Siapa sangka, jika pesona dingin seorang dosen mampu memikat hati dua perempuan kakak beradik.
****
Bryan Atmaja, dosen muda yang tampan selalu ketus dan dingin terhadap orang asing. Namun begitu lembut dan penuh kasih terhadap orang-orang yang dia sayangi.
Andin Mulia Pratiwi gadis polos sederhana yang tidak pernah mengenal cinta. Ia dijadikan asdos oleh dosen ganteng bernama Bryan Atmaja, yang pernah mencintai sahabatnya. Andin tidak percaya ketika cinta itu telah berlabuh untuknya.
Dewi Permata Putri, kakak kandung Andin juga jatuh cinta dengan Bryan sejak pandangan pertama. Bagaimana kisah segitiga itu berlangsung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Pagi ini, mentari tidak mau menghangatkan alam. Hujan sejak semalam, masih belum juga mereda. Bryan mengerjapkan matanya perlahan. Menyesuaikan cahaya yang ada di ruangan tersebut.
Jemarinya bergerak perlahan. Namun dia merasakan sesuatu menindih pada lengan kanannya. Perut dan lengan kirinya juga terasa sangat nyeri.
Matanya kembali terpejam, selang oksigen masih menempel pada hidungnya. Bryan mengatur napas mengingat kejadian yang ia alami. Memorinya berputar, seketika dia teringat dengan Andin.
Bryan membuka matanya cepat, lalu mencari-cari keberadaan gadis itu. Setitik kelegaan menjalar di hatinya saat melihat jemarinya saling bertaut dengan Andin. Senyum kecil tersungging pada bibirnya.
Tangan Bryan memaksa untuk menggapai puncak kepala Andin, lalu mengusapnya lembut. Andin masih terlelap dalam mimpi indahnya.
"Andin," panggil Bryan lirih sembari membelai rambutnya sangat pelan.
"Ndin," ulangnya lagi.
Merasakan kepalanya berat, Andin terbangun. Ia terkejut bahagia melihat Bryan sudah sadar. Andin beranjak lalu memeluk Bryan sangat erat. Ia menangis membasahi baju pasien Bryan.
"Hei, kenapa menangis?" ujar Bryan membalas pelukan dengan tangan kanannya.
Andin masih mencengkeram kuat baju Bryan. Menumpahkan seluruh tangisnya. Bryan semakin bingung dibuatnya. Namun, dia memberikan waktu untuk Andin menangis terlebih dahulu.
Bryan hanya terus mengusap punggung Andin perlahan. Memberi rasa nyaman untuk gadis itu. Meskipun Bryan tidak tega melihatnya.
Lama, Andin berada di pelukan Bryan mendengar genderang yang ada di dada Bryan. Ia lalu berdiri tegak, memukul-mukul dada Bryan.
"Kamu udah bikin aku khawatir. Kamu udah buat aku rasanya mau mati!" Air matanya terus mengalir tanpa henti.
Bryan tersenyum, mencekal kedua tangan Andin dengan satu tangannya. Lalu mencium punggung tangan Andin, hingga wajahnya bersemu di tengah deraian air mata.
"Maaf ya," ucap Bryan pelan.
Pancaran mata keduanya bertemu. Tatapan penuh cinta yang meneduhkan. Bryan mengusap pipi Andin bergantian, kiri dan kanan.
"Aku nggak apa-apa, senyum dong. Sampe bengkak gini, ya ampun," gumam Bryan mengusap bola mata Andin dengan ibu jarinya. Andin memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan Bryan.
"Aku panggil dokter dulu," ucap Andin berbalik.
Bryan menarik lengannya, "Tidak usah, dokterku 'kan kamu," goda Bryan.
"Jangan bercanda. Bentar aja," sahut Andin melepas tangan Bryan pelan dengan seulas senyum.
Andin berjalan keluar, tangannya sudah menarik gagang pintu dan membukanya perlahan. "Astaga!" pekik Andin menekan dadanya.
Ia terkejut saat melihat Arman sudah berdiri di depan pintu. Arman tersenyum sembari melambaikan tangan. "Hai," sapanya.
"Kamu! Ngapain masih di sini?" Geram Andin keluar menutup pintu.
"Motorku ketinggalan di jalan. Semalam mana ada taksi udah lewat tengah malam," aku Arman menggaruk kepalanya.
Andin pun lalu teringat dengan motor Bryan pula. Kuncinya diserahkan pada Arman. Dia meminta tolong sekali lagi untuk mengambil motor itu dan meletakkannya di apartemen Bryan.
"Siap! Dengan senang hati mimi perih," tukas Arman membungkukkan badannya. Seperti seorang hamba yang patuh pada tuannya.
Andin lalu kembali fokus mencari dokter. Sedangkan Arman segera pergi mencari taksi dan menemukan motornya. Berharap, masih aman di sana.
"Dokter, dosen saya sudah sadar," ucap Andin ketika berpapasan dengan dokter yang mengoperasi tadi malam.
Kebetulan memang dokter tersebut hendak memeriksa keadaan Bryan. Mereka lalu melangkah beriringan bersama dua orang perawat.
Andin menunggunya di luar ketika Bryan diperiksa. Kepalanya menunduk, tiba-tiba melihat sepasang sepatu pantovel pria di hadapannya. Andin mendongakkan kepalanya.
DEG!
Mata indahnya bertemu dengan mata elang sang ayah.
Bersambung~