Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Serangan ke sarang Wings Of Hades (EPILOGI)
DUUUAAARRRRR!!
Ledakan besar mengguncang gerbang utama markas Wings of Hades.
Pecahan beton beterbangan ke segala arah.
Sirene darurat meraung tanpa henti.
Lampu merah berkedip di seluruh kompleks bawah tanah itu.
Di tengah hujan deras, Arkan melangkah maju tanpa ragu.
Tatapannya dingin.
Tidak ada ketakutan.
Tidak ada keraguan.
Yang ada hanya satu tujuan.
Menyelamatkan Kiara.
Rio berdiri di sampingnya sambil memeriksa magasin senjatanya.
"Pasukan khusus akan masuk dari sisi utara dan barat."
Arkan mengangguk.
"Kita langsung ke pusat markas."
"Seperti biasa."
"Seperti biasa."
Mereka saling menatap.
Lalu berlari menerobos asap ledakan.
Di dalam markas.
Kepanikan mulai menyebar.
Wings of Hades selama puluhan tahun beroperasi dari balik bayangan.
Mereka tidak pernah membayangkan seseorang akan berani menyerang markas utama mereka secara langsung.
Namun Arkan bukan orang biasa.
Sejak Kiara diculik...
Semua batas yang selama ini menahannya telah hilang.
BRAKKK!!
Pintu baja pertama dihancurkan.
Dua anggota Wings of Hades langsung tumbang.
Rio bergerak cepat melumpuhkan penjaga lainnya.
Mereka terus maju.
Lantai demi lantai.
Koridor demi koridor.
Tidak ada yang mampu menghentikan mereka.
Sementara itu.
Di ruang tahanan.
Kiara masih terikat.
Namun suara ledakan yang terdengar dari kejauhan membuat jantungnya berdegup keras.
Ia tahu suara itu.
Entah bagaimana.
Ia tahu.
Arkan datang.
Air matanya mulai mengalir.
"Dasar bodoh..."
bisiknya.
"Kau benar-benar datang."
Di ruang komando.
Aditya memperhatikan seluruh situasi melalui monitor.
Namun ekspresinya tetap tenang.
Seolah semua ini sudah diperkirakan.
Di belakangnya berdiri pria bertubuh tinggi yang selama ini selalu memakai topeng hitam.
Pria misterius yang menjadi tangan kanan Wings of Hades.
"Haruskah saya membunuh mereka?"
tanya pria itu.
Aditya tersenyum.
"Tidak."
"Tidak?"
"Aku ingin melihatnya."
Pria bertopeng mengernyit.
"Melihat apa?"
Aditya menatap layar yang menampilkan wajah Arkan.
"Seberapa jauh seseorang mau pergi demi cinta."
Sepuluh menit kemudian.
Arkan akhirnya mencapai lantai pusat markas.
Namun saat pintu terakhir terbuka...
Ia langsung berhenti.
Rio juga membeku.
Di ruangan besar itu.
Kiara duduk terikat di kursi.
Masih hidup.
Masih selamat.
"KIARA!"
Kiara langsung menangis.
"ARKAN!"
Namun sebelum Arkan bisa mendekat...
Seseorang melangkah keluar dari balik bayangan.
Aditya.
Tepat di samping Kiara.
Sebuah pistol berada di tangannya.
Moncongnya mengarah ke kepala Kiara.
"Berhenti."
Arkan langsung membeku.
Dunia seolah berhenti berputar.
Satu langkah salah.
Dan semuanya berakhir.
"Akhirnya kita bertemu."
Aditya tersenyum tipis.
Arkan menggertakkan gigi.
"Lepaskan dia."
"Tidak."
"Apa maumu?"
Aditya tertawa pelan.
"Aku ingin kau merasakan apa yang pernah kurasakan."
"Aku tidak peduli dengan dendammu."
"Tapi aku peduli."
Tatapan Aditya berubah gelap.
Sangat gelap.
"Aku kehilangan Alya."
"Karena itu salahmu?"
bentak Arkan.
"Bukan."
Aditya menggeleng.
"Karena ayahmu."
Ruangan mendadak sunyi.
Pak Narendra memang pernah mengaku bahwa mereka mencintai wanita yang sama.
Namun ternyata luka itu jauh lebih dalam.
Aditya menatap Kiara.
Lalu menatap Arkan.
"Kalian tahu hal paling lucu?"
Arkan diam.
Aditya tersenyum.
"Anak Alya..."
Ia menunjuk Kiara.
"...jatuh cinta pada anak Narendra."
Tatapannya berubah liar.
"Hidup memang suka bercanda."
Namun saat itu juga.
Suara tepuk tangan terdengar dari belakang.
Semua orang menoleh.
Termasuk Aditya.
Pintu ruang komando perlahan terbuka.
Seorang pria tua masuk dengan langkah tenang.
Rambutnya putih.
Tubuhnya tegap.
Tatapannya tajam.
Aditya langsung membelalak.
"Tidak mungkin..."
Kiara mengernyit.
Arkan juga terlihat bingung.
Pria tua itu tersenyum tipis.
"Sudah lama sekali, Aditya."
Tubuh Aditya mulai gemetar.
"Kau..."
"Kau seharusnya sudah mati."
Pria tua itu tertawa kecil.
"Ternyata kita sama-sama sulit mati."
Rio yang melihatnya langsung pucat.
"Ya Tuhan..."
Arkan menoleh.
"Kau mengenalnya?"
Rio mengangguk perlahan.
Suaranya nyaris tidak terdengar.
"Itu..."
Ia menelan ludah.
"...pendiri asli Wings of Hades."
DEG!
Ruangan membeku.
Semua orang terdiam.
Bahkan Aditya terlihat ketakutan.
Untuk pertama kalinya.
Pria yang selama ini menjadi dalang semuanya...
Tampak takut.
Sangat takut.
Pria tua itu berjalan santai mendekat.
Lalu mengucapkan kalimat yang membuat seluruh dunia mereka runtuh.
"Aku bukan musuh kalian."
Tatapannya beralih kepada Kiara.
Lalu kepada Arkan.
"Aku adalah kakek kandung kalian berdua."
DEG!!!
Arkan membelalak.
Kiara membeku.
Rio bahkan sampai menjatuhkan senjatanya.
Apa maksudnya?
Bagaimana mungkin?
Pria tua itu tersenyum tipis.
Namun senyum itu tidak membawa ketenangan.
Justru membawa ketakutan yang lebih besar.
Karena satu rahasia yang selama ini tersembunyi...
Baru saja mulai terungkap.
Pengkhianatan terbesar dalam sejarah keluarga Narendra.