NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

BAB 23

MIMPI YANG SALAH NAMA

Dalam mimpi, seseorang memegang wajah Wulan dengan kedua tangan.

"Kamu nyaman nggak?"

Tak ada lampu. Tak ada wajah yang jelas. Hanya suara rendah, telapak tangan hangat, dan perasaan aneh karena seseorang menunggu jawabannya.

Wulan ingin berkata nyaman.

Saat membuka mata, yang dilihatnya adalah punggung Dimas.

Suaminya tidur menghadap dinding, selimut menumpuk di pinggang. Tidak ada ucapan selamat malam. Tidak ada pertanyaan apakah kepala Wulan yang sakit sejak sore sudah membaik.

Ponsel di meja menunjukkan pukul dua lewat sebelas menit.

Pesan Bram masih belum dijawab.

`Selamat malam, Bu Wulan. Saya Bram. Apakah saya boleh bicara?`

Sudah hampir tiga minggu Wulan membiarkan kalimat itu tergantung. Bram tidak mengirim pesan kedua. Sikap itu seharusnya melegakan, tetapi setiap malam Wulan tetap membuka ruang percakapan mereka untuk memastikan tak ada apa-apa.

Ia menghapus notifikasi tanpa menghapus nomornya.

Lalu ia berwudu, sholat dua rakaat, dan meminta ketenangan yang tidak kunjung datang.

***

Beberapa malam kemudian, Dimas pulang sebelum pukul sembilan.

Itu cukup jarang hingga Bu Suminah memasak mi rebus tambahan dan bertanya apakah anaknya sedang sakit. Dimas hanya berkata rapat dibatalkan, lalu masuk kamar setelah makan.

Wulan sudah berbaring. Alarm minum pil KB baru saja berbunyi. Ia menelan tablet dengan air dan mematikan lampu.

Kasur bergerak ketika Dimas mendekat dari belakang.

"Belum tidur?" tanyanya.

"Hampir."

Tangan Dimas menyentuh pinggangnya, canggung seperti orang yang baru ingat memiliki istri. Wulan menegang. Dalam setengah sadar, pikirannya kembali ke ruang gelap lain, pada laki-laki yang berhenti hanya untuk bertanya apakah ia nyaman.

"Bram," bisiknya.

Tangan di pinggangnya langsung terangkat.

Dimas menyalakan lampu. "Kamu barusan ngomong apa?"

Cahaya putih menyiram wajah Wulan. Rasa kantuk hilang seketika.

"Apa?"

"Nama siapa yang kamu sebut?"

"Aku ngelindur."

"Aku dengar nama orang."

"Mungkin dari mimpi."

Dimas duduk sambil menatap tajam. "Bram siapa?"

Detak jantung Wulan terasa sampai tenggorokan. Ia memaksa wajahnya tetap bingung.

"Aku nggak tahu. Mungkin aku dengar nama itu dari acara perusahaan. Pak Bram, kan? Semua orang membicarakan beliau."

"Sampai kebawa mimpi?"

"Mas Dimas juga pernah ngomong soal kantor sambil tidur."

Dimas menarik bantal dan pindah ke sisi ranjang paling jauh. "Aneh."

Ia tidak menyentuh Wulan lagi.

Wulan mematikan lampu dengan tangan gemetar. Nama itu telah lolos dari tempat paling tersembunyi di kepalanya. Ia tidak bisa lagi menyebut perasaannya sebagai sekadar rasa bersalah.

Ia memimpikan Bram karena ia merindukan cara laki-laki itu memperlakukannya.

Kesadaran tersebut terasa lebih berdosa daripada ciuman dalam gelap.

***

Sejak malam itu, Dimas menjadi lebih jarang pulang dan lebih banyak mencari kesalahan.

Nasi terlalu lembek. Kemejanya kurang licin. Biaya buku Dika dianggap membengkak, meski sekolah mengirim daftar resmi. Ketika Wulan menjelaskan, Dimas memotong sebelum kalimatnya selesai.

"Kamu selalu punya alasan."

"Aku cuma menunjukkan kuitansi sekolah."

"Nggak usah melawan terus."

Dika yang sedang mengerjakan tugas berhenti menulis. Wulan menahan jawaban dan memindahkan anaknya ke kamar.

"Ibu sama Ayah marahan?" tanya Dika.

"Orang dewasa kadang bicara terlalu keras. Bukan salah Dika."

"Aku bisa nggak minta buku baru kalau mahal."

Wulan berjongkok di depannya. "Buku itu kebutuhan sekolah. Dika tetap belajar, ya. Urusan uang biar orang dewasa yang pikirkan."

Anaknya mengangguk, lalu kembali mewarnai peta Indonesia dengan pensil pendek.

Di dapur, Bu Suminah sudah menunggu.

"Kalau kamu kasih Dika adik, dia nggak akan manja begitu," katanya.

"Dika nggak manja, Bu."

"Satu anak saja sudah besar. Kapan mau kasih dia adik? Bapak juga pengen punya cucu perempuan."

"Aku dan Mas Dimas belum merencanakan."

"Rencana apa? Kamu istri. Masa harus disuruh untuk hal begitu?"

Wulan mencengkeram ujung meja. Pil KB yang diminumnya setiap malam mendadak terasa seperti satu-satunya keputusan tentang tubuh yang masih benar-benar berada di tangannya.

"Soal anak harus keputusan kami berdua," katanya. "Bukan keluarga besar."

Bu Suminah mendecakkan lidah. "Sekarang berani sekali jawab orang tua."

Wulan tidak meminta maaf.

***

Dua hari sebelum Tahun Baru, Wulan membawa Dika membeli sepatu sekolah di sebuah pusat perbelanjaan Bekasi.

Ia memilih merek lokal yang kuat, menghitung sisa uang belanja, lalu berdiri di depan kasir dengan kartu rumah tangga di tangan. Saldo bulan itu tinggal sedikit. Dika melihat es krim di dekat pintu, tetapi tidak meminta.

"Dika mau es krim?" tanya Wulan.

"Nggak usah, Bu. Nanti uangnya habis."

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada seharusnya.

Ponsel Wulan terasa berat di dalam tas. Nomor Bram tersimpan di sana, bersama satu pesan yang menawarkan ruang untuk bicara. Ia membayangkan betapa mudahnya mengetik keluhan tentang uang, tentang Dimas, tentang Bu Suminah. Bram mungkin akan mendengar. Mungkin juga membantu.

Namun bantuan dari laki-laki yang ia rindukan tidak akan pernah benar-benar netral.

Wulan membayar sepatu, lalu membeli satu es krim kecil untuk dibagi berdua dengan Dika. Di bangku dekat pintu keluar, anaknya tertawa ketika cokelat menempel di hidung.

Wulan membuka WhatsApp.

`Maaf baru menjawab. Pak Bram ingin bicara soal apa?`

Jawaban datang setelah beberapa menit.

`Saya ingin memastikan Ibu baik-baik saja setelah malam itu. Saya juga ingin mengenal Ibu, tetapi hanya kalau Ibu mengizinkan.`

Jari Wulan menggantung di atas layar.

`Saya sudah menikah, Pak.`

`Saya tahu.`

`Kalau begitu jangan tunggu apa pun dari saya.`

Tiga titik muncul, hilang, lalu muncul lagi.

`Baik. Saya tidak akan mendesak atau menghubungi Ibu lagi. Kalau suatu hari Ibu ingin bicara, saya ada.`

Wulan membaca pesan itu berkali-kali.

Ia lega karena Bram mematuhi batas. Ia juga takut jika laki-laki itu benar-benar tidak pernah menulis lagi.

Kedua perasaan itu menjadi bukti yang tak bisa dibantah.

Ia sudah menyukai Bram.

Di perjalanan pulang, Wulan beberapa kali membuka percakapan itu lalu menutupnya lagi. Bram menepati kata-katanya. Tidak ada pesan baru, tidak ada pertanyaan yang memaksanya menjawab. Justru ruang kosong di bawah kalimat terakhir itu membuat dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa dihormati dapat terasa jauh lebih menggoda daripada dikejar.

***

Malamnya, Dimas melemparkan sebuah undangan digital ke ruang WhatsApp keluarga.

"Acara Tahun Baru kantor wajib untuk timku," katanya. "Kamu ikut."

Wulan mengangkat wajah dari seragam Dika yang sedang dilipat. "Aku?"

"Istri karyawan diundang. Pakai baju yang pantas dan jangan bikin aku malu seperti acara kemarin."

Bu Suminah menyahut dari ruang televisi, "Pinjam gamis saya saja."

"Aku punya baju," jawab Wulan.

Dimas sudah kembali menatap ponsel. "Terserah. Yang penting datang."

Di layar undangan, logo Nusantara Interactive berkilau di atas nama pendirinya.

`Bramantya Adiwinata.`

Wulan menggenggam ponsel lebih erat.

Malam itu, Bram juga akan berada di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!