Pernikahan akan terasa indah selagi masih ada cinta dari seorang suami.
Namun hal itu tidak berlaku pada seorang wanita muda. Pernikahannya hancur karena campur tangan keluarga suaminya. Apalagi sang suami tak lagi berpihak pada dirinya.
Nama wanita itu adalah Amara.
Di tengah-tengah keputusasaannya, ia bertemu dengan cinta pertamanya.
Apakah yang akan terjadi pada kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab dua puluh dua
"Apa kau sudah merasa lebih baik? Ku pikir kau tidak jadi datang." tanya Reza setelah melihat Amara lebih tenang.
"Tadinya begitu." ia terdiam sejenak. "Tetapi aku berubah pikiran. Aku tahu bahwa menunggu seseorang itu pasti melelahkan dan juga akan membuatmu terluka. Jadi aku memutuskan untuk pergi ke sini." ia menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa sedih yang seketika datang menghampirinya.
Amara teringat bagaimana dulu dirinya selalu menunggu Randi pulang kerumah setiap malam. Namun nyatanya pria itu tak kunjung kembali.
"Haha...Tetapi di tengah jalan ban sepeda motor yang aku tumpangi kempis. Jadi aku berlari ke sini agar sempat bertemu dengan mu." Amara dengan cepat mengubah ekspresinya ketika sadar bahwa ia sedang bicara dengan Reza.
"Kau berlari ke sini? Kenapa tidak mencari ojek yang lain?" tanyanya kaget.
"Masalahnya tidak ada ojek lain yang lewat. Biasanya pada jam segini semua tukang ojek sudah keluar untuk mengantar penumpang lainnya. Lagipula jaraknya sudah tidak terlalu jauh. Tanggung jika harus naik ojek lagi." jelasnya.
"Oh. Kenapa tidak menghubungi aku saja. Aku 'kan bisa menjemput mu." ucap Reza.
"Aku 'kan tidak punya nomor ponselmu." Amara tampak bingung.
"Ah, kau benar juga." ucap Reza.
Mereka lalu terdiam sejenak.
"Hmm... Kemarikan ponselmu!" perintahnya.
"Untuk apa?" tanya Amara bingung.
"Kemarikan saja." desaknya tak sabaran.
Amara tampak kebingungan, tetapi ia tetap mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia tampak ragu-ragu ketika memberikannya pada Reza
Reza tampak takjub melihat ponselnya. Ia bahkan terlihat menahan tawanya.
"Ponselmu terlihat unik." ia tidak bermaksud menghinanya, hanya saja ia tampak bingung melihat lilitan karet di sekitar layarnya.
"Ah, kemarin aku menjatuhkan ponsel itu ke lantai. Layarnya jadi retak dan tidak bisa menyala. Jadi aku membawanya ke reparasi ponsel. Mereka mengatakan jika karet gelang itu tidak boleh dilepas paling tidak selama seharian agar perekatnya melekat dengan kuat. Karena itu karetnya terpasang di sana." jelasnya canggung.
Ia lalu menggaruk kepalanya bingung. "Kenapa jadi membahas masalah ponsel." gumamnya kebingungan.
Reza tampak berusaha keras untuk tidak tertawa di depan Amara karena takut membuatnya tersinggung. Sejujurnya ini kali pertama ia melihat tampilan ponsel seperti ini.
Berbeda dengan Reza, biasanya ia hanya akan membuang ponsel yang sudah rusak dan menggantinya dengan yang baru. Ia hanya akan menyelamatkan data penting yang ada di dalamnya.
"Oh, jadi begitu. Hmm... Aku akan memasukkan nomor ku ke kontak di ponselmu." ia mengalihkan pembicaraannya.
"Terserah kau saja." ucap Amara.
Setelah selesai, ia mengembalikan ponsel itu kepada Amara.
"Baiklah. Sebaiknya kita memesan makanan sekarang. Aku sudah merasa lapar." ucap Reza mulai membuka menu makanan.
Amara juga ikut melihat-lihat menu makanan yang tersedia di cafe tersebut.
Ia seketika membulatkan bola matanya saat melihat daftar harga dari setiap makanan.
Yang paling murah saja harganya hampir mencapai lima puluh ribu rupiah. Bagaimana dengan yang termahal, hah! H-harganya seratus..... Ia bahkan tak sanggup memikirkan harganya.
Amara lalu melihat daftar harga minuman yang termahal. Ia semakin terkejut. Ia tampak menghitungnya dalam hati. Lalu diam-diam membuka tasnya untuk mengintip isi dompetnya saat ini.
Ada sekitar lima lembar pecahan seratus ribuan didalamnya.
Jika dia memesan makanan dan minuman yang paling mahal, mungkin setidaknya aku akan menghabiskan sekitar dua ratus ribuan. Masih tersisa tiga ratus ribu. Gajiku baru akan ku terima seminggu lagi. Apa cukup untuk ongkos seminggu kedepan ya? Dahinya tampak berkerut memikirkannya.
Ia bahkan tak sadar jika Reza memperhatikannya sejak tadi. Ia tersenyum tipis melihatnya.
Apa dia sedang menghitung harganya? Apa dia benar-benar berpikir untuk mentraktir ku? Dia benar-benar lucu. Pikir Reza.
"Apa kau sudah tahu akan memesan apa?" tanya pria itu.
"Hah!" Amara tersentak. "Oh! Hmm... A-aku pesan air putih saja." jawabnya gelagapan.
"Hanya air putih? Kau tidak makan?" tanyanya bingung.
"Hmm... Iya. A-aku masih kenyang. Makannya nanti saja.
Grrrrr!!
Amara tersenyum masam ketika mendengar perutnya berbunyi cukup keras. Bahkan sepertinya Reza bisa mendengarnya karena saat ini pria itu sedang menahan tawanya.
Reza segera memanggil pelayan. Ia memberitahukan nama menu yang di pesannya kepada pelayan tersebut.
"Berikan masing-masing dua porsi. Terima kasih." ucapnya kepada pelayan tersebut.
D-dia memesan dua porsi? Sepertinya aku benar-benar harus berjalan kaki dalam seminggu kedepan. Amara tersenyum masam.
Mereka saling diam setelahnya karena Reza sedang menerima sebuah panggilan di ponselnya. Sepertinya panggilan itu berhubungan dengan pekerjaannya.
"Apa kau tidak sibuk?" tanya Amara begitu Reza mematikan ponselnya dan meletakkannya kembali di atas meja.
"Tidak." jawabnya singkat.
"Ini kali pertama aku melihat mu mengunjungi ibumu selama aku bekerja di sana." ucap wanita itu.
"Oh! Aku sedang sibuk beberapa bulan terakhir ini karena perusahaan ku akan meluncurkan beberapa produk baru. Jadi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku." jelasnya.
"Oh. Aku pikir kau memang jarang mengunjungi ibumu. Biasanya hanya kedua kakakmu yang rutin datang berkunjung." ucap Amara.
"Iya. Kedua kakakku memang selalu rutin berkunjung. Biasanya mereka akan datang seminggu sekali." jelas pria itu.
"Hmm... Lalu bagaimana dengan kakak ketiga mu?" ia tampak bertanya dengan hati-hati.
"Maksudmu kak Zizi?"
"iya."
"Dia sedang berada di London sekarang. Dia menemani suaminya yang berprofesi sebagai dokter. Mereka sudah lama menetap di sana. Mereka hanya kesini jika sedang libur panjang." jelas Reza.
"Oh."
Pembicaraan mereka terhenti karena pesanan datang. Pelayan menyajikan makanan di atas meja. Setelah selesai ia langsung pergi.
Amara yang melihat dua porsi makanan di atas meja hanya bisa menghela nafas karena mengingat harganya. Reza memesan makanan paling mahal di cafe ini.
"Makanlah dengan tenang! Jangan pikirkan tentang harganya. Aku yang akan membayar semuanya." jelasnya membuat Amara bingung.
"Kau yang akan membayarnya? Tetapi sebelumnya kau bilang jika aku yang harus.."
"Aku hanya bercanda. Jika tidak begitu, kau mungkin akan langsung menolak ketika aku mengajakmu makan siang bersama." Reza dengan cepat menyela pembicaraannya.
Amara tampak kecewa karena merasa dibodohi oleh pria itu, tetapi di sisi lain dia juga senang karena bisa berbicara dengan Reza lagi.
Walaupun seharusnya dia tidak melakukan hal itu.
"Apa kau marah?" tanya pria itu cemas.
"Sedikit." jawabnya singkat.
"Aku tidak bermaksud membohongi mu. Aku hanya ingin berbicara dengan mu. Lagipula kita ini adalah teman satu sekolah, 'kan?" Reza mengingatkannya tentang pembicaraan dirinya bersama Lydia kemarin malam yang hanya menyebut jika Reza adalah teman sekolahnya saja.
"Apa kau tersinggung dengan hal itu?" tanya Amara merasa bersalah.
"Sedikit." ucap Reza datar.
"Kalau begitu bagaimana jika kita makan saja sekarang. Nanti makanannya menjadi dingin." ucap Amara mengalihkan pembicaraannya.
Reza menatapnya sekilas, lalu mengangguk.
Mereka akhirnya makan siang bersama setelah berpisah sekian lama.
...****************...
Apakah keduanya akan kembali akrab? Entahlah. Biarkan waktu yang menjawabnya.