NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: tamat
Genre:Naik ranjang/turun ranjang / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:284.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.

Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.

Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Seminggu berlalu. Waktu berjalan tanpa terasa namun perubahan di dalam rumah itu terasa begitu nyata. Bukan perubahan besar yang langsung terlihat.

Pagi hari.

Seperti biasa, Harsa sudah bersiap untuk berangkat kerja. Jasnya rapi, wajahnya kembali seperti biasa, tenang, datar, dan sulit ditebak. Ia melangkah turun ke ruang makan.

Meja sudah terisi sarapan namun bukan buatan Arsyi.

“Pagi, Pak,” sapa Mbak Sari sopan.

Harsa mengangguk singkat.

“Pagi.” Ia duduk, mengambil sendok, lalu bertanya tanpa menatap,

“Arsyi di mana?”

“Di kamar Non Melodi, Pak,” jawab Mbak Sari.

Harsa terdiam sejenak.

“Belum keluar?”

“Sejak subuh sudah di sana, Pak. Tadi bayi sempat rewel.”

Harsa mengangguk pelan.

“Iya.”

Hanya itu namun ada sesuatu yang terasa begitu janggal.

Harsa selesai makan lebih cepat dari biasanya. Ia berdiri, merapikan jasnya, lalu berkata,

“Saya berangkat.”

“Baik, Pak.”

Namun, langkahnya terhenti sejenak di depan tangga. Ia menoleh ke arah atas namun beberapa detik kemudian ia menggeleng pelan.

“Tidak perlu,” gumamnya dan ia pergi.

Di dalam kamar.

Arsyi duduk di samping Melodi yang sedang terlelap. Wajahnya terlihat lebih tenang. Namun bukan karena bahagia. Melainkan karena ia sudah berhenti berharap.

Tangannya mengusap lembut pipi bayi itu.

“Yang penting kamu…” bisiknya pelan, “cukup.”

Malam hari, pukul sebelas. Mobil Harsa kembali memasuki halaman rumah. Seperti hari-hari sebelumnya namun kali ini ia langsung turun tanpa menoleh ke jendela. Tidak lagi berharap melihat seseorang menunggunya. Ia sudah tahu jawabannya.

Lampu ruang tamu menyala, tapi kosong. Harsa berjalan perlahan, lalu berhenti di ruang makan. Makanan sudah tidak ada dan meja makan terlihat bersih. Tidak ada tanda seseorang menunggunya. Ia berdiri cukup lama di sana dan entah kenapa hatinya terasa lebih berat.

“Sudah makan…” gumamnya.

Padahal sebelumnya ia selalu pulang dan menemukan makanan di meja.

Di lantai atas, Harsa melangkah masuk pelan.

“Arsyi…” panggilnya lirih dan tidak ada jawaban.

Ia mendekat sedikit.

“Arsyi,” ulangnya wanita itu tetap tidak menjawab.

Harsa terdiam.

Matanya menatap wajah Arsyi lebih lama dari biasanya.

“Kamu… benar-benar berhenti ya.” Malam itu, Harsa tidak langsung masuk ke kamarnya. Ia justru duduk di kursi dekat jendela.

Ia mengusap wajahnya pelan.

“Ini yang kamu mau, kan…” gumamnya.

Keesokan paginya.

Harsa duduk di meja makan. Di depannya, sarapan sudah tersaji rapi, hasil tangan pelayan, seperti hari-hari sebelumnya.

Ia makan dalam diam, sesekali matanya melirik ke arah tangga.

“Arsyi belum turun?” tanyanya akhirnya.

Mbak Sari yang berdiri di dekat sana langsung menjawab, “Belum, Pak. Dari tadi masih di kamar Non Melodi.”

Harsa mengangguk pelan.

“Iya.”

Hanya itu namun sendok di tangannya berhenti sejenak. Harsa berdiri setelah selesai makan. Ia merapikan jasnya, lalu melangkah menuju pintu.

Harsa menghela napas pelan.

“Sudahlah,” gumamnya.

Di kantor Harsa duduk di ruang kerjanya. Namun kali ini, pikirannya tidak sepenuhnya fokus pada pekerjaan. Ia membuka laci meja dan di sana sebuah foto. Dirinya dan Nadin.

Saat usia kehamilan tujuh bulan, Nadin tersenyum lebar. Tangannya memegang perutnya. Dan Harsa berdiri di sampingnya, menatap dengan penuh cinta. Harsa menatap foto itu lama. Jemarinya menyentuh permukaan foto itu pelan.

“Nadin…” gumamnya lirih, kerinduan itu masih sama.

Harsa menarik napas panjang.

“Kalau kamu masih ada…” bisiknya pelan.

Tok … tok…

Ketukan pintu membuyarkan lamunannya.

“Masuk,” ucap Harsa.

Pintu terbuka.

Rina masuk dengan membawa map berkas di tangannya.

“Selamat pagi, Pak,” sapa Rina.

Harsa langsung menutup laci meja, menyembunyikan foto itu.

“Pagi.”

Rina melangkah mendekat dan meletakkan berkas di meja.

“Ini dokumen yang Bapak minta kemarin,” ujarnya.

Harsa membuka map itu sekilas. “Iya, terima kasih.”

Rina memperhatikan wajah Harsa beberapa detik.

“Bapak terlihat lelah,” katanya pelan.

Harsa tidak langsung menjawab. “Biasa.”

Rina tersenyum tipis, namun kali ini, ia tidak duduk. Ia berdiri, sedikit lebih dekat dari biasanya.

“Saya juga ingin menyampaikan satu hal,” lanjutnya.

Harsa mengangkat pandangan. “Apa?”

“Ada pertemuan lagi malam ini dengan rekan bisnis kita,” ujar Rina. “Mereka ingin membahas kelanjutan kerja sama yang kemarin sempat tertunda.”

Harsa langsung fokus.

“Siapa?”

“Perusahaan yang sama,” jawab Rina. “Sepertinya mereka mulai mempertimbangkan kembali.”

Harsa mengangguk pelan.

“Jam berapa?”

“Pukul delapan malam,” jawab Rina. “Di tempat yang sama seperti sebelumnya.”

Harsa berpikir sejenak, lalu mengangguk.

“Baik. Saya akan datang.”

Rina tersenyum.

“Akan saya siapkan semuanya, Pak.”

Harsa menatapnya sekilas. “Terima kasih.”

Rina mengangguk kecil.

“Semoga kali ini hasilnya lebih baik.”

Harsa tidak menjawab pikirannya telah tertuju ketempat yang lain.

1
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
pergilah arsyi ngapain juga km msh disitu
Diah Anggraini
bagus
Al Fatih
Ceritanya bagus,, mengharu biru....
Tamirah
Baru satu malam kamu menginap bersama adik ipar hati mu sdh gak karuan.. ingat sumbar mu bahwa Nadin gak tergantikan wanita manapun.....prettt.....,! hanya waktu yg membuktikan...!!!
Tamirah
Seiring berjalannya waktu Harsa akan jatuh cinta pada Asrsy**Witing tresno jalaran seko kulino**
Sekarang bilang terpaksa karena demi Melodi anak nya nnt termehek-mehek kamu Harsa.
Tamirah
Patut dipertanyakan sikap ibunya Arsyi, sebagai seorang ibu seharusnya punya pemikiran yg matang .
Daripada Harsa nikah dgn wanita lain mending nikah dgn adik istri nya atau anak Bu Hana dan cucumu akan aman.Kenapa Bu Hana gak setuju ada apa.....???
yuqana
keren gà neko2 alurmya🥰🥰🥰
Nuryati Yati
Rina stress
Nuryati Yati
untung Arsyi pinter
Nuryati Yati
semoga Arsyi baik2 saja
Nuryati Yati
lucu Rina kn situ sekretarisnya Harsa ya hrus ada setiap saat
Nuryati Yati
dan ternyata benar orang yg di temui Nadin adlh Rina dan bikin Nadin meninggal
Nuryati Yati
Rina jd cewek g tau malu
Nuryati Yati
intinya saling percaya
Nuryati Yati
huek
Nuryati Yati
kok nyesek 😭🤧
Nuryati Yati
wis embuhlah Arsy di bantuan mbak Sari g mau ya akhirnya begitulah
Nuryati Yati
kapok rasakno Rina
Nuryati Yati
psti akal2 an Rina proyek itu di batalkan
Nuryati Yati
dasar emak2 rempong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!