NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Kiano Batuk Darah

Arshaka bersedekap dada sembari menatap Kiano dengan pandangan sinis. "Bosan, kau bilang?" Ia terkekeh hambar. "Bukannya dulu kau sendiri yang bilang tidak sudi menginjakkan kaki di sini, apalagi bertemu denganku? Kita lihat saja sampai mana kau bisa membohongiku, Wirasada. Aku sangat penasaran ke mana saja kau selama seminggu menghilang kemarin. Apa kau sengaja kabur karena takut dijodohkan? Atau kau takut jika takhtamu itu akan jatuh ke tanganku jika kau menolak perjodohan itu? Lagian tidak masalah jika kau menolak, biar aku yang maju. Sebab, akulah yang akan mendapatkan hati salah satu putri dari Kerajaan Gunung Kidul!"

"Terserah lo—eh, maksud gue—eh, maksudku—"

'Anjrot! Belibet banget nih lidah kalau ngomong pakai bahasa baku!' batin Kiano frustrasi setengah mati.

"Apa?" tantang Arshaka, menaikkan satu alisnya melihat gelagat aneh sang sepupu.

Kiano menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. "Maksudku... terserah kau saja! Aku tidak peduli soal perjodohan itu. Yang pasti, tanpa perjodohan pun aku yakin, aku—Pangeran Wirasada—tetap akan mendapatkan takhta dan menjadi penerus sah Kerajaan Mandala Hyang!"

Kiano mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Ia sempat menoleh ke arah Dharma sekilas, memberi isyarat lewat kedipan sebelah mata yang kilat seolah pamer, 'Gimana? Peran gue oke, kan?'

Dharma hanya mendengus pelan. Ia mendelik jijik sekaligus muak menyaksikan drama murahan penuh kepura-puraan yang disajikan oleh pemuda Jakarta Barat di sampingnya ini.

"Kalau begitu, jangan menyesal jika nanti aku yang berhasil mendapatkan putri tercantik di seluruh negeri bunian ini! Hahaha!" ucap Arshaka telak, diakhiri tawa pongah yang terdengar menyebalkan.

Kiano hanya menatap Arshaka dengan sebelah sudut bibir terangkat ke atas.

'Tuh cowok kalau enggak gila, ya gesrek sarafnya. Bodo amat lo mau dapetin cewek tercantik atau terkisut sekalipun, toh lo emang sebangsa jin sama mereka. Kalau gue mah ogah banget!' batin Kiano mencemooh dalam hati.

"Heh, Wirasada!" Arshaka sontak menghentikan tawanya. Ia menatap tajam ke arah Kiano. "Kenapa kau malah menatapku seperti itu? Kau sedang menantangku atau menghinaku, hah?!"

Wush!

Dengan kecepatan gaib, Arshaka melesat maju lalu mencengkeram kuat kerah baju kerajaan yang dikenakan Kiano.

"Jangan pegang-pegang! Apa-apaan kau main tarik-tarik begini? Memangnya aku ini anak kucing, apa?!"

Plak!

Kiano menepis tangan Arshaka dengan keras hingga cengkeraman itu terlepas.

Arshaka tampak sangat tidak terima penolakan itu. "Kurang ajar kau, Wirasada!"

"Kau yang kurang ajar! Kau sangat tidak jelas dan terus mengatakan hal yang tidak penting kepadaku. Aku ini sangat sibuk dan punya banyak urusan, tidak ada waktu untuk meladeni orang sombong sepertimu!" semprot Kiano berani.

Namun di dalam hatinya, Kiano sebenarnya sibuk menjerit ngeri. 'Ih, najis tujuh tanjakan tujuh tikungan kalau Om Will wataknya kayak dia! Untung aja om gue di Jakarta enggak sekutu kupret ini!'

"Enyah kau dari rumahku!" bentak Arshaka murka.

Bugh!

Tanpa aba-aba, Arshaka langsung melayangkan sebuah bogem mentah tepat ke arah rahang Kiano.

Pukulan telak itu membuat Kiano sampai tersungkur mencium lantai koridor istana. Sudut bibirnya langsung pecah. Cowok Jakarta Barat itu jelas tidak terima dipukul begitu saja.

"Berengsek lo, muka KW!" umpat Kiano emosi.

Ia langsung bangkit dan mengepalkan tangan, bersiap membalas hantaman tersebut.

Namun, tepat saat emosinya menyala mendadak, kondisi batinnya yang tidak stabil memicu gejolak hebat. Energi gaib 50 persen dari Ki Saron yang mengambang di dalam tubuhnya mendadak berputar liar bagai badai. Dadanya terasa seperti dihantam palu godam tak kasat mata.

"Uhuk!" Kiano langsung ambruk berlutut, memuntahkan darah segar kembali ke lantai.

"Pangeran!" teriak Dharma panik. Ia ikut berlutut dan dengan sigap membantu sang pangeran KW untuk berdiri kembali. "Anda tidak apa-apa?" ucapnya setengah berbisik, berusaha keras mempertahankan aktingnya sebagai pengawal setia di depan Arshaka.

"Dada gue... sakit banget, cukk," gumam Kiano pelan sembari mencengkeram kuat pakaian di bagian dadanya. Napasnya memburu pendek-pendek.

'Anda harus segera memakan buah Malaka Hitam, Tuan!' Suara berat Ki Saron mendadak bergema heboh di dalam kepala Kiano.

'Di mana dapetin buahnya, Ki?! Lo bisa ambilin buat gue kagak sekarang?' balas Kiano meratap lewat batinnya.

'Nanti saya akan ambilkan untuk Tuan. Namun, sebaiknya kita harus segera pulang ke Keraton Prabu Raksa Buana sekarang juga. Saya tidak bisa keluar dari tubuh Anda sembarangan, apalagi di tempat ini masih ada pangeran yang bernama Arshaka itu,' jelas Ki Saron memperingatkan.

Sementara itu, Arshaka tampak sedikit terkejut melihat sepupunya yang tiba-tiba terbatuk darah sehebat itu setelah menerima satu pukulannya. Namun, dasar wataknya yang arogan, ia segera menyembunyikan rasa bersalahnya di balik sebuah cibiran meremehkan.

"Huh, ternyata kau sangat lemah, Wirasada! Baru dipukul begitu saja sudah langsung ambruk dan muntah darah," cibir Arshaka sembari bersedekap dada.

Kiano spontan melotot jengkel. Rasa sakit di dadanya mendadak bercampur dengan kekesalan yang memuncak. "Heh, diam lo, Arshaka! Gue kagak mau ngomong lagi sama lo, ya!" teriak Kiano ketus.

Masa bodoh dengan penyamaran, ia sudah benar-benar tidak sudi lagi memakai kata-kata baku apalagi bersikap sopan santun kepada pemuda di depannya itu.

Dengan sisa tenaganya, Kiano langsung menarik lengan baju Dharma untuk segera pergi dari sana. "Dharma, ayo kita pulang sekarang! Gue kagak betah lama-lama di tempat kayak gini, apalagi satu ruangan sama orang songong kayak dia!"

"Baik, Pangeran," ucap Dharma sigap, langsung mengekor di belakang Kiano.

Namun, sebelum benar-benar membalikkan badan untuk pergi, Kiano menyempatkan diri menoleh ke arah Arshaka, lalu dengan santainya mengacungkan jari tengah tepat di depan wajah sepupu KW-nya itu.

Sontak saja Arshaka melotot jengkel dengan dahi berkerut dalam. "Apa-apaan itu?!" bentaknya, merasa dihina oleh gestur asing yang tidak pernah ia lihat di dunia bunian tersebut. Masa bodoh dengan kebingungan Arshaka, Kiano dan Dharma memilih langsung melesat pergi secepat mungkin.

****

Sesampainya di halaman depan Keraton Prabu Raksa Buana, Kiano dan Dharma tidak buru-buru melangkah masuk ke dalam bangunan utama. Kiano bersandar pada salah satu pilar batu sembari memegangi dadanya yang masih terasa nyeri.

"Ki, keluar lo!" perintah Kiano setengah berbisik kepada Ki Saron.

Jleeeg!

Sosok jin jawara bertubuh kekar itu langsung melesat keluar dari dalam dada Kiano, mewujud kasat mata di hadapan sang majikan dengan aura gaib yang berdesir rendah.

"Sekarang cepetan cariin gue buah Malaka Hitam! Gue kagak mau ya terus-terusan muntah darah setiap kali gue emosi!" omel Kiano sembari menyeka sisa darah di sudut bibirnya.

"Baik, Tuan. Namun, Anda juga harus ikut bersama saya. Sebab, buah tersebut harus langsung dimakan beberapa detik setelah dipetik dari pohonnya agar khasiat magisnya tidak hilang," ucap Ki Saron dengan nada suara beratnya yang berwibawa.

Kiano langsung merengut kesal. "Ah, gimana sih lo?! Buat apa gue capek-capek nyuruh jin kalau ujung-ujungnya gue sendiri juga mesti ikut?!" protes Kiano sewot. "Gue udah capek banget, pengin bobo ganteng! Lagian ini udah malam banget, Ki!"

"Bagaimana kalau besok pagi saja?" sela Dharma, mencoba menengahi. "Ratu dan Prabu juga masih bulan madu selama tiga hari, jadi mereka tidak akan pulang besok pagi."

"Tidak bisa, Anak Muda. Kita tidak bisa menunda-nundanya lagi," tolak Ki Saron mutlak, menatap Dharma lalu beralih kembali pada Kiano.

"Jika dibiarkan sampai esok hari, badai energi di dalam tubuh Tuan akan semakin parah. Anda bisa saja terus memuntahkan darah tanpa henti. Memangnya Anda mau mati kering di kasur karena kehabisan darah, Tuan?"

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!