Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur sekasur : 23
“Saya khawatir Ardan kembali mendekati dan memelukmu. Gapapa kan saya tidur di bagian tengah?” daripada meminta izin, kalimatnya lebih tepat memberitahu. Yarash berbaring miring berhadapan dengan Saniya.
“Gapapa,” bisa apalagi dia selain mengiyakan, Yarash sudah berbaring nyaman ke kasur yang sama dengannya, menyisakan jarah tak begitu jauh, lampu penerangan pun telah dimatikan menyisakan cahaya temaram lampu tidur.
‘Kalian itu seperti bersahabat, maka anggaplah demikian. Kalau masih kurang nyaman, merasa tidak aman, ibaratkan saja Yarash seorang kakak pelindung bagimu. Gak akan terjadi apa-apa, percayalah Saniya,’ netranya memejam, batin mensugesti diri.
Terbiasa tidur seorang diri, rasanya masih belum terbiasa harus berbagi kasur dan berdekatan dengan seorang pria.
Yarash lebih leluasa memandangi sepasang alis mengerut, kelopak mata terpejam bergerak samar, ia pun tersenyum tipis.
‘Kamu tenang saja Saniya, saya tidak akan menyentuhmu!’ ucapnya yakin.
Obat yang tadi diminum oleh Saniya, manfaatnya telah dirasakan — rasa nyeri hilang, kantuk pun datang. Wanita cantik bermata mempesona itu benar-benar terlelap.
Sang kepala keluarga pun mulai mengantuk, tak lama setelahnya tertidur pulas.
Ardan menggeliat, tangannya meraba-raba sprei dengan mulut mengecap, namun netranya tidak terbuka.
Suasana didalam kamar kembali tenang, terdengar suara lembut pendingin ruangan, lalu napas teratur para insan tertidur pulas.
***
Ketika sang waktu bergulir dan langit malam tergantikan terang — wanita bergelar istri sekaligus ibu tiri yang lebih dulu terbangun.
Saniya tidak langsung beranjak, pemandangan di depannya sulit diabaikan, membuatnya tertahan disana.
Tidur Yarash sangat damai, dia menepati janjinya. Tidak bergerak mendekat, tetap pada posisi berbaring, tetapi Saniya yang maju sampai tersisa jarak sempit.
‘Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, apa yang menyebabkan kamu dan Jena bercerai hingga dua kali?’ batinnya bertanya, mata memandang lembut.
‘Belum lama hidup seatap denganmu, tak sekalipun diriku merasa diperlakukan tak adil, dan sikapmu, tutur katamu, membuatku berdecak kagum. Lantas, dimana letak sisi negatif itu?’ sambungnya.
Jemari tersimpan di bawah selimut, bergerak keluar lalu melewati bahunya. Rasa ragu membuatnya gamang dan tangannya menggantung di udara.
Saniya menahan napas, ujung jarinya lebih maju hingga menyentuh helaian rambut halus menutup alis pria yang tampak lebih tampan dalam keadaan pulas.
‘Terima kasih, meski tidak ada cinta diantara kita — kamu bersikap baik, menghargaiku, dan merawatku sewaktu sakit. Yarash … semoga hari-harimu selalu mudah, dan bisa merasakan kenyamanan serta kebahagiaan.’ Jemarinya tidak sengaja menyentuh alis tebal, cepat-cepat Saniya tarik.
Takut tiba-tiba Yarash terjaga, Saniya bergegas bangun. Menggeser badan sampai ke ujung kasur, berniat membongkar tas belanjaan semalam yang belum sempat dikeluarkan.
Saniya pastikan terlebih dahulu anak sambungnya masih tertidur, barulah mulai mengeluarkan pakaian ke atas kasur.
“Kenapa ada dalaman ini? Banyak banget lagi?” gumamnya bingung. “Perasaan semalam gak ada kuambil?”
“Saya minta bantuan karyawan mengambilkan pakaian dalam yang sempat kamu pegang,” jawab suara parau.
Saniya tersentak, otomatis memalingkan muka ke belakang. “Mas ….”
“Ya. Selamat pagi, Saniya. Masih terasa sakit, atau sudah baikan?” Indra pengecapnya membasahi bibir kering.
“Pagi juga, Mas. Udah baikan,” ia balas ucapan ramah itu.
“Kenapa banyak banget belinya, Mas? Kamu jangan terlalu boros, utamakan kebutuhan daripada keinginan, Mas!” ia tak sadar kalau kalimatnya terdengar menegur.
Yang ditegur senyum-senyum tidak jelas. “Pakaian dalam termasuk kebutuhan, Saniya, bukan benda pajangan. Akan selalu terpakai sampai kainnya tak layak dikenakan lagi.”
Si wanita mendengus pelan, khas ibu-ibu sedang kesal jika ucapannya disanggah. “Kebiasaan kamu itu.”
“Kamu sudah mirip ibu-ibu pada umumnya; mengomel dipagi hari, dan terlihat natural dengan penampilan bangun tidur,” ia sadar atas kalimat pujian baru saja terlontar.
Secepat kilat Saniya memalingkan wajah, kembali sibuk melepaskan hang tag, label kertas digantung dengan tali.
Dapat didengar olehnya gesekan selimut, lalu kasur bergerak lembut.
Saniya menegang, respon alami jika mendapatkan sentuhan tanpa aba-aba. Pucuk kepalanya diusap sebentar oleh tangan besar, lalu dia merasa kehilangan.
Sentuhan itu terasa nyaman, menenangkan, hal yang sudah sangat lama tak didapatkan meski sesekali ayahnya masih mengusap kepalanya, tetapi tidak sampai menyentuh hati.
“Mau diapakan, Mas?” lamunannya terserak.
Yarash duduk di tepi kasur, membantu melepaskan label, lalu memasukkan pakaian baru Saniya ke dalam wadah. “Biar mbak Juraida saja yang merendam menggunakan pewangi pakaian aman untuk kulit.”
“Jangan, Mas! Itu pakaian dalam, gak boleh dicuci orang lain!” cegah Saniya.
“Ini masih baru, belum pernah dipakai, gapapa.” Yarash tetap memasukkan celana dalam, bra ke dalam paper bag. Ekspresinya biasa saja saat memegang kain penutup area pribadi wanita.
“Kamu pemaksa juga ternyata, Mas,” gerutu Saniya.
Ternyata dapat didengar oleh pria menghentikan sejenak kegiatannya. “Memaksa demi meringankan beban pekerjaan seorang istri, bukankah hal lumrah, Saniya?”
Eh … Saniya malu, pipinya terasa hangat. Ia menunduk lebih dalam.
Suara tawa Yarash serak-serak basah, pagi ini terasa lebih hidup, hangat, tidak monoton seperti biasa dialaminya.
Label kertas yang sudah dilepaskan, dikumpulkan, lalu dibuang ke tong sampah dekat meja rias. Kemudian Yarash hendak membawa tas belanjaan keluar kamar. “Pagi ini kamu mau sarapan apa?”
Saniya mendongak, netranya tidak setenang biasanya ketika bertatap muka. “Biar aku saja yang menyiapkan, Mas. Mas Yarash suka sarapan makanan berat tidak?”
“Terserah kamu, buat yang simpel saja, jangan melelahkan diri sendiri, Saniya,” jawabnya menunjukkan perhatian.
“Iya.” Saniya mengangguk.
Yarash keluar dari dalam kamar dengan menenteng tas kertas.
Saniya bergerak bergeser mendekati nakas, kruk nya disandarkan di sana.
Sebelum berjibaku di dapur, terlebih dahulu gosok gigi dan cuci muka.
***
Aroma gurih bumbu tumis memenuhi dapur, alat penyedot asap seakan tak berfungsi, wangi lezat itu tercium di hidung kecil balita yang sedang bermalas-malasan di atas kasur, menikmati pijatan lembut pada kaki bertumpu di paha ayahnya.
Yarash menemani buah hatinya. Sambil memijat betis Ardan, ia berdongeng kisah Cindelaras.
“Ini aloma Ayam goleng nya gak tipu-tipu kan, Pi?”
.
.
Bersambung.
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...