Anjani, 21 tahun. Baginya memiliki suami tampan dan mapan adalah keberkahan. Namun, siapa sangka keberkahan itu akan menjadi sebuah ujian. Suami Anjani, banyak didekati wanita cantik nan sexy. Sembari menjalani peran sebagai istri sekaligus mahasiswi di kampus baru, Anjani belajar meredam kecemburuan dan prasangka macam-macam yang seringkali melemahkan kesetiaan.
Ketika Anjani hamil besar, datanglah kabar yang menguji jalinan ikatan cinta halal. Sang suami meminta izin untuk menikahi rekan bisnisnya lantaran sebuah skandal. Apakah Anjani akan mengizinkan dan bertahan menjalani takdirnya bersama sang suami, sembari menahan perih? Atau justru mengakhiri janji suci dan menikah lagi dengan teman kampus yang sedari awal dicemburui oleh sang suami?
Dapat mengobrak-abrik rasamu. Harap bijak untuk tidak baper berlebihan. Enjoy reading dan terima kasih sudah mampir. 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Hapsari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 : Bukan Hutang
Mario tidak buru-buru menanggapi. Dibiarkannya Dewangga terus berceloteh sambil berargumentasi sesuka hati. Mario tidak menyadari, Lovey di sebelahnya sampai gerogi karena tak kunjung mendengar Mario menyangkal pemikiran Dewangga tadi.
Kurang hati-hati karena gerogi membuat Lovey tidak sengaja menumpahkan minumannya. Gaun merah selutut yang dipakai Lovey pun basah di bagian pangkuannya.
"Maaf, saya permisi dulu." Lovey menunduk sopan, kemudian menuju toilet wanita.
"Iya silakan." Dewangga menyahuti sambil manggut-manggut memperhatikan Lovey berlalu pergi.
Usai Lovey pergi, Barulah Mario serius menanggapi. Sedari tadi Mario hanya mengamati sikap dan tutur kata Dewangga yang masih tetap sama, asal menduga dan tidak bisa membedakan suasana. Usia Dewangga terpaut lima tahun lebih tua dari Mario. Meski demikian, Mario menyayangkan sikap Dewangga yang sering sembarangan.
"Mohon Maaf. Saya sungguh tidak tertarik dengan obrolan seperti ini. Istri saya hanya ada satu, dan akan menjadi satu-satunya. Saya permisi dulu." Mario menunduk sopan kemudian berpindah meja jamuan.
Dewangga dan teman bisnisnya hanya manggut-manggut biasa, kemudian berdiri dan menunduk sopan seperti yang dilakukan Mario.
Meja jamuan yang dituju Mario adalah meja tempat Paman Li dan sekretaris Lovey berada. Di meja yang sama juga duduk tangan kanan perusahaan yang saat ini sedang berelasi dengan perusahaan Mario. Obrolan seputar pasar saham menjadi topik pembahasan. Lebih baik dan jauh lebih nyaman untuk ditanggapi daripada topik sensitif seperti tadi.
"Selamat beristirahat, Tuan Mario. Tidurlah yang nyenyak agar terlihat fresh saat bertemu Nona Anjani besok," ujar Paman Li.
Senyum Mario tak dapat dibendung saat nama Anjani disinggung.
"Selamat malam, Paman. Selamat beristirahat juga."
Mario berpisah arah dengan Paman Li dan lainnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Lovey baru berpamitan dengan rekan bisnis lainnya.
"Vey," panggil Mario.
Lovey menghampiri Mario dengan wajah cerah. Geroginya juga telah menguap karena tak lagi satu meja dengan Dewangga.
"Maaf, aku tadi bergabung di meja lainnya. Kurang nyaman dengan obrolan Dewangga," ungkap Lovey, sejujurnya.
"Sama. Setelah kau pergi, aku pun bergabung di meja Paman Li. Dewangga tidak pernah berubah. Masih saja suka asal bicara."
"Benar. Itulah salah satu alasanku memutus kerja sama dengannya dua tahun lalu. Perlu kamu tau." Lovey menggantung kalimatnya, lalu mengedarkan pandang ke sekitar. Setelah merasa aman, barulah Lovey mendekatkan wajah dan berbisik di telinga Mario.
"Hati-hati. Permainan bisnisnya sedikit licik," bisik Lovey.
"Aku sudah tau. Itu juga yang membuatku memutus kerjasama sepihak dengannya dua bulan lalu. Lebih baik tidak perlu membahasnya lagi. Istirahatlah, sudah malam."
"Oke."
Langkah Mario dan Lovey beriringan menuju lift yang sama, karena kamar mereka berada di lantai yang sama pula. Sedikit obrolan masih saja tercipta saat keduanya sudah sampai di depan kamar hotel mereka.
"Btw, aku sedikit penasaran. Apa kamu berencana untuk poligami?" Lovey menaik turunkan alisnya, sebagai sebuah canda yang tak akan mengapa jika Mario tidak mau menjawabnya.
"Aku mencintai Anjani." Begitulah jawaban Mario. Singkat, padat, dan menjelaskan isi hati.
Lovey mengangguk-angguk sembari tersenyum.
"Aku tau itu. Tapi, andai kamu ingin berpoligami, aku bersedia jadi pilihanmu." Lovey kembali menaik turunkan alisnya, sebagai bentuk canda.
"Jangan menggodaku seperti itu, Vey!" Mario menyilangkan tangan sembari mengembangkan senyuman.
"Ups, jadi kamu merasa tergoda olehku? Hati-hati, loh ya! Lovey itu penuh pesona." Lovey terus menampilkan mimik canda.
Mario terkekeh pelan. Sikap Lovey yang demikian dapat Mario artikan sebagai sebuah candaan.
"Segera masuk ke kamarmu, Vey. Istirahatlah!"
"Siap. Eits, besok-besok akan kupikirkan sebuah cara untuk membayar hutangku." Lovey masih bertahan di ambang pintu.
"Jangan dipikirkan, Vey! Darah yang kudonorkan sama sekali bukan hutang. Itu suatu bentuk kemanusiaan. Sekarang, masuklah!"
Lovey cekikikan. "Terus kamu ngapain masih berdiri di situ? Mau masuk juga?" Lovey kembali membuat canda.
"Tidak!" Mario balik badan. "Aku mau kembali ke kamar dan memimpikan istri kesayangan. Selamat malam, Vey!" Mario melambaikan tangan tanpa menoleh, terus berjalan menuju kamar.
"Selamat malam juga, Mario." Lovey tersenyum, lantas menutup pintu kamarnya.
Begitu sampai di depan pintu, Mario teringat sesuatu. Smartphone dalam saku lekas diambil, lantas mengetikkan beberapa pesan. Tidak jadi masuk kamar, langkah Mario diayun menuju lobby hotel. Mario hendak mengambil barang pesanan, yang akan diberikan pada Anjani sebagai buah tangan.
"Terima kasih. Ini untukmu." Mario memberi beberapa lembar uang untuk orang suruhannya.
"Terima kasih kembali, Bos. Saya permisi."
Diamatinya kotak transparan berisi dua botol body mist yang tertata elegan. Body mist pilihan Mario beraroma Bunga Moringa kesukan Anjani. Sebenarnya tadi Mario sudah membeli oleh-oleh untuk sang istri, tapi terasa kurang pas tanpa adanya body mist yang biasa dipakai Anjani. Lantaran tidak menemukan body mist yang dicari, Mario menyuruh seseorang untuk membeli.
"Aku yakin kamu akan menyukai oleh-oleh dariku ini." Mario senyum-senyum sendiri.
"Asal kamu hanya memakainya saat bersamaku, berapa botol pun pasti akan kubelikan untukmu." Mario terus bergumam sendirian. Untung saja lobby hotel sepi karena sudah larut malam.
Begitu hendak kembali, Mario tidak sengaja mendengar obrolan dua orang yang baru saja memasuki lobby hotel. Salah satu di antaranya adalah Dewangga. Sedangkan pria muda di samping Dewangga, Mario tidak mengenalnya.
"Betul sekali, Lovey masih single dan baru saja mewarisi perusahaan dan harta kekayaan orangtuanya." Dewangga menjelaskan pada lelaki muda di sebelahnya.
"Menarik sekali," sahut lelaki muda itu tanpa mengimbuhi kalimat lainnya.
Setelah itu, Mario tidak dapat mendengar obrolan lanjutannya. Dewangga dan lelaki muda itu masuk lift, dan Mario sungguh tidak tertarik untuk menyusulnya.
Status Lovey yang seperti saat ini bisa saja dimanfaatkan. Aku harus mendesak Lovey agar segera mencari bodyguard demi keamanan. Atau ... aku bisa menyarankan padanya untuk segera menikah agar ada yang menjaganya. Ya, seperti itu saja. Batin Mario.
Mantap dengan niatannya, Mario segera kembali ke kamarnya. Baru saja membuka pintu kamar, Mario mendapati Lovey keluar.
"Vey, mau kemana?"
"Ah, kebetulan sekali. Baru saja aku mau ke kamarmu." Lovey berjalan mendekat sambil menenteng smartphone.
"Ke kamarku? Ada perlu apa, Vey?"
"Nih lihat!" Lovey menunjukkan kabel charger miliknya yang putus. "Pinjam punyamu boleh? Atau power bank kalau ada. Power bank milikku entah kemana. Seingatku tadi di atas nakas, tapi entahlah. Pinjem, ya!"
"Tak kusangka kamu bisa ceroboh juga, Vey!" Mario geleng-geleng kepala.
Pintu kamar Mario dibuka. Di saat yang bersamaan ada panggilan masuk dari Anjani. Mario segera menerima panggilan itu khawatir ada hal penting yang terjadi. Di saat itulah Lovey nyelonong masuk dengan niatan mengambil power bank sendiri, dan Mario tidak keberatan sama sekali. Mario menunjuk ke arah laci agar Lovey mencarinya sendiri.
"Mas, kamu jadi pulang besok? Temani aku priksa kandungan jika kamu tidak capek, ya?" tanya Anjani via telepon, bukan video call seperti biasanya.
"Iya, aku pulang besok. Pasti akan kutemani. Lekaslah tidur, Sayang. Ini sudah larut malam, lho." Mario menasihati Anjani.
"Iya, Mas. Anak kita kangen, pengen dengar suara daddynya, jadi aku telponin, deh."
Nada biacara Anjani terdengar manja, membuat Mario tidak bisa menahan senyumnya.
"Jadi yang kangen cuma anaknya daddy, bundanya nggak nih?" goda Mario.
"Ya pasti kang- ...."
"Aw!" Suara Lovey memekik.
Mario menoleh ke arah Lovey. Refleks, Lovey menutup mulutnya.
"Suara siapa itu, Mas?" Anjani mendengar dengan jelas suara Lovey tadi.
"Itu suara ...."
"Kamu sedang di mana larut malam begini?" Anjani menyambungnya dengan tanya lagi, padahal Mario belum sempat menjawab pertanyaan yang tadi.
Mario memberi kode pada Lovey untuk diam, agar Anjani tidak semakin mempertanyakan.
"Ini ada yang lagi pinjam charger. Aku ambilkan dulu chargernya, ya?"
"Hem, oke. Kalau begitu aku tutup saja teleponnya, ya. Kamu segeralah istirahat juga. Jangan terlalu keras bekerja." Anjani mengira Mario masih bekerja hingga selarut ini.
"Iya, Sayang. Tidurlah yang nyenyak!"
Panggilan telepon berakhir usai berbalas salam. Mario lega karena Anjani mengira dirinya sedang bekerja, dan tidak mengulang tanya sedang di mana. Jika tidak, kesalahpahaman pasti akan menyertainya. Untunglah semua baik-baik saja.
"Apa istrimu salah paham?" Lovey ragu-ragu mempertanyakan.
"Untungnya tidak sampai seperti itu, Vey."
Lovey mengelus dadanya tanda lega.
"Tadi telunjukku ketusuk pin di lacimu. Power banknya kubawa dulu. Besok pagi kukembalikan."
Lovey melangkah riang hendak menuju keluar, tapi urung karena Mario mencegahnya. Mario menyuruh Lovey duduk di sofa, dan hendak membicarakan sesuatu yang serius dengannya.
"Yakin mau ngobrol di sini? Nggak takut kamu tergoda olehku, nih?" Meski berkata demikian, Lovey tetap duduk di sofa sesuai apa yang Mario perintahkan.
"Aku tidak akan tergoda olehmu, Vey. Hanya Anjani yang mampu menggodaku."
Lovey tertawa ringan, lantas mengacungkan jempolnya. Pujian untuk Anjani baru saja meluncur dari mulut Lovey menyertai acungan jempolnya.
"Vey, segeralah menikah!" Mario langsung pada intinya.
Mimik wajah yang semula menampilkan canda, kini berubah serius dan mengubah suasana.
"Aku tau, Mario. Kamu pasti mengkhawatirkan statusku usai kejadian di malam itu." Lovey bisa menebaknya. "Tapi, aku tidak bisa sembarangan menyerahkan hatiku. Tidak semudah itu. Tidak mudah mencari sosok yang benar-benar baik untukku, yang tulus mendampingiku. Bukan karena hartaku." Lovey menunduk, lantas kembali menampilkan senyum usai hatinya tertata.
Mario menangkap adanya cerita cinta masa lalu yang membuat Lovey enggan membuka hatinya untuk orang baru.
"Sepertinya telah terjadi sesuatu di masa lalu. Kuharap kamu bisa segera move on, Vey!"
"Semoga," jawab Lovey singkat. "Eh, tapi. Jika kamu menyuruhku untuk menikah denganmu, aku bersedia. Kupikir itu salah satu cara terbaik untuk membayar hutang nyawa."
Begitu berani Lovey mengatakannya. Namun, Lovey berucap dengan mimik canda. Jelas hal itu membuat Mario geleng-geleng kepala disertai senyum lebarnya.
"Kejadian malam itu sama sekali bukan hutang, Vey. Sudah-sudah. Kalau begitu cari bodyguard saja. Itu lebih efektif untuk sementara. Atau, mau kucarikan sekalian?" Mario menawarkan.
"Aku bisa cari sendiri. Besok saja kupikir lagi. Aku balik ke kamar dulu, ya. Jangan mimpikan aku!" Lovey mengedipkan sebelah matanya, lalu melenggang keluar.
"Tidak akan!" seru Mario, menanggapi Lovey.
Tetiba terbersit suatu ide di benak Mario. Sebuah ide untuk menarik sahabat baiknya dari kantor cabang ke induk perusahaan. Mario juga mempersiapkan suatu rencana untuk mengenalkan sahabatnya itu pada Lovey.
"Besok aku akan berbincang dengan Anjani tentang hal ini. Semoga istriku itu mendukungku. Hm, ya. Anjani harus mendukungku. Jika Lovey menikah, maka Anjani tidak akan cemburu-cemburu lagi terhadapnya."
Senyum Mario merekah. Membayangkan alur rencana yang akan segera dibuatnya.
"Oke, dimulai dari dia dulu. Aku coba telepon dia sekarang."
Mario memulai lebih awal. Meski larut malam, Mario yakin sahabat baiknya itu masih terjaga di dalam kamar. Mario lekas menelponnya, dan segera mendapat jawaban. Basa-basi sebentar, niat Mario pun kemudian tersampaikan. Tak disangka, tawaran Mario untuk mengajak sahabat baiknya itu bekerja di Jakarta langsung mendapat sambutan.
Terkait izin pemindahtugasan karyawan dari kantor cabang ke induk perusahaan begitu mudah bagi Mario. Semua tidak akan membutuhkan waktu lama karena Mario adalah putra pemilik kantor cabang perusahaan. Apalagi, kantor cabang juga bagian dari induk perusahaan. Jadilah, Mario yakin semua akan berjalan lancar sesuai perencanaan.
"Sampai bertemu di Jakarta minggu depan .... Ken."
Apakah rencana Mario akan berhasil? Atau justru Mario sendirilah yang akan lebih dekat dengan Lovey? Jika itu terjadi, bagaimana reaksi Anjani?
Bersambung ....
Terima kasih sudah hadir dan membaca. Mampir juga ke novel pertama author yang berjudul Cinta Strata 1, ya. Kisah Mario-Anjani bermula dari sana. Kenal juga sahabat baiknya Anjani, Meli. Merapat ke novel Menanti Mentari karya my best partner, Kak Cahyanti. Dukung kami 💙
NB : Novel IKATAN CINTA ALENNA sudah END di episode 63. Silakan mampir bagi yang kepo sama kisah bar-bar adik bulenya Mario.
***
Emang Mamanya kemana???
Sedangkan sewaktu Ayah Mario selepas pulang dari Bandara kan bareng Mamanya,terus kenapa " Ada tapi seakan tiada."?!
😤😤😤