Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34_Semakin mencekam
"Pengkhianat?" bentak Edgar sambil memungut kartu hitam itu dengan gerakan kasar. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol, sementara sorot matanya dipenuhi amarah yang mulai sulit ia kendalikan.
Nathan segera meraih tangan Edgar.
"Jangan sentuh terlalu lama!" serunya tegas. Alisnya bertaut, wajahnya berubah waspada, sementara tatapannya meneliti permukaan kartu hitam itu dengan penuh kecurigaan.
Edgar menoleh.
"Kenapa?" tanyanya cepat. Napasnya masih memburu, tetapi sorot matanya mulai dipenuhi rasa curiga.
Nathan mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, lalu membungkus kartu itu dengan hati-hati.
"Bisa saja ada racun, sidik jari palsu, atau alat pelacak yang sengaja dipasang." ucapnya tenang. Wajahnya terlihat serius, sementara kedua matanya tidak pernah lepas dari kartu tersebut.
Elvara memeluk kedua lengannya sendiri.
"Orang itu... seolah tahu semua gerakan kita." bisiknya lirih. Bibirnya bergetar, wajahnya semakin pucat, sementara rasa takut mulai memenuhi hatinya.
Kepala keamanan mendekat dengan langkah tergesa-gesa.
"Pak Edgar, seluruh akses pintu elektronik tidak bisa dibuka." lapornya panik. Dahinya dipenuhi keringat dingin, sementara tangannya gemetar menggenggam radio komunikasi.
Edgar langsung membeku.
"Apa maksudmu tidak bisa dibuka?" tanyanya tajam. Tatapannya menusuk penuh tekanan.
"Semua sistem terkunci dari pusat." jawab kepala keamanan. Wajahnya pucat pasi, napasnya terdengar tidak beraturan.
Belum sempat siapa pun berbicara...
Brak!
Seluruh pintu darurat di lorong mendadak tertutup bersamaan. Suara besi yang saling menghantam menggema ke seluruh gedung.
Elvara tersentak hingga tanpa sadar menggenggam lengan Nathan semakin erat.
"Nathan..." bisiknya pelan. Matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan.
Nathan menepuk pelan punggung tangan Elvara.
"Aku di sini." ucapnya lembut. Senyumnya tipis berusaha menenangkan, meski sorot matanya tetap penuh kewaspadaan.
Tiba-tiba...
Suara dari pengeras suara gedung menyala sendiri.
"Kalian masih berpikir sedang memburu kami?" Suara pria bertopeng kembali terdengar.
Kali ini lebih jelas. Lebih dekat. Dan terdengar seperti berasal dari seluruh penjuru gedung.
Edgar mengepalkan kedua tangannya.
"Keluar kalau berani!" bentaknya lantang. Wajahnya memerah karena emosi, sementara napasnya terdengar berat.
Terdengar tawa kecil.
"Hahaha..."
"Kalian salah sejak awal." suara itu kembali terdengar dingin.
Nathan mendongakkan kepala, mencoba mencari letak pengeras suara.
"Apa maumu?" teriak Nathan dengan suara keras. Tatapannya tajam menyapu langit-langit lorong.
Beberapa detik berlalu. Kemudian suara itu menjawab.
"Kami hanya ingin mengambil sesuatu yang sejak dulu bukan milik keluarga kalian." Ucapan itu membuat Edgar mengernyit.
"Keluarga kami?" gumamnya pelan. Wajahnya dipenuhi kebingungan.
Suara pria itu kembali terdengar.
"Lima belas tahun lalu... ayah kalian mencuri sesuatu." katanya dengan suara datar.
Nathan langsung membelalak.
"Itu bohong!" bentaknya keras. Rahangnya mengeras, sementara emosinya mulai memuncak.
"Benarkah?" Suara itu terdengar semakin pelan. "Kalau memang bohong... mengapa semua berkas tentang kasus itu menghilang?"
Nathan terdiam.
Ingatan tentang ruang kerja ayahnya kembali muncul.
Lemari besi. Map hitam. Simbol yang sama. Dan wajah ayahnya yang malam itu penuh ketakutan.
Tiba-tiba...
Nathan memegangi kepalanya.
"Nathan!" seru Elvara panik. Wajahnya dipenuhi kecemasan saat melihat Nathan sedikit terhuyung.
"Aku... aku ingat sesuatu..." ucap Nathan terbata-bata. Napasnya memburu, sementara dahinya dipenuhi keringat.
Edgar segera memegang bahunya.
"Ingat apa?" tanyanya cepat. Tatapannya penuh harapan.
Nathan mengangkat wajah perlahan.
"Malam sebelum ayahku menghilang..." katanya lirih. Tatapannya kosong seolah sedang melihat masa lalu. "...beliau berkata, jika suatu hari simbol itu muncul lagi, jangan pernah percaya kepada siapa pun."
Semua orang terdiam. Suasana mendadak sunyi. Hanya suara alarm yang masih menggema pelan.
Kemudian...
Radio komunikasi seluruh petugas berbunyi bersamaan.
Krek...
Suara statis memenuhi lorong. Lalu terdengar satu kalimat.
"Target sudah berada di dalam."
Seluruh petugas keamanan saling berpandangan. Kepala keamanan menggeleng cepat.
"Itu bukan suara anggota kami." ucapnya gugup. Wajahnya berubah semakin pucat.
Nathan langsung menyadari sesuatu.
"Tunggu..." katanya pelan. Tatapannya perlahan beralih kepada semua orang yang berdiri di lorong.
Ia menghitung jumlah petugas satu per satu.
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga..."
"Empat..."
Nathan mendadak menghentikan hitungannya. Wajahnya berubah pucat.
"Ada yang tidak beres." ucapnya pelan.
Edgar menoleh cepat.
"Apa lagi?" tanyanya tegang.
Nathan menunjuk ke arah barisan petugas keamanan.
"Jumlah mereka..." katanya dengan suara bergetar. "...bertambah satu orang."
Semua orang spontan memandang ke arah para petugas. Kini mereka benar-benar menyadarinya.
Ada seorang petugas keamanan berdiri paling belakang. Seragamnya sama. Topinya menutupi sebagian wajah.
Sejak tadi...
Tidak ada seorang pun yang melihat kapan ia bergabung.
Edgar perlahan melangkah maju.
"Kamu..." ucapnya dingin. Tatapannya tajam penuh kecurigaan.
Petugas itu tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala.
Nathan menyipitkan mata.
"Lepaskan topimu." perintahnya tegas. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.
Suasana berubah mencekam. Tak seorang pun berani bernapas terlalu keras.
Perlahan...
Pria itu mengangkat kepalanya. Lalu tersenyum. Senyum yang sama persis dengan pria bertopeng yang tadi menghilang.
Belum sempat siapa pun bergerak... Pria itu menekan sebuah tombol kecil di balik lengan bajunya.
Bip!
Dalam hitungan detik...
Seluruh gedung kembali berguncang hebat.
Ledakan kedua terdengar jauh lebih keras. Dinding lorong mulai retak. Langit-langit runtuh sedikit demi sedikit. Debu tebal memenuhi udara. Dan dari balik kepulan debu...
Puluhan langkah kaki mulai terdengar mendekat dari segala arah. Mereka tidak lagi menghadapi satu musuh. Mereka telah dikepung.
nunggu karma pelakor celline gimana karma nya.