Mengandung adegan 21+
Bijaklah dalam memilih bacaan
Kisah cinta tiga pasangan yang harus kandas namun belum sepenuhnya usai.
Kisah cinta Regan dan Sarah sampai di pernikahan. Keduanya hidup bahagia sampai ujian datang menerpa rumah tangganya. Mereka terpaksa berpisah saat kehilangan anak tercinta dengan cara yang tragis.
Irzal dan Poppy dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Di saat cinta mulai tumbuh, masalah datang menerpa. Seseorang dari masa lalu memporak porandakan biduk rumah tangga yang baru seumur jagung.
Berawal dari sebuah permainan. Rasa cinta antara Ega dan Alea mulai tumbuh. Sejarah kelam dan permusuhan orang tua membuat keduanya harus terpisah.
Sekian lama berpisah, ketiga pasangan ini bertemu kembali. Takdir mempertemukan mereka semua terhubung dalam ikatan yang sulit dijelaskan. Akankah mereka dapat bersatu kembali dengan orang yang dicintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Complicated Couple (15) Vitamin
Poppy memilih beberapa jenis kue basah serta roti manis. Tak lupa membelikan juga minuman. Setelah dirasa cukup, dia pun segera menuju kantor Irzal. Suasana sejuk langsung terasa ketika Poppy masuk ke dalam gedung. Ini pertama kalinya dia mengunjungi kantor suaminya. Poppy segera menuju ke meja resepsionis.
“Selamat siang ibu, ada yang bisa dibantu?” sapa resepsionis itu dengan ramah.
“Siang.. saya mau ketemu pak Irzal Ramadhan.”
“Maaf pak Irzal dari divisi mana bu?”
“Hmm…” belum sempat Poppy menjawab, sebuah suara memanggilnya.
“Bu Poppy.”
Poppy menoleh, melihat seorang pria muda menghampirinya sambil tersenyum.
“Bu Poppy mau ketemu pak Irzal ya,” tebak pemuda itu. Poppy hanya mengangguk, bertanya-tanya dari mana dia tahu namanya.
“Saya Andri, anak buahnya pak Irzal,” pemuda itu memperkenalkan diri.
“Oh iya.”
“Ayo saya antar ke ruangan.”
Setelah mengucapkan terima kasih pada resepsionis, Poppy mengikuti Andri menuju lift.
“Ruangan pak Irzal ada di lantai sembilan.”
Mereka berdiri sebentar menunggu. Tak lama pintu lift terbuka, mereka pun masuk. Di belakang mereka masuk pula dua orang perempuan muda. Setelah menekan tombol sembilan, pintu lift pun menutup dan mulai naik.
Poppy berdiri merapat di bagian belakang lift. Di depannya berdiri dua perempuan muda yang masuk setelahnya. Hanya ada mereka berempat di dalam lift, kedua perempuan di depannya mulai berbincang.
“Han.. kamu tahu ngga kepala divisi marketing PR kita?”
“Pak Irzal maksudnya,” jawab perempuan yang dipanggil Hani itu.
“Iya.. ganteng ya, terus gayanya itu loh cool, calm, confident.”
“Jangan ngarep Tia, dia udah punya istri tau.”
“Masa? Cantik ngga istrinya?”
Hani hanya mengangkat bahu. Andri melirik pada Poppy. Perempuan itu hanya diam tak bereaksi.
“Kamu kenal?”
“Hmm… dibilang kenal banget ngga sih, cuma pernah kerja bareng aja waktu peluncuran produk baru.”
“Gimana rasanya kerja bareng pak Irzal? Aduh kalau gue udah pasti ngga akan konsen, yang ada gue ccp (curi-curi pandang) mulu ama dia.”
“Menurut gue pak Irzal tuh kaya jalan tol, lurus, lempeng, ngga ada ekspresi. Kalau ngomong to the point, ngga ada basa-basi nya, kadang suka jutek juga. Pernah gue telat kasih laporan, ngomongnya sih singkat tapi dalem banget, sakitnya tuh di sini,” Hani menunjuk ke dadanya. Poppy hampir saja tertawa mendengar ucapan Hani. Andri pun tak dapat menahan senyumnya.
“Serius lo?”
“Serius, coba lo tanya karyawan di sini. Mereka semua udah tau pak Irzal kaya gimana. Anggota timnya juga laki semua. Pokoknya kalau sama cewe dingin banget. Untung udah nikah, kalau ngga mungkin banyak yang nyangka di gay. Lo kan baru di sini makanya ngga tau, jangan tertipu sama penampilan luarnya yang ganteng. Gue malah kasian sama istrinya, gimana rasanya punya suami kaya dia, ngga ada ekspresi, jutek, pasti ngga ada romantis-romantisnya juga.”
“Eh jangan salah, justru yang dingin bin jutek biasanya malah romantis ke pasangannya.”
Poppy kembali tersenyum, dalam hati dia bersyukur ternyata Irzal bukan tipe pria yang mudah mengumbar kedekatan dengan lawan jenis. Percakapan keduanya terhenti karena lift sudah sampai di lantai sembilan, mereka pun segera keluar dari lift.
Andri langsung mengajak Poppy masuk ke dalam ruangan. Di sana tidak ada siapa-siapa.
“Silahkan duduk bu, pak Irzal sedang meeting dengan bagian produksi, sebentar lagi selesai.”
“Oh iya, ini saya bawa camilan buat kalian. Maaf ya saya ngga tau mau bawa apa, soalnya udah lewat jam makan siang juga,” Poppy menyerahkan kantong yang berisi camilan pada Andri.
“Wah makasih banyak bu. Kita emang belum sempet makan siang, karena banyak banget kerjaan yang harus diberesin.”
“Tahu gitu tadi saya bawa makanan berat ya,” Poppy setengah menyesal.
Ya Allah berarti a Irzal belum makan apa-apa dari pagi.
Poppy semakin merasa bersalah.
“Ini juga lebih dari cukup kok bu,” jawab Andri.
Poppy duduk menunggu. Andri menemani sambil bercerita tentang Irzal. Dia membenarkan ucapan Hani kalau Irzal kerap bersikap dingin pada karyawan wanita. Gaya bicaranya yang to the point serta ceplas ceplos membuat wanita yang ingin dekat dengannya harus berpikir dua kali. Tapi bukan berarti dia tak punya deretan pengagum rahasia.
Tak terasa dua puluh menit berlalu tapi Irzal belum juga dating. Poppy memutuskan untuk pulang.
“Tunggu sebentar lagi bu,” tahan Andri.
“Ngga pa pa saya pulang aja, lagi pula kalian sibuk takutnya malah mengganggu. Tolong bilang aja tadi saya mampir ke sini, makasih ya.”
“Ya bu, makasih juga buat camilannya.”
Poppy tersenyum, lalu keluar ruangan dan langsung menuju lift. Tak lama Poppy keluar, Irzal masuk ke dalam ruangan.
“Aduh bapak, baru aja bu Poppy pergi. Tadi dia nunggu lumayan lama.”
“Poppy ke sini?” Irzal terkejut.
“Iya, dia bawain camilan buat bapak,” Andri menunjuk pada bungkusan yang dibawa Poppy. Irzal segera keluar ruangan menyusul istrinya.
Pintu lift terbuka, di sana lagi-lagi terlihat dua karyawan wanita tadi, Hani dan Tia. Poppy masuk seraya tersenyum pada mereka. Keduanya balas tersenyum. Saat pintu lift akan menutup, sebuah tangan menahannya. Pintu kembali terbuka. Terlihat Irzal di depan lift. Tia terkejut sekaligus senang melihatnya. Dia tersenyum ke arah Irzal tapi tak digubrisnya karena pria itu langsung menghampiri istrinya.
“Kenapa ngga tunggu aku?”
“Takutnya masih lama.”
Irzal berdiri di samping Poppy. Hani dan Tia hanya diam dan saling memandang.
“Udah beres urusan di kampus?” tanya Irzal lagi, Poppy hanya mengangguk.
“Gimana? Lancar?”
“Alhamdulillah, kata bu Yanti aku tinggal nerusin aja.”
Poppy melihat ke arah Irzal. Kalau saja tidak ada Hani dan Tia, dia akan langsung memeluk suaminya ini, meminta maaf atas kejadian tadi pagi. Seakan mengetahui isi pikirannya, Irzal meraih tangan istrinya, lalu merekatkan jarinya ke jemari Poppy. Hani dan Tia terkejut melihat pemandangan di depan mereka.
Pintu lift terbuka. Mereka keluar lift sambil terus bergandengan tangan. Hani dan Tia mengikuti dari belakang. Irzal mengajak Poppy ke Coffie Shop yang terletak di dekat pintu masuk gedung. Setelah memesan minuman, mereka duduk di dekat jendela. Tia yang penasaran mengajak Hani ikut masuk dan duduk tak jauh dari mereka.
“Aa belum makan dari pagi, harusnya pesen makanan bukan kopi,” Poppy membuka percakapan.
“Aku belum laper.”
“Jangan gitu, nanti sakit.”
“Kalau aku sakit kan ada kamu yang ngurus aku,” Irzal tersenyum.
“Tapi aku ngga suka kalau aa sakit,” Poppy sedikit merajuk. Membuat Irzal terkekeh.
“A, maafin aku ya,” belum selesai Poppy berbicara, Irzal langsung memotong.
“Aku ngga mau ngebahas itu. Aku cuma mau nikmatin minuman sambil melihat wajah kamu.”
Minuman pesanan datang. Irzal langsung menyeruput iced cappucinonya. Rasa haus yang tadi melandanya kini hilang. Dia terus memegangi tangan Poppy, mengelusnya lembut dengan jarinya.
“Aku pulang ya, aa pasti masih banyak kerjaan,” ucap Poppy setelah menghabiskan minumannya.
Sebenarnya Irzal masih ingin berlama-lama dengan istrinya ini. Namun apa daya pekerjaannya masih menumpuk. Dia hanya mampu mengangguk. Mereka berdiri lalu berjalan keluar Coffie Shop. Tangan Irzal memeluk pinggang Poppy mesra.
“Oh my God.. sekarang lo percaya kan Hani, dibalik sikap dinginnya dia tuh romantis banget sama istrinya,” Tia langsung membicarakan Irzal.
“Udah ya berhenti berharap, lo tuh ngga ada apa-apanya dibanding istrinya pak Irzal. Lihat sendiri kan, cantik.”
“Ya ngga pa pa kali kalau sekedar mengagumi,” Hani hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban temannya ini.
Irzal mengantar Poppy sampai keluar gedung.
“Kamu tadi ke sini naik apa?”
“Naik busway.”
“Pulang naik taksi aja ya,” Irzal melambaikan tangan memanggil taksi yang sedang mangkal tak jauh dari gedung kantornya. Tak lama taksi yang dipanggilnya datang. Dia membukakan pintu, meminta Poppy masuk.
“Pak, ke Bintaro ya,” ucap Irzal pada supir taksi.
“Hati-hati ya sayang, kalau udah sampe rumah kasih tau,” lanjutnya.
“Iya a, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Poppy mencium punggung tangan Irzal, yang dibalas dengan ciuman di pipinya. Setelah itu menutup pintu dan tak lama taksi yang ditumpangi meluncur pergi.
❤️❤️❤️
Poppy dan Irzal baru saja selesai shalat shubuh berjamaah. Poppy melipat mukena dan sajadah yang mereka pakai. Selesai shalat Irzal kembali ke kasur dan berbaring lagi. Rasa kantuknya masih belum hilang. Poppy menghampiri. Irzal memintanya duduk di dekatnya. Kemudian lelaki itu merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya.
“Masih ngantuk a?”
“Hmm.”
“Ya udah tidur aja lagi.”
Poppy bermaksud pergi dan memindahkan kepala Irzal ke bantal, tetapi dia menolaknya.
“Kamu di sini aja” ucap Irzal seraya memeluk perut Poppy. Saat ini dia hanya ingin bermanja dengan istrinya. Poppy membiarkannya. Dia mengusap-usap kepala Irzal dengan lembut.
Tepat jam enam Poppy membangunkan Irzal. Dia menepuk pipi suaminya dengan lembut. Irzal membuka matanya, perlahan bangun lalu duduk di sampingnya. Menyenderkan kepalanya di bahu Poppy.
“Ayo mandi dulu a, udah jam enam nanti keburu macet. Katanya sekarang ada meeting penting,” Poppy mengingatkan.
Irzal meregangkan tangannya, menggerak-gerakkan lehernya ke kanan dan kiri, sesekali masih menguap. Setelah berdiam diri sebentar, akhirnya dia bangun dan langsung menuju kamar mandi.
Poppy menepuk-nepuk pahanya yang pegal, kemudian bangun dan langsung menuju lemari menyiapkan pakaian. Hari ini akan ada presentasi penting, dia menyiapkan satu set pakaian beserta jas dan dasinya. Setelah itu Poppy turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan.
Irzal masuk ke dalam kamar, setelah mandi tubuhnya menjadi lebih segar. Dia segera memakai pakaian yang telah disiapkan. Tak lama Poppy masuk ke dalam kamar. Dia melihat Irzal telah selesai berpakaian. Poppy membantu memakaikan dasi.
“Mudah-mudahan presentasinya sukses ya a.”
“Aamiin.”
“Hari ini masih lembur?”
“Iya, pokoknya sampai peluncuran produk, never ending lembur.”
“Semangat ya a. Oh iya nanti abis sarapan jangan lupa minum vitamin.”
“Vitaminnya sekarang aja.”
“Nanti abis sarapan.”
“Sekarang aja.”
Irzal langsung meraih pinggang Poppy, menariknya mendekat padanya. Memandang sebentar, lalu mulai mencium bibirnya. Dia ingin membayar pertengkaran mereka kemarin pagi dengan ciuman mesra. Poppy melingkarkan tangannya di leher Irzal dan mulai membalas ciumannya.
Ummi dan Rena sudah duduk di depan meja makan namun orang yang mereka tunggu belum juga turun.
“Ren.. kamu susul kakak kamu. Jangan sampe ngga sarapan kaya kemarin.”
“Biarin aja ummi, nanti juga turun sendiri,” Rena malas harus turun naik tangga.
“Kamu tuh kalau disuruh ngga pernah langsung dikerjain. Jawab mulu,” ummi mulai mengomel. Akhirnya dengan malas Rena naik ke atas menuju kamar kakaknya.
“Kak Irzal.. kak.. ayo sarapan dulu.”
Tak ada jawaban dari kamar Irzal. Rena mengetuk-ngetuk pintu kamar sambil memanggil, tapi tetap tak ada jawaban. Dia terdiam sebentar, lalu kembali turun ke bawah.
“Mana kakak kamu?” Rena hanya mengangkat bahu dan duduk kembali.
Di dalam kamar, Irzal masih belum mau melepaskan Poppy. Bibirnya masih terus *******, memagut dan menghisap bibir mungil istrinya. Decapan bibir mereka memenuhi seisi ruangan. Pelukannya semakin erat. Kesibukannya di kantor membuatnya jarang menghabiskan waktu bersama sang istri. Poppy sendiri membiarkan Irzal terus bermain dengan bibirnya. Tak dapat dipungkiri dia pun merindukan sentuhan suaminya.
Perlahan Irzal melepaskan bibirnya. Kening mereka bertautan diiringi nafas mereka yang tersengal-sengal. Setelah itu Irzal mengecup kening Poppy. Kedua tangannya masih memeluk pinggang istrinya.
“Sarapan dulu a.”
Irzal hanya mengangguk. Poppy melepaskan pelukan suaminya lalu berbalik. Namun Irzal kembali memeluknya dari belakang.
“Sebentar lagi,” ucapnya pelan. Poppy membiarkannya. Irzal menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. Begitu damai, itu yang dirasakannya. Perlahan dia melepas pelukannya kemudian keluar kamar seraya bergandengan tangan.
Irzal dan Poppy langsung bergabung di meja makan, tanpa banyak bicara mereka mulai sarapan. Ummi dan Rena hanya saling memandang dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi di antara mereka berdua.
Selesai sarapan Poppy memakaikan jas pada Irzal, setelah itu mengantar ke mobilnya. Poppy mencium punggung tangan suaminya. Irzal mencium kening istrinya cukup lama. Saat akan masuk ke mobil dia berbalik.
“Sayang, hp aku ketinggalan di kamar.”
“Ya udah aku ambil dulu.”
Poppy bergegas ke kamarnya mengambil ponsel. Irzal mulai memanaskan mobil. Tak berapa lama Poppy kembali. Dia mengetuk kaca mobil, Irzal menurunkan kaca mobilnya, Poppy memberikan ponsel. Irzal menaikkan kaca mobil, namun Poppy kembali mengetuk. Kaca mobil kembali turun, kali ini Poppy memberikan berkasnya yang tertinggal.
“Oh iya, hampir aja lupa, makasih ya sayang.”
Kaca jendela kembali tertutup. Namun lagi-lagi Poppy mengetuknya, sekali lagi Irzal menurunkan kaca mobilnya. Poppy memperlihatkan pin yang lupa dia pakaikan, lalu memasangkannya di dasi suaminya.
“Udah?” tanya Irzal.
Poppy hanya mengangguk, dia menaikkan kaca mobilnya. Tapi Poppy masih mengetuknya lagi, Irzal kembali menurunkan kaca mobilnya. Saat jendela mobil terbuka sebuah ciuman mendarat di pipinya. Irzal meraih tangan Poppy dan menciumnya mesra.
“Aku pergi ya, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam, hati-hati sayang.”
Mobil melaju pergi. Poppy menunggu sampai mobil menghilang di ujung jalan setelah itu berbalik. Betapa terkejutnya dia melihat ummi dan Rena sudah ada di belakangnya sambil menatapnya dengan senyum yang sulit diartikan.
“Ummi.. kayanya sebentar lagi bakalan nimang cucu nih,” goda Rena.
“Iya mudah-mudahan aja, jadi kamu bakal cepet punya ponakan,” ummi ikut-ikutan menggoda. Wajah Poppy langsung memerah, dengan cepat dia masuk ke dalam rumah.
❤️❤️❤️
Hai-hai author balik lagi bawa kisah Irzal dan Poppy. Masih terus lanjut ya kisah mereka. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, comment dan vote nya. Biar author tambah semangat nulisnya.