NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Moana’s Treasures: Souvenir dari Perut Laut.

"Aku sama sekali tidak sedang berada di dalam kesendirian di sini. Ada terlampau banyak teman-teman baikku yang hidup di dalam perut laut."

Gadis berambut merah muda itu mengulurkan telapak tangan kecilnya yang bersih ke hadapan wajah Justin. Meskipun di dalam relung hatinya masih memendam rasa keraguan yang besar dan kondisi fisiknya teramat lemah, Justin bisa merasakan ada sebuah getaran aura kebaikan yang murni terpancar keluar dari sosok gadis misterius ini.

"Astaga, jika diperhatikan lebih dekat, luka robek ini pasti terasa sakit sekali! Ayahku selalu bilang bahwa jenis luka keracunan seperti itu harus segera disembuhkan dengan kompres air mutiara laut dalam. Ayo, raih tanganku, aku akan membantumu berdiri tegak. Kau bisa beristirahat di tempat kediamanku sampai struktur kakimu sembuh total."

Beberapa saat kemudian, Justin tampak sedang berjalan tertatih-tatih meniti hamparan pasir. Sebelah lengan tangan kecilnya merangkul erat bahu mungil gadis tersebut guna menyeimbangkan poros berat tubuhnya agar tidak kembali ambruk jatuh.

Meskipun secara visual postur tubuh gadis itu terlihat mungil, namun anehnya dia memendam struktur fisik yang cukup kuat dan kokoh untuk menopang langkah kaki Justin di atas permukaan pasir pantai yang lembut dan amblas.

"Terima kasih banyak... kau sudah dengan sukarela mau direpotkan untuk membantuku melangkah," ucap Justin sembari meringis kecil menahan perih saat ujung kaki kanannya yang terluka tanpa sengaja menyeret gesekan pasir basah.

"Aku adalah Justin. Ngomong-ngomong, aku sampai detik ini belum mengetahui nama fungsionalmu. Siapa gerangan namamu, Gadis kecil?"

Gadis berambut merah muda itu menolehkan wajahnya ke samping, lesung pipinya kembali muncul saat dia menyunggingkan senyuman tipis. "Namaku adalah Moana. Dan pasang peringatan di otakmu, jangan pernah sesekali memanggilku dengan sebutan 'kecil', jatah usiaku di dunia ini mungkin jauh lebih tua dan matang daripada apa yang bisa dibayangkan oleh kapasitas isi kepalamu."

Justin terkekeh pelan mendengar kalimat tersebut, meskipun dadanya masih terasa sedikit sesak akibat trauma semalaman. "Kau ternyata adalah gadis yang sangat pandai dalam berkomedi, Moana. Tapi jujur, Moana... apakah kau sama sekali tidak memendam rasa takut untuk tinggal di area terisolasi ini? Monster air Nessie itu... dia benar-benar entitas mahluk yang teramat menyeramkan. Dia menyeret dan menghempaskan tubuh vampirku ke dinding batu seolah-olah aku hanyalah sebutir boneka kain yang tak berharga."

Moana tetap mempertahankan pandangan matanya lurus menatap ke arah depan, meniti sebuah jalur jalan setapak kecil yang posisinya tersembunyi dengan rapi di balik jajaran batuan karang raksasa.

"Nessie tua itu sama sekali tidak akan pernah terlihat menyeramkan bagi mereka yang mengerti bagaimana tata krama cara menyapanya dengan benar, Justin. Dia hanya secara personal tidak menyukai adanya entitas orang asing yang nekat menyelinap masuk ke dalam rumah sarangnya tanpa mengantongi izin resmi."

Justin menghentikan ayunan langkah kakinya sejenak, menatap wajah Moana dari samping dengan ekspresi wajah yang sarat akan kebingungan. "Maksud dari kalimatmu... kau secara personal mengenal dekat monster air purba tersebut?"

"Titik tujuan kita sudah hampir sampai," jawab Moana dengan nada santai, sengaja mengabaikan pertanyaan interogasi dari Justin.

Jari tangannya bergerak menunjuk ke arah atas, ke arah sebuah bangunan kayu berstruktur kokoh yang berdiri tegak di atas tebing rendah pantai.

"Lihat ke arah sana! Itu adalah bangunan toko suvenir milik pengelolaan keluargaku. Dan struktur rumah kediaman kami berdiri tepat di bagian belakangnya. Monster Nessie tidak akan pernah berani bertindak macam-macam atau mendekati area itu jika Ayahku sudah mengeluarkan tongkat sihir pengusir miliknya."

Sepasang mata Justin seketika membelalak lebar karena tidak percaya, menatap sebuah papan kayu nama yang tergantung rapi di depan teras toko tersebut. Papan itu bertuliskan sebuah untaian kalimat: "Moana’s Treasures: Souvenir dari Perut Laut."

"Sebuah toko penjualan suvenir? Berdiri tepat di episentrum jantung sarang monster air?" tanya Justin dengan nada suara yang sarat akan ketidakpercayaan yang masif. "Siapa gerangan mahluk waras di planet Bumi ini yang memiliki keberanian untuk sengaja datang jauh-jauh ke tempat terisolasi ini hanya demi berbelanja barang pajangan?"

"Ada terlampau banyak yang datang! Mayoritas dari mereka adalah para petualang dimensi, penyihir pengembara, dan para kolektor barang antik langka," jawab Moana dengan nada suara yang dipenuhi rasa bangga. "Ayah dan Ibuku sangat sering menemukan benda-benda unik berkekuatan magis yang secara tidak sengaja dimuntahkan oleh Nessie ke pesisir atau yang terbawa oleh arus gua bawah tanah. Ayahku yang memegang kendali menjaga keamanan toko, dan Ibuku yang bertugas mengolah tanaman herbal obat di rumah untuk mengobati para tamu yang datang dalam kondisi 'beruntung' sepertimu."

Langkah kaki mereka berdua akhirnya berhasil mencapai area teras rumah kayu yang posisinya terletak tepat di balik bangunan toko suvenir tersebut. Aroma wangi dari kayu cendana yang menenangkan dan keharuman tanaman herbal murni langsung tercium teramat kuat menusuk hidung, menyajikan atmosfer kontras yang luar biasa nyaman jika dibandingkan dengan bau amis pengap dari dalam gua sarang Nessie sebelumnya.

"Duduklah di atas kursi ini dulu, Justin," perintah Moana sembari dengan hati-hati membimbing tubuh Justin untuk mendarat di atas sebuah kursi yang terbuat dari anyaman rotan hangat.

"Aku akan segera melangkah masuk ke dalam untuk memanggil Ibu. Beliau memendam racikan ramuan khusus yang sanggup menetralisir total zat racun berbahaya dari bekas gigitan Nessie. Jika luka di kakimu itu tidak segera mendapatkan penanganan obat dalam hitungan jam, seluruh jaringan kulit kakimu bisa berubah warna menjadi biru legam mengeras seperti struktur sisik monster itu!"

Justin sontak membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, dadanya kembali didera keterkejutan saat mendengar informasi medis tersebut. "Dari mana... dari mana kau bisa mengetahui secara detail bahwa kulit kakiku akan berubah warna menjadi biru seperti sisik monster mengerikan itu jika tidak buru-buru diobati, Moana?"

"Warna gradasi di sekitar luka robekmu yang mengatakannya secara langsung kepadaku, Justin. Biru keunguan pekat. Itu adalah indikator nyata bahwa zat racun sekresi Nessie sudah mulai merembes masuk berbaur ke dalam aliran darahmu," tutur Moana dengan ekspresi serius.

"Jika aku tidak berpapasan dan menemukan tubuhmu terkapar di pantai tadi pagi, kemungkinan besar besok pagi tubuh kecilmu ini sudah mati mengeras, menjelma menjadi bagian dari jajaran batu karang di tepi pantai ini."

Setelah menyelesaikan untaian kalimat peringatannya, Moana membalikkan tubuhnya, berlari kecil masuk ke dalam pintu rumah kayu sembari berteriak lantang memanggil eksistensi ibunya, meninggalkan Justin yang masih mematung didera rasa terkejut.

Justin menyandarkan punggung vampirnya pada sandaran kursi rotan, mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa kelegaan yang luar biasa. Dia menatap lurus ke arah punggung Moana yang menghilang di balik tirai rumah.

Sungguh sebuah anomali takdir yang tidak masuk akal; di dalam titik koordinat tempat yang dianggap paling berbahaya dan mematikan di dunia, dia justru diselamatkan oleh sebuah toko suvenir dan sebuah keluarga misterius yang menganggap ancaman monster purba hanyalah sebatas aktivitas harian yang biasa.

"Ibu—Ibu, tolong keluar cepat! Ada orang yang terluka parah di teras, kakinya habis digigit oleh rahang monster Nessie!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!