Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dorongan Menikah
Kediaman Mahendra
Juan melangkahkan kaki menuju kamar ibunya setelah mendapat kabar bahwa Sinta jatuh sakit sejak dua hari yang lalu. Pria berparas tampan dengan pembawaan tegas itu menaiki anak tangga satu per satu hingga akhirnya berhenti di depan pintu kamar.
"Ma..."
Juan membuka pintu perlahan. Di atas ranjang, Sinta tampak terbaring lemah dengan wajah yang sedikit pucat.
"Juan... sayang. Mama kangen."
Juan segera menghampiri dan memeluk ibunya. Meski dikenal sebagai pria dingin dan gengsi mengungkapkan perasaan, kasih sayangnya selalu terlihat dari sikap dan tindakannya.
"Ju, sebenarnya sudah lama ada yang mengganjal di hati Mama," ucap Sinta lirih. "Pulanglah. Tinggal lagi di rumah bersama Mama dan Papa."
"Ma, Juan sudah tiga puluh tahun. Masa masih tinggal bersama orang tua?"
Sinta mengembuskan napas pelan.
"Bukan itu maksud Mama. Belakangan ini Mama sering mendengar gosip tentang kamu dan asistenmu, Rangga. Katanya putra Pak Bram dan Bu Sinta yang tampan itu... suka sesama laki-laki. Mama sedih mendengarnya."
Juan mengusap wajahnya pelan.
"Gosip itu tidak benar, Ma. Rangga hanya asisten pribadi Juan. Wajar kalau kami sering bersama."
Sinta membelalakkan mata.
"Mama takut kalau gosip itu benar. Makanya Mama ingin kamu tinggal di rumah lagi. Sekarang Mama tanya, memangnya kamu tidak tertarik dengan perempuan?"
Juan terdiam.
Kesibukannya membangun perusahaan membuat urusan asmara nyaris tidak pernah terlintas dalam pikirannya.
"Kok diam?" Sinta semakin panik. "Jangan bilang benar, ya? Aduh, Papa... bagaimana ini? Anak semata wayang kita masa..."
"Mama..." Juan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bukan begitu."
"Lalu bagaimana?"
"Juan hanya belum ingin menjalin hubungan. Menurut Juan, kebanyakan perempuan mendekati karena harta. Jadi, Juan memilih fokus membangun karier dulu."
Sinta menggeleng pelan.
"Memang tidak bisa dimungkiri, banyak perempuan ingin hidup berkecukupan. Itu hal yang wajar. Mereka ingin masa depan yang terjamin. Tapi bukan berarti tidak ada perempuan yang tulus."
Sinta menggenggam tangan putranya.
"Lihat Mama. Dari dulu Mama menemani Papa merintis usaha dari nol. Jatuh bangun bersama. Menjadi pasangan bukan hanya menikmati hasil, tetapi juga saling menguatkan saat keadaan sulit." Bu Sinta menatap sendu sang putra, sorot matanya yang teduh dan menenangkan.
Juan hanya menunduk memandangi lantai marmer.
"Pokoknya, buktikan kalau gosip itu tidak benar. Kenalkan seorang perempuan kepada Mama." Bu Sinta mengeratkan pegangan ganggaman tangan pada putranya.
"Ma... sekarang Juan benar-benar sedang sibuk."
"Sibuk apa? Mama sering lihat kamu pergi ke luar negeri bersama Rangga."
"Itu urusan pekerjaan, Ma."
Juan mengembuskan napas panjang.
"Juan pamit dulu. Semoga Mama cepat sembuh."
"Tunggu."
Langkah Juan terhenti.
"Tahun ini Mama ingin melihat kamu menikah. Umurmu sudah cukup."
Juan hanya tersenyum tipis sebelum melangkah keluar dari kamar.
****
Brak!
Pintu kamar Raya diketuk keras hingga membuat gadis itu terkejut.
Tubuhnya yang sejak semalam demam tinggi akhirnya menyerah. Seluruh persendiannya terasa nyeri, kepalanya berdenyut, sementara punggungnya seakan dipukul berkali-kali.
"Bangun, Raya!" bentak Maimun dari luar kamar. "Jangan banyak alasan. Baru demam sedikit saja sudah bermalas-malasan. Lihat orang-orang di luar sana. Mereka berjuang mencari uang demi sesuap nasi."
Bentakan seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Raya.
Sejak kecil ia terbiasa menerima omelan, bahkan pukulan.
Sepuluh tahun yang lalu, saat duduk di bangku sekolah, Raya pernah pulang membawa rapor dengan peringkat tiga.
Bukannya dipuji, ia justru dipukul menggunakan pecut karena dianggap menurunkan prestasi.
Sejak hari itu, setiap pembagian rapor atau kenaikan kelas, Raya selalu dihantui rasa takut hingga jatuh sakit.
Dengan tubuh yang masih lemas, Raya memaksakan diri bangun.
"Belikan Ibu sayur. Kulkas kosong. Sebentar lagi abangmu pulang."
"Baik, Bu."
Tanpa membantah, Raya mengenakan sweter tebal untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk tubuhnya. Wajahnya masih memerah karena demam ketika ia tiba di warung sayur langganan.
Beberapa ibu tengah berkumpul sambil mengobrol.
"Eh, Neng Raya!" sapa Bu Siti dengan senyum yang sulit diartikan. "Lagi libur, ya?"
"Iya, Bu. Hari ini hari Sabtu."
"Masih betah tinggal di kampung? Teman-temanmu sudah banyak yang sukses di kota."
Bu Siti tersenyum tipis.
"Anak Ibu, si Sari, sekarang kerja di hotel. Gajinya puluhan juta. Pacarnya juga tampan dan mapan. Tiap bulan sering memberi Ibu uang."
"Iya, Ray," sambung Bu Mustika. "Kamu cantik, masih muda, badannya juga bagus. Kalau kerja di kota, mungkin hidupmu sudah jauh lebih enak."
"Lihat anak Bu Lisa. Dia memilih menikah dengan duda kaya. Hidupnya sekarang serba berkecukupan."
Raya hanya tersenyum tipis sambil memilih bayam yang masih segar.
"Apa jangan-jangan kamu belum menikah karena status sosialmu?" tanya Bu Mustika.
Bu Siti terkekeh.
"Siapa juga yang mau sama perempuan bergaji pas-pasan? Ditambah ibunya terkenal suka minta uang. Belum lagi harus mengurus ibunya yang sering sakit. Lelaki zaman sekarang pasti berpikir dua kali."
Ucapan itu terasa menusuk.
Namun, Raya memilih diam.
Ia sudah terlalu sering mendengar kata-kata semacam itu.
"Kalau mau, saya kenalkan dengan Pak Darmo," kata Bu Mustika lagi sambil tertawa kecil. "Duda umur lima puluh tahun. Sawahnya luas. Memang lebih tua, tapi hartanya banyak."
Raya tetap tersenyum sopan.
"Bu, tempe satu papan, tomat, cabai sepuluh ribu, dan bayam tiga ikat. Berapa semuanya?"
Setelah menyerahkan uang lima puluh ribu, Raya menunggu kembaliannya.
Tatapannya sempat beralih kepada Bu Siti dan Bu Mustika yang masih memandangnya dengan tatapan meremehkan.
Raya mengembuskan napas pelan.
Kali ini, ia merasa sudah saatnya mengatakan sesuatu.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, dan dukung terus cerita ini, ya! 💗