#Terkadang yang kita anggap obat ternyata adalah luka terhebat#
Novel ini menceritakan seorang laki laki yang bernama Raka Pratama. Raka pernah berpacaran dengan seseorang 5 tahun. Tetapi Ia menjalin hubungan dengan perempuan yang Pondasi hidup nya berbeda. Sehingga Membuat kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka. Dan akhirnya, Ia memilih menyerah.
Luka di hati Raka yang masih basah tersebut , Ia malah bertemu dengan perempuan yang sedang patah hati. mengapa begitu? Rara baru saja mendapatkan kabar bahwa kekasihnya itu dijodohkan dengan perempuan lain. Padahal mereka berdua sudah memikirkan untuk lanjut kejenjang lebih serius.
Dua orang yang sudah patah, bertemu dalam keadaan rapuh. Tanpa sadar mereka saling menjadi sandaran. Bagaimana mereka mengatasi perbedaan dan tekanan dari orang sekitar? Apakah mereka bisa saling menyembuhkan atau justru saling melukai atau bahkan orang yang mereka temui adalah " Jodoh Orang lain "?
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Ikutin terus yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elga Rista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran
Hari berjalan seperti biasa.
Tapi bagi mereka, semuanya sudah berubah.
Dan malam… akan menjadi awal dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak lagi bisa ditunda.
Malam turun perlahan.
Langit gelap tanpa bintang, seolah ikut menahan napas. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya ke aspal yang masih hangat oleh sisa siang.
Rara sudah sampai lebih dulu.
Ia duduk di bangku panjang sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai, tapi juga tidak sepi. Tempat yang aman. Netral. Tidak menyimpan terlalu banyak kenangan dan justru itu yang ia butuhkan malam ini.
Tangannya melingkar di sekitar gelas minuman yang sudah mulai mendingin. Es di dalamnya hampir mencair seluruhnya, tapi Rara tidak menyentuhnya. Pikirannya terlalu penuh.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar mendekat.
Rara tahu siapa itu bahkan sebelum menoleh.
Dhian berdiri beberapa langkah darinya. Jaket hitam, wajah yang terlihat lebih letih dari biasanya. Matanya mencari Rara, lalu berhenti seolah memastikan bahwa ini nyata, bukan sekadar bayangan dari rasa bersalahnya sendiri.
Ia mendekat pelan.
“Ra…”
Rara mengangkat wajahnya.
Tatapan mereka bertemu.
Ada jeda yang terlalu panjang untuk dua orang yang seharusnya saling mengenal luar dalam.
Mereka duduk berhadapan.
Sunyi.
Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan. Justru karena terlalu banyak.
Beberapa detik berlalu.
Lalu, hampir bersamaan
“Sayang—”
“Dhian—”
Suara mereka saling bertabrakan di udara.
Keduanya terdiam.
Rara tersenyum kecil, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Kamu dulu aja.”
Dhian menelan ludah. Dadanya naik turun pelan. Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap Rara.
“Iya… aku,” katanya pelan. “Aku yang harus mulai.”
Tangannya saling menggenggam di atas meja. Jemarinya tampak tegang.
“Ra,” ia menarik napas panjang, “apa yang mau aku ceritain ini… bukan hal yang gampang.”
Rara mengangguk pelan. “Aku dengerin.”
Kalimat itu sederhana, tapi diucapkan dengan seluruh keberanian yang ia punya.
Dhian menghela napas lagi. Kali ini lebih berat.
“Beberapa waktu lalu… orang tuaku mulai ngomong soal pernikahan.”
Rara tidak bereaksi. Wajahnya datar. Tapi dadanya mengencang.
“Mereka… menjodohkanku.”
Kata itu jatuh pelan, tapi menghantam.
Rara mematung.
“Dengan perempuan yang mereka pilih,” lanjut Dhian. “Perempuan yang… bukan kamu.”
Sunyi kembali merebut ruang di antara mereka.
Rara menatap Dhian tanpa berkedip. Dadanya terasa seperti diikat dari dalam. Ada sesuatu yang ingin keluar pertanyaan, tangisan, mungkin teriakan tapi semuanya tertahan di tenggorokan.
Dhian menunduk.
“Aku tahu ini terdengar gila,” katanya lirih. “Karena mereka kenal kamu. Mereka tahu aku pacaran sama kamu. Mereka bahkan pernah bilang kamu perempuan baik.”
Rara mengangguk kecil. Air mata mulai menggenang di matanya, tapi tidak jatuh.
“Terus kenapa?” suaranya keluar sangat pelan.
Dhian terdiam.
Lalu kenangan itu kembali menyeretnya.
[FLASHBACK ON]
Ruang tamu rumah orang tua Dhian malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Dhian duduk di sofa dengan punggung tegak, sementara ayah dan ibunya duduk berhadapan. Wajah mereka tenang terlalu tenang untuk percakapan yang akan mengubah hidup seseorang.
“Kami sudah mempertimbangkan banyak hal,” ujar ibunya lembut tapi tegas. “Usiamu sudah cukup. Kariermu juga sudah stabil.”
Ayahnya menimpali, “Kami ingin kamu menikah dengan pilihan keluarga.”
Dhian mengerutkan kening. “Maksud Ayah…?”
Ibunya tersenyum tipis. “Kami sudah memilihkan calon istri untuk kamu.”
Dhian menelan ludah. “Tapi aku sudah punya pacar.”
Ayahnya mengangguk. “Kami tahu. pacar kamu adalah Rara.”
Nama itu disebut begitu saja. Tanpa kebencian. Tanpa emosi.
“Kalau kalian tahu,” suara Dhian mulai bergetar, “kenapa masih menjodohkanku?”
Ibunya menarik napas. “Karena tidak semua yang baik untuk hati, baik untuk masa depan.”
Dhian berdiri. “Apa maksud Mama?”
“Keluarga perempuan itu tidak sejalan dengan kita,” jawab ayahnya. “Nilai, latar belakang, rencana ke depan.”
“Lalu Rara?” suara Dhian meninggi. “Apa yang salah dengan Rara?”
Ibunya terdiam sejenak. “Tidak ada yang salah.”
Kalimat itu justru menyakitkan.
“Kalau tidak ada yang salah,” Dhian menatap mereka bergantian, “kenapa harus perempuan lain?”
Ayahnya berdiri. “Karena ini keputusan kami. Dan kami ingin kamu mempertimbangkannya dengan dewasa.”
Dhian merasa dadanya sesak.
Ia ingin berteriak bahwa ia mencintai Rara. Bahwa ia sudah memilih. Bahwa hidupnya bukan papan catur keluarga.
Tapi suaranya tercekat. Apalagi Dia adalah type orang yang tidak bisa menolak keinginan keluarga.
[FLASHBACK OFF]
“Aku nggak pernah setuju,” Dhian berkata cepat, seolah takut Rara salah paham. “Dari awal aku nolak.”
Rara masih diam.
“Aku bilang aku punya kamu. Aku bilang aku cinta kamu.”
Ia menatap Rara dengan mata yang basah. “Tapi… tekanan itu nyata, Ra.”
Dhian mengangkat wajahnya perlahan.
Ia menunggu.
Menunggu Rara marah. Menunggu teriakan. Menunggu tudingan.
Tapi yang ia dapatkan justru sebaliknya.
Rara tersenyum kecil.
Senyum yang rapuh.
“Dhian…” suaranya bergetar. Ia menunduk, seolah menyiapkan dirinya sendiri. “Aku tahu.”
Dhian mengerutkan kening. “Tahu… apa?”
Rara mengangkat wajahnya kembali.
Matanya basah. Sangat basah. Tapi air mata itu masih bertahan di pelupuk, seolah bahkan menangis pun ia lakukan dengan menahan diri.
“Aku tahu,” ulangnya pelan, “kalau kamu sudah bertunangan dengan perempuan itu. Dan sebenarnya itu yang mau aku katakan dan tanyakan padamu hari ini,"
Kalimat itu jatuh.
Pelan.
Tapi menghancurkan.
Dhian membeku.
“Apa…?” napasnya tercekat. “Ra… kamu—”
“Aku tahu,” suara Rara mulai pecah. “Aku lihat sendiri. Aku lihat fotonya.”
Akhirnya air mata itu jatuh.
Bukan satu.
Tapi beberapa.
Rara tidak menyekanya. Ia membiarkan semuanya mengalir, seolah sudah terlalu lama menahannya.
“Aku tahu kamu bukan cuma dijodohkan,” lanjutnya sambil menangis. “Kamu sudah melangkah sejauh itu, Dhian.”
Wajah Dhian pucat.
“Kamu… tahu soal pertunangan itu?” suaranya hampir tidak keluar. “Sejak kapan?”
Rara tertawa kecil di sela tangisnya. Tawa yang sama sekali tidak bahagia.
“Lucu ya,” katanya lirih. “Aku pacarmu… tapi aku tahu dari orang lain. Dari foto. Dari potongan-potongan yang bahkan bukan kamu yang kasih.”
Dhian menggeleng cepat. “Ra, sumpah… aku nggak pernah bilang iya.”
“Tapi kamu juga nggak bilang tidak,” potong Rara. Nada suaranya tidak meninggi, tapi justru itu yang menyakitkan. “Kamu diam. Dan diam itu… berarti.”
Dhian menatapnya tak percaya.
Ia benar-benar tidak menyangka.
Ia pikir rahasia itu masih aman. Masih tersimpan. Masih bisa ia atur waktunya.
Ternyata tidak.
“Kenapa kamu nggak bilang dari awal?” Rara menangis lebih keras sekarang. “Kenapa aku harus ngerasa bodoh, Dhian?”
Dhian melangkah mendekat, refleks ingin meraih tangan Rara. Tapi Rara mundur satu langkah.
Gerakan kecil itu cukup membuat Dhian berhenti.
“Aku nggak tahu harus ngomong gimana,” katanya parau. “Aku takut kehilangan kamu.”
Rara menggeleng pelan. “Kamu sudah kehilangan aku… sejak kamu memilih diam.”
Ia mengusap air matanya kasar. Napasnya tersengal.
“Aku nunggu, Dhian,” katanya lirih. “Aku nunggu kamu jujur. Aku nunggu kamu untuk siap cerita ke aku sendiri. Tapi yang aku dapat cuma… jarak.”
Dhian menunduk. Bahunya jatuh.
“Maafin aku,” katanya. “Aku egois.”
Rara terdiam.
Lama.
Lalu ia berkata dengan suara yang sangat lelah, “Aku nggak tahu harus ngapain sekarang.”
Dhian menatapnya penuh harap. “Kasih aku waktu. Aku bakal beresin semuanya.”
Rara tersenyum kecil lagi.
Senyum yang lebih menyakitkan dari tangis.
“Tidak segampang membalikkan telapak tangan Dhian, Masalahnya, aku juga butuh waktu. Tapi bukan buat nunggu. Kamu juga sudah jalan terlalu jauh,"
Ia berdiri.
Tangannya gemetar, tapi langkahnya tetap.
“Aku butuh waktu buat nyembuhin diri aku sendiri.”
Dhian ingin menahan.
Ingin berjanji.
Ingin mengatakan bahwa ia akan melawan semuanya.
Tapi semua kata terasa terlambat.
Rara menatapnya untuk terakhir kali.
“Aku sayang sama kamu,” katanya jujur. “Tapi aku nggak mau jadi perempuan yang harus bersaing dengan keputusan orang tuamu… atau dengan keberanianmu yang terlambat. Dan kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita ini."
Rara berdiri perlahan. Lalu pergi.
Satu langkah.
Dhian ikut berdiri refleks. “Ra—”
Lalu berhenti.
Ia menoleh kembali.
Dhian ingin menahan. Ingin berkata ia akan berjuang. Tapi semua kata terasa terlambat.
“Dhian…” panggil Rara pelan. Sambil memutar kan badan nya menghadap Dhian.
Dhian mengangkat wajahnya cepat, seolah masih berharap ada kata yang bisa mengubah segalanya.
Rara menatapnya lama.
Bukan dengan tatapan marah.
Bukan dengan tatapan benci.
Tapi dengan mata yang penuh kenangan.
“Aku mau bilang terima kasih,” ucapnya lirih.
Dhian tertegun.
“Terima kasih… karena pernah jadi laki-laki yang hadir buat aku,” lanjut Rara. “Yang siap dengerin ceritaku. Yang mau nemenin aku waktu aku capek, waktu aku takut, waktu aku ngerasa sendirian.”
Suaranya bergetar, tapi ia tetap melanjutkan.
“Terima kasih karena pernah bikin aku percaya… kalau ada laki-laki yang bisa aku sandari tanpa rasa curiga.”
Air mata jatuh lagi.
Tapi Rara mengusapnya cepat, seperti tidak mau berlama-lama di sana.
“Aku nggak nyesel pernah sayang sama kamu,” katanya jujur. “Nggak nyesel pernah nunggu, pernah berharap.”
Ia menarik napas panjang.
“Tapi sekarang aku harus berhenti.”
Dhian membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.
Rara tersenyum kecil.
Senyum terakhir.
“Semoga kamu bahagia dengan jalan yang kamu pilih,” ucapnya pelan. “Dan semoga suatu hari nanti, kamu berani jujur… bukan cuma ke orang lain, tapi ke diri kamu sendiri.”
Ia melangkah mundur satu langkah.
“Jaga diri kamu baik-baik, Dhian.”
Lalu, dengan suara yang hampir tak terdengar:
“Terima kasih… sudah pernah menjadi rumah buat aku.”
“Aku pulang dulu.”
Rara berbalik melangkah pergi.
Dan kali ini, ia benar-benar pergi.
Tanpa menoleh lagi.
Meninggalkan malam, kenangan, dan seorang laki-laki yang baru menyadari kehilangan setelah semuanya terlambat.
Dhian masih berdiri ditempat yang sama. Sambil menatap punggung yang sudah tidak terlihat dengan air mata yang sudah mulai jatuh.
Kadang, cinta tidak hilang karena tidak ada perasaan.
Tapi karena terlalu lama disimpan dalam diam.
Dan malam itu, kebenaran akhirnya terucap.
Tapi tidak semua kebenaran datang tepat waktu.
Meninggalkan Dhian dengan satu kenyataan yang baru benar-benar ia sadari malam itu
Bukan perjodohan yang menghancurkan segalanya.
Melainkan kebohongan yang dipelihara terlalu lama.
Dhian ingin menahan. Ingin berkata ia akan berjuang. Tapi semua kata terasa terlambat.
(BERSAMBUNG…)
-------------------------------------------------------------------------------------------
Ikuti terus kisahnya di bab selanjutnya ✨
Jangan lupa beri komentar, saran, dan like
Karena dukungan kalian merupakan semangat untuk author membuat cerita. Terima Kasih sudah membacanya❤️