NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27 - Pesanan Pertama

Pesanan pertama membawa tiga masalah sekaligus.

Masalah pertama, Bu Sri ingin gamisnya selesai lebih cepat karena ada pengajian keluarga dua hari lagi.

Masalah kedua, dua ibu lain ikut memesan setelah melihat Bu Sri membayar uang muka.

Masalah ketiga, mesin jahit Sari mulai mengeluarkan suara aneh setiap kali Nadia menginjak pedal terlalu cepat.

Tak-tak-tak-krek.

Nadia berhenti.

Sari yang sedang membungkus gorengan menoleh.

"Rusak?"

"Belum. Tapi kalau dipaksa, bisa."

Rani yang duduk mewarnai di lantai langsung berkata, "Mesinnya batuk seperti Om Raka."

Raka yang kebetulan datang membawa teh untuk Nadia terdiam.

Sari menutup mulut Rani.

"Rani!"

Raka justru tertawa pelan.

"Tidak apa-apa. Mesin ini mungkin perlu obat juga."

Nadia menatap mesin jahit, lalu Raka.

"Mas Raka tahu tempat servis?"

"Pak Jaya bengkel motor, bukan mesin jahit."

"Aku tahu. Jangan kirim mesin jahitku ke tempat Arman."

Raka tersenyum.

Sari berkata, "Di pasar ada tukang servis mesin jahit, tapi biayanya lumayan."

Nadia menghitung cepat.

Kalau mesin diperbaiki, modal berkurang. Kalau tidak diperbaiki, pesanan bisa terlambat. Kalau pesanan pertama terlambat, nama yang baru mulai tumbuh bisa layu.

"Servis," kata Nadia.

Sari ragu.

"Yakin?"

"Yakin. Kita tidak bisa jual baju dengan alat yang sekarat."

Raka mengeluarkan buku catatan kecil dari tas.

Nadia menatapnya.

"Mas Raka bawa buku itu ke warung?"

"Saya merasa akan dibutuhkan."

Sari tertawa.

Raka mencatat biaya servis sebagai pengeluaran usaha. Nadia menatap tulisan rapi itu. Usaha. Kata itu terasa semakin nyata.

Mereka membawa mesin jahit ke pasar siang itu. Tukang servis, Pak Salim, memeriksa sambil menggumam. Katanya ada bagian yang aus dan perlu dibersihkan total.

"Bisa selesai besok pagi," katanya.

Nadia mengerutkan kening.

"Besok pagi? Saya butuh malam ini."

Pak Salim mengangkat bahu.

"Kalau mau bagus, tidak bisa buru-buru."

Raka berkata, "Ada mesin sewa?"

Pak Salim menatapnya.

"Ada, tapi tua."

"Bisa dipakai malam ini?"

"Bisa, asal hati-hati."

Nadia langsung setuju.

Raka membayar uang sewa sementara, Nadia mencatat sebagai utang usaha pada dirinya sendiri. Mereka membawa mesin sewa pulang dengan becak motor. Sepanjang jalan, Nadia memegang mesin itu seperti bayi.

Raka menggodanya.

"Saya tidak pernah melihatmu memegang sesuatu selembut itu."

"Ini calon uang."

"Saya juga calon..."

Raka berhenti sendiri.

Nadia menoleh.

"Calon apa?"

"Tidak jadi."

"Mas Raka."

"Calon dimarahi kalau mengganggu calon uang."

Nadia tertawa keras sampai sopir becak motor ikut tersenyum.

Malam itu, rumah kecil berubah menjadi ruang kerja. Nadia menjahit. Raka memotong benang, mencatat ukuran, dan menempelkan kertas nama di setiap potongan kain. Ia lambat, tapi teliti.

Sari datang setelah menutup warung, membawa kopi untuk dirinya sendiri dan teh jahe untuk Raka.

"Aku bantu pasang kancing."

Nadia menatap kakaknya.

"Mbak yakin?"

"Aku tidak sehebat kamu, tapi kancing aku bisa."

Mereka bekerja bertiga.

Untuk pertama kalinya setelah lama, Sari tampak bersemangat bukan karena mengurus kebutuhan orang lain, tapi karena ikut membangun sesuatu. Joko datang menjemput Sari, melihat istrinya menjahit kancing, lalu duduk menunggu tanpa mengeluh.

"Mas Joko," kata Nadia, "kalau bosan, boleh pulang dulu."

Joko menggeleng.

"Aku tunggu. Sekalian bisa antar Sari. Malam."

Sari menatap suaminya sebentar.

Ada sesuatu berubah di antara mereka. Kecil, tapi Nadia melihatnya.

Sekitar pukul sebelas, satu gamis selesai. Sari mengangkatnya, matanya berbinar.

"Ini lebih bagus dari yang pertama."

Nadia memeriksa jahitan.

"Ada yang miring sedikit."

Raka mendekat.

"Di mana?"

Nadia menunjuk.

Raka menyipit.

"Saya tidak melihat."

"Karena Mas Raka sayang padaku."

"Mungkin. Tapi pembeli juga belum tentu bawa kaca pembesar."

Sari tertawa.

Nadia memperbaiki bagian kecil itu juga. Ia tidak ingin pesanan pertama hanya "cukup". Ia ingin orang merasa uang mereka tidak sia-sia.

Keesokan paginya, Bu Sri datang mengambil gamis.

Ia mencoba di kamar Sari, lalu keluar dengan wajah berbeda.

"Pas."

Ibu-ibu di warung langsung berkomentar.

"Bagus!"

"Warnanya adem."

"Kelihatan langsing, Bu Sri."

Bu Sri tersenyum lebar.

"Saya bayar sisanya sekarang."

Nadia menerima uang itu dengan kedua tangan. Ia mencatat lunas.

Lalu Bu Sri berkata, "Mbak Nadia, kalau saya pakai ke pengajian, nanti kalau ada yang tanya boleh saya kasih nomor Sari?"

Sari hampir menjatuhkan sendok.

Nadia menjawab, "Boleh, Bu. Tapi bilang pesanan bertahap, ya. Kami masih kecil."

"Justru yang kecil biasanya teliti."

Kalimat itu menjadi iklan gratis.

Siang harinya, dua orang baru datang bertanya. Sore, satu orang memesan. Malam, Bu Sri mengirim kabar lewat tetangga bahwa tiga sepupunya ingin melihat contoh kain.

Nadia duduk di lantai rumah kecil, menatap daftar nama yang bertambah.

"Mas Raka."

"Ya?"

"Aku mungkin butuh mesin jahit sendiri."

Raka sudah membuka buku catatan.

"Baru atau bekas?"

Nadia menatapnya.

"Mas Raka tidak akan bilang terlalu cepat?"

"Aku akan tanya hitungannya dulu."

Ia menggeser buku.

Mereka menghitung modal, pesanan, potensi untung, biaya servis, harga mesin bekas. Nadia menyadari satu hal: Raka tidak menahannya dengan kekhawatiran. Ia mengajaknya melihat risiko agar langkahnya tidak patah.

Di rumah Pak Darto, kabar gamis Bu Sri sampai lebih cepat dari yang Nadia kira.

Bu Ratna sedang membicarakan daftar undangan ketika seorang tetangga datang mengambil piring pinjaman.

"Bu, tadi Bu Sri pakai baju buatan Nadia. Bagus sekali. Katanya sudah ada banyak pesanan."

Eyang Marni mendengus.

"Baru satu baju sudah dibilang banyak."

Tetangga itu tersenyum.

"Tapi orang-orang memang suka, Bu."

Bella duduk diam.

Ia menatap kain untuk akadnya yang terlipat di kursi. Kain itu pilihan Bu Ratna, warna merah muda menyala dengan payet murah. Tiba-tiba ia merasa kain itu terlalu ramai, terlalu memaksa orang melihat.

"Bu," katanya pelan setelah tetangga pergi.

"Apa?"

"Apa bajuku bisa diganti modelnya?"

Bu Ratna mengerutkan kening.

"Kenapa? Ini sudah bagus."

"Aku ingin yang lebih sederhana."

Eyang Marni langsung menyela, "Jangan macam-macam. Uang kita terbatas."

Bella menunduk.

Uang terbatas.

Dua kata itu terus mengejarnya sejak ia memilih Arman.

Ponselnya berbunyi. Pesan Arman.

Besok aku lembur. Jangan minta ketemu.

Bella menggenggam ponsel.

Di rumah kecil, Nadia dan Raka masih menghitung mesin jahit.

Di rumah Pak Darto, Bella menghitung hari menuju akad dengan dada makin sempit.

Pesanan pertama Nadia selesai.

Tapi bagi Bella, hari itu terasa seperti tanda bahwa kekalahan bisa dijahit pelan-pelan, sementara kemenangan yang ia rebut justru mulai robek.

Malamnya, Bella mencoba menulis daftar hal yang harus ia siapkan setelah menikah. Bu Ratna menyuruhnya agar tidak terlalu banyak berpikir, tapi Bella tetap menulis.

Kontrakan.

Kasur.

Kompor.

Piring.

Belanja harian.

Semakin panjang daftar itu, semakin sesak dadanya. Di kehidupan lalu, ia hanya melihat Nadia turun dari mobil, membawa bingkisan, memakai gelang. Ia tidak pernah memikirkan siapa yang membeli beras, siapa yang mencuci piring, siapa yang dihina saat uang kurang.

Ponselnya menyala. Bukan pesan Arman, melainkan foto dari grup ibu-ibu kampung. Bu Sri memakai gamis hijau Nadia di pengajian. Komentarnya ramai.

Cantik.

Adem.

Mbak Nadia bisa jahit juga?

Bella mematikan layar.

Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan: Arman yang makin jauh, atau Nadia yang makin terlihat hidup. Untuk pertama kalinya, Bella merasa masa depan yang ia rebut tidak seperti gambar di kepalanya. Gambar itu mulai luntur, dan di baliknya ada harga yang belum pernah ia hitung.

Bu Ratna masuk kamar dan melihat daftar itu.

"Untuk apa menulis semua ini?"

"Supaya tahu butuh apa."

"Setelah akad, nanti juga jalan sendiri."

Bella menatap ibunya.

"Dulu Ibu juga begitu?"

Bu Ratna terdiam.

Pertanyaan itu terlalu sederhana, tapi membuka pintu yang tidak ingin ia lihat. Dulu ia juga masuk rumah tangga dengan banyak perhitungan. Bedanya, ia selalu memastikan ada orang lain yang membayar sebagian harganya.

"Jangan terlalu banyak berpikir," kata Bu Ratna akhirnya.

Namun Bella sudah telanjur berpikir.

Dan pikiran itu tidak mau diam lagi malam itu.

Sama sekali tidak.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!