NovelToon NovelToon
Kalau Gak Cinta,Kenapa PHP?

Kalau Gak Cinta,Kenapa PHP?

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alyra Senja

Tiga tahun menyimpan rasa dalam diam bukan hal yang mudah.apalagi kalau orang yang kamu cintai tidak pernah benar-benar melihatmu.
"gue Syakila adzkia putri.hanya ingin satu hal,yaitu bisa bersama kakak kelas yang selalu jadi alasan gue buat datang kesekolah setiap pagi".
Namun,takdir justru mempertemukan dia dengan seorang badboy yang penuh rahasia,namanya Galen athar wijaya.hingga terjadi suatu insiden yang membuat mereka harus menjalin kesepakatan yang dapat menguntungkan satu sama lain.
"Mari kita buat kesepakatan di mana lo harus tutup mulut soal kejadian barusan.dan gue bakal atur lo sama zayyan".
"Lo beneran?tapi sampai kapan?"
"Ya...sampai lo jadian sama dia.setelah itu kesepakatan kita selesai!"ucapnya serius.
"Deal..?"ucapnya mengulurkan tangan.
syakila meraih tangan itu dan kesepakatan pun di mulai.
setelah lama berlalu syakila berhasil dekat dengan zayyan bahkan lebih dari sekedar teman.namun perhatian itu...
kalau penasaran ikutin terus ya kelanjutannya.bye🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyra Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di panggil ke ruang BK

"Saat hati di penuhi rasa cinta,rintangan terasa lebih ringan untuk dilalui."

__________

Setibanya di klinik,syakila masih bersikeras bilang bahwa dirinya baik-baik saja. sayangnya,tidak ada seorang pun yang mempercayainya.

Terutama zayyan.

Bahkan saat masuk ke ruang pemeriksaan, zayyan masih menggendongnya hingga membuat wajah syakila tidak berhenti memanas.

"Kak,gue bisa jalan kok."

"Iya."ucapnya lembut.

"Tapi-kenapa masih digendong?"tanyanya canggung.

"Biar cepat."jawaban singkat itu langsung membuat syakila kehabisan amunisi.

Beberapa menit kemudian dokter selesai memeriksa lutut yang lecet dan pergelangan kaki yang membengkak.

"Untung tidak serius," kata dokter.

Syakila mengembuskan napas lega."Syukurlah."

"Tapi tetap perlu suntikan untuk membantu mengurangi nyeri dan bengkaknya."Senyuman di wajah syakila langsung lenyap.

"Apa?suntikan?!"dokter itu hanya mengangguk.

Syakila merasa dunianya runtuh.seumur hidupnya,ia hampir tidak pernah disuntik selain saat masih kecil.biasanya cukup minum obat.

"Dok,obat aja nggak bisa?"dokter menggeleng.

"Kebetulan stok obat yang sesuai habis."

"Habis?"

"Iya."syakila ingin menangis.

"Beneran nggak ada?"

"Yang tersedia cuma ini."dan dokter menunjuk sebuah jarum suntik,tubuh syakila langsung menegang,panas dingin.

Saat dokter mulai menyiapkan suntikan,syakila otomatis menarik selimut tipis di atas ranjang pemeriksaan lalu menggenggamnya erat-erat.

Keringat mulai muncul di dahinya."Kalau nggak jadi boleh nggak,dok?"

"Tidak."

"Kalau besok aja?"

"Tidak."

"Kalau minggu depan?"

Dokter hanya tersenyum."Tidak."

Syakila hampir putus asa.sampai tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh tangannya.Ia menoleh.

Kak zayyan.

Entah sejak kapan,laki-laki itu sudah berdiri di samping ranjang.tangannya menggenggam tangan syakila dengan erat.

"Tegang banget?"syakila mengerucutkan bibir.sementara zayyan justru tersenyum kecil.

"Nggak apa-apa."senyum itu begitu tenang dan terasa hangat.entah kenapa, perlahan rasa takut syakila mulai berkurang.

Atau mungkin...

Ia hanya terlalu sibuk memperhatikan wajah zayyan.jantungnya kembali berdetak tidak beraturan.padahal yang akan disuntik adalah dirinya.tapi yang membuatnya gugup justru orang yang menggenggam tangannya.

"Nggak sakit kok."suara zayyan terdengar lembut.membuat telinga gadis itu memerah begitu juga dengan wajahnya,syakila salting.

Dokter yang melihat tingkah keduanya hanya menggeleng pelan.

"Dasar anak muda."

Tanpa banyak bicara lagi, dokter menyuntikkan cairan tersebut ke bahu syakila.

Namun anehnya...

Syakila bahkan tidak menyadarinya.perhatiannya sepenuhnya tertuju pada zayyan.senyuman yang terus diberikan untuk menenangkannya.

Ia meneguk ludah nya kasar,kulit mereka yang saling bersentuhan membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.'kyyaaaaa~tangan kami bersentuhan.'teriak nya dalam hati melihat genggaman hangat yang tidak dilepaskan sejak tadi.

Sampai dokter selesai membereskan alat suntik dan berdeham pelan."Ehem."

Keduanya tidak bereaksi.dokter akhirnya tertawa kecil.

"Sampai kapan kalian mau saling lihat seperti itu?"

Deg.

Syakila langsung tersadar.matanya membulat.

zayyan juga refleks melepaskan genggamannya.

keduanya serempak mengalihkan pandangan ke arah yang berbeda.sedangkan zayyan langsung menatap ke arah dokter.

"Maaf, Dok."

Jawaban mereka keluar hampir bersamaan. membuat dokter kembali tertawa geli.sementara wajah Syakila sudah berubah merah sampai ke telinga.ia memegang dadanya pelan.sedari tadi jantungnya tidak berhenti berdetak begitu cepat.

Lebih cepat dari saat melihat jarum suntik.

lebih cepat dari saat terjatuh di perpustakaan.

lebih cepat dari apa pun yang pernah ia rasakan.'Bisa kena serangan jantung gue.'untuk pertama kalinya dalam hidupnya,syakila mulai curiga.

Mungkin memang benar.

Kekuatan cinta jauh lebih mengerikan daripada apapun.

"Ekhem.dok,bagaimana dengan mimisannya?"tanya zayyan tiba-tiba membuat syakila menatap ke arah dokter tersebut.

"Kalau itu kemungkinan di karenakan..."entah kenapa tiba-tiba ucapan dokter itu kian melambat,syakila yang menatapi gerak bibir itu dengan perasaan gelisah.

'Jangan bilang kalau gue mimisannya karna kak zayyan please...'mohonnya,ia menutup matanya takut kalau dokter itu mengatakan sesungguhnya.

"Kecapean.atau cuaca yang begitu panas."

Lah?!

Syakila ternganga mendengar jawaban dari sang dokter,'yeeyyy!berarti dokter nggak tahu dong.'

"ouuh."ucap zayyan.

___________

Keesokan paginya,syakila berjalan menuju kelas dengan langkah terseok-seok.setiap kali lututnya ditekuk,rasa nyeri langsung menjalar,begitu juga dengan pergelangan kakinya.

"Dasar galen sialan..."gerutunya pelan.

Kalau saja cowok itu tidak mendorongnya kemarin,ia tidak akan berakhir di klinik.dan tidak akan menghabiskan malam dengan memikirkan zayyan sampai susah tidur.

Meski...

Bagian terakhir itu sebenarnya bukan salah galen.syakila menggeleng cepat.

'Sudahlah,jangan dipikirkan.'namun begitu memasuki kelas,pikirannya langsung teralihkan.

Lea dan Alaska sedang mengobrol di dekat jendela.anehnya,sekarang mereka terlihat jauh lebih akrab dibanding beberapa hari lalu.

Syakila sampai curiga mereka diam-diam berteman tanpa mengakuinya.setelah duduk di bangkunya,lea langsung menghampiri.

"Kaki lo kenapa?"

Syakila baru membuka mulut."Eh-enggak—"

"Kiki li kinipi?."cibir alaska menyela,mengikuti cara bertanya lea."Sakit lah preak!kalau nggak sakit ngapain dia jalan kaya gitu."

Syakila langsung meliriknya begitu juga dengan lea.

"Siapa?-."tanya lea pelan,alaska bingung tapi ia masih menampilkan senyuman jahilnya.

"Elo."ucapnya gelisah,melihat raut wajah lea yang tampak tenang namun mematikan.

"Siapa nanyak!"

Skakmat.alaska mengerucutkan bibirnya, wajahnya bertekuk masam.

"Lo-"ucapnya tertahan.sedangkan syakila menghela napas.

Tak lama dia kembali tersenyum,senyuman manis dan cantik di wajahnya."siapa tuh ya~"ucapnya sengaja di besarkan.

Lalu menatap lea,dengan senyuman cantiknya namun begitu usil di mata lea."Ada orang yang suka sama ka— mmpphh...!"tiba-tiba mulutnya di bekap oleh lea.

"Jangan kurang ajar lo ya,banci."ungkap lea di telinga alaska membuat laki-laki itu memberontak,lalu menghempaskan tangan lea.

"hosh...hosh..."dadanya naik turun,tapi detik berikutnya."GUE NGGAK BANCI YA.IKAN LELE."hal itu membuat seisi kelas menatap mereka.

"GUE COWOK TULEN!MAU LO LIHAT BURUNG GU—"

EKHEM!

Deheman keras itu mematahkan ucapannya semua murid yang tadinya bising seketika sunyi.alaska yang berada di tengah deretan bangku,begitu juga dengan lea.mereka berbalik menatap pak bk yang menatap mereka tajam.

"gluk."alaska menelan ludah kasar.

"kalian berdua ikut saya ke kantor."tunjuknya ke arah mereka berdua.

Habis sudah.

Setibanya di kantor,suasana mendadak jauh berbeda dibanding beberapa menit lalu.

Pak guru sudah duduk di kursi kebesarannya.tangannya terlipat di atas meja.

Tatapannya bergantian mengarah pada Lea dan Alaska yang berdiri di depannya dengan kepala tertunduk.

Hening.

Sampai akhirnya beliau berdeham pelan."Ehem."lea dan alaska langsung menegakkan badan.

"Jadi..."pak guru melepas kacamatanya sebentar. "Apa maksud teriakan tentang burung yang tadi saya dengar?"

Alaska langsung menegang.

Habis sudah.

Pasti habis sudah.

"Sa-saya..." kata-katanya tersangkut di tenggorokan.

Pak guru mengangguk pelan."Bisa kalian jelaskan terlebih dahulu?"

Belum sempat alaska menyusun alasan,lea langsung angkat bicara.

"Iya,pak.tadi kami lagi bahas burung."ucapnya santai.

Seketika Alaska membalikkan badan.

Bruk.

Keningnya menempel ke dinding.memukul mukul pelan dinding tersebut.

Habis sudah.

Dasar Lea tolol.

"Burung?"ulang pak guru.

"Iya,pak."lea menjawab tanpa jeda sedikit pun.

wajahnya begitu serius sampai alaska hampir percaya kebohongannya sendiri.

"Kami habis bahas burung yang kami buru kemarin."

Pak guru terlihat tertarik."Oh ya?"

"Iya, Pak."

"Di mana kalian berburu?"

"Dihutan,pak."alaska perlahan menoleh.

Tunggu.

Kok malah makin panjang?

Pak guru mengangguk."Banyak kalian dapat?"

"Banyak banget,pak."jawab lea antusias,bahkan tersenyum ramah.

"Bapak mau ikut nggak?"alaska langsung memejamkan mata.

Ya Tuhan.tolong hentikan dia.

"Tidak." jawab pak guru tenang.

Lea mengangguk."Oh."

"Lain kali kalian harus hati-hati."lea dan alaska langsung menoleh bersamaan.

"Jangan pergi berdua saja ke tempat seperti itu. kalau kalian hilang nanti bagaimana?"

Lea mengangguk cepat."Aman itu, Pak."

"Kami bakal hati-hati."

Pak guru tampak puas."Bagus."

Kemudian beliau mengibaskan tangan pelan."Sudah.kembali ke kelas."

Lea langsung tersenyum lebar."Siap, Pak."ucap mereka serempak.

Alaska masih tidak percaya mereka lolos begitu saja.begitu pintu kantor tertutup di belakang mereka, Alaska langsung mengembuskan napas panjang.

"Puh..."tangannya mengusap dada.

Jujur saja,ia takut setengah mati.

Kalau tadi lea asal ngomong sedikit saja,mereka bisa saja mendapat hukuman.

Untungnya...

Lea memang pembohong kelas kakap.saat berbohong,bahkan tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya.

Alaska mengelap peluh di dahinya dengan punggung tangan.sementara Lea menoleh sambil menyeringai bangga.

"Gimana?"

Alaska mendesah."Gimana apanya?"

"Hebat kan temen lo ini?"lea menunjuk dirinya sendiri dengan penuh kebanggaan.

"Sekelas akting nasional."alaska langsung memutar bola mata.

"Narsis."

"Fakta."

"Nggak."

"Iya."

"Nggak."

Lea terkekeh lalu merangkul pundak alaska.

tinggi mereka memang tidak jauh berbeda.

Lea 173 cm.

Alaska 175 cm.

Meski begitu,lea tetap bertingkah seolah dirinya jauh lebih besar."panggil gue kakak."celetuknya membuat alaska mendelik."Nggak!"tolaknya.

"Kakak tampan."

"Jangan mimpi."

Lea tertawa menguyel-uyel pipi alaska gemas."utututu~imutnya adik gue."

"Gue bukan adek lo."kesalnya yang semakin imut.

Bersambung~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!