Follow IG @samsularipin_101
"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".
Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.
Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.
Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara Baru
Keberhasilan menyingkirkan Hendra ternyata belum benar-benar mengakhiri badai. Kemenangan itu hanya memberi mereka waktu bernapas sejenak. Tiga jam setelah pria licik itu digiring keluar dari ballroom, seorang kurir datang membawa sebuah kotak beludru berwarna hitam ke ruang kerja pribadi Jevandra.
Kotak itu tidak mencantumkan nama pengirim. Hanya sebuah logo singa emas yang tercetak timbul di bagian atasnya—lambang milik Aurelia Group, konsorsium properti raksasa asal Singapura yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai rival utama keluarga Wijaya.
Alana, yang sedang menyusun beberapa dokumen di meja dekat sofa, menghentikan pekerjaannya ketika Jevandra membuka kotak tersebut. Di dalamnya tergeletak sebuah ponsel satelit model lama. Belum sempat disentuh, layarnya tiba-tiba menyala disertai getaran pelan.
Jevandra dan Alana saling berpandangan sejenak. Tanpa mengucapkan apa pun, Jevandra mengaktifkan pengeras suara.
"Selamat atas keberhasilanmu membersihkan orang-orang bermasalah di dalam perusahaan, Jevandra Pratama."
Suara seorang wanita terdengar jelas, beraksen Inggris dengan nada dingin dan penuh keyakinan.
"Kau berhasil menyingkirkan pion seperti Baskoro dan Hendra. Namun jangan berpikir singgasana Pratama Tower kini benar-benar aman."
Alana melangkah mendekat dengan tatapan tajam.
"Siapa Anda?" tanyanya singkat.
Terdengar tawa kecil di seberang sambungan.
"Ah, Alana Wijaya. Senang akhirnya bisa berbicara langsung denganmu. Tolong sampaikan salamku kepada Haryo Wijaya. Katakan padanya bahwa pelabuhan Tanjung Perak mungkin sudah kembali berada di tangan kalian, tetapi jalur distribusi bahan baku di wilayah utara kini berada di bawah kendali Aurelia Group."
Suara itu berhenti sesaat sebelum melanjutkan dengan nada penuh ancaman.
"Kontrak Temasek yang baru saja kalian dapatkan tidak akan berarti apa-apa jika pasokan baja dan beton kami hentikan sejak dari hulunya."
Sambungan telepon langsung terputus.
Ruangan mendadak sunyi.
Jevandra memandangi ponsel satelit yang kembali mati. Rahangnya mengeras, sementara pikirannya mulai menyusun berbagai kemungkinan.
"Aurelia Group sudah mengetahui titik lemah kita," ucapnya pelan. "Seluruh proyek Temasek sangat bergantung pada jalur pasokan dari wilayah utara."
Alih-alih menunjukkan kepanikan, Alana justru menutup pintu ruang kerja rapat-rapat sebelum kembali menghadap Jevandra. Sorot matanya memancarkan ketegasan yang selama ini menjadi kekuatannya saat menghadapi krisis.
"Mereka mengira setelah Hendra tumbang kita akan lengah," katanya tenang. "Mereka salah menghitung."
Alana berdiri tepat di hadapan Jevandra, menatapnya penuh keyakinan.
"Mereka baru saja menyalakan bara baru. Kalau memang mereka ingin perang bisnis, kali ini kita pastikan mereka yang menanggung akibatnya."
Ucapan itu membuat sudut bibir Jevandra terangkat membentuk senyum tipis. Ketegangan yang sempat memenuhi pikirannya berubah menjadi semangat untuk menghadapi tantangan berikutnya.
"Kau selalu tahu bagaimana membangkitkan semangatku," ujarnya sambil merapikan beberapa berkas yang masih berserakan di atas meja kerja.
Alana mengangguk mantap.
"Kita tidak punya banyak waktu. Besok sebelum matahari terbit kita berangkat ke wilayah utara. Kita harus memutus rencana mereka sebelum blokade itu benar-benar terbentuk."
Jevandra mengulurkan tangannya, dan Alana menyambutnya tanpa ragu. Keduanya saling berpandangan, memahami bahwa ancaman kali ini jauh lebih besar daripada sekadar perebutan kekuasaan di dalam perusahaan.
Musuh yang mereka hadapi kini datang dari luar negeri, dengan sumber daya, jaringan, dan pengaruh yang tidak bisa dianggap remeh.
Namun satu hal telah berubah.
Jika dahulu Jevandra dan Alana bertarung sendirian, kini mereka melangkah sebagai satu tim yang saling melengkapi. Setiap ancaman bukan lagi alasan untuk mundur, melainkan tantangan baru yang akan mereka hadapi bersama.
Dan tanpa mereka sadari, permainan sesungguhnya baru saja dimulai.
Bersambung.......