NovelToon NovelToon
Ibu Pengganti

Ibu Pengganti

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:952.7k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Jangan lupa tekan jempol dan tulis apa pun di kolom komentar. Itu semua sangat membantu penulis untuk terus update dengan semangat. Terimakasih sudah membaca. Lanjutan dari novel Abang Penjual Sate, Imamku.

********

Ayra, balita berusia lima tahun yang kehilangan ibunya saat baru beberapa Minggu dilahirkan. Mengenal sosok ibu dari cerita semua orang di keluarganya.

Suatu hari, ia meminta pada ayahnya untuk tidak pernah menggantikan ibunya yang pergi. Karena menurutnya, Aisyah tidak akan pernah bisa tergantikan.

Namun, berbeda cerita saat ia bertemu dengan seorang wanita sederhana dari masa lalu sang ayah. Beberapa Minggu bersamanya, Ayra sadar bahwa ia sangat membutuhkan sosok ibu.

Dia meminta pada ayahnya untuk menjadikan wanita itu sebagai ibunya.

Ikuti kisahnya di sini!

Cover: PicsArt

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berlatih

Seragam putih khas dari sebuah seni bela diri telah melekat sempurna di tubuh Ayra. Rambut yang dikuncir dua di atas, membuatnya bebas bergerak.

Razka memakaikan sabuk berwarna putih yang menunjukkan sebuah tingkat sampai di mana dia berlatih.

Ia sendiri pun telah mengenakan seragam yang sama, dengan sabuk berwarna hitam. Tingkatan teratas dari seni bela diri karate.

"Nah, sudah siap!" ucap Razka menepuk ujung baju Ayra merapikannya. Ia merapikan rambut Ayra yang sedikit berantakan.

"Ayo!" ajaknya menghulurkan tangan pada Ayra. Gadis kecil itu menyambutnya dengan ceria. Mereka berdua berjalan keluar dari kamar, berpapasan dengan Dery yang juga sudah rapi mengenakan seragam yang sama dengan mereka.

Tidak tertinggal Fachru dan Akmal yang baru saja keluar dari kamar mereka. Bersama Emilia yang terlihat repot membawa keperluan Akmal dan suaminya.

"Kakak!" Akmal berseru lantang, berlari kecil menghampiri Ayra dan menggandeng tangannya. Mereka bersama menuruni anak tangga menuju lantai satu.

Rendy dan Bryant telah menunggu mereka bersama Sasha yang menggendong Lucy. Ada Hendi dan juga Farel, Mega dan Mia. Hanya Mega yang mengenakan seragam yang sama dengan mereka. Satu-satunya wanita.

Dia adalah pemegang sabuk hitam setingkat dengan Rendy, di atas Razka tentunya. Mamah dan Bibi Nuri pun telah bersiap untuk ikut. Mereka hanya akan menonton bersama Emil dan Sasha. Di tangan keduanya menjinjing sebuah tas bekal untuk mereka usai latihan.

"Tuan Muda!" Bu Sum datang menghampiri Razka dengan membawakan keperluan Razka dan Ayra yang ia siapkan seperti biasa.

"Terimakasih, Bu," tukas Razka menerima tas bekal dari bu Sum. Wanita yang sudah memasuki usia sepuh itu hanya mengangguk. Ia ikut berjalan keluar mengantar kepergian semua anggota keluarga untuk berlatih.

Satu per satu dari mereka memasuki mobil, hanya Dery dan Razka yang pergi dengan mengendarai motor. Motor sport kesayangannya, hadiah kelulusan dari Mamah dan Papah yang ia rawat dengan baik. Sebuah ransel menggantung di punggungnya.

Motor Dery dan Razka melaju di bagian paling belakang, mereka menuju gelanggang olah raga tempat biasa mereka melakukan latihan seni bela diri karate.

Dengan Mega dan Rendy sebagai pelatih utama. Semua bocah di keluarga itu mereka bekali dengan bela diri. Agar suatu saat dapat melindungi diri sendiri ketika jauh dari rumah.

Lima belas menit berkendara, mereka sampai di tempat tujuan. Tidak hanya mereka yang berlatih di sana, ada banyak komunitas lainnya yang juga berlatih di lapangan olah raga tersebut.

Satu per satu dari mereka keluar dari mobil, berjalan beriringan menuju lapangan tempat biasa mereka melakukan latihan.

Mamah Quin, Bibi Nuri, Sasha dan Emil berjalan di bagian paling belakang. Mereka tidak ikut berlatih, hanya menonton saja dari tempat duduk yang disediakan di sana.

"Kita istirahat dulu, sebelum pemanasan," ujar Rendy setelah melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Mega, Razka, Fachru, Dery dan Rendy, melakukan pemanasan sebelum melatih para bocah. Mega terlihat seperti Srikandi dalam keluarga besar itu.

Hendi yang masih duduk di tempatnya bersama Mia dan Farel, menatap bangga pada istrinya. Ia semakin kagum pada wanita yang telah memberinya satu orang anak laki-laki itu.

Duduk bertopang dagu, senyum-senyum sendiri, dengan matanya yang mengecil tertuju pada Mega. Hingga,

"Ekhem!" Suara deheman membuyarkan lamunannya. Ia tersentak, saat melihat tubuh seseorang berdiri di depannya. Hendi mendongak, ia memasang senyum jenakanya saat yang ia lihat adalah Mega yang berdiri sembari berkacak pinggang.

Tanpa berkata, Mega memberi isyarat pada Hendi untuk berdiri. Mau tidak mau, ia mengikuti perintah istrinya. Bangkit dan berjalan mengikuti Mega ke tengah lapangan.

Ia tidak sadar, bahwa semua bocah telah berbaris di lapangan dan sedang melakukan pemanasan.

Hendi ikut berbaris, di depan para bocah bersama Razka, Fachru dan Dery. Di depan mereka, Rendy dan Mega bertindak sebagai pelatih.

Diawali dengan sikap siap, "Yame!" ucap Rendy dan Mega bersamaan, memimpin melakukan penghormatan sebelum pemanasan.

"Oshi!" seru Rendy dan Mega lagi. Setelah penghormatan, mereka melakukan pemanasan yang disebut Taiso. Taiso adalah peregangan atau pemanasan. Disebut juga proses persiapan seluruh anggota tubuh seoptimal mungkin.

kedua tangan disatukan dengan ujung yang paling tinggi diletakkan di bawah dagu, menengadah.

Dilanjutkan dengan membalik wajah ke kanan dan kiri dengan dua jari yang diletakan di bawah dagu, ibu jari dan telunjuk. Selanjutnya melakukan gerakan-gerakan ringan lainnya hanya untuk merenggangkan otot tubuh sebelum memulai latihan.

Rendy dan Mega berbalik setelah melakukan pemanasan, mereka akan masuk pada latihan dasar dari seni bela diri karate. Yang disebut kihon. Kihon yaitu teknik-teknik dasar dalam latihan seni bela diri karate. Seperti teknik memukul, teknik menendang, dan teknik menangkis.

"Ayo, persiapkan diri kalian! Pasang kuda-kuda seperti yang sudah diajarkan!" Rendy berseru lantang, karena bukan hanya dari rumah mereka yang mengikuti latihan ini, tapi ada dari masyarakat yang juga ikut berlatih bersama mereka.

Mereka semua membentuk kuda-kuda seperti yang diajarkan Mega dan Rendy. Keduanya berkeliling untuk memeriksa kuda-kuda siapa yang masih keliru. Membenarkan jika salah, membentuk kekuatan dari kedua kaki.

(gambar hanya pemanis)

"Bryant, lakukan dengan benar!" Suara lantang Rendy menegur Putranya agar membentuk kuda-kuda yang sempurna. Dengan cepat, Bryant merubah bentuk kuda-kudanya. Kedua tangan terkepal di pinggang, kanan dan kiri.

"Oi-zuki-chudan! Haik!" ucap Rendy lantang.

"Kiai!" sahut mereka kompak. Diikuti gerakan memukul ke arah perut dan ulu hati. Mereka melakukannya secara berulang, terus-menerus. Maju mundur sesuai perintah dari Rendy dan Mega.

Kedua tangan yang terkepal di pinggang, mereka gerakan secara berirama kanan dan kiri.

"Gunakan tenaga saat melakukannya!" teriak Mega tak kalah lantang dari Rendy. Sahut-menyahut suara teriakan dari Rendy dan Mega yang disambut oleh anak-anak yang ikut berlatih memenuhi lapangan tersebut.

Mereka berlatih dengan semangat, meski peluh telah membanjiri seluruh tubuh, tapi mereka tetap semangat melakukan perintah dari Rendy dan Mega. Memperkuat kuda-kuda dan pukulan.

Menangkis dan menendang, semua mereka lakukan dengan semangat. Rendy dan Mega berkeliling memeriksa setiap gerakan anak-anak yang berlatih bersama mereka.

Mega berhenti di depan Ayra, gadis kecil dengan kuncir dua itu, tersenyum saat Mega memeriksa gerakannya.

(gambar hanya pemanis)

"Lakukan dengan benar, sayang! Untuk dirimu sendiri!" ucap Mega dengan lembut sembari membenarkan gerakan tangan Ayra untuk jadi lebih sempurna.

"Seperti ini!" katanya menggerakkan bergantian tangan kanan dan kirinya.

"Ya! Tapi, bisakah kau melakukannya seperti ini!" ucap Mega mempraktekan pukulan dengan tenaga. Sehingga menerbangkan debu yang menempel di bajunya.

"Lakukan dengan tenaga! Sekuat mungkin, jangan lemahkan pukulan mu, sayang!" Ayra mengangguk, ia mendengarkan Mega dengan baik.

Ia mencobanya lagi dan lagi, Mega tersenyum puas setelah melihat Ayra dapat melakukannya dengan sempurna.

"Bagus! Terus seperti itu!" katanya lagi memberi semangat. Ayra mengangguk dan melakukannya lagi dengan sempurna bersamaan dengan yang lainnya.

"Yame!" ucap Mega, setelah merasa cukup untuk mereka berlatih hari ini. Mereka di posisi siap.

"Oshi!" ucap Rendy. Mereka berdiri berhadapan dengan para murid. Saling membungkuk memberi penghormatan sebelum membubarkan diri.

Razka mengangkat tubuh Ayra dan meletakkannya di atas pundak. Mereka berjalan menghampiri Mamah yang sudah menyiapkan minuman untuk mereka.

Beristirahat sejenak sebelum pulang ke rumah.

Note:

Maaf jika ada kesalahan dalam penyebutan istilah.

Happy reading.

Bantu like dan voute ya

Terimakasih

1
🌹🪴eiv🪴🌹
terimakasih untuk tulisan indah mu thor
🌹🪴eiv🪴🌹
si Aul, hadeh bikin repot malahan nanti
菲菲 Dwi L Arema: Terlalu banyak drama dia
total 1 replies
🌹🪴eiv🪴🌹
kanapa Ibrahim jadi batu

bayi dong
🌹🪴eiv🪴🌹
hiks.....mewek saiya
🌹🪴eiv🪴🌹
tenda - tenda
🌹🪴eiv🪴🌹
apakah kita akan menghabiskan tisu juga disini 🤭
Aisy Hilyah: sepertinya
total 1 replies
Ummu Ayyas
MasyaaAllah nangis jadinya teringat ibu yg telah tiada
Ummu Ayyas: oke shiaap 💖💖💖
total 2 replies
susi 2020
🥰🥰🥰
susi 2020
😘😘
susi 2020
😍😍
susi 2020
🥰🥰
susi 2020
😍😍😍😘
susi 2020
😘😘
susi 2020
x🥰🥰
susi 2020
😘😘
Faris Setyawan Fais
Novel bagus betul, cuman aku gak sanggup baca sampai habis, selalu ingat Aisyah jadi nyesek
Rosmawati/jnr
Bagus banget
Sativa Kyu
👍👍👍
Maura
visual Ayra dan yang lainnya dong thor biar tambah semangat membaca🙏
Aisy Hilyah: ada ga ya, aku lupa. hehe
total 1 replies
Maura
visual jangan lupa thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!