Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Jena, Maafkan Aku
Denting sendok dan garpu bersahut-sahutan memenuhi ruang makan yang megah itu. Para tamu menikmati hidangan sambil terus membicarakan kabar pertunangan yang baru saja diumumkan.
"Michelle cantik dan Jovian tampan, mereka memang pasangan serasi."
"Iya, sama-sama pintar lagi."
"Hu'um, calon penerus perusahaan."
"Ardhana Group akan maju pesat. MS Fashion pasti makin besar."
"Dua perusahaan itu akan jadi benteng yang saling menguatkan."
"Tentu saja, Keluarga Ardhana dan keluarga Suroso benar-benar pasangan yang sepadan."
Bimo dan Mario saling mengangkat gelas, disusul tawa para tamu yang terdengar hangat.
Michelle duduk di samping Jovian dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Sesekali gadis itu menjawab ucapan selamat, lalu berbincang dengan Jihan yang begitu antusias membahas rencana pertunangan mereka.
Di tengah ramainya percakapan itu, tanpa sadar pandangan Jovian bergerak ke arah kursi yang berada beberapa meter di hadapannya. "Jena ke mana?" batinnya. Ia mengernyit pelan. "Tadi, dia masih duduk di sana." Matanya kembali mencari ke sekeliling ruang makan. Namun tidak ada. Ia menoleh ke arah pintu yang menghubungkan ruang makan dengan ruang tengah. Tetap tidak terlihat.
Untuk sesaat, suara-suara di sekitarnya seolah menghilang dari pendengarannya. Pandangannya kembali jatuh pada kursi yang kini kosong itu. Dalam diam, rahangnya mengeras. Ia pun berdeham pelan, menyentuh punggung tangan calon tunangannya. "Michelle, aku ke toilet dulu ya?"
Michelle menghentikan obrolannya dengan Jihan, ia melirik Jovian. "Mau aku temani?"
Jovian menggeleng cepat. "Nggak usah."
"Cieee!" Suara Jihan menggoda. "Yang nggak mau jauh." Gadis itu tertawa ceria.
"Apaan sih, Ji?" Michelle ikut tertawa.
Jovian beranjak dan pergi meninggalkan ruang makan. Langkah kakinya yang awalnya pelan, seketika mengencang ketika sudah keluar dari ruang makan. "Aku harus cari Jena." Ia berniat berlari menuju ruang tamu, namun satu suara menghentikannya.
"Jovian, kamu mau ke mana?"
Jovian membalik badan. "P-Papa." Ia meneguk ludah.
"Kamu mau ke mana?" ulang Bimo dengan nada tegas.
"Aku ... aku mau-"
"Kembali ke ruang makan!" titah Bimo menyela ucapan Jovian. "Ini acara penting. Jangan membuat keluarga kita malu."
Jovian hanya mampu mengepalkan tangan, dan akhirnya kembali melangkah menuju ruang makan.
Saat ia kembali, Michelle langsung menyambutnya. "Udah ke toiletnya?"
"Udah." Jovian duduk kembali di tempatnya.
Michelle tersenyum tipis, tetapi tatapannya tajam, seolah tahu apa yang sedang dipikirkan lelaki itu. "Sayang, sebentar lagi kita bertunangan," ucapnya lirih agar hanya Jovian yang mendengar. "Jangan cari yang nggak ada." Jovian tersentak. Michelle kembali melanjutkan dengan senyum yang tetap terpasang di bibirnya. "Lupakan semuanya."
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.
Jovian menatap piring makan di hadapannya. Jemarinya mencengkeram sendok sedikit lebih erat sebelum akhirnya mengendur kembali. "Ya." Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya. Ia mengangguk pelan.
Michelle pun tersenyum puas, lalu kembali bergabung dalam obrolan bersama keluarga dan para tamu seolah tak pernah terjadi percakapan singkat di antara mereka.
Jovian memejamkan mata, lalu membukanya lagi. Ingatannya mendadak terlempar ke malam kemarin, ketika ia dan kedua orang tuanya berbicara serius di ruang kerja.
Cahaya lampu berwarna hangat menerangi ruangan yang dipenuhi rak buku dan berkas-berkas perusahaan. Di balik meja kerjanya, Bimo duduk dengan wajah serius, sementara Sifa berada di sampingnya. Di hadapan mereka, Jovian duduk gelisah.
"Ada apa, Pa, Ma?" tanyanya pelan. "Kalian mau membicarakan apa, kenapa kelihatannya serius sekali?"
Bimo menyatukan kedua tangannya di atas meja. "Memang serius." Jovian mengernyit. "Papa dan Mama sudah mencapai kesepakatan dengan keluarga Suroso," lanjut Bimo. "Kami sepakat menjodohkan kamu dengan Michelle."
Mata Jovian membelalak. "Apa?!"
"Benar, Jo. Kami ingin kamu menikah dengan Michelle," sahut Sifa lembut, tetapi tegas. "Perjodohan ini bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga demi mempererat kerja sama bisnis antara Ardhana Group dan MS Fashion."
"Tidak!" Jovian langsung berdiri. "Aku nggak mau."
Rahang Bimo mengeras. "Kamu harus mau."
"Aku sudah punya Jena, Pa!" suara Jovian meninggi. "Kami sudah sembilan tahun bersama. Aku nggak mungkin menikah dengan perempuan lain."
"Itu hanya hubungan pacaran!" Bimo menaikan suaranya.
"Buat aku bukan 'hanya' pacaran!" balas Jovian dengan mata memerah. "Aku serius sama Jena."
Bimo mengembuskan napas panjang. "Kalau kamu menolak, kerja sama yang baru saja kita bangun bisa berantakan." Jovian terdiam. "Perusahaan akan terkena dampaknya. Banyak proyek yang bisa batal. Ribuan karyawan bergantung pada keputusan ini." Tatapan Bimo menusuk putranya. "Apa kamu sanggup menanggung akibatnya?"
Jovian mengepalkan kedua tangannya. "Lalu ... bagaimana dengan Jena?" suaranya mulai melemah. "Dia pasti hancur."
Sifa menatap putranya tanpa sedikit pun berubah ekspresi. "Biarkan saja."
Jovian menoleh cepat. "Maksud Mama?"
"Tidak usah menjelaskan apa pun kepada Jena."
"Ma?"
"Tidak perlu memutuskan hubungan kalian."
Jovian semakin bingung.
"Besok malam, kami akan mengadakan acara dinner besar. Keluarga Michelle akan hadir, keluarga besar kita juga ada, kolega bisnis kita pun akan hadir juga, dan kami juga akan mengundang Jena." Jantung Jovian berdegup semakin kencang. "Di depan semua tamu," lanjut Sifa, "Papa akan mengumumkan bahwa kamu dan Michelle akan segera bertunangan."
Wajah Jovian seketika memucat. "Ma ... jangan begitu." Suaranya bergetar. "Kasihan Jena."
Sifa menggeleng pelan. "Tidak usah merasa kasihan."
"Ma ..." Suara Jovian nyaris menghilang.
"Selama ini keluarga kita sudah sangat baik kepadanya." Bimo ikut berbicara. "Sejak kedua orang tuanya meninggal, siapa yang membiayai sekolahnya?" Jovian menunduk. "Siapa yang membayar kuliahnya?" Ia tetap diam. "Siapa yang memberinya pekerjaan yang layak di perusahaan?" Jovian memejamkan mata. "Itu semua keluarga kita yang melakukan, Jo," ujar Bimo. "Kita sudah melakukan lebih dari cukup."
"Biarkan sekarang dia belajar mandiri," sambung Sifa. "Dan kamu tidak perlu merasa bersalah."
Jovian mengangkat wajahnya perlahan. Matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi ... sembilan tahun, Ma."
"Sebentar lagi, itu akan jadi masa lalu."
"Jena nggak pantas diperlakukan seperti ini."
Bimo bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekati putranya. "Kalau yang kamu pikirkan hanya soal waktunya yang terbuang ..." katanya datar. "Papa akan memberikan uang ganti rugi kepadanya."
Jovian mengangkat kepala perlahan. "Apa?"
"Papa akan memberikan sejumlah uang untuk mengganti sembilan tahun yang telah dia habiskan bersamamu."
Tubuh Jovian seketika menegang. "Pa ..." bisiknya lirih. "Jena bukan barang yang bisa dinilai dengan uang."
Bimo menatapnya tanpa goyah. "Papa tahu. Tapi uang itu cukup untuk memulai hidup barunya."
"Tapi perasaannya?"
"Perasaan akan hilang seiring waktu."
Jovian hanya mampu berdiri mematung. Dadanya terasa sesak, sementara pikirannya dipenuhi bayangan wajah Jena yang sama sekali belum mengetahui apa yang akan terjadi esok malam dan Jovian merasa dirinya benar-benar tidak berdaya.
Bimo menepuk pelan bahu putranya. Tatapannya tetap dingin, seolah keputusan itu tidak bisa lagi diganggu gugat. "Mulai besok," ucapnya tegas, "Bersikaplah acuh kepada Jena."
Jovian perlahan mengangkat kepalanya. "Maksud Papa?"
"Jangan lagi bersikap seperti biasanya."
Bimo menatap mata putranya lurus-lurus. "Bicaralah seperlunya saja. Tidak perlu mencari dia. Tidak perlu mengkhawatirkannya."
Jovian menggeleng pelan. "Pa ..."
"Dan saat makan malam besok," lanjut Bimo tanpa memedulikan penolakan putranya, "Kamu tidak usah menyapanya." Jovian terdiam. "Meliriknya pun jangan." Kalimat itu membuat dada Jovian terasa semakin sesak. "Biarkan dia merasa dikucilkan ..." Bimo berhenti sejenak sebelum kembali berkata dengan nada datar. "Biarkan dia sadar bahwa dirinya sudah tidak dipedulikan."
"Papa ..." suara Jovian bergetar. "Itu keterlaluan."
Sifa ikut angkat bicara. "Justru itu yang terbaik."
"Terbaik?" Jovian menatap ibunya tak percaya. "Bagaimana mungkin menyakiti perasaan seseorang disebut yang terbaik?"
"Semakin kamu menunjukkan perhatian, semakin sulit Jena melepaskanmu," jawab Sifa tenang. "Lebih baik dia menerima kenyataan sekaligus daripada terus berharap."
"Tapi dia tidak melakukan kesalahan apa pun."
"Ini bukan soal salah atau benar," sahut Bimo. "Ini soal masa depan keluarga kita."
Jovian mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku nggak sanggup."
"Kamu sanggup," potong Bimo tegas. "Dan kamu harus."
Ruangan kembali diliputi kesunyian.
Bimo kemudian melangkah lebih dekat hingga berdiri tepat di depan putranya.
"Kamu anak Papa." Suara lelaki itu rendah, tetapi penuh tekanan. "Selama ini Papa membesarkanmu untuk menjadi penerus Ardhana Group. Sekarang saatnya kamu membuktikan bahwa kamu bisa mengutamakan keluarga di atas perasaan pribadi."
Jovian menundukkan kepala. Bibirnya bergetar, tetapi tak sepatah kata pun keluar.
Sifa mengusap lengan putranya dengan lembut. "Turuti Papa dan Mama, Jovian. Percayalah, suatu hari nanti kamu akan mengerti kenapa kami melakukan semua ini."
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya menggenang di pelupuk mata Jovian. Dengan napas yang terasa berat, ia memejamkan mata beberapa detik, "Baik lah." Jawaban itu terdengar lirih.
Bukan karena ia setuju. Melainkan karena ia merasa tidak lagi memiliki pilihan.
"Jo." Sentuhan Michelle di punggung tangan Jovian berhasil membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya.
"Iya."
"Kamu kenapa bengong terus? Habisin dong makanannya. Atau mau aku suapin?" goda Michelle sambil mengedipkan mata.
Jovian tersenyum kecil, menggeleng. "Nggak usah. Aku bisa sendiri." Ia terpaksa kembali menggerakan tangannya, menyendok nasi dan menyuapkannya ke dalam mulut. "Jena, maafkan aku," lirihnya hanya mampu bersuara dalam hati.
ayo Jenaaa segera menjauh agar harga dirimu tdak di injak dgn Kompensasi dari keluarga ardhana
menjauh lah jena ...jangan lg menerima apapun dr kelg itu..walaupun di beri konspensasi atas 9bth bersama jo..
menjauhlah dan hiduplah dg mandiri..
raihlah suksesmu tanpa mereka
semangat jena💪💪💪