NovelToon NovelToon
Garis Yang Tak Kupilih

Garis Yang Tak Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Cahaya matahari pagi mulai menembus celah gorden kamar, menyentuh permukaan kulit Puja yang masih terlelap.

Begitu ia mencoba menggerakkan tubuhnya, rasa perih yang nyata menyerang, membuat Puja mengerang pelan dan memejamkan mata erat-erat.

Malam pertama yang begitu intens meninggalkan jejak fisik yang cukup terasa baginya.

Jeffry, yang sudah bangun lebih dulu dan sedang memperhatikan istrinya dengan perasaan campur aduk, segera mendekat.

Ia melihat raut wajah menahan sakit dari Puja dan seketika rasa bersalah menyelimuti hatinya.

"Dek... maafkan Mas," bisik Jeffry lirih, tangannya mengusap kening Puja dengan sangat hati-hati.

"Badanmu pasti sakit sekali. Kamu libur saja ya hari ini? Tidak usah kuliah dulu, istirahat saja di rumah."

Puja berusaha membuka matanya, menatap suaminya dengan senyum tipis yang dipaksakan. Meski tubuhnya terasa tidak karuan, tanggung jawab akademiknya masih terngiang.

"A-aku tidak apa-apa, Mas. Sungguh. Nanti aku kuliah sampai jam sepuluh saja kelasnya, setelah itu aku langsung pulang."

Jeffry menatap istrinya dengan pandangan ragu. Ia tahu Puja gadis yang keras kepala jika sudah menyangkut pendidikan, namun melihat kondisi istrinya saat ini membuatnya tidak tega membiarkannya bergerak sendiri.

Tanpa banyak bicara lagi, Jeffry mengambil inisiatif. Ia menyelipkan lengannya di bawah punggung dan kaki Puja, lalu membopong tubuh istrinya dengan sangat perlahan dan penuh kelembutan.

Puja yang terkejut hanya bisa mengalungkan tangannya ke leher Jeffry, menyembunyikan wajahnya yang merona malu di balik bahu suaminya.

Jeffry membawa Puja masuk ke dalam kamar mandi yang sudah disiapkan air hangatnya.

"Mas mandikan ya, Dek?" tanya Jeffry lembut, meminta izin dengan tatapan yang sangat protektif.

Puja hanya bisa mengangguk pelan, rasa malu yang membuncah sedikit tertutupi oleh rasa terima kasih atas perhatian luar biasa suaminya.

Di dalam kamar mandi, Jeffry benar-benar menunjukkan sisi lembutnya.

Dengan telaten, ia membasuh tubuh istrinya menggunakan spons lembut, memastikan tidak ada gerakan yang membuat Puja kesakitan.

Setiap sentuhan Jeffry terasa seperti permintaan maaf yang tulus, membuatnya merasa sangat dijaga dan dicintai.

Puja hanya bisa terdiam, membiarkan suaminya merawatnya, merasakan betapa rumah tangga yang mereka bangun di atas ridho ini memang akan menjadi perjalanan yang panjang dan penuh kasih.

Setelah memandikan Puja dengan penuh kehati-hatian, Jeffry memakaikan pakaian yang nyaman untuk sang istri dan membantunya duduk di meja makan.

Ia segera menyiapkan sarapan praktis berupa roti bakar hangat dan segelas susu coklat yang sudah terbukti ampuh mengembalikan stamina Puja.

Saat Puja sedang menyesap susu coklatnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu depan.

Tok tok tok!

Jeffry mengernyitkan dahi. Pagi-pagi sekali siapa yang bertamu? Dengan langkah ringan ia menuju pintu depan dan membukanya.

Begitu pintu terbuka lebar, Jeffry mematung sejenak karena terkejut melihat siapa yang berdiri di sana: Kyai Ali, ayahnya, bersama Ningsih adik kyai Ali dan Ningrum, sepupu Jeffry yang selama ini dikenal selalu memandang rendah Puja.

"Assalamualaikum, Nak Jeffry," sapa Kyai Ali dengan senyum lebar yang menenangkan.

"Waalaikumsalam, Abah," jawab Jeffry sambil menyalami tangan ayahnya dengan takzim.

Kyai Ali melangkah masuk ke ruang tengah, matanya langsung tertuju pada Puja yang berdiri canggung di dekat meja makan.

Begitu melihat rambut Puja yang masih basah kuyup dan wajahnya yang merona cerah, Kyai Ali menarik napas lega.

Ia melirik sekilas ke arah Jeffry, lalu tersenyum penuh arti yang membuat Jeffry sedikit tersipu.

"Alhamdulillah... akhirnya penantian Abah terjawab," gumam Kyai Ali dengan nada syukur yang tulus.

Namun, suasana berubah drastis saat Ningsih dan Ningrum menyusul masuk.

Pandangan mereka tertuju pada Puja yang sedang berusaha berdiri tegak namun dengan langkah yang agak kikuk dan tertatih-tatih—efek dari kelelahan fisik semalam yang masih terasa.

Melihat cara jalan Puja yang tidak senormal biasanya, raut wajah Ningsih dan Ningrum berubah menjadi masam.

Ada gurat kebencian dan rasa jengkel yang tidak bisa mereka sembunyikan.

Bagi mereka, pemandangan itu adalah bukti nyata bahwa Puja kini telah sepenuhnya memiliki Jeffry, dan itu adalah hal terakhir yang ingin mereka lihat.

Ningrum mendengus pelan, matanya menatap Puja dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan sinis.

"Wah, baru jadi istri sudah manja sekali ya, baru bangun saja jalannya sudah seperti itu," sindir Ningrum dengan suara yang cukup keras untuk didengar seisi ruangan.

Puja menunduk dalam-dalam, merasa wajahnya terbakar malu, sementara Jeffry segera berbalik dan menatap saudara sepupunya dengan sorot mata yang memperingatkan.

Jeffry tidak membiarkan sindiran tajam Ningrum berlalu begitu saja.

Ia melangkah mendekat, berdiri di depan Puja untuk melindunginya, lalu menatap Ningrum dengan tatapan yang tenang namun menohok.

"Ningrum, wajar jika istri saya merasa kelelahan pagi ini," ujar Jeffry dengan nada bicara yang datar, namun sarat akan penekanan.

"Mungkin semalam saya terlalu berlebihan dan kurang lembut padanya hingga dia merasa sedikit kewalahan dan kesakitan. Sebagai suami, saya yang bertanggung jawab sepenuhnya atas kondisi istri saya."

Perkataan Jeffry yang sangat blak-blakan itu membuat suasana ruangan menjadi hening seketika.

Puja yang mendengarnya merasa pipinya terasa seperti terbakar hebat karena malu, sementara Kyai Ali hanya bisa tersenyum simpul, memahami maksud putranya.

Di sisi lain, wajah Ningrum memerah padam. Ia tidak menyangka Jeffry akan menjawab sindirannya dengan jawaban yang begitu intim dan telak.

Ia merasa harga dirinya dipermalukan di depan pamannya sendiri.

Ningsih, sang ibu, tidak kalah jengkelnya; rahangnya mengeras mendengar pengakuan lugas menantunya yang justru menunjukkan betapa besar perhatian Jeffry terhadap Puja.

"Sudahlah, Rum! Tidak ada gunanya kita di sini!" sahut Ningsih dengan nada tinggi, jelas sekali tidak tahan melihat kemesraan yang tidak mereka inginkan.

Ningrum mendengus kasar, melemparkan tatapan penuh benci terakhir ke arah Puja sebelum berbalik dengan hentakan kaki yang keras.

"Ayo, Bu! Kita pulang saja. Buat apa melihat pemandangan yang bikin mual seperti ini!"

Tanpa berpamitan dengan sopan kepada Kyai Ali atau Jeffry, ibu dan anak itu melangkah keluar rumah dengan penuh amarah.

Suara pintu yang dibanting cukup keras meninggalkan gema di ruangan tersebut, namun Jeffry tidak bergeming.

Ia justru kembali berbalik, menatap Puja dengan sorot mata yang dipenuhi kasih sayang, seolah mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti hati istrinya lagi.

Kyai Ali hanya bisa menghela napas panjang, menatap punggung Ningsih dan Ningrum yang menjauh dengan sorot mata yang penuh kelelahan.

Beliau sudah terlalu sering menyaksikan sifat asli mereka yang penuh kedengkian, terutama terhadap Puja.

"Maafkan sikap mereka ya, Nak," ucap Kyai Ali lirih, berusaha mencairkan suasana yang sempat tegang.

Beliau kemudian tersenyum kembali, mencoba mengabaikan perilaku adiknya demi menikmati waktu bersama anak dan menantunya.

Beliau meletakkan bungkusan yang dibawanya ke atas meja makan.

"Sudahlah, jangan dipikirkan. Ayo, kita sarapan dulu. Abah sengaja membawakan bubur ayam langganan kalian, mumpung masih hangat."

Puja yang sedari tadi berdiri tertatih, kini merasa sedikit lebih tenang.

Ia duduk kembali dengan bantuan Jeffry. "Alhamdulillah, terima kasih banyak, Abah. Perhatian sekali," jawab Puja dengan senyum tulus yang membuat hatinya sedikit lebih ringan.

Jeffry pun ikut duduk di samping istrinya, menatap sang ayah dengan rasa syukur yang mendalam karena di tengah kebencian orang lain, ayahnya tetap menjadi sosok penyejuk bagi rumah tangga mereka.

Mereka pun mulai menyantap sarapan bersama, mengabaikan sisa-sisa amarah yang ditinggalkan Ningsih dan Ningrum di ambang pintu tadi.

Setelah sarapan yang hangat berlalu, Jeffry dan Puja berpamitan kepada Kyai Ali. Mobil pun kembali melaju di jalanan, membawa Puja menuju kampusnya.

Suasana di dalam mobil terasa tenang, namun pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di pikiran Puja akhirnya keluar juga.

"Mas..." Puja memecah keheningan sambil menatap ke luar jendela.

"Bukankah Ningrum itu sepupu kamu ya? Tapi kenapa dia begitu kekeh mau jadi istri kamu? Padahal kan masih ada hubungan keluarga."

Jeffry menghela napas panjang, sebelah tangannya mengusap kemudi dengan santai.

Ia menoleh sekilas pada istrinya sebelum kembali fokus ke jalan.

"Sebenarnya, Dek, ada hal yang mungkin belum kamu tahu soal status Ningrum," ujar Jeffry memulai penjelasannya dengan nada berat namun tenang.

"Selama ini orang-orang memang mengenalnya sebagai sepupu Mas, karena dia adalah anak dari Ningsih, adik kandung Abah."

Jeffry menjeda sejenak, menata kalimatnya. "Tapi, Ningrum itu sebenarnya bukan anak kandung Ningsih dari pernikahan yang sah. Dulu, Ningsih pernah terlibat skandal dan memiliki anak di luar nikah sebelum dia menikah dengan suaminya yang sekarang. Saat Abah tahu soal itu, beliau memutuskan untuk menutupi aib adik kandungnya sendiri demi menjaga nama baik keluarga besar kita. Abah kemudian resmi mengangkat Ningrum sebagai keponakan, bahkan memberikan status keluarga di dokumen, supaya Ningrum bisa hidup normal dan tidak dikucilkan masyarakat."

Puja mendengarkan dengan seksama, matanya membelalak kaget.

Ia tidak menyangka ada rahasia sebesar itu di balik sosok Ningrum yang selalu angkuh.

"Jadi, karena dia merasa tidak memiliki ikatan darah langsung sebagai sepupu kandung dengan saya," lanjut Jeffry, "ditambah ambisi Bibinya yang ingin menguasai harta serta posisi keluarga besar Kyai Ali, mereka berdua—terutama Ningsih—terobsesi sekali menjadikan saya menantunya. Mereka menganggap dengan menikahkan Mas dan Ningrum, posisi mereka di keluarga akan aman dan mereka bisa mengendalikan Mas Itulah sebabnya Ningrum begitu terobsesi mengejar Mas, dia tidak menganggap Mas saudara, melainkan jalan pintas menuju kekuasaan."

Jeffry menggenggam tangan Puja yang berada di kursi tengah, memberikan keyakinan.

"Mereka tidak pernah benar-benar menyayangi Mas, Dek. Mereka hanya ingin memanfaatkan Mas, Makanya, begitu kamu hadir sebagai istri yang sah, posisi mereka jadi terancam. Itulah kenapa mereka begitu membenci kamu."

Puja terdiam cukup lama, meresapi setiap kata yang diucapkan suaminya.

Kini ia mengerti sepenuhnya mengapa kebencian Ningrum dan Ningsih terasa begitu beracun—itu bukan sekadar cemburu biasa, melainkan ketakutan akan kehilangan segalanya.

"Sekarang kamu mengerti, kan, kenapa Mas selalu meminta kamu untuk bersabar dan tidak membalas sikap mereka dengan keburukan?" tanya Jeffry lembut.

Puja mengangguk perlahan, merasa semakin menghargai kejujuran suaminya.

"Iya, Mas. Aku mengerti sekarang. Terima kasih sudah memberitahu aku."

1
Manis
mohon koreksi biar nggak bingung
my name is pho: sudah kak
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Manis
Ningsih jg kayanya bukan istri keduanya abah Ali deh, tapi ibunya ningrum
Manis
Ningrum di awal2 kan sepupu Jefry bukan adik tiri
Nha_A
ini yg mantunya siapa sih sebenarnya? si laki bangun menyambut mertua, si perempuan mau bangkit dari t4 tidur nyambut mertua,gimana konsepnya itu?
Manis
aslinya berjilbab nggak sih? paragraf bawah katanya berhijab
my name is pho: berhijab kak
terima saja koreksinya 🙏
total 1 replies
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuttttttttt kak
LIANI LA BUNGA YANI
aku suka noveeelnyaaa😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
sri hastuti
jangan keras kepala puja, siapa tau jefry bisa mau mengerti dan sayang sm km , hrs ada keterbukaan, blm tentu kl km gak menikah ibu tirimu setuju km kuliah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!