Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.
Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.
Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.
Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Gelas Kristal
Grand Ballroom Hotel Grand Mahakam berkilau oleh pendar lampu gantung kristal yang megah. Alunan musik klasik berpadu riuh rendah denting gelas dan gelak tawa para elit politik serta pengusaha papan atas ibu kota. Di tengah kemewahan itu, Shanum Al-Maktoum menjadi pusat perhatian.
Malam ini, Shanum tampil begitu menawan. Blazer warna krem berpotongan elegan membalut tubuhnya, dipadukan dengan hijab pasmina satin berwarna senada yang terlipat rapi dan jatuh anggun di bahunya. Paras cantiknya memancarkan aura ketegasan seorang pimpinan Al-Maktoum Group, namun tetap memesona dengan kesederhanaan yang syar'i.
Di sudut ruangan yang agak remang, Aran berdiri tegap menyandar pada pilar utama. Kemeja dan jas hitamnya terpasang rapi, membungkus perban di dadanya yang belum pulih total. Matanya yang kelam tak berhenti memindai sekeliling, sesekali menangkap pandangan Shanum dari kejauhan. Di antara riuhnya sapaan para pejabat, Shanum selalu menyempatkan diri melirik ke arah pengawalnya—sebuah gestur kecil yang menyalurkan rasa aman di antara mereka.
"Mbak Shanum, selamat atas kemenangan tender Senayan," sebuah suara lembut yang familier menyapa dari sisi kiri.
Shanum menoleh dan matanya seketika berbinar gembira. "Ning Layla! Gus Azhar!"
Kedua tamu terhormat itu melangkah mendekat. Ning Layla tampak begitu anggun dalam balutan gamis pastel sederhana, didampingi oleh Gus Azhar, putra sulung Kyai Syahuri yang mengenakan jas koko gelap lengkap dengan peci hitamnya. Kedatangan mereka mewakili keluarga besar Pesantren Al-Ikhlas yang diundang khusus oleh Rasyid Al-Maktoum sebagai wujud rasa syukur.
"Selamat, Mbak Shanum. Abah mengirimkan salam dan doa agar amanah besar ini membawa keberkahan," tutur Ning Layla dengan senyum tulus yang menyejukkan.
"Terima kasih banyak, Ning. Tanpa doa dari Abah dan kedamaian di pesantren, saya mungkin tidak akan sekuat ini," balas Shanum hangat.
Sementara Shanum dan Ning Layla berbincang, pandangan Gus Azhar beralih ke sudut pilar, menatap Aran yang berdiri siaga. Tatapan Gus Azhar dingin dan sarat kecemburuan. Sebagai sosok yang sejak lama menyimpan rasa pada Shanum dan memegang kendali di pesantren, Gus Azhar merasa terganggu melihat betapa cairnya hubungan antara Shanum dan pengawal asing bertubuh kekar itu.
"Si pengawal itu..." gumam Gus Azhar pelan dengan nada tidak suka. "Kelihatannya semakin tidak tahu batasan. Dia lupa siapa dirinya di rumah ini."
Shanum sempat menangkap sindiran itu, namun sebelum ia sempat merespons, Ning Layla yang menyadari perubahan raut muka Aran mendadak melangkah tipis mendekati area pengawasan Aran.
"Mas Aran," panggil Ning Layla lembut.
Aran mengangguk santun, sedikit menundukkan pandangannya. "Ning Layla, Gus Azhar. Selamat datang."
Ning Layla menatap wajah Aran sejenak, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menyadari perubahan besar pada pria itu. "Mata Mas Aran terlihat jauh lebih tenang malam ini. Tidak ada lagi kekosongan yang menakutkan seperti waktu pertama kali datang ke klinik pesantren. Mas Aran terlihat... jauh lebih manusiawi."
Aran tertegun pelan. "Itu... berkat arahan Mbak Shanum dan ketenangan dari pesantren, Ning."
"Kalau begitu, datanglah ke pesantren minggu depan bersama Mbak Shanum," bisik Ning Layla dengan nada misterius namun hangat. "Akan ada kejutan kecil di sana. Abah dan kami semua menunggu."
Aran mengangguk pelan. "Terima kasih, Ning. Saya akan memastikannya."
Namun, di tengah perbincangan hangat itu, naluri taktis Aran mendadak bergetar kencang. Dari sudut mata kanannya, Aran menangkap gerak-gerik seorang pria berpakaian pelayan yang membawa nampan minuman. Pria itu berjalan dengan postur posisi tubuh siap menerjang dan memiliki bekas kapalan tebal di buku-buku jarinya, ciri khas pengguna senjata tajam jarak dekat.
Pelayan gadungan itu melirik Shanum, lalu tangannya merogoh saku dalam jas pelayannya.
Aran tidak membuang waktu. Ia menyadari pria itu adalah eksekutor lokal suruhan faksi tersisa Surya Wijaya yang memanfaatkan celah keramaian. Demi mencegah kepanikan dan melindungi Shanum, Aran dengan sengaja melangkah memotong jalur pelayan tersebut, menyenggol bahunya pelan namun tegas.
"Permisi," ujar Aran datar, menatap mata pria itu dengan kilatan es yang mengintimidasi.
Pelayan itu tersentak, menyadari penyamarannya terbongkar. Ia memutar arah dengan terburu-buru menuju koridor sepi ke arah toilet VIP. Aran melirik Shanum sekilas, memberi kode mata singkat bahwa ia harus mengamankan perimeter, lalu menyusul langkah pria itu secara senyap.
Tanpa disadari siapa pun, Gus Azhar yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Aran, secara diam-diam mengekor dari jarak aman di belakang koridor.
Suasana di dalam toilet VIP terbilang sangat hening. Lantai porselen putih dan cermin-cermin besar memantulkan pendar lampu yang remang.
Begitu pintu otomatis terdedah dan tertutup rapat, pelayan gadungan itu membalikkan badan dengan cepat. Ia mencabut sebuah pisau keramik (ceramic knife) bermata ganda yang lolos dari pemindai logam.
"Viper-1..." geram pria itu seraya menerjang maju, mengarahkan tusukan kilat ke arah leher Aran.
Aran tidak merubah raut wajahnya. Dalam ruang sempit itu, gerakan Aran begitu presisi dan tanpa suara. Ia memiringkan kepalanya beberapa milimeter, membiarkan pisau itu menyapu udara kosong. Dengan gerakan Close pertarungan jarak dekat yang mematikan, tangan kiri Aran menangkis pergelangan tangan musuh, sementara lutut kanannya menghantam perut pelayan itu dengan kekuatan dahsyat.
Brak!
Suara benturan teredam oleh peredam suara ruangan. Pisau keramik itu terlempar dan hancur berkeping-keping di atas lantai marble. Aran mencengkeram leher baju musuh, memutarnya, dan menghantamkan tengkuk pria itu ke dinding porselen tebal hingga ia terkulai pingsan seketika.
Seluruh pertarungan mematikan itu selesai dalam waktu kurang dari enam detik. Tanpa teriakan, tanpa kegaduhan.
Aran menghela napas panjang, merapikan kembali jas hitamnya di depan cermin besar. Namun, benturan keras tadi membuat jahitan luka bekas operasinya di lengan bawah sedikit terbuka. Cairan merah pekat mulai merembes tipis melalui serat kemeja dalamnya, membuat kain hitamnya terasa agak basah.
Tepat di luar pintu toilet yang sedikit terbuka, Gus Azhar berdiri mematung di balik bayangan koridor. Matanya terbelalak lebar, napasnya tertahan karena kaget. Ia menyaksikan seluruh aksi kekerasan yang begitu cepat dan mematikan itu dari balik celah pintu.
Rasa takut sempat menyergap dada Gus Azhar, namun perlahan ketakutan itu berubah menjadi rasa benci dan licik yang membara.
"Dia memang monster..." bisik Gus Azhar pelan di dalam hatinya. "Latar belakang berdarah ini... kalau aku bocorkan atau manfaatkan di depan Kyai dan para sesepuh, Shanum tidak akan pernah sudi berada di dekatnya lagi."
Gus Azhar memilih bungkam. Ia tidak memanggil keamanan atau berteriak. Dengan senyum sinis yang tersembunyi, ia berbalik arah dan melangkah kembali ke ballroom, mulai merajut rencana kotor untuk menyingkirkan Aran dari sisi Shanum.
Beberapa menit kemudian, Aran telah menyerahkan penyusup yang pingsan itu kepada tim keamanan internal kepercayaan Rasyid Al-Maktoum melalui pintu belakang servis.
Aran kembali melangkah memasuki ballroom yang masih riuh. Dari kejauhan, Shanum sedang berbicara dengan Ning Layla. Begitu melihat Aran kembali berdiri di posisi dua meternya dengan wajah tenang, Shanum menghembuskan napas lega dan menyunggingkan senyum hangat ke arahnya.
Aran membalas senyuman itu dengan anggukan kepala yang sangat santun. Meski lengan bajunya menahan perih akibat jahitan yang terbuka di balik jas, Aran merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pesta kemenangan Shanum tetap berjalan sempurna, dan pelindungnya masih berdiri kokoh menjaga setiap hela napasnya dari balik bayangan.
saling support sabi kali thor🤭