Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : JARAK YANG BERBICARA 1
Fajar baru menyingsing di pedalaman Borneo dengan kabut tipis yang masih menggantung di antara pepohonan tinggi. Embun membasahi rerumputan di sekitar mes karyawan, sementara suara burung-burung hutan bersahutan menyambut datangnya pagi. Udara terasa sejuk, jauh berbeda dengan panas menyengat yang biasanya menguasai kawasan proyek ketika matahari telah meninggi.
Rangga sudah terbangun sebelum alarm di ponselnya berbunyi.
Ia duduk di tepi ranjang sederhana di dalam kamar mes, mengusap wajahnya perlahan sebelum melangkah menuju jendela. Dari balik kaca, kawasan proyek mulai memperlihatkan denyut kehidupannya. Beberapa pekerja tampak berjalan menuju kantin, sementara kendaraan operasional satu per satu mulai dipanaskan.
Hari itu menjadi awal pekan baru.
Artinya, pekerjaan baru juga telah menunggu.
Setelah mandi dan mengenakan kemeja lapangan berwarna biru tua, Rangga berjalan menuju kantin bersama beberapa pekerja lainnya. Aroma kopi hitam dan nasi goreng memenuhi ruangan sederhana yang dipenuhi meja-meja panjang dari kayu.
"Selamat pagi, Mas Rangga."
Doni melambaikan tangan dari sudut ruangan.
"Pagi."
"Silakan gabung."
Rangga membawa nampannya, lalu duduk di hadapan Doni. Di meja itu sudah ada beberapa pekerja dari divisi lain yang mulai akrab dengannya setelah beberapa minggu terakhir sering bertemu.
"Katanya hasil cetakan kemarin dipuji sama manajemen," ujar salah seorang pekerja sambil tersenyum.
Rangga hanya terkekeh kecil.
"Syukurlah kalau memang membantu pekerjaan teman-teman."
"Bukan cuma membantu, Mas," sahut Doni. "Rambu keselamatan yang baru itu langsung dipasang sore kemarin. Jadi tim lapangan nggak perlu nunggu kiriman dari kota lagi."
Rangga mengangguk pelan.
Mendengar hal itu, rasa lelah yang masih tersisa di tubuhnya perlahan berkurang. Baginya, kepuasan terbesar bukan sekadar menerima pembayaran proyek, melainkan melihat hasil kerjanya benar-benar bermanfaat bagi banyak orang.
Kesibukan kembali menyelimuti kawasan proyek sejak matahari mulai meninggi.
Di dalam bangunan percetakan, suara mesin kembali berdengung stabil. Beberapa pesanan baru datang hampir bersamaan melalui surat elektronik yang dikirim dari kantor administrasi proyek.
Rangga membuka satu per satu berkas yang masuk.
Denah area kerja.
Papan informasi.
Label inventaris.
Hingga revisi gambar teknis yang harus dicetak sebelum rapat siang nanti.
"Hari ini lumayan banyak juga," gumamnya.
Doni yang sedang menata gulungan bahan cetak menoleh.
"Masih sanggup?"
Rangga tersenyum.
"Kalau belum dicoba, kita nggak akan tahu batas kemampuan kita."
Mereka pun mulai bekerja dengan ritme yang semakin teratur.
Tak ada lagi kepanikan seperti hari-hari pertama.
Setelah masalah kelistrikan berhasil diatasi, pekerjaan kini mengalir jauh lebih lancar. Rangga mulai memahami karakter setiap mesin, mengenali kebutuhan masing-masing divisi, bahkan menghafal jadwal pengiriman dokumen agar tidak ada pekerjaan yang terlambat.
Tanpa disadari, perlahan ia telah menjadi bagian dari roda besar proyek tersebut.
Menjelang malam, kesibukan akhirnya mereda.
Selesai makan malam di kantin, Rangga mengambil ponselnya yang sejak sore telah terisi penuh dayanya.
Ia melirik layar.
Tidak ada pesan baru.
Namun ada satu nama yang langsung terlintas di benaknya.
Sari.
Senyum tipis mengembang di wajahnya.
Sudah menjadi kebiasaan setiap malam, ia akan berjalan menuju bukit kecil di belakang mes. Hanya di tempat itulah sinyal telepon sesekali muncul, meski sering kali hanya satu atau dua garis.
Rangga memasukkan ponsel ke dalam saku, lalu mulai melangkah menyusuri jalan setapak yang mulai gelap.
Di atas langit, bintang-bintang mulai bermunculan satu demi satu, menemani langkahnya menuju tempat yang kini tanpa sadar telah menjadi penghubung antara dua hati yang dipisahkan ribuan kilometer.
Langkah Rangga terhenti di puncak bukit kecil yang telah menjadi tempat favoritnya setiap malam.
Dari sana, deretan lampu kawasan proyek tampak berpendar redup di tengah hamparan gelapnya hutan Borneo. Angin malam berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang masih menyimpan sisa embun.
Ia mengeluarkan ponselnya.
Satu garis sinyal.
Beberapa detik kemudian bertambah menjadi dua.
Rangga tersenyum kecil.
"Syukurlah..."
Ia segera mencari nama Sari di daftar kontak, lalu menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar.
Sekali...
Dua kali...
Belum terangkat.
Saat panggilan hampir berakhir, terdengar suara yang begitu dikenalnya.
"Halo..."
Suara Sari terdengar pelan, sedikit tertutup desis jaringan.
"Halo, Sar. Kedengaran?"
"Iya... walaupun putus-putus."
Rangga tertawa kecil.
"Berarti sinyalnya lagi baik."
"Kalau buat ukuran tempatmu, mungkin memang lagi baik."
Mereka sama-sama tertawa.
Tawa sederhana itu terasa mampu menghapus penat yang menumpuk sejak pagi.
"Sudah makan?" tanya Sari.
"Baru selesai."
"Masih makan di kantin?"
"Iya. Menunya ikan goreng sama sayur bening."
"Enak?"
"Kalau dibanding masakanmu..."
Rangga sengaja menghentikan kalimatnya.
Sari langsung tertawa.
"...pasti kalah jauh."
"Nah, tahu."
Suasana yang sempat canggung perlahan mencair.
Untuk beberapa menit berikutnya mereka berbincang mengenai hal-hal sederhana.
Sari bercerita tentang pekerjaannya di kantor administrasi yang mulai sibuk menjelang akhir bulan.
Rangga menceritakan bagaimana mesin cetaknya akhirnya bisa beroperasi normal setelah dibantu tim kelistrikan proyek.
"Jadi sekarang sudah nggak mati-mati lagi?"
"Alhamdulillah sudah."
"Syukurlah."
Nada lega terdengar jelas dari suara Sari.
Ia memang tidak terlalu memahami urusan mesin cetak maupun instalasi listrik. Namun selama Rangga bercerita dengan penuh semangat, ia selalu mendengarkan sampai selesai.
Baginya, mendengar suara pria itu saja sudah cukup mengobati rindu.
Tiba-tiba suara Rangga terpotong.
"...Sar... nanti kalau..."
"Kok hilang?"
Sari menjauhkan ponsel dari telinga.
Panggilan masih tersambung.
"Halo?"
Suara Rangga kembali muncul, kali ini disertai gangguan statis.
"Maaf... anginnya lagi kencang."
"Aku masih dengar."
Rangga melangkah beberapa meter ke sisi bukit yang sedikit lebih tinggi.
Dua garis sinyal kembali muncul.
"Nah, sekarang lebih jelas?"
"Iya."
Sari tersenyum sendiri di dalam kamar kosnya.
"Lucu juga ya."
"Kenapa?"
"Dulu waktu masih di Jakarta, kita tinggal janjian ketemu."
"Hmm."
"Sekarang buat telepon saja kamu harus naik bukit dulu."
Rangga ikut tersenyum.
"Iya juga."
Ia memandang langit malam yang dipenuhi bintang.
"Kalau dipikir-pikir, bukit ini jadi tempat yang paling aku tunggu setiap malam."
"Karena sinyal?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Karena dari sini aku bisa dengar suaramu."
Beberapa detik...
Tak ada jawaban.
Hanya terdengar embusan napas pelan dari seberang sana.
Pipi Sari menghangat.
Meski hanya melalui sambungan telepon yang dipenuhi gangguan sinyal, kalimat sederhana itu berhasil membuat senyumnya kembali merekah.
"Dasar..."
"Apa?"
"Gombal."
Rangga tertawa pelan.
"Kan memang benar."
Untuk sesaat, jarak ribuan kilometer di antara mereka seolah menghilang.
Yang tersisa hanyalah dua hati yang saling bertukar cerita di bawah langit yang berbeda.
Namun, mereka belum menyadari bahwa kesibukan yang perlahan bertambah di hari-hari berikutnya akan mulai menguji rutinitas sederhana yang malam itu masih mampu mereka pertahankan.
Percakapan malam itu berlangsung lebih lama daripada biasanya.
Bukan karena mereka memiliki banyak hal penting untuk dibicarakan, melainkan karena keduanya sama-sama menikmati kesempatan langka ketika sinyal sedang cukup bersahabat.
"Aku tadi sempat mampir ke ruko," ujar Sari pelan.
Rangga sedikit terkejut.
"Benarkah? Ada apa?"
"Nggak ada."
Sari tersenyum kecil meski Rangga tidak dapat melihatnya.
"Cuma kangen saja."
Rangga terdiam.
Ia membayangkan ruko kecil yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya membangun mimpi. Tempat itu kini berada ribuan kilometer darinya.
"Gimana keadaan di sana?"
"Baik."
"Tono seperti biasa sibuk."
"Beni juga masih suka bercanda."
Sari terkekeh pelan mengingat tingkah salah satu karyawan itu.
"Tadi Beni bilang suasana ruko jadi terlalu sepi sejak bosnya pergi."
Rangga ikut tertawa.
"Dia memang nggak bisa diam."
"Iya."
"Terus, Tono bagaimana?"
"Masih teliti seperti biasanya. Semua laporan keuangan sudah dirapikan. Dia juga bilang kamu nggak usah khawatir. Percetakan tetap berjalan."
Mendengar kabar itu, dada Rangga terasa sedikit lebih ringan.
Ia memang mempercayai Tono sepenuhnya, tetapi mendengar langsung perkembangan dari Jakarta tetap memberinya ketenangan.
"Alhamdulillah."
"Aku senang dengarnya."
"Terima kasih sudah menyampaikan."
"Hmm."
Keheningan kembali menyelimuti percakapan mereka.
Namun kali ini bukan keheningan yang canggung.
Melainkan keheningan yang nyaman.
Masing-masing membiarkan suara angin dari tempat mereka berada saling mengisi jeda.
Di Borneo, desir dedaunan terdengar pelan.
Sementara di Jakarta, suara kendaraan sesekali melintas di jalan depan kos Sari.
Dua tempat.
Dua suasana.
Namun dihubungkan oleh percakapan sederhana yang begitu berarti.
"Aku jadi ingat."
Suara Rangga memecah keheningan.
"Ingat apa?"
"Dulu hampir setiap sore kamu datang ke ruko bawa es teh."
Sari tertawa pelan.
"Soalnya kamu sering lupa istirahat."
"Aku kira karena kangen."
"Itu juga."
Jawaban jujur itu membuat Rangga tersenyum lebar.
Angin malam kembali berembus.
Ia mendongak menatap langit.
Rasi Bintang Arkais kembali bersinar di atas sana, seolah menjadi teman setia yang menemani setiap malamnya di tanah Borneo.
"Kalau nanti proyek ini selesai..."
ucap Rangga perlahan.
"...aku ingin mengajakmu melihat langit di sini."
"Memangnya berbeda?"
"Berbeda sekali."
"Lebih indah?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena di sini aku baru sadar..."
Rangga menghentikan ucapannya sejenak.
"...ternyata langit yang sama bisa terlihat berbeda, hanya karena kita berdiri di tempat yang berbeda."
Sari memandang keluar jendela kamarnya.
Langit Jakarta malam itu hanya memperlihatkan beberapa bintang yang samar tertutup cahaya kota.
"Aku percaya."
Suara Sari terdengar lembut.
"Suatu hari nanti, aku ingin melihatnya langsung."
Rangga mengangguk kecil meski tak terlihat.
"Insyaallah."
Tak lama kemudian, suara sambungan kembali dipenuhi gangguan.
Suara Sari mulai terpotong-potong.
"Rang... sinyal..."
"Hallo, Sar?"
"...dengar... nggak..."
Layar ponsel berkedip.
Panggilan akhirnya terputus.
Rangga menatap layar beberapa saat.
Ia mencoba menelepon kembali.
Namun sinyal yang tadi sempat muncul perlahan menghilang hingga menyisakan tulisan Tidak Ada Layanan.
Ia hanya tersenyum kecil.
"Malam ini sudah cukup."
Ponsel itu kembali dimasukkan ke dalam saku.
Sebelum berjalan turun menuju mes, Rangga sempat mendongak sekali lagi ke arah langit yang bertabur bintang.
*****
Sebagai narator, aku melihat malam itu sebagai pengingat bahwa hubungan yang tulus tidak selalu diukur dari lamanya percakapan atau banyaknya kata-kata yang terucap. Terkadang, beberapa menit yang diperjuangkan dengan sinyal yang timbul tenggelam justru mampu menghadirkan ketenangan yang tak tergantikan. Di bawah langit yang berbeda, Rangga dan Sari masih saling menjaga keyakinan bahwa jarak bukanlah alasan untuk berhenti saling menguatkan.