NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Menjadi Mahram

Ketika Takdir Menjadi Mahram

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah
Popularitas:26.6k
Nilai: 5
Nama Author: R²_Chair

Pernikahan memang idealnya lahir dari persiapan, cinta, dan harapan yang matang. Tapi hidup kadang berjalan di luar rencana bahkan lewat jalan yang tak pernah kita bayangkan sama sekali.
Ketika pernikahan terjadi secara mendadak karena sebuah insiden, rasa bahagia dan sakral itu bercampur dengan kaget, takut, bahkan kebingungan.
Apakah pernikahan dadakan bisa membawa kebahagiaan??


Apakah pernikahan tanpa cinta dan saling mengenal lakan berjalan mudah?

yuk ikuti ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AA 23

Keesokannya, Alyana beraktifitas seperti biasa.Hari ini adalah hari terakhir pelaksanaan ujian sekolah.

Alyana mencoba berkonsentrasi dalam melaksakan ujian, walaupun tak bisa di bohongi pikirannya terus tertuju pada sang suami.Beruntung tadi pagi Arka sudah menghubunginya terlebih dahulu untuk memberikan kabar dan semangat pada sang istri.

"Kayanya ada yang lagi semangat nih."

"Umiii..." Nadanya terdengar manja,wajahnya sedikit merah saat melihat Umma Zura tersenyum jahil serta wajah Abi Ilham yang tersenyum kecil saat menatapnya.

"Sudah kasih kabar suami mu?"

Alyana mengangguk, kemudian menyendok sepotong ayam ke atas piringnya.

"Alhamdulillah, seperti biasa masakan Umi selalu enak." Puji Alyana membuat Umma Zurra tersenyum geleng-geleng.

"Umi hari ini Alya terakhir Ujian, kalau nanti pulangnya mampir dulu ke angkringan boleh?"

"Sudah izin sama suami kamu?"

Alyana mengangguk lesu, pasalnya ia tadi lupa meminta izin pada suaminya.

"Belum?"

"Iya,"

"Nanti minta izin dulu ya neng, walau gimana pun sekarang ini kamu sudah menjadi tanggung jawab nak Arka.Bakti ada padanya, jadi kalau mau apa-apa biasakan minta izin sama suami kamu."

"Iya, Umi."

"Sudah, sekarang habiskan dulu makannya.Hari ini baba yang antar sekalian Baba mau ke kantor yayasan mau ada rapat."

"Baik Ba."

Hanya butuh beberapa menit untuk sampai di sekolah tempat Alya menuntut ilmu, sekaligus sekolah yang merupakan milik keluarga Abi Ilham.

"Alya pamit ya Ba." Ucap Alya saat turun dari mobil, tak lupa ia mencium tangan sang kakek. "Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam." Abi Ilham menghela nafas saat pintu mobil tertutup, ia menatap punggung sang cucu yang sejak kecil sering ia asuh.

"Ternyata kamu sekarang sudah besar nak, Baba bahkan masih ingat saat kamu nangis karena terjatuh saat main sepatu roda." Lirihnya.

Setelah itu, Abi Ilham kemudian turun dari mobil dan langsung berjalan menuju ruang kantor yayasan.

Siang menjelang, bel sudah berbunyi sejak tadi. Para murid sudah berhamburan keluar kelas.

"Ning jadi ke angkringan gak?"

"Jadi dong,"

"Ya udah, yuk ah kita langsung aja.Takut telat nih." Ajak Marin.

Marin dan Novi merupakan santriwati yatim yang mendapat beasiswa dari Abi dan Umma Zura, namun selain itu keduanya juga ikut bekerja di angkringan milik Umma untuk membantu perekonomian keluarganya masing-masing.

Suasana di angkringan milik Umma Zura mulai ramai. Lampu-lampu gantung menyala, aroma masakan dan minuman memenuhi udara berbaur dengan wangi khas pedesaan.

Marin dan Novi yang baru tiba langsung masuk ke ruang belakang untuk berganti seragam kerja. Mereka sudah terbiasa dengan rutinitas siang seperti itu bergerak cepat sebelum pelanggan berdatangan.

Sementara itu, Alyana tidak ikut ke ruang ganti. Ia berjalan menyusuri lorong kecil di samping dapur, lalu mengetuk pintu ruangan kecil di ujung. Di dalam, Bang Aqil cucu dari Ustadz Yusuf yang juga sudah di anggap cucu oleh Umma Zura sedang duduk memeriksa beberapa catatan dan berkas.

"Assalamu’alaikum, Bang," sapa Alyana pelan.

"Wa’alaikumussalam. Masuk, Ning," jawabnya ramah.

Alyana masuk dan duduk di kursi depan meja. Wajahnya terlihat sedikit lelah,tetapi seperti biasa wajahnya selalu di hiasi senyum kecil dari bibirnya. Ia memang ada keperluan yang perlu dibicarakan, sesuatu yang tidak bisa disampaikan di tengah keramaian angkringan.

"Bang,Alya mau minta tolong sama Bang...Boleh gak?"

Aqil mengerutkan keningnya sedikit. "Minta tolong apa?"

"Aya boleh belajar masak di dapur angkringan gak?"

"Hah." Aqil terdiam sesaat. "Buat Apa?"

"Kok buat apa sih Bang,ya biar Aya bisa masak lah."

Aqil berdecak,ia menatap Alyana serius.Gadis kecil yang dulu sering ia asuh kini sudah beranjak besar.Gadis kecil yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. "Maksud abang, ngapain kamu cape-cape masak.Neng santri di rumah banyak tinggal minta tolong aja kalau kamu mau di makan."

Aqil menyandarkan punggungnya, tangannya ia lipat di depan dadanya."Lagian, kaya yang di kasih izin aja sama abang kamu."

"Kalau Shaka tau, yang ada kamu langsung di tarik dari dapur."

"Ya makanya, aku kesini.Kalau disini kan pasti aman.Ayolah bang, boleh ya.."

"Ya, tapi buat apa? Tiba-tiba gini."

"Bang, Aya kan sekarang udah jadi seorang istri.Masa Aya gak bisa masak, tar kalau suami Aya minta makan terus mau di kasih makan apa?".

"Gak usah lebay, tinggal minta neng santri atau gak deliv juga bisa kan."

"Gak gitu juga bang, masalahnya..." Alyana melipat kedua tanganya di meja, wajahnya berubah sendu. "Nanti Aya mau di ajak kerumah Bunda Fara,terus kalau nanti Bunda minta aku masak gimana?Aku kan gak bisa apa-apa."

Aqil mengangguk-angguk, ia kemudian berpikir. "Udah izin sama suami kamu belum?"

Alyana menggeleng.

"Ya Salam, kalau gitu gak boleh."

Alyana langsung menegakkan punggungnya."Loh kok gitu bang."

"Abang gak mau tanpa izin suami kamu."

"Tapi aku mau bikin kejutan buat Ka Arka." wajahnya langsung merajuk seperti kebiasaannya.

Aqil menghela nafasnya, kedua jarinya memijit ujung alisnya."Abang nyerah." Ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya."Tapi abang gak tanggung jawab kalau Arka dan Arshaka marah."

Wajah Alyana berubah cerah seketika. "Iya, abang tenang aja.Aku pastikan mereka gak marah sama abang."

Keduanya nampak langsung mengobrol ringan, terdengar suara tawa dari keduanya.

Namun tawa keduanya tiba-tiba berhenti saat HP Aqil berbunyi keras. Nama Umma Zura terlihat di layar telpon.

"Assalamu'alaikum Umi."

"Wa'alaikumsalam, Bang Aqil maaf Umi ganggu."

"Tidak apa-apa Umi, ada yang bisa Aqil bantu?"

"Bang, di situ ada Alya gak?"

"Oh, ada Umi. Ini lagi ngobrol sama Aqil."

"Bilang sama Alya, ini suaminya nelpon terus.Pulang dulu, takutnya ada yang penting"

"Baik Umi, akan Aqil sampaikan."

Telpon tertutup, Aqil langsung menatap tajam Alyana."Kamu gak izin kesini?"

"Izin ko, tapi sama Umi dan Baba."

Aqil menghembuskan nafas kasar."Kamu ini ya, udah ah sono pulang.Telpon suami kamu, kali aja ada yang urgent."

Alyana tersenyum sambil menggaruk tengkuknya."Iya, aku pulang. Tapi mulai besok aku belajar masak ya bang."

Aqil hanya bisa pasrah, Alyana yang sedikit keras kepala pasti akan terus memaksanya jika tidak di iya kannya.

Alyana pulang dari angkringan dengan perasaan campur aduk.Ada rasa senang karena akhirnya ia bisa mulai belajar masak, namun ada rasa takut saat ingat Arka menghubungi nya sejak tadi.Takut terjadi apa-apa dengan sang suami.

Tiba di kamar, setelah bersih-bersih. Alayana duduk di atas kasur.Tangannya langsung mengirim pesan pada sang suami namun berapa terkejutnya Alyana bukannya mendapat balasan pesan, justru Arka menghubunginya lewat vidio.

"Assalamu'alaikum."

Alyana terpaku saat melihat Arka dengan wajah sayunya.

"Assalamu'alaikum" Salamnya kembali, namun bibirnya menahan senyum saat melihat Alyana yang terdiam menatapnya.

"Wa_wa'alaikumsalam."

"Kamu dari mana, dari tadi aku hubungi gak di angkat terus.Bukannya jam sekolah cuma sampai jam sebelas ya."

Alyana hanya mengangguk saja, jantungnya berdebar cepat takut Arka marah.

"Makanya aku tanya Umi,takutnya kamu kenapa-napa.Tapi kata Umi kamu lagi di angkringan."

"Iya, maaf tadi Aya mampir dulu ke angkringan milik Umi."

Alyana merasa tak enak. "Maaf Aya gak izin dulu sama Kaka."

Arka tersenyum, ia masih bisa memakluminya.Hubungan keduanya baru saja terjalin, jadi ia tau Alyana masih belum terbiasa.

"Iya tidak apa-apa, Kaka ngerti.Lain kali bilang dulu ya kalau kemana-mana,bukan nya apa-apa kaka cuma gak mau kamu kenapa-napa."

Dada Alyana berubah menghangat,Arka begitu baik padanya.Alih-alih marah, justru Arka berusaha memberitahu kannya dengan baik-baik dan memberikan pengertian pada nya.

...🌻🌻🌻...

1
Erda Erda
boleh tayak ini kisah org tua ya ada gk .ya ..
R²_Chair: Ada Kak,untuk orangtua Arka judulnya "Ustadzah untuk mafia kejam" kalau untuk orangtua Alyana ada "Syurga dunia untuk Sya"
jangan lupa mampir ya Ka😊😍
total 1 replies
Danny Muliawati
SEMANGAT YAH
Puji Hastuti
semangat alya
Puji Hastuti
senangnya 😍
Puji Hastuti
un boxing,un boxing
Puji Hastuti
yuhuuu
Puji Hastuti
mksh kk udah up lagi
Puji Hastuti
lanjut kk
Azzahra Sevita Hanum Dimitry
knapa lama gak up thor
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah.. lanjut thor.
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah.. jika dibicarakan dengan saling terbuka pasti masalah dimudahkan. semangat thor
Azzahra Sevita Hanum Dimitry
suka ceritanya, the best author dr kosa katanya novel ini Ter the best. kata²nya mudah dipahami, bahasanya halus. ttp semangat kak
Danny Muliawati
Akbar kecewa deh
Puji Hastuti
bermusyawarah lah kalian🤭
Nurgusnawati Nunung
Semoga Arka, Alyana saling memahami..
lanjut thor
Nurgusnawati Nunung
Sabar Arka.. cari jalan keluarnya.
semangat thor..
Puji Hastuti
Akbar,begitu kok bilangnya lebih baik dari suaminya ay
banat_helwa
Ikh amit2 si akbar gak sadar diri
Azzahra Sevita Hanum Dimitry
haha kasian Akbar...... makanya cari info dulu
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah... lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!