NovelToon NovelToon
Obsesi Adik Ipar

Obsesi Adik Ipar

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Obsesi / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.

Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.

Sampai Rayhan Liem kembali.

Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.

Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.

Dan Yola memang berlari. Dua kali.

Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.

Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?

Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?

⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 015

Nyonya Liem yang Baru

"Rayhan, kamu harus lebih hati-hati. Orang yang terlalu baik pada janda kakaknya sendiri mudah disalahpahami."

Kalimat Celine mengikuti Yola sampai koridor.

Ia berjalan tanpa menoleh. Liem Mansion yang biasanya terasa terlalu besar mendadak terasa terlalu sempit. Setiap lukisan keluarga di dinding seperti ikut mendengar, setiap langkah staf yang tertahan di balik pintu seperti menyimpan versi cerita mereka sendiri.

Yola masuk ke ruang memorial Kevin dan menutup pintu pelan.

Di dalam, udara lebih dingin. Foto Kevin berdiri tenang di atas meja. Bunga putih dari florist sudah mulai layu di ujung kelopaknya. Botol kaca antik dari keluarga Hartono belum dibawa ke sini, tetapi aroma pear blossom samar dari kain pembersih masih menempel di jari Yola.

Ia berdiri di depan foto Kevin, lalu tertawa tanpa suara.

"Lucu, ya," bisiknya. "Dulu aku takut orang mengasihani aku karena menjadi jandamu. Sekarang aku takut orang mengira aku menginginkan adikmu."

Foto Kevin tentu tidak menjawab.

Yola menutup mata. Yang paling menyakitkan bukan kata-kata Celine. Perempuan seperti Celine memang akan selalu memilih kata yang paling rapi untuk melukai.

Yang paling menyakitkan adalah Rayhan diam.

Ia tidak berhak menuntut pembelaan dari Rayhan. Itu yang terus Yola katakan pada dirinya sendiri. Rayhan punya tunangan. Punya perjodohan bisnis. Punya nama keluarga yang harus dijaga. Yola hanya janda kakaknya, penghuni rumah yang masih dibiarkan tinggal karena Mama Liem menyayanginya.

Hanya.

Kata itu membuat dadanya sesak.

Ketukan terdengar di pintu.

Yola segera mengusap sudut matanya, meski tidak ada air mata yang jatuh. "Masuk."

Naomi menyembulkan kepala. Wajahnya penuh amarah yang berusaha ditahan.

"Kak Yola, Celine itu keterlaluan."

"Naomi, jangan bicara begitu di rumah orang."

"Ini juga rumah Kak Yola."

Yola tersenyum tipis. "Kamu terlalu cepat memberi status pada orang."

Naomi masuk dan menutup pintu. "Aku tahu Kak Yola dengar semuanya. Aku juga tahu Kak Rayhan nggak ngomong apa-apa. Tapi bukan berarti Celine benar."

"Dia tunangan Rayhan."

Naomi seperti tersedak kata-kata sendiri. "Perjodohan keluarga."

"Tetap tunangan."

"Kak Yola ngomongnya tenang banget sampai bikin aku pengin teriak."

"Kalau kamu teriak, Celine menang."

Naomi menggigit bibir, jelas masih marah. "Aku dulu memang suka Kak Rayhan."

Yola terdiam.

Naomi memalingkan wajah. "Iya, suka. Mungkin masih sedikit. Aku nggak tahu. Tapi setelah lihat Celine tadi, aku jadi ingat kenapa aku nggak pernah serius berharap. Di dunia mereka, perasaan sering kalah sama nama keluarga."

"Naomi..."

"Aku nggak sedih." Naomi mengangkat dagu, tetapi matanya terlalu basah untuk mendukung kalimat itu. "Aku cuma kesel. Celine selalu begitu sejak dulu. Kalau bicara di depan orang tua manis banget, tapi kalau cuma ada perempuan yang dia anggap lebih rendah, kata-katanya kayak jarum."

Yola menyentuh tangan Naomi sebentar. "Kamu pulang dulu. Jangan sampai keluargamu khawatir."

"Aku nggak mau ninggalin Kak Yola sendiri."

"Aku tidak sendiri."

Naomi menatap foto Kevin, lalu menunduk. "Maaf."

"Tidak perlu minta maaf."

Mereka berdiri beberapa saat dalam diam. Dari luar, suara langkah mendekat. Bukan langkah Rayhan. Terlalu ringan, terlalu teratur.

Pintu belum diketuk ketika suara Celine terdengar.

"Boleh aku masuk?"

Naomi langsung menegang.

Yola menatap pintu. "Silakan."

Celine masuk dengan senyum yang tidak lagi perlu berpura-pura terlalu manis. Ia melihat Naomi, lalu mengangkat alis.

"Masih di sini, Naomi?"

"Masih. Kenapa?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin bicara dengan Yola sebentar."

"Bicara di depan aku saja."

Celine tertawa pelan. "Kamu benar-benar suka menjadi penjaga, ya?"

"Kalau ada yang perlu dijaga, iya."

Yola menyentuh lengan Naomi. "Naomi, tunggu di luar."

"Kak Yola."

"Tolong."

Naomi menatap Celine dengan marah, lalu keluar. Pintu tertutup, tetapi Yola tahu Naomi pasti tidak pergi jauh.

Celine berjalan mendekati meja memorial. Matanya berhenti pada foto Kevin.

"Kevin kelihatan lembut."

Yola tidak menjawab.

"Aku pernah bertemu dia dua kali. Tidak banyak bicara. Waktu itu aku pikir, laki-laki seperti dia cocok dengan perempuan seperti kamu." Celine menoleh, senyum tipis di bibirnya. "Tenang. Tidak mencolok. Tidak mengganggu."

"Jika Nona Celine datang untuk menghina almarhum suami saya, saya akan meminta Pak Wahyu mengantar Anda keluar."

"Aku tidak menghina Kevin." Celine mengangkat tangan, seolah tersinggung. "Aku hanya membandingkan. Kevin tahu tempatnya. Kamu juga seharusnya begitu."

Yola menatapnya.

Celine melangkah lebih dekat. Aroma parfumnya mahal, tajam, dan terlalu kuat untuk ruang memorial yang kecil.

"Aku tahu Mama Liem menyayangimu. Aku juga tahu keluarga Hartono sekarang berterima kasih padamu. Sangat menyentuh." Celine menurunkan suara. "Tapi jangan salah paham. Rasa terima kasih bukan status. Belas kasihan bukan hak."

"Saya tidak meminta status apa pun."

"Benarkah?"

Yola menggenggam ujung cardigan.

Celine memperhatikan gerakan itu dan tersenyum. "Kamu tinggal di rumah ini, mengurus Mama Liem, menyentuh luka Rayhan, menerima hadiah dari Hartono, membuat Naomi memujamu. Untuk perempuan yang tidak meminta apa pun, kamu mengambil cukup banyak ruang."

"Saya melakukan yang diminta keluarga."

"Keluarga siapa?"

Pertanyaan itu mengulang bayangan Rayhan di malam pertama ia pulang.

Yola merasakan punggungnya dingin.

"Keluarga Liem," jawabnya.

"Keluarga Liem akan berubah." Celine menatap foto Kevin sebentar, lalu kembali kepada Yola. "Kevin sudah tidak ada. Mama Liem butuh menantu yang bisa berdiri di samping putra yang masih hidup, bukan perempuan yang terus bersembunyi di balik altar orang mati."

Wajah Yola memucat.

"Cukup."

"Belum." Celine mendekat satu langkah lagi. "Aku tidak peduli kamu ingin tinggal di sini sampai kapan. Tapi begitu aku menikah dengan Rayhan, aturan rumah ini berubah. Aku tidak akan membiarkan janda kakaknya menjadi bayangan di setiap ruangan."

Yola mengangkat dagu. "Saya tidak pernah menjadi bayangan siapa pun."

"Kalau begitu buktikan dengan tahu kapan harus pergi."

Di luar pintu, sesuatu bergerak. Mungkin Naomi. Mungkin Sari. Yola tidak menoleh.

Celine merapikan tas kecilnya, kembali memasang senyum tipis.

"Aku akan bicara baik-baik dengan Mama Liem nanti," katanya. "Tentu bukan hari ini. Aku cukup tahu diri untuk tidak membuat calon ibu mertuaku lelah. Tapi cepat atau lambat, rumah sebesar ini butuh nyonya rumah yang jelas. Staf perlu tahu kepada siapa mereka menunduk. Tamu perlu tahu siapa yang menyambut mereka. Dan Rayhan..."

Celine berhenti sejenak, menikmati perubahan kecil di wajah Yola.

"Rayhan perlu istri yang tidak membuat orang berbisik setiap kali namanya disebut."

"Nikmati saja perhatian semua orang untuk sementara, Yola. Sebentar lagi, aku yang akan berdiri di samping Rayhan."

Ia berhenti di depan pintu, lalu menoleh sekali lagi.

"Sebentar lagi, aku yang akan menjadi Nyonya Liem yang baru."

1
Nia Nara
Dalam budaya chindo, belum pernah nemu adik ipar menikahi cici ipar (soso)nya. Menikahi koko iparnya (cihu), di generasi mama saya masih ada. Generasi saya tidak pernah saya dengar lagi.
Nia Nara
Thor, bakcang gak afdol kalau gak pake daging babi, setidaknya itu di keluarga saya. Jarang yg suka ayam kecuali saya 🤣
Nia Nara
Pas baca festival makan bakcang, baru ngeh ini cerita keluarga chindo ya.. Liem.. Tan… baru ngeh 😄
Nia Nara
Apa Rayhan sudah ada rasa jauh sebelum Yola jadi istri Kevin ya?
👣Sandaria🦋
novel yg benar-benar tidak bisa membuatku berhenti👍
👣Sandaria🦋
tiga bab sehari, Author. pliss🤗😅
Lily
keknya seru nih
👣Sandaria🦋
Novel ter-epic yg kubaca di 2026 ini👍
up lagi, Author. banyak-banyak!😅
👣Sandaria🦋
seharusnya Adrian bilang "silahkan panik!" 🤣
👣Sandaria🦋
gaya tulisan authornya punya aura magis😅
👣Sandaria🦋
wow. sepertinya aku jatuh cinta dengan cerita ini, Kak😍
Fitri Yastuti
lanjutt kak, lg seru ini
Fitri Yastuti
bagus ceritanya, nm bahasanya jg bgus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!