NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 — UNDANGAN YANG MENGUBAH SUASANA

Jumat sore yang hangat membawa ketenangan tersendiri di lingkungan Pesantren Al-Faruqi. Angin sepoi-sepoi menerobos jendela kamar lantai dua tempat Aurel duduk di tepi tempat tidur, memandangi layar ponselnya yang menyala terang.

Sebuah pesan masuk di grup obrolan teman-teman kampusnya memuat gambar desain undangan digital yang mewah. Pesta ulang tahun ke-22 Clarissa—salah satu mahasiswi populer di fakultas mereka—akan diadakan besok Sabtu malam di sebuah restoran tepi pantai di kawasan Arunika Barat, cukup jauh dari wilayah pesantren.

Maya sudah mengirim lima pesan singkat berturut-turut:

"Rel! Kamu wajib dateng ya! Anak-anak angkatan kita kumpul semua nih, sekalian perayaan draf skripsi bab empat beres!"

"Jangan bilang kamu nggak diizinin sama Mas Ustadz ya! Kita kangen nongkrong bareng kamu!"

Aurel mengusap leher belakangnya seraya membuang napas pelan.

Ada keinginan yang cukup kuat di dalam dadanya untuk hadir. Pesta itu bukan sekadar pesta ulang tahun biasa, melainkan momen kumpul terakhir teman-teman seangkatannya sebelum mereka disibukkan oleh persiapan sidang akhir. Namun, lokasinya yang berada di pinggiran kota pantai dan waktunya yang pasti berlangsung hingga larut malam membuat dadanya diliputi keraguan.

Dulu, Aurel tidak akan pernah memikirkan izin siapa pun. Ia akan menyambar kunci mobilnya, mengenakan baju terbaiknya, dan berangkat begitu saja.

Tetapi sekarang... ada Rasyid.

Aurel meraih ponselnya, berdiri dari tempat tidur, lalu melangkah perlahan keluar kamar menuruni tangga kayu menuju ruang kerja Rasyid di lantai bawah.

Pintu ruang kerja Rasyid terbuka sedikit.

Di dalam ruangan beraroma kayu cendana dan kertas tua itu, Rasyid sedang duduk di balik meja kayunya. Pria itu mengenakan kemeja katun warna krem berpotongan simpel dan peci hitam polos. Ia sedang merapikan beberapa berkas jadwal kajian bulanan santri dengan telaten.

Aurel menggetok pintu kayu dua kali pelan. Tok, tok.

Rasyid mendongak dari berkasnya. Matanya yang jernih menatap Aurel yang berdiri canggung di ambang pintu, membawa ponsel di genggamannya. Sebuah senyum tipis—hangat dan penuh perhatian—seketika terukir di bibir pria itu.

"Masuklah, Aurel," panggil Rasyid halus.

Aurel melangkah masuk, berhenti sekitar dua meter di depan meja kerja Rasyid. Ia menyilangkan tangannya di dada, mencoba menetralkan nada suaranya agar tidak terdengar terlalu berharap.

"Rasyid... besok malam anak-anak kampus bikin acara pesta ulang tahun Clarissa," kata Aurel langsung pada intinya. Ia menunjukkan layar ponselnya yang memuat undangan digital tersebut. "Acaranya di Resto Sunset Bay, Arunika Barat. Lokasinya agak jauh."

Rasyid memperhatikan gambar undangan di layar ponsel istrinya sejenak, lalu mengangkat pandangan matanya menatap lurus ke dalam netra cokelat terang milik Aurel.

Pria itu tidak langsung memberikan keputusan. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kayu, menyilangkan jemari tangannya di atas meja dengan tenang.

"Kamu ingin pergi, Aurel?" tanya Rasyid pelan. Suaranya datar, tanpa nada keberatan atau kecurigaan.

Aurel mengangguk pelan, jujur pada perasaannya. "Iya. Ini acara kumpul anak-anak angkatan sebelum sidang akhir. Maya sama Dito juga dateng. Tapi... acaranya malam, terus lokasinya agak jauh dari pesantren."

Aurel menahan napasnya, bersiap mendengarkan rentetan pertanyaan atau pertimbangan kaku seperti yang biasa dilakukan ayahnya dulu.

Namun, Rasyid hanya menatapnya dengan binar mata yang teramat jernih dan teduh. Pria itu menganggukkan kepalanya singkat.

"Pergilah," kata Rasyid mantap.

Aurel tertegun seketika. Matanya membelalak kaget. "Serius?"

"Serius," balas Rasyid tenang seraya mengulas senyum tipis.

"Tapi... aku mungkin pulang malam, Rasyid," Aurel menekankan kalimatnya, ingin memastikan suaminya tidak salah dengar. "Restorannya kan di Arunika Barat, acaranya mulai jam tujuh malam. Selesai dan perjalanan pulangnya bisa-bisa hampir tengah malam."

Rasyid mengambil pena hitamnya kembali di atas meja, lalu menatap Aurel dengan keteguhan yang amat dewasa dan penuh kehangatan.

"Beri kabar jika acaranya sudah selesai dan saat kamu mau jalan pulang," ujar Rasyid halus. "Dan kalau kamu merasa lelah menyetir sendirian malam-malam, kabari aku agar aku bisa datang menjemputmu."

Lidah Aurel mendadak terasa kaku.

Tidak ada bentakan. Tidak ada interogasi bernada curiga. Tidak ada drama emosional. Rasyid memberikannya kepercayaan yang begitu utuh dan melapangkan dadanya tanpa syarat.

Untuk pertama kalinya dalam 21 tahun hidupnya, Aurel merasakan sebuah kebebasan yang tidak perlu diraih lewat jalan pemberontakan atau pertengkaran. Kebebasan yang diberikan oleh seorang suami yang sepenuhnya memercayai dirinya.

Sebuah senyum lebar dan tulus yang jarang terlihat terpancar di wajah Aurel.

"Terima kasih, Rasyid," bisik Aurel pelan, suaranya dipenuhi rasa haru yang hangat.

Rasyid menatap senyuman istrinya, merasa seluruh rasa lelah usai seharian mengurus pesantren menguap begitu saja. "Sama-sama. Hati-hati besok di jalan."

Sabtu malam. Restoran Sunset Bay di pinggir pantai Arunika Barat diselimuti pendar lampu hias gantung dan alunan musik pop akustik yang riuh. Deburan ombak malam beradu dengan gelak tawa puluhan mahasiswa yang memadati area outdoor tepi pantai.

Aurel tampil anggun malam itu. Ia mengenakan gaun satin panjang berlengan panjang warna rose gold yang simpel namun elegan, dipadu dengan pasmina sutra tipis bernuansa senada. Rambut bergelombangnya ditata rapi di balik kerudung, memperlihatkan rias tipis yang memancar alami di wajah cantiknya.

"Aureeell! Sumpah ya, makin hari kamu makin cantik banget!" puji Maya heboh seraya memeluk Aurel di dekat meja hidangan katering.

"Biasa aja kali, May," jawab Aurel terkekeh.

Dito yang berdiri di samping Maya membawa dua gelas minuman dingin ikut menyeringai. "Tapi beneran, Rel. Aura Bu Ustadz emang beda. Anggunnya dapet, mahasiswanya tetep dapet."

Aurel menyiku paha Dito pelan seraya tertawa lepas. Keriuhan pesta, candaan sahabat-sahabatnya, dan aroma laut malam membuat emosinya terasa begitu ringan. Ia merasa sangat bersyukur Rasyid memberikannya kepercayaan untuk hadir di sini tanpa beban.

Namun, di tengah gelak tawa bersama teman-temannya di dekat barisan sofa tepi pantai, sebuah suara bass berat yang sangat tidak asing terdengar memanggil namanya dari arah belakang.

"Aurel?"

Aurel menghentikan tawanya. Ia berbalik pelan.

Seorang pria muda bertubuh tegap berdiri beberapa langkah di depannya. Pria itu mengenakan kemeja hitam berpotongan kasual dengan celana jins gelap. Rambutnya bergaya undercut rapi, dan sepasang matanya menatap Aurel dengan binar kejutan yang amat besar.

Reno.

Reno Pratama—teman dekat sekaligus sosok dari masa lalu Aurel yang pernah sangat akrab dengannya sewaktu awal masa kuliah, sebelum pria itu pindah studi ke luar kota dua tahun lalu.

Aurel membeku sejenak di tempatnya. "Reno?"

Reno melangkah mendekat, matanya meneliti penampilan Aurel dari ujung kepala hingga ujung kaki—terutama tertambat pada pasmina sutra dan cincin emas polos yang kini melingkar manis di jari manis Aurel.

"Ini beneran kamu, Aurel Nathania?" tanya Reno, sebuah tawa kecil yang sarat ketidakpercayaan lolos dari bibirnya. "Gua nggak salah liat kan?"

"Iya, ini aku," jawab Aurel berusaha bersikap sebiasa mungkin, meski ada kecanggungan tipis yang merayap di dadanya.

Aurel tidak menyadari bahwa di balik rerimbunan pohon palem dekorasi restoran, seorang pria dengan kamera DSLR berlensa panjang sedang mengarahkan kameranya tepat ke arah mereka berdua—mengabadikan setiap detik interaksi yang baru saja dimulai tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!