bisa dindalkan.
“Apa ini yang kau bicarakan dengan para keluarga pasien? Apa kau sudah bosan bekerja di rumah sakit ini?” Tanya andrian geram dan mengeluarkan ponselnya dari balik jasnya.
“Iya iyaa.. dia hanya terkena sindrom iritasi usus, itu hal biasa yang dirasakan pasien saat pasien merasa stress berat. Itu bukan hal serius tuan muda Andrian, anda tidak seharusnya menggendong dia sampai ke ruang rawat.” Alan menjelaskan keadaan Ale dengan jelas sambil menahan tawanya karna geli melihat tingkah temannya yang satu ini. Hanya sakit perut tapi tingkat kekhawatirannya sudah seperti seseorang terkena serangan jantung saja.
Andrian hanya diam menanggapi pertanyan Alan. Dia bingung dengan kejadian barusan, dia juga tidak tau mengapa bisa sekhawatir itu kepada Ale, tapi mungkin karna dia yang mengajak Ale ke villa jadi dia merasa memiliki tanggung jawab penuh terhadap Ale.
“Jadi siapa wanita itu? Dia wanita kedua yang kamu bawa selain..” Alan menggantungkan ucapannya, karna dia tau betul seperti apa sifat temannya ini.
“sekretaris” Jawab Andrian singkat dan langsung pergi meninggalkan Alan di ruangannya, dia tidak ingin ditanya banyak hal, karna pasti Alan akan terus bertanya tanpa henti jadi lebih baik dia meninggalkan Alan.
Andrian masuk keruangan Ale lalu meletakkan bubur dan buah yang tadi dia beli diatas meja. Dia menghampiri Ale yang masih terbaring diaatas tempat tidur.
“Kau merasa lebih baik?”
.
.
Jangan lupa tinggalin jejak kalian ya teman-teman. Trimakasih sudah suport
By. Nurhasanah
semangat terus ka
salam di batas cakrawala
mampir juga yaa
mampir juga yaa
mampir juga yaa