Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 - NONA ITU BENAR-BENAR LAKI-LAKI
"Ya." Nalendra melirik Wulan, dengan senyuman yang nyaris tak terlihat terselip di balik matanya yang dingin. Ia mengangguk singkat menjawab pertanyaan Adipati Pramana yang masih setengah sadar, lalu menoleh kembali ke arah tunangannya dengan tatapan yang tak bisa diartikan, tenang namun menyimpan sesuatu yang membuat jantung Wulan berdebar tanpa sebab. Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya, dan lampu-lampu di halaman kediaman Ardani seolah ikut meredup menunggu jawaban.
Rasa dingin yang tak sadar menjalari tengkuk Adipati Pramana. Ia mengusap lehernya tanpa sadar, seolah sesuatu yang mengancam nyawa nyaris menyentuhnya beberapa saat lalu dan belum benar-benar pergi. Meski sudah terbiasa melihat pangeran itu, setiap pertemuan tetap membuat tulang punggungnya merinding seperti disapu angin kencang.
"Ayah, kapan Ayah akan bermain sepak raga besok?" Waskita mendekat sambil tersenyum lebar, mencoba mencairkan suasana yang menegangkan di antara mereka berdua, seolah tidak terjadi apa-apa di rumah mereka hari ini.
Kelopak mata Adipati Pramana berkedut tak terkendali. Bocah kurang ajar, masakan ia bicara soal bermain bola di saat yang seserius seperti ini? Bukankah lebih baik ia diam dan membantu menenangkan keadaan?
"Sudah larut malam. Tuan Adipati, mohon beristirahat lebih awal agar Nalendra tidak mengganggu lagi." Nalendra mengulurkan tangan, mengusap rambut lembut Wulan dengan penuh kehati-hatian, lalu menoleh ke arah Adipati Pramana dan mengangguk dengan sopan sebagai salam perpisahan. Gerakannya halus, tetapi tetap meninggalkan kesan bahwa ia tidak akan membiarkan siapa pun macam-macam dengan tunangannya, bahkan ayahnya sendiri.
"Selamat tinggal... Tuanmu." Adipati Pramana jelas masih belum sadarkan diri. Mulutnya membuka dan menutup tanpa suara, masih menelan kebingungan yang belum kunjung usai hingga akhirnya ia hanya bisa mengucapkan kalimat yang tidak masuk akal itu, dengan mata yang masih kosong menatap ke depan.
"Aku akan mengantarmu keluar." Wulan tidak mempedulikan perselisihan antara ayah dan kakaknya itu, berbalik sambil tersenyum dan berjalan mengikuti Nalendra dengan langkah ringan, seakan tidak terjadi apa-apa, meninggalkan ayahnya yang masih membeku di tempat.
Setelah meninggalkan kediaman Adipati Ardani dan berjalan agak jauh dari gerbang, Nalendra menepuk pelan kepala Wulan. "Kembalilah, angin malam dingin. Hati-hati jangan sampai masuk angin." Embusan angin malam memang menusuk hingga ke tulang, dan jalanan di depan mereka tampak sepi disinari rembulan yang tengah naik tinggi. Lentera-lentera kecil di sepanjang jalan berkedip samar, menemani langkah mereka berdua yang berjalan perlahan.
"Ya." Wulan menjawab dengan suara rendah, lalu melihat sekeliling seperti pencuri yang sedang mencari celah, matanya yang indah mengitari kiri dan kanan dengan waspada, memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka berdua di tengah kesunyian malam.
"Ada yang ingin kau katakan padaku?" Nalendra tidak bisa menahan diri untuk mengangkat alis dan tersenyum melihat kelakuan centil Wulan yang langka itu. Biasanya gadis ini begitu berani dan lincah, jarang sekali terlihat gelisah dan penuh perhitungan seperti sekarang, dan perbedaan itu membuatnya semakin penasaran.
"Ya!" Wulan sedikit tersipu, mengangguk, lalu diam-diam mengaitkan jarinya ke arah Nalendra, memberi isyarat agar ia menundukkan tubuhnya sedikit lebih rendah agar wajahnya sejajar. Jari-jarinya gemetar, tetapi ia berusaha terlihat tenang seperti biasanya.
"Apa yang ingin kau katakan?" Bibir Nalendra melengkung membentuk senyuman yang tak bisa ia tahan, dan ia membungkuk dengan patuh untuk bekerja sama, penasaran dengan apa yang akan disampaikan gadis itu di tengah malam yang sunyi.
Aroma dingin yang samar masih melekat pada napasnya saat Wulan menegakkan tubuh. Melihat tidak ada orang lain di depan gerbang kediaman Adipati Ardani, Wulan berjinjit, meraih kerah Nalendra dengan gerakan cepat dan berani seperti pengganggu yang sedang merampas seorang wanita baik-baik, menarik tubuhnya ke bawah, lalu mencium bibir tipis Nalendra dengan mantap dan penuh rasa percaya diri, tanpa ragu sedikit pun.
Nalendra langsung tertegun seolah disambar petir. Melihat ekspresinya yang kaget itu, Wulan merasakan wajahnya semakin panas hingga ke telinga. Ia tidak berani menatapnya lagi, meninggalkan pesan "Hati-hati di jalan, aku kembali dulu" sebelum menutupi wajahnya dengan kedua tangan kecilnya yang gemetar, lalu berlari memasuki kediaman seperti orang yang sedang melarikan diri, menghilang dengan cepat di balik gerbang.
Ketika Nalendra tersadar kembali, Wulan sudah tidak terlihat sama sekali. Hanya aroma gadis yang samar masih tersisa di bibir tipisnya, menjadi saksi bisu atas apa yang baru saja terjadi di depan pintu gerbang itu, dan membuatnya menggelengkan kepala pelan dengan senyuman yang tak bisa ia sembunyikan.
Kedua penjaga di gerbang kediaman Adipati Ardani saling berpandangan dengan wajah tercengang. Apakah mereka salah lihat sekarang? Pangeran Senja — panglima yang paling ditakuti di seluruh Kesultanan Tirtaloka — benar-benar dicium paksa oleh tunangannya sendiri?! Nona itu benar-benar seperti laki-laki...
Kembali ke kamarnya, Wulan menutup pintu rapat-rapat, menekan punggungnya ke kusen pintu, lalu menarik napas dalam-dalam berulang kali untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang. Rona merah di wajahnya belum juga memudar, dan ia baru menyadarinya kemudian. Ia menutupi wajah kecilnya dengan kedua tangan yang malu-malu, berusaha menahan panas yang menjalar ke seluruh wajahnya.
Apa yang baru saja ia lakukan? Ia begitu tergoda oleh pria itu hingga dengan paksa mencium seseorang tepat di depan gerbang kediamannya sendiri. Ini, ini, ini... bukankah ini perbuatan yang biasa dilakukan para perampok jalanan yang tak kenal sopan santun dan sembrono!
Wulan langsung frustrasi dan ingin menabrak tembok untuk menyadarkan diri dari rasa malunya. Kemudian ia menghibur dirinya sendiri di dalam hati, sudahlah, ia dan Nalendra akan segera menikah, jadi ini tidak termasuk perbuatan ceroboh terhadap Nalendra, bukan? Lagipula, itu juga bukan sesuatu yang membuatnya menyesal, meskipun rasa malu masih menyelimutinya.
Ckrek —
Sebelum Wulan pulih dari debar jantungnya yang masih kencang, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu di belakangnya, disusul suara seorang gadis yang sangat ia kenal menembus panel pintu yang tipis dengan jelas. "Sepupu Ketujuh, apakah kau belum istirahat?"
Alis Wulan langsung mengernyit dalam. Aryati? Apa yang ia lakukan di sini selarut ini? Bukankah ia tadi sempat melihat kakaknya itu berjalan pergi bersama Kirana menuju halaman keluarga kedua?
Awalnya Wulan ingin berpura-pura tidak mendengar sama sekali, tetapi kemudian ia tiba-tiba teringat sesuatu, berbalik dan membuka pintu. Setelah melihat dua orang berdiri di luar pintu, Wulan mengangkat alisnya dengan heran. Oh? Angin macam apa yang bertiup malam ini? Bukan hanya sepupunya, Aryati, tetapi juga sepupunya yang lain, Kirana, berdiri rapi di depan pintu kamarnya dengan senyum yang sama-sama manis dan penuh arti.