NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Umpan yang Dibiarkan Masuk

Setelah pertemuan di ruang rapat selesai, Rusdi dan asistennya berjalan keluar dengan wajah berusaha tenang tapi jelas sekali terlihat tegang dan kurang nyaman. Punggung mereka agak membungkuk sedikit, seolah ada beban tak terlihat yang menindih sejak mendengar ucapan‑ucapan sederhana tapi menusuk dari mulut Faris. Di dalam hati, Rusdi mulai sadar satu hal penting: orang yang duduk diam di sebelah Viona itu bukan sekadar penjaga biasa seperti dugaan awalnya. Dia lebih tajam daripada mata‑mata, lebih teliti daripada pencatat berkas, dan lebih paham seluk‑beluk urusan kotor daripada banyak orang yang sudah lama berkecimpung di dunia gelap. Namun karena rencananya sudah terlanjur dimulai dan jalan mundur rasanya memalukan sekaligus berisiko besar, dia memilih tetap maju pelan‑pelan — berharap nanti bisa menemukan celah yang cukup lewat untuk menyelinap masuk dan mengambil keuntungan.

Di dalam ruangan rapat yang kini kembali sepi, Viona menutup berkas di depannya perlahan lalu berbalik menatap Faris yang masih duduk santai di kursinya, kaki disilang rapi, satu tangan menyangga pipi, tangan lainnya memutar‑mutar sebatang rokok yang belum dinyalakan di antara jari‑jarinya dengan gerakan luwes dan rileks. Di bibirnya tergambar senyum miring yang khas — senyum yang seolah baru saja selesai menonton pertunjukan sandiwara murahan yang cukup lucu untuk dinikmati.

Kamu sengaja tidak langsung menutup jalan mereka sepenuhnya ya, Faris. tanya Viona pelan sambil merapikan kertas‑kertas yang berserakan di meja besar itu. Suaranya tenang tapi penuh rasa ingin tahu yang mendalam. “Kalau saja kamu mau, kita bisa langsung menolak kerja sama dan mengusir mereka hari ini juga.”

Faris mengangkat wajah perlahan, matanya menyipit sedikit seolah menimbang jawaban yang paling pas sekaligus paling nyelekit. Dia menggeleng pelan sambil tertawa kecil rendah di tenggorokan.

Lho Bu, kalau pintu langsung dikunci rapat dari awal, mana mereka berani masuk sampai ke dalam kandang yang kita siapkan? Kan kita butuh lebih dari sekadar dugaan atau firasat saja — kita butuh bukti yang tebal, jelas, dan tak bisa disangkal oleh mulut manis sekalipun,” jawabnya santai sekali, nada bicaranya ringan seperti sedang membicarakan hal paling sepele di dunia. Lagipula, lihat saja kelakuannya baik‑baik: mulutnya penuh pujian dan janji tulus, tapi tangannya gemetar halus setiap kali ditatap lekat‑lekat, matanya tak pernah berani menatap lurus terlalu lama, dan kalimatnya sering kali terputus‑putus tak sengaja. Persis persis seperti kakaknya dulu — cuma bedanya si kakak lebih berani berlagak tenang, sedangkan si adik ini jauh lebih penakut dan mudah panik. Kalau kita biarkan saja dia bergerak bebas sedikit, berjalan menurut keinginannya sendiri tanpa terlalu banyak dihalangi… saya yakin sekali: orang yang terburu‑buru karena ingin cepat menang, pasti akan melakukan kesalahan demi kesalahan tanpa sadar. Dan setiap kesalahan itu akan menjadi jejak yang kita butuhkan.”

Dia kemudian bangkit berdiri perlahan, berjalan mendekati meja kerja dan mengeluarkan selembar kertas peta yang sudah ditandai dengan tinta merah di beberapa titik penting. Jari telunjuknya bergerak menunjuk satu per satu lokasi tersebut dengan gerakan lambat dan pasti.

Mulai besok pagi, kita jalankan semua perjanjian kerja sama sesuai permintaan mereka — tampak rapi, sopan, dan terbuka persis seperti yang mereka harapkan, jelas Faris sambil menatap Viona lekat‑lekat agar pesannya tertanam baik. Tapi ingat satu hal penting ya Bu: di balik tampilan terbuka itu, setiap lembar surat jalan, setiap tanda terima barang, setiap catatan mutasi gudang, dan setiap aliran uang akan dicatat rangkap tiga, disimpan di tempat berbeda, dan disalin ke arsip rahasia yang aman. Tidak ada satu langkah pun yang bisa lewat tanpa tertulis jelas. Selain itu, saya sudah menempatkan orang‑orang yang bisa dipercaya dan bekerja diam‑diam di sekitar bekas gudang lama itu — tempat yang dengan bangga mereka jadikan kantor resmi perusahaan baru bernama Surya Abadi itu. Mereka tidak akan mengganggu atau tampil, cukup mengawasi, mencatat, dan melaporkan segala hal kecil yang berubah atau terlihat aneh.

Viona mengangguk perlahan sambil mengikuti setiap gerakan dan penjelasan itu. Dan jika mereka mulai bergerak dengan cara licik atau menyelipkan hal‑hal yang tidak sah. tanyanya lagi, suaranya lebih tenang namun penuh kewaspadaan.

Faris tersenyum lebih lebar lalu mengeluarkan kotak korek api, cekrek! sekali bunyi ringan, nyalakan rokok di bibirnya lalu menghembuskan asap putih panjang perlahan ke arah jendela kaca besar yang menghadap ke kota.

Tenang saja Bu. umpan sudah diletakkan di tempat yang pas, pintu kandang sedikit saja terbuka seolah tak ada pengawasan ketat. Kalau ikan yang kelaparan karena serakah mau masuk sendiri ke dalam jaring yang kita pasang rapi‑rapi, kenapa harus kita tarik paksa dari luar Biarkan saja masuk makin dalam, merasa aman, merasa berhasil menipu… sampai akhirnya mereka terlalu jauh ke tengah dan sadar terlambat bahwa jalan keluar sudah tak ada lagi. Nanti saat jaring ditarik perlahan.barulah mereka paham bahwa kecepatan dan kelicikan mereka malah membawa mereka ke tempat yang paling tidak diinginkan.

Dia kembali menyandarkan badan di dinding dekat jendela, menikmati asap rokoknya dengan wajah tenang seolah tidak ada beban pikiran sama sekali, padahal di kepalanya sudah tersusun seluruh urutan kejadian, kemungkinan‑kemungkinan gerakan musuh, dan cara meresponsnya langkah demi langkah.

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!