NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:158.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.

Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa

Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.

Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inara 19

Langkah kaki Mahesa yang lebar dan berat menggema di koridor menuju ruang kesehatan kantor. Setiap ketukan sepatunya di atas lantai marmer seolah seirama dengan detak jantungnya yang bergemuruh hebat. Rasa amarah, cemburu, dan kekhawatiran yang ia sangkal mati-matian kini bercampur aduk menjadi satu bom waktu yang siap meledak.

Braaaakk

Mahesa mendorong pintu ruang kesehatan dengan kasar tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dua orang petugas medis kantor yang sedang berjaga langsung tersentak kaget dan berdiri tegak saat melihat sang Direktur Utama berdiri di ambang pintu dengan wajah menggelap dan raut pembunuh.

Namun, tatapan Mahesa tidak tertuju pada petugas medis. Matanya langsung mengunci tirai putih di sudut ruangan yang setengah terbuka.

Di sana, di atas brankar, Inara terbaring lemah dengan selang infus yang menancap di punggung tangannya. Wajahnya terlihat sangat pucat, matanya terpejam rapat dengan napas yang pendek-pendek. Dan tepat di samping brankar itu, Arga sedang duduk di kursi, tangannya baru saja hendak membenarkan posisi selimut tebal yang menutupi bahu Inara.

"Keluar," desis Mahesa, suaranya rendah namun bergetar menahan ledakan amarah yang luar biasa.

Arga menoleh, terkejut melihat kehadiran atasannya yang mendadak. Pria itu langsung berdiri dan membungkuk hormat.

"Pak Mahesa? Apa anda ingin menengok Bu Inara?"

"Saya bilang keluar, Pak Arga. Dan bawa semua petugas medis di sini keluar. Sekarang juga," potong Mahesa tajam, matanya menatap Arga dengan pandangan menguliti, seolah siap memecat pria itu detik ini juga jika berani membantah.

Arga yang menangkap aura ketegangan yang tidak biasa itu akhirnya mengangguk kaku. Dia melirik Inara sekilas dengan tatapan khawatir sebelum akhirnya melangkah keluar, diikuti oleh dua petugas medis yang buru-buru menutup pintu rapat-rapat. Mereka memang tak tahu ada hubungan apa Mahesa dan Inara. Namun, yang mereka tahu selama ini Mahesa selalu bersikap sedikit keras kepada Inara.

Kini, hanya ada Mahesa dan Inara di dalam ruangan yang beraroma obat itu. Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti atmosfer.

Mahesa melangkah mendekati brankar. Genggaman tangannya mengencang saat melihat wajah istrinya yang begitu rapuh. Namun, rasa cemburu yang membakar logikanya membuat kata-kata yang keluar dari bibirnya justru kembali menjadi belati yang kejam.

"Hebat sekali kamu, Inara," ujar Mahesa sinis, berdiri tepat di samping tempat tidur.

"Menolak naik mobil suami sendiri, hanya demi bisa memamerkan kemesraan dengan pria lain di depan lobi kantor? Apa ini caramu mencari perhatian saya? Atau kamu memang sudah tidak punya harga diri lagi?!"

Mendengar suara bentakan yang familier itu, kelopak mata Inara bergerak perlahan. Dia membuka matanya yang sayu dan berkabut karena pengaruh obat penurun demam. Menatap langit-langit ruangan sejenak, sebelum akhirnya pandangannya beralih pada Mahesa yang berdiri angkuh di atasnya.

Inara tidak menangis. Tidak ada lagi ketakutan di matanya. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang teramat sangat luas.

"Kenapa Bapak ada di sini?" tanya Inara.

Suaranya begitu parau dan pelan, nyaris seperti bisikan angin. Dia dengan sengaja kembali memanggil Mahesa dengan sebutan 'Bapak'. Sebuah penegasan jarak yang membuat dada Mahesa mendadak terasa nyeri.

"Bukankah jam begini biasanya anda menghabiskan waktu di ruangan anda bersama dengan Bu Clarissa? Bagaimana kalau dia mencari anda? Dia pasti salah paham kalau anda ada di sini!"

"Jangan mengalihkan pembicaraan!" bentak Mahesa lagi, tangannya mencengkeram besi pembatas brankar hingga berderit.

"Ada hubungan apa kamu dengan Arga?! Sejak kapan kamu membiarkan pria lain menyentuh tubuhmu dan memapahmu seperti tadi?!"

Inara tersenyum getir. Air matanya yang setitik lolos dari sudut matanya, membasahi bantal ruang kesehatan. Siksaan tuduhan dari Mahesa ini terasa begitu menggelikan di tengah tubuhnya yang sedang digerogoti demam 39 derajat.

"Pak Arga hanya memiliki apa yang tidak pernah Anda miliki, Pak Mahesa," lirih Inara, menatap suaminya dengan pandangan kasihan.

"Dia memiliki rasa kemanusiaan. Saat motor saya mogok di jalan dan saya hampir pingsan di aspal, dia menolong saya. Dia tidak memikirkan reputasi atau gosip kantor. Dia hanya menolong seorang manusia yang sedang sekarat."

Inara menarik napasnya dengan berat, dadanya naik turun menahan sesak.

"Sedangkan Anda? Anda tahu saya sakit sejak pagi. Anda tahu saya demam. Tapi Anda lebih memilih membiarkan saya menerjang angin jalanan demi menjaga perasaan mantan istri Anda. Jadi, atas dasar apa Anda datang ke sini dan menginterogasi saya seolah-olah saya telah mengkhianati pernikahan palsu ini?"

Degh.

Kalimat Inara menghantam ulu hati Mahesa dengan telak. Lidah pria bajingan itu mendadak kelu. Untuk pertama kalinya, keangkuhan Mahesa runtuh total di depan wanita jaminan utang ini. Kilat cemburu di matanya perlahan memudar, digantikan oleh rasa bersalah yang amat sangat besar yang merayap naik, mencekik tenggorokannya.

Dia menatap selang infus di tangan Inara, lalu menatap jas kerjanya sendiri yang semalam dia gunakan untuk menyelimuti wanita ini. Mahesa sadar, dia telah melangkah terlalu jauh dalam menyiksa batin istrinya.

"Inara... saya..." Mahesa mencoba bersuara.

Nadanya mendadak melunak, sekat-sekat egonya runtuh melihat setitik darah mulai keluar dari sela-sela jarum infus Inara karena wanita itu mengepalkan tangannya menahan sesak. Mahesa mengulurkan tangannya, berniat menyentuh kening Inara yang masih panas.

"Jangan sentuh saya, Pak Mahesa," potong Inara dingin, dengan sisa tenaganya dia menggeser tubuhnya menjauh dari jangkauan tangan Mahesa.

Inara memalingkan wajahnya ke arah dinding, memunggungi suaminya.

"Pergilah. Selesaikan proyek Anda. Ambil alih jabatan Direktur Utama itu, lalu ceraikan saya bulan depan seperti yang Anda janjikan. Tubuh saya memang milik utang keluarga saya, tapi sisa harga diri dan jiwa saya tidak akan pernah sudi Anda sentuh lagi."

Sreeeeettttt

Mahesa menggendong Inara pergi dari sana dan membawa Inara pulang.

"Turunkan saya Pak Mahesa! Anda akan malu sendiri karena menggendong saya seperti ini di depan para karyawan!" Inara mencoba untuk berontak tapi dia terlalu lemah.

Mahesa tak menjawab, bahkan dia bisa merasakan hembusan panas napas Inara. Padahal sebelumnya Inara baru saja sembuh dan sekarang istrinya harus sakit lagi. Sejujurnya fisik dan mental Inara sudah sangat lelah menghadapi perlakuan Mahesa yang berubah-ubah seperti bunglon.

1
~Ni Inda~
Akhir yg sedih 😭😭
Baru kali ini ada novel berakhir di puncak emosi yg membuat readers berimajinasi sendiri bgmn akhir kisah tokoh utama yaitu Inara meski sdh ada petunjuk arahnya
Good Thor...tulisanmu beda dg yg lain
Semangat trs berkarya 💪💪
~Ni Inda~
'Sedikit' kebaikanmu thd Inara adalah tdk mau menyentuhnya shg Inara msh terjaga kesuciannya utk lelaki baik yg kelak menjadi suaminya sbg jackpot
Dan semoga itu Gavin....sbg hadiah atas kesabaran.. kebaikan & ketulusan hatinya thd Inara
~Ni Inda~
Lelaki limited edition
~Ni Inda~
Bersyukurlah Inara....kesucianmu utk suami yg menghargaimu kelak
Heny
Smg inara dapat pengganti dan bahagia
Yamah Yamaah
kok tamat cuman gitu
Heny
Thor jng sakiti inara lepas kan dia dr mahesa
~Ni Inda~
Bekukan hatimu Inara...belajar cerdas...usahakan utk merekam sikap & perkataan Mahesa utk buktii kejahatannya dihadapan orangtuanya termasuk ancamannya utkmu & Mamamu
Jadikan keberpihakan mertuamu sbg senjata utk balik menghancurkan Mahesa & Clarissa
Yuni Ngsih
Authooor ceritramu bgs banget ,apa ada bouncapnya Inara & Mahesa kembali untuk membimbing Arkha ...supaya ku ngga kecewa nih ....ok mksh & tetap semangat buat Author ...👍
Yuni Ngsih
Authooooor ku ngenes baca ceritramu Thor baru aja bahagia bersama Gavin .......ko Inara mau ditinggal kan ini ceritra Thor bikin ku sediiiiih knp tdk dirobah alur ceritranya kasian Inara ......ih ko ngeyel ya kan ini mah cuma ceritra.....karena ceritramu baguuus banget ....ok
Yam_zhie: huaaaa maaf kak 🙈🙈🙈
total 1 replies
Ambu Rinddiany Thea
😩😭😭😭😭
nely_48
sedih banget baca bab akhir ini,, 😭😭
Ilfa Yarni
aaaaa sedih amat sampe nangis aku bacanya
Muft Smoker
kaaak koq udh tamat aj ,, gx da bonchap ny kah????

gantuuung looo kak ,,
6690
kok gantung kak tamatnya
Arin
Ini beneran udah tamat?
Rahmawati Amma
seru ceritanya thor bagus🥰👍
Yam_zhie: makasih kak 😘
total 1 replies
Rahmawati Amma
di tunggu bab barunya kak😁✌️
Adi sudiro Dero
mau komen apa soal Kinara bingung!...jadi orang kok ya tolol n goblok ibarat suruh makan tapi ya pasti di makan la wong gak ada otak🤭🤭
Adi sudiro Dero
cerita pembodohan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!