"Turuti atau aku tembak!" Suara lembut namun menusuk yang terucap dari bibir seorang wanita cantik dan anggun.
Sebuah kisah pasangan unik, dimana Dimas yang pecicilan mendapatkan jodoh Anita, seorang mantan mafia yang super galak dan selalu mengancam dengan senjata api.
Sanggupkah Mr.Pecicilan menjinakkan Monster Betina?
Ada rahasia apa dibalik kisah hidup Dimas dan Anita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kolom langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hey, Monster Betina!
Anita masuk ke ruangan itu setelah Zian berhasil memaksanya. Walaupun langkahnya penuh dengan keraguan, namun gadis itu tetap berusaha menguasai emosinya. Dimas memandangi Anita dengan perasaan sedih. Mata sembab dan wajahnya agak pucat, membuat Dimas tidak tega.
"Aku senang kau sudah sadar," ucap Anita sesaat setelah memasuki ruangan itu. Gadis itu masih berdiri di sudut ruangan itu tanpa berani mendekat.
"Kenapa kau berdiri di sana? Mendekatlah kemari." Dimas mengulurkan tangan kanannya. Ragu-ragu, Anita menyambut uluran tangan lelaki itu sehingga dapat menariknya lebih dekat.
"Bos sudah mengatakan semuanya. Katanya kau ingin berpisah dariku." Dimas menatap Anita dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa? Kenapa kau mau meninggalkanku?"
"Aku rasa aku melakukan sebuah kesalahan dengan menikah denganmu. Kita tidak saling menyukai sejak awal. Hubungan yang diawali dengan keterpaksaan hanya akan membuat luka. Aku sudah memikirkannya baik-baik. Aku ingin kita berpisah," ucap Anita tanpa berani menatap suaminya. Sejak tadi gadis itu hanya menundukkan kepalanya, dan berusaha melepaskan tangannya yang digenggam Dimas dengan erat.
"Kau yakin?" tanya Dimas dan dijawab Anita dengan anggukan.
"Aku akan membebaskanmu dari pernikahan kita. Jadi kau bisa memulai hidupmu yang baru."
"Tapi aku tidak mau kita berpisah."
Anita mendongakkan kepalanya, menatap wajah Dimas yang masih terdapat beberapa bekas luka lebam. "Ini jalan satu-satunya untuk kita. Aku mohon lepaskan aku."
"Tidak akan!" Dimas semakin mengeratkan genggaman tangannya walaupun Anita berusaha melepasnya. "Aku tidak akan pernah melepasmu. Walaupun kau yang memintanya."
Sebisa mungkin gadis itu menahan agar air matanya tidak terjatuh. "Kenapa kau tidak bisa melepasku? Bukankah kau tidak menyukaiku? Aku sudah tahu kau mencintai orang lain sejak lama. Aku tidak mau menjadi penghalangmu. Kau bisa mengejarnya kembali setelah kita berpisah, kan?"
Dimas hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kita tidak mencoba memulai segalanya dari awal? Aku hanya ingin menghabiskan sisa usiaku denganmu? Itu saja."
"Tapi aku tidak ingin selamanya terikat denganmu!" teriak Anita, membuat Dimas melepaskan genggamannya. "tolong terimalah keputusanku! Aku tidak mencintaimu dan tidak akan pernah. Bagiku kau hanyalah seseorang yang sangat pecicilan dan menyebalkan."
Anita kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu, namun saat akan menarik gagang pintu, Dimas segera memanggilnya.
"Monster Betina!" panggil Dimas yang menghentikan langkah kaki Anita. Setitik air mata kembali mengalir di wajah cantik Anita. Sungguh, gadis itu benar-benar merindukan panggilan itu. Panggilan yang dulunya akan membuatnya merasa sangat kesal dan mengumpat dalam hati bila mendengarnya. Dimas adalah satu-satunya orang yang berani menyebutnya dengan panggilan setidak sopan itu. "Kenapa kau diam? Apa kau tidak membawa senjata di dalam sakumu? Aku sedang memanggilmu monster betina. Lalu kenapa kau tidak marah?"
Seketika pertahanan yang dibangun gadis itu runtuh. Air matanya mengalir semakin deras. Dan walaupun dia berusaha menyembunyikannya, namun isakannya tetap terdengar begitu lirih.
Gadis itu pun berbalik, menatap tajam pada Dimas, Anita mengeluarkan senjata andalannya dari saku blazer dan mengarahkannya pada suaminya itu.
"Kalau kau masih menyebutku monster betina, maka peluruku akan menembus kepalamu!" ancamnya dengan berderai air mata.
Dimas tersenyum bahagia melihat reaksi Anita yang telah kembali seperti dulu.
"Ampuni aku, Nona! Aku mohon jangan tembak!" ucap Dimas dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada. "Istriku adalah wanita yang sangat galak dan menakutkan. Kalau kau menembakku, dia tidak akan memaafkanmu."
Ucapan Dimas yang bermuatan ledekan itu membuat Anita memasukkan sejatanya kembali ke dalam sakunya. Lalu berlari menghambur memeluk sang suami yang masih terbaring. Dimas mengusap puncak kepala sang istri, turun ke punggung. Suara isakan Anita menggema di ruangan itu.
"Maafkan aku. Aku bersalah padamu. Aku kurang bisa memahami perasaanmu. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri sampai aku mengabaikanmu. Kau mau kan memulai segalanya dari awal bersamaku?"
Hening! Tidak ada sahutan dari Anita. Namun pelukannya yang begitu erat seakan telah menjadi jawaban untuk Dimas. Laki-laki itu melepaskan pelukannya, lalu mengusap wajah sang istri yang telah basah oleh air mata.
"Hey, monster betinaku. Kenapa setelah kita menikah kau jadi cengeng begini? Aku pikir kau hanya mampu mengancam orang dengan senjatamu. Ternyata kau bisa menangis juga ya? Kemana monster betinaku yang galaknya minta ampun itu?"
Wajah Anita pun berubah kesal mendengar ucapan sang suami yang bermuatan ledekan itu.
"Kau sedang menghinaku, ya!? Kau minta dihajar?" Anita reflek melayangkan satu tinju yang tidak begitu keras dan mendarat dengan mulus ke dada suaminya itu.
"Auhh sakit! Kau mau membunuhku, ya?" Dimas meringis kesakitan sambil memegangi dadanya, membuat Anita dihinggapi rasa bersalah.
"Ma-maaf... Aku... Tidak sengaja."
"Tidak sengaja?" Dimas memicingkan matanya, sehingga wajah Anita seketika merona merah.
"Itu salahmu. Kau selalu memanggilku monster betina yang galak."
Dimas terkekeh, menertawakan tingkah Anita yang baginya sangat menggemaskan. Lalu kemudian menarik sang istri ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu!" bisik Dimas ke telinga Anita, sehingga cairan bening kembali memenuhi kelopak mata gadis itu. "Maaf aku terlambat mengenali perasaan yang kumiliki untukmu sebagai cinta. Aku pikir ini hanya sekedar rasa tanggung jawabku sebagai suami saja. Tapi ternyata aku salah. Dengan cepat kau merebut hatiku tanpa memberinya ruang kosong lagi. Lalu bagaimana aku bisa melepaskanmu?"
Anita terdiam, lalu menatap dalam-dalam wajah sang suami. Dimas membelai wajah Anita dengan sayang, lalu mendekatkan wajahnya, hendak mencapai bibir sang istri. Sialnya, Dimas seakan lupa bahwa lehernya sedang terbalut gips, sehingga kepalanya bergerak sedikit saja akan membuatnya kesakitan.
"Auuhhh... kondisi leherku sepertinya sangat parah." Dimas meringis memegangi gips lehernya membuat wajah Anita merona merah.
Laki-laki itu kemudian menarik tengkuk Anita sehingga wajah keduanya berada dalam jarak kurang dari sepuluh centi. Semakin lama semakin dekat, hingga kedua bibir itu hampir menempel.
"Anita!" panggil Zian yang tiba-tiba membukan pintu ruangan itu. Ciuman pertama itu pun akhirnya gagal terwujud. Zian yang menyadari perbuatannya hanya dapat tersenyum menyebalkan seperti biasanya.
"Maaf, sepertinya aku melakukan kesalahan besar," ucapnya tanpa rasa malu. Wajah Anita dan Dimas tiba-tiba berubah merah layaknya udang rebus. "Silakan kalian lanjut. Aku hanya mau bilang, aku mau pulang."
Tanpa rasa berdosa, Zian kembali menutup pintu itu, lalu berpamitan pada ibu Dimas.
Di dalam sana, kecanggungan terjadi antara Dimas dan Anita. Setelah kedapatan oleh sang bos, keduanya menjadi sangat malu.
****
BERSAMBUNG
Tak ada ahlak kau Zian!!!!