Malam itu, semuanya berubah. Kegelapan yang seharusnya membaw kedamaian, justru menjadi saksi bisu atas kekerasan yang tak terkatakan.
Indira perempuan malang. Dia harus kehilangan kehormatannya yang di renggut paksa dari seseorang yang tidak di kenalinya. Hidupnya berubah drastis setelah mengalami musibah itu, dia di usir sama tetangganya karena tidak mau nama baik lingkungannya tercoreng karena keberadaannya.
Angksa Bagaskara. Harus memilih antara menerima perjodohan dari orang tuanya atau di coret dari hak waris keluarganya.
Simak ceritanya yu jangan sampai ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Kekawatiran Angkasa
Indira mendang perut ketua preman yang ingin menyentuh lengannya hingga terjengkang. Ia tidak akan pernah membiarkan siapa pun orang berani menyentuhnya. Indira juga melemparkan segenggam kerikil kecil ke arah preman yang lain, saat mau berdiri ketua preman berhasil menarik kakinya membuat dirinya jatuh dahinya terbentur trotoar.
Akh!
Indira meringis kesakitan tetesa cairan berwarna merah membasahi dahinya, ia meraskan kepalanya pusing pandangannya sedikit kabur tapi ia mencoba menahan rasa sakit yang melandanya, baru saja dirinya bangun ketua preman itu menarik hijabnya dari belakang membuat dirinya mendongakan kepalanya.
Plak!
Plak!
Preman itu memberi tamparan keras di kedua pipi Indira, preman itu terlihat begitu sangat marah matanya yang merah menatap nyalang perempuan di depannya. Dia menyuruh temenya untuk memeganginya senyum jahat tersemat di bibirnya.
"Beraninya kamu melawan saya hah!" teriaknya marah mencengkram kuat pipi Indira.
Indira terlihat lemah ia bahkan tidak bisa berontak sama sekali dahinya sudah mengeluarkan darah pun pipinya penuh luka lebam sudut bibirnya berdarah. Indira meringis menahan rasa sakit tatapan marah dan tidak terima ia layangkan buat keduanya berdoa semoga ada seseorang yang baik hati mau menolong dirinya dari kedua preman yang menyakitinya. Indira menggeleng memejamkan matanya saat preman itu mau menarik hijabnya tapi tiba-tiba ia mendengar suara gaduh seperti orang berkelahi, Indira juga mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
Bug!
Bug!
"Bangsat! Beraninya manusia rendahan seperti kalian mengganggu istriku! Tak akan ku biarkan kalian hidup!" teriak Angkasa menggelegar.
Di sepanjang jalan Angkasa terus memikirkan ucapan Candra, raut wajahnya memang terlihat biasa seakan mengatakan kalau dirinya tidak peduli apapun yang akan terjadi sama istrinya. Tapi hati dan pikirannya menetang keras kalau sesungguhnya ia begitu mengkhawatirkan sang istri dan membenarkan ucapan asistennya itu kalau jalan yang mereka lewati memang begitu sepi mengingat itu kawasan perumahan baru, dan orang jahat bisa kapan saja ada.
Angkasa meminta Candra putar balik menuju ke tempat dimana ia menurunkan istrinya, sesampainya di lokasi keberadaan sang istri sudah tidak terligat lagi. Ia meminta Candra utuk terus menelusuri jalan tersebut dari jauh dirinya melihat ada perempuan di kejar-kejar dua laki-laki tatapannya menajam mengetahui perempuan yang dia liat adalah sang istri. Angkasa mengepalkan tangannya kuat rahangnya mengeras melihat sang isti di tarik dan di tampar tanpa menunggu Candra memarikan mobilnya, Angkasa turun lebih dulu. Ia berlari kencang menghampiri sang istri yang lagi di perlakukan kasar sama seseorang.
Dua bogeman yang Angkasa layangkan sama para preman membuat keduanya tersungkur. Angkasa menghajar keduanya habis-habisan dan tidak memberinya ampun sampai mereka terkapar tidak berdaya. Amarahnya semakin memuncak melihat luka di wajah sang istri. Ia tidak akan melepaskan siapapun orang yang sudah mengusik hidupnya! Di tambah lagi mereka sudah berani menyentuh miliknya maka mereka harus menerima balasan darinya.
"Tuan mud-a," ucap Indira sebelum akhirnya dia tergeletak pingsan.
"Ya ampun, Nona muda!" ujar Candra kaget melihat Indira pingsan dengan darah mengalir di dahinya.
Candra menghampiri Angkasa yang lagi melawan dua preman dan meminta agar atasannya itu mengurus istrinya lebih dulu, ia takut kalau terjadi sesuatu sama, Nona mudanya.
"Tuan muda, biarkan saya yang mengurus mereka lebih baik anda urus Nona muda. Beliau harus segera di bawa ke rumah sakit." ucap Candra menghentikan pergerakan Angkasa.
"Baiklah. Kau urus mereka buat mereka seperti hidup di neraka sampai mereka sendiri yang meminta untuk di bunuh." sahut Angkasa menujuk dua preman yang sudah tidak berdaya.
"Tentu tuan muda sekarang anda pergilah segera bawa, Nona muda ke rumah sakit," Candra kembali mengingatkan Angkasa agar secepatnya membawa istrinya.
Angkasa membopong sang istri menuju mobilnya yang sudah terpakir tidak jauh dari tempat kejadian, ia membaringkan istrinya di jok belakang setelah memastikan posisi istrinya benar, Angkasa buru-buru masuk kedalam mobil dan langsung tancap gas mau membawa istrinya ke rumah sakit terdekat.
Sesekali ia melihat ke jok belakang memperhatikan Indira, Angkasa menghembuskan nafasnya berat gara-gara dirinya sang istri terluka. Ia merasa bersalah sudah menurunkan Indira di tengah jalan.
"Perempuan kampung bertahanlah. Kau kenapa selalu saja membuatku susah," ucapnya melihat Indira lewat kaca spion.
Enggak lama Angkasa sudah sampai di rumah sakit, ia membopong istrinya masuk kedalam dan berteriak memanggil Dokter dan suster. Beberapa suster mendorong brangkar mendekati Angkasa yang terlihat panik.
"Lama sekali kerja kalian! Cepat tolong istri saya dan selamatkan dia!" seru Angkasa menggelegar menarik perhatian semua orang.
"Maaf tuan. Cepat baringkan istri anda di sini biarkan kami menanganinya. Lebih baik anda pergi ke bagian adminitrasi untuk mengurus semuanya," ucap suster langsung mendorong brangkar dan membawa Indira ke ruang IGD.
Semua orang saling berbisik melihat Angkasa, siapa yang tidak mengenal Angkasa pengusaha muda yang sukses. Yang bikin semua orang terkejut yaitu soal pernyataan Angkasa kalau tuan muda itu sudah mempunyai seorang istri, yang jadi pertanyaan mereka sejak kapan putra dari tuan Edgar itu menikah dan siapa perempuan yang beruntung mendapatkan suami terkaya se ibukota? Karena setau mereka Angkasa sudah menolak perjodohannya bersama putri tuan Himawan pikir semua orang bertanya-tanya.
Pintu ruangan IGD terbuka terlihat, Dokter dan suster keluar dari dalam. Dokter itu tersenyum saat Angkasa menghampirinya dan menanyakan kondisi Indira.
"Dokter, gimana kondisi perempuan itu? Apa dia perlu di operasi atau di opname?" tanyanya beruntun dan penuh ke khawatiran.
"Istri anda baik-baik saja tuan, dan tidak perlu di operasi ataupun opname. Istri anda hanya mengalami luka luar saja dan kami sudah menanganinya. Sebentar lagi istri anda bisa di pindahkan ke ruang perawatan." jawab Dokter rama dengan senyum tipisnya.
"Huf.. Dasar perempuan kampung bisanya nyusahin saja, untung dia enggak mati. Kalau sampai dia mati pasti aku yang di salahkan." gumam Angkasa dalam hati sambil mengumpati istrinya.
"Baiklah, terimakasih Dokter," sahut Angkasa membuat Dokter itu mengangguk.
Kini Indira sudah di pindahkan ke ruang perawatan dengan setia Angkasa duduk di samping ranjang istrinya. Ia menyentuh sudut bibir Indira yang terdapat luka lebam pun luka di dahinya yang sempet di jahit karena tadi mengalami benturan cukup keras membuatnya bocor. Angkasa menghela napas tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri.
"Aku selalu apes gara-gara kamu gadis kampung," ucapnya berdecih kesal melihat sang istri yang masih terlelap, ia berdiri dan pindah duduk di sofa.
Angkasa mengambil ponselnya mau menghubungi Candra, karena sejak tadi asistennya itu tidak kunjung datang menemuinya, terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari ibunya tapi ia abaikan. Angkasa bingung mau mencari alasan apa untuk menjawab semua pertanyaan ibunya nanti? Dia tau sang ibu menghubunginya pasti mau menanyakan keberadaan Indira.
Ceklek!
Angkasa berdiri saat mendengar suara pintu di dorong dari luar, ia langsung berdiri ingin memaki Candra karena sudah datang terlambat.
"Candra kau..." ucapnya tertahan di tenggorokan melihat siapa yang datang.
******
Bersambung......