NovelToon NovelToon
JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH

JATUH CINTA SAMA ORANG YANG PALING NYEBELIN DI SEKOLAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: silasepentin

Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.

Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.

Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: RAJA PRANK VS RATU DISIPLIN

"Awas!"

Sebelum Raina sempat menyelesaikan ancamannya, Devan berdiri mendadak dan menunjuk ke arah bahu kiri Raina dengan raut wajah panik luar biasa. "Raina! Ada ulat bulu gede banget di bahu kamu!"

"Hah?! Mana?!"

Raina yang secara refleks paling benci serangga langsung melonjak berdiri dari kursinya. Ia mengibas-ibaskan bahunya dengan panik, memutar badan, dan hampir saja menjatuhkan laptopnya sendiri. Beberapa siswa di kantin mulai menoleh ke arah mereka.

"Mana, Devan?! Ambilin!" seru Raina dengan suara yang mulai mencicit ketakutan.

Devan terkekeh pelan, lalu mengambil sesuatu yang hinggap di bahu Raina sebuah mainan ulat plastik berwarna hijau menyala. Ia mengayun-ayunkan mainan itu di depan mata Raina sambil tertawa puas.

"Kena tipu! Katanya Ratu Disiplin, masa sama ulat plastik aja takut?" Devan tertawa sampai memegang perutnya.

Raina membeku. Paniknya menghilang seketika, berganti dengan rasa malu yang membakar pipinya dan amarah yang siap meledak. Seluruh kantin kini memperhatikan mereka, beberapa teman seangkatan Devan bahkan ikut bersorak dan tertawa.

Raina mengepalkan tangannya rapat-rapat. Tanpa menguarkan sepatah kata pun, ia meraih spidol permanen hitam dari dalam tasnya, membuka tutupnya, dan menggoreskan tanda silang besar di papan nama dada Devan.

Poin pelanggaran kedua belas," kata Raina dengan suara sangat pelan namun penuh penekanan, menatap Devan tanpa kedip. "Mengganggu ketertiban umum dan melakukan pelecehan verbal."

Tawa Devan terhenti seketika. Ia menunduk menatap papan namanya yang kini ternoda garis hitam pekat.

"Besok jam tujuh pagi, kamu berdiri di depan gerbang menyambut siswa baru pakai atribut lengkap," lanjut Raina sambil memasukkan laptop ke dalam tasnya. "Satu menit terlambat, aku laporkan langsung ke Guru BK."

Raina berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kantin dengan tegak, sementara Devan hanya bisa melongo menatap punggung gadis itu yang perlahan menjauh. Untuk pertama kalinya, Devan sadar bahwa mempermainkan Raina bukanlah hal yang bisa ia menangkan dengan mudah.

BAB 4: TRAGEDI BASKET DAN KACAMATA

Jam pelajaran olahraga jam terakhir adalah waktu yang paling dihindari Raina. Di saat kelas lain menikmati segarnya angin sore di lapangan, Raina harus bertahan di pinggir lapangan basket sambil mencatat kehadiran dan nilai praktik teman-temannya.

Di tengah lapangan, Devan sedang berada di puncaknya. Mengenakan jersi basket nomor punggung 07, gerakan cowok itu lincah memutar, melempar bola, dan mencetak angka demi angka. Sorak-sorai siswi di tribun membumbung tinggi setiap kali Devan melakukan lay-up. Raina hanya menghembuskan napas lelah, matanya tetap fokus pada lembar penilaian di atas papan jalan.

"Raina! Tahan bolanya!"

Suara teriak Pak Doni, guru olahraga, terdengar tiba-tiba.

Raina mendongak kaget. Sebelum otaknya sempat memproses apa yang terjadi, sebuah bola basket yang terlempar kencang akibat pass Devan yang terpesong menghantam tepat di bagian muka Raina.

Brak!

Dunia Raina serasa berputar. Hidungnya nyeri luar biasa, dan pandangannya langsung berubah menjadi buram dan kabur. Suara keributan memenuhi lapangan, disusul derap langkah terburu-buru yang mendekat ke arahnya.

"Raina! Ya ampun, sori! Kamu gak apa-apa?!" Suara panik Devan terdengar sangat dekat.

Raina terduduk di tanah, tangannya meraba-raba rumput di sekitarnya. "Kacamata... kacamataku mana...?"

"Ini, ini kacamatanya!" Devan memungut benda tersebut, namun raut wajahnya makin pucat saat melihat gagang kacamata itu sudah patah dua dan salah satu kacanya retak seribu. "Aduh, Raina... kacamatanya patah."

Raina mengambil bingkai patah itu dari tangan Devan dengan mata memicing berusaha fokus. Tanpa kacamata minus liternya, wajah Devan di depannya hanya terlihat seperti gumpalan samar berwarna cokelat dan putih.

1
sila
novel goot
sila
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!